NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 - Love Rain

Aku berdiri menghadap kiblat sambil mencoba menenangkan pikiranku sendiri.

Perlahan aku mulai sholat dan memaksa diriku fokus. Untuk sementara, aku tidak ingin memikirkan apa pun selain ibadahku.

Setelah mengucap salam, aku menatap lurus ke depan beberapa saat. Suasana mushola terasa begitu tenang hingga suara pendingin ruangan terdengar samar di telingaku.

Tanpa sadar pikiranku kembali tertuju pada Javier.

Ya Allah... sebenarnya apa rencana-Mu?

Kenapa hidupku jadi seperti ini? Kenapa aku harus dijodohkan? Apa ini memang skenario-Mu untukku? Apa memang dia laki-laki terbaik pilihan-Mu?

Aku menunduk pelan lalu mengusap wajahku.

Entah kenapa semakin dekat hari pernikahan itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku.

Setelah merapikan mukenah, aku keluar dari mushola lalu berjalan menuju ruangan Javier.

Tok tok.

Aku mengetuk pintu pelan, namun tidak ada jawaban dari dalam.

Tok tok.

Aku kembali mengetuk.

“Masuk aja.”

Aku langsung menoleh ke belakang.

Ternyata Javier berjalan ke arahku sambil membawa nampan berisi dua gelas minuman dingin.

“Aku kira kamu di dalem,” ucapku.

“Aku bikinin minum buat kamu,” jawab Javier santai.

“Nggak usah repot-repot.”

“Nggak repot kok.” Javier tersenyum kecil. “Udah yuk masuk.”

Aku dan Javier pun masuk ke dalam ruangan lalu duduk di sofa.

“Ini brosur rumahnya,” ucap Javier begitu kami duduk.

Aku menerima brosur itu lalu mulai melihat-lihat gambar rumah yang ditunjukkannya.

Rumah itu tidak terlalu besar, tapi terlihat bersih dan nyaman.

Dinding depannya didominasi warna putih dengan sedikit aksen batu krem. Di bagian depan ada carport kecil yang sepertinya cukup untuk satu mobil dan satu motor, serta halaman mungil dengan rumput hijau dan pohon kecil di sudutnya.

Bentuk rumahnya sederhana khas perumahan modern minimalis.

Tidak mewah.

Tapi entah kenapa aku bisa membayangkan rumah itu terasa hangat untuk ditinggali.

“Rumahnya bagus,” gumamku pelan. “Ini harganya berapa?”

“Lima ratus delapan puluh juta.”

“뭐?! (Apa?!)”

Aku langsung menatap Javier tidak percaya.

“오백발십?! (Lima ratus delapan puluh?) Serius segitu?”

Javier mengangguk tenang.

“Mahal banget buat rumah kayak gini doang.”

“Itu standar harga rumah tipe tiga puluh enam.”

“Wah...” Aku menggeleng pelan sambil kembali melihat brosurnya. “Ternyata gila juga ya harga properti itu.”

“Iya. Harga properti emang mahal-mahal banget.”

“Terus kalau harganya segitu cicilannya berapa?”

“Empat koma tiga juta.”

Aku langsung menoleh cepat.

“Selama berapa bulan itu?”

“Lima belas tahun.”

“Hah?” Mataku langsung membelalak. “십오년? 믿을 수 없어.... (Lima belas tahun? Nggak nyangka....)”

“Kamu ngomong apa sih?” tanya Javier sambil tertawa kecil.

“Aku nggak nyangka bisa selama itu nyicil rumah.” Aku menatapnya serius. “Berarti selama lima belas tahun kamu bakal nyisihin uang buat rumah terus dong?”

Javier mengangguk pelan.

“Mas...”

Javier menatapku.

“Kan kita...” Aku menggigit bibir bawahku sebentar. “Nggak tahu nikahnya sampai kapan.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

“Yakin kamu mau beli rumah?” tanyaku pelan. “Atau kalau kita udah cerai nanti kamu bakal tetap tinggal di rumah itu?”

Javier tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tertuju pada brosur rumah yang masih ada di tanganku.

Dan entah kenapa, diamnya kali ini terasa aneh bagiku.

“Kamu maunya kita bercerai?” tanya Javier tiba-tiba.

Aku langsung menatapnya.

“Bukannya kesepakatan kita kayak gitu?” jawabku. “Kalau udah nggak kuat, kita akan cerai.”

“Kalau kuat?”

Aku mengernyit kecil. “Apa yang buat kita kuat?”

Javier terdiam beberapa saat seolah sedang memikirkan jawabannya sendiri.

“Cin... ta?" ucapnya ragu.

Aku langsung terkejut mendengar kata itu keluar dari mulutnya.

“Mungkin.” Javier menambahkan pelan.

“Emang kamu bisa cinta sama aku?” tanyaku spontan.

Kini gantian Javier yang terlihat terdiam.

“Udah lah.” Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Kamu nggak usah jawab. Aku udah tahu jawabannya.”

“Apa jawabannya?” tanya Javier.

“Nggak mungkin.”

Entah kenapa mengatakan itu membuat dadaku terasa sedikit aneh.

“Aku nggak tahu, Nay,” ucap Javier pelan. “Aku cuma manusia biasa. Dan yang membolak-balikkan hati kan Allah.”

Eh?

Aku langsung menatap Javier.

Apa maksudnya?

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa membuatku bingung sendiri.

“Udah lah jangan bahas cinta-cinta,” ucapku cepat sambil menunduk melihat brosur rumah. “Nanti aku berharap lagi.”

“Hah?” Javier terlihat benar-benar bingung. “Berharap apa?”

“Udah udah. Sekarang kita bahas rumah aja.”

Javier masih terlihat kebingungan, tapi akhirnya mengangguk kecil.

“Ya udah.” Ia menunjuk brosur di tanganku. “Gimana rumah ini?”

“Kayak yang aku bilang tadi, bagus.” Aku kembali melihat gambar rumah itu. “Lagian sebenarnya kamu nggak usah minta pendapatku. Kan belinya pakai uang kamu. Aku hitungannya cuma numpang aja.”

Aku berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Dan aku kan istri. Istri harus nurut apa kata suami, kan?”

“Apa?” Javier langsung menatapku terkejut.

Aku ikut membeku.

Eh?

Apa yang baru saja aku katakan?

Dengan cepat aku langsung mengambil gelas di meja lalu meminumnya. Namun karena terlalu buru-buru, sebagian air yang kuminum malah mengalir ke bawah dan mengenai bajuku.

“Eh hati-hati...” Javier refleks bergerak mendekat.

Ia langsung mengambil tisu lalu tangannya sempat terangkat seolah ingin membantu mengelap bajuku.

Namun beberapa detik kemudian Javier berhenti sendiri.

Tatapannya langsung menghindar.

“Ini,” ucapnya sambil menyerahkan tisu itu padaku.

“Makasih.”

Aku cepat-cepat mengambil tisu dari tangannya lalu mengelap bagian bajuku yang basah.

Sementara itu Javier malah memalingkan wajahnya ke arah lain.

Hening.

Dan entah kenapa suasana hening itu malah membuatku semakin sadar kalau kami baru saja membicarakan hal yang aneh.

Tentang cinta.

Tentang berharap.

Tentang menjadi suami istri sungguhan.

Aku langsung melirik jam di tanganku untuk mengalihkan pikiranku sendiri.

Hari ternyata sudah semakin sore.

“Mas, aku pulang dulu,” ucapku sambil berdiri.

“Eh? Kamu mau pulang?” Javier langsung menoleh cepat.

“Iya. Takut orang tuaku nyariin.”

“Oh...” Javier ikut berdiri. “Ya udah aku anter ke depan.”

Aku mengangguk kecil.

Kami pun keluar dari ruangan Javier lalu berjalan berdampingan menuju pintu depan Ruang Rindu.

Namun begitu sampai di dekat pintu masuk, langkahku langsung terhenti.

Di luar ternyata hujan turun cukup deras.

Suara air memenuhi halaman depan rumah makan itu sementara jalanan mulai terlihat basah dan dipenuhi pantulan lampu kendaraan.

Aku langsung menghela napas pelan.

Dan entah kenapa... firasatku tiba-tiba tidak enak.

“Yah... kok hujan sih?” keluhku pelan sambil menatap derasnya air yang turun di luar.

“Kenapa?” tanya Javier.

“Aku nggak suka hujan. Apalagi kalau berkendara. Jalan kadang licin.”

“Ya udah, aku anterin.”

Aku langsung menggeleng cepat. “Eh nggak usah, nggak usah. Kalau kamu anterin aku, motorku gimana?”

“Dititipin sini aja.”

“Nggak, nggak.”

“Tadi katanya nggak suka berkendara kalau hujan,” ucap Javier sambil menatapku heran.

“Ya udahlah mau gimana lagi.”

“Serius?”

Aku mengangguk kecil.

“Ya udah aku pulang ya,” ucapku lalu melangkah hendak keluar.

“Eh tunggu.”

Langkahku langsung terhenti saat Javier tiba-tiba memegang tanganku untuk mencegahku pergi.

Aku menoleh pelan lalu menatap tangan Javier yang menggenggam pergelangan tanganku.

Dan seketika suasana di sekitarku terasa hening.

“Eh maaf... maaf...” Javier langsung melepaskan tangannya begitu sadar.

“I-iya...” jawabku lirih.

“Tadi kamu mau ke parkiran hujan-hujanan?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

Javier mengembuskan napas pendek.

“Tunggu sebentar.”

Setelah mengatakan itu, Javier kembali masuk ke dalam.

Aku hanya berdiri diam di dekat pintu sambil memandangi hujan.

Kenapa aku harus menunggu?

Tak lama kemudian Javier kembali sambil membawa sebuah payung hitam.

“Ayo,” ucapnya sambil membuka payung itu.

Aku hanya diam beberapa detik.

Maksudnya...

Kami akan memakai satu payung?

“Nay... Naya!”

“Hah?” Aku langsung tersadar.

“Ayo,” ulang Javier.

“Ah iya...”

Aku pun berjalan di samping Javier menuju parkiran dengan satu payung yang sama.

Suara hujan terdengar begitu jelas di sekitar kami.

Entah kenapa suasana itu terasa sangat aneh bagiku.

Rasanya seperti adegan di drama.

Dan lagi-lagi jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Aku hanya menatap lurus ke depan dan sama sekali tidak berani menoleh ke arah Javier. Rasanya terlalu canggung.

Sesampainya di parkiran, aku langsung memakai mantel dan helm. Sementara itu Javier masih berdiri di sampingku sambil memayungiku agar tidak kehujanan.

“aku pulang dulu ya, Mas,” ucapku setelah motorku berhasil menyala.

Javier mengangguk kecil.

“Oh iya, Nay...” ucapnya tiba-tiba. “Besok-besok mau nggak temenin aku lihat rumahnya?”

Aku menatap Javier.

“Walaupun rumahnya beli pakai uangku,” lanjutnya pelan, “kan yang bakal tinggal di rumah itu kita berdua.”

Deg.

Aku langsung mengalihkan pandangan.

“Oke,” jawabku akhirnya. “Tapi aku bisanya Sabtu atau Minggu. Yang libur.”

“Oke. Sabtu ya.” Javier tersenyum kecil. “Nanti aku hubungi developernya.”

Aku mengangguk pelan lalu mulai menjalankan motorku meninggalkan Ruang Rindu.

Di tengah guyuran hujan, aku pulang dengan perasaan yang bahkan lebih sulit dijelaskan dibanding pagi tadi saat berangkat kerja.

Pikiranku terasa penuh.

Dan entah kenapa yang terus teringat justru sentuhan-sentuhan kecil Javier hari ini.

Selama ini kontak fisik yang kulakukan dengan lawan jenis hanya sebatas berjabat tangan.

Tidak lebih.

Tapi hari ini...

Berbeda.

Aku langsung menggeleng cepat mencoba membuang semua pikiran aneh itu.

Aku tidak ingin berharap pada sesuatu yang rasanya tidak mungkin terjadi.

Beberapa menit kemudian aku sampai di rumah.

Aku memarkirkan motor di teras lalu mulai melepas mantel.

“Naya... kok kamu baru pulang sih?” tanya Ibu yang tiba-tiba keluar rumah.

“Maaf, Bu. Tadi aku ke Ruang Rindu dulu.”

“Ruang Rindu?” Ibu langsung mendekat penasaran. “Kamu ketemu Javier?”

Aku mengangguk kecil.

“Ngapain kamu ketemu dia?”

“Javier minta pendapatku soal rumah yang mau dia beli.”

“Eh? Javier udah mau beli rumah?” Mata Ibu langsung membesar. “Di mana?”

“Di mana ya tadi?” Aku pura-pura berpikir. “Lupa aku. Udah ah aku mau mandi.”

“Eh Nay... kok gitu sih?” protes Ibu.

Namun aku sudah keburu masuk ke dalam rumah sambil menahan senyum kecil yang bahkan aku sendiri tidak mengerti alasannya.

Begitu sampai di kamar, aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur.

Aku menatap langit-langit kamar cukup lama.

Lalu perlahan tanganku terangkat sendiri.

Pikiranku kembali memutar kejadian hari ini satu per satu.

Tentang Javier yang menarik tanganku di mushola.

Tentang Javier yang menahanku di depan pintu.

Dan tentang kami yang berjalan berdua di bawah payung saat hujan turun.

Rasanya semua itu seperti mimpi.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan mengalami hal seperti itu.

Selama ini adegan seperti itu hanya kulihat di drama.

Bukan aku yang mengalaminya sendiri.

Aku mengembuskan napas pelan lalu menutup wajahku dengan kedua tangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak perjodohan ini dimulai...

Aku mulai takut kalau hatiku benar-benar berubah.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!