Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Ryujin berjalan menyusuri koridor akademi sambil membawa beberapa dokumen yang baru diterimanya. Namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran itu. Entah sejak kapan, nama itu terus muncul di kepalanya.
Jinsei.
Awalnya dia tidak pernah peduli. Jinsei adalah putra Menteri Keuangan Yamato, pemuda dari keluarga terpandang, sopan, berbakat, dan dihormati banyak orang. Seseorang yang wajar jika disukai dan dihormati.
Tidak ada alasan baginya untuk memperhatikan orang seperti itu. Namun yang mengganggu bukanlah siapa Jinsei. Melainkan bagaimana Jinsei memperlakukan Yua.
Sejak pertama kali di gerbang itu… Cara Jinsei menatap Yua. Cara dia langsung memperhatikan kondisi Yua tanpa diminta. Cara dia seolah selalu muncul di saat Yua membutuhkan seseorang.
Seolah Yua adalah satu-satunya orang yang benar-benar dia lihat di antara keramaian yang lain. Ryujin mengeratkan genggamannya pada dokumen di tangannya.
"Kenapa harus Yua?"
Pikirannya mulai tidak tenang. Bukan karena Jinsei melakukan sesuatu yang salah. Bukan juga karena Yua melakukan sesuatu yang jelas. Justru itu yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Karena dari semua orang. Jinsei selalu terlihat paling peduli pada Yua.
Dan Yua…
Yua tidak pernah menolaknya.
Bahkan ketika mereka saling menyapa, ada sesuatu di mata Yua yang tidak pernah Ryujin lihat saat dia berbicara dengannya.
Ryujin berhenti sejenak di tengah koridor.
"Apa aku yang berlebihan?"
Dia mencoba menertawakan pikirannya sendiri. Namun bayangan itu tidak hilang. Senyum kecil Yua ketika bersama Jinsei. Tatapan Jinsei yang selalu terarah padanya. Dan cara mereka berbicara seolah dunia di sekitar tidak terlalu penting.
Ryujin menghela napas pelan.
Bukan Jinsei yang membuatnya kesal.
Bukan.
Yang membuat dadanya terasa sesak adalah kenyataan bahwa di antara begitu banyak orang di akademi ini... Jinsei adalah orang yang paling mudah berada di sisi Yua.
Dan itu cukup untuk membuatnya tidak nyaman.
Ryujin melanjutkan langkahnya sambil membaca dokumen di tangannya. Langkahnya tidak tergesa, tapi matanya terus mengikuti isi laporan. Koridor akademi cukup sepi siang itu.
Sampai,
Srek.
Bahunya tersenggol cukup keras. Dokumen di tangannya sedikit bergeser, tapi tidak sampai jatuh.
Ryujin langsung berhenti. Pelan dia menoleh ke samping. Di belakangnya, Jinsei berdiri. Jarak mereka dekat. Terlalu dekat untuk disebut tidak sengaja sepenuhnya.
Ryujin menatapnya sebentar. Lalu berkata,
“Koridor ini tidak terlalu sempit.”
Jinsei meliriknya sekilas, lalu ke arah dokumen di tangan Ryujin.
“Kalau dilihat sambil jalan, memang terasa begitu.”
Ryujin menutup dokumennya perlahan. Dia mengangguk kecil, pelan sambil tersenyum tipis lalu berkata,
“Menarik. Jalanmu cukup berani.”
Jinsei menatapnya sekarang.
“Dan dokumenmu cukup penting sampai tidak bisa berhenti sebentar.”
Ryujin balas menatap. Tidak sengaja pandangan tertuju pada gelang yang dikenakan Jinsei.
“Tidak semua orang punya waktu untuk memperhatikan sekitar.”
“Dan tidak semua orang perlu memperhatikan terlalu lama.”
Hening sebentar. Lewat begitu saja. Tidak ada yang menoleh lagi. Tidak ada yang meminta maaf.
Hanya langkah yang kembali berjalan ke arah masing-masing, seolah tabrakan tadi tidak cukup penting untuk diingat lebih lama. Tapi keduanya tahu. Itu bukan sekadar kebetulan.
---
Ryujin tiba di aula akademi dengan beberapa dokumen di tangannya.
Suasana di dalam cukup ramai. Beberapa anggota lain sedang mengurus administrasi misi, sebagian lainnya keluar masuk membawa laporan.
Begitu Yua melihatnya dari kejauhan, dia langsung berdiri. Tanpa menunggu lama, Yua menghampirinya.
Yua melirik tumpukan di tangannya, lalu mengambil sebagian tanpa banyak bicara.
“Aku bantu.”
Ryujin sempat menatapnya sebentar.
“Tak apa...” ucap Ryujin.
“Terlalu banyak untuk dibawa sendirian.”
Yua sudah berjalan lebih dulu menuju meja kerja kosong di sisi aula. Ryujin tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengikuti. Di meja itu, Yua mulai membuka sebagian dokumen dan menyalinnya dengan cepat ke lembaran baru.
Tangannya bergerak rapi, fokus. Ryujin berdiri di sampingnya. Matanya tidak benar-benar ke dokumen di atas meja. Lebih ke arah Yua. Cara Yua menunduk saat menulis. Cara rambutnya jatuh sedikit ke samping wajahnya. Cara dia tetap tenang meski suasana ramai di sekitar mereka.
Yua menghela napas kecil tanpa menoleh.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?”
Ryujin tidak langsung menjawab. Matanya masih pada Yua.
“Aku hanya memastikan kau tidak salah menulis.”
Yua mendecih pelan.
“Aku sudah biasa menyalin dokumen.”
“Tidak semua orang teliti.”
Yua akhirnya menoleh sekilas.
“Termasuk kau bukan?”
Ryujin terdiam sebentar.
“Mungkin.”
Yua kembali fokus pada tulisannya, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Kalau begitu jangan ganggu.”
Ryujin tidak bergerak. Namun pandangannya turun sedikit ke pergelangan tangan Yua.
Sebuah gelang baru.
Sederhana, tapi jelas bukan barang sembarangan.
"Bentuknya.. familiar." batin Ryujin.
Sangat mirip dengan sesuatu yang tadi ia lihat sekilas saat di koridor. Ryujin mengamati sebentar.
“Gelangmu baru?.”
Yua sedikit terkejut, lalu refleks menarik tangannya pelan.
“Ah.. ini, iya".
Yua tersenyum kecil. Ryujin menatapnya lebih lama. Tidak mendesak. Tidak bertanya lagi. Dan tanpa Yua sadari, tangannya sedikit menyentuh gelang itu seolah memastikan sesuatu tetap di tempatnya.
Ryujin mengalihkan pandangan kembali ke dokumen di meja. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, fokusnya sudah tidak sepenuhnya pada pekerjaan.
---
Ruangan pribadi Yamato terasa tenang, hanya suara hujan tipis di luar yang menempel di kaca jendela.
Aroma teh hangat memenuhi udara.
Di seberang meja, Menteri Pertahanan, Satoshi duduk dengan ekspresi tenang, tapi matanya tajam seperti biasa.
Satoshi yang pertama berbicara.
“Dewan istana mulai terpecah.”
Yamato tidak langsung menjawab. Dia mengangkat cangkirnya sedikit, mencium aroma teh sebelum berbicara pelan.
“Terpecah karena ketidakpastian, atau karena dorongan tertentu?”
Satoshi menatapnya tajam.
“Keduanya.”
Hening singkat. Yamato meletakkan cangkirnya perlahan.
“Dan Yang Mulia?”
Satoshi mengeluarkan napas pelan.
“Masih percaya pada lingkaran yang sama. Orang-orang yang tidak semuanya mampu menjaga stabilitas.”
Yamato menatap permukaan teh di hadapannya.
“Kepercayaan sering kali lebih kuat daripada bukti.”
Satoshi menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang.
“Dan itu masalahnya.”
Nada suaranya lebih rendah sekarang.
“Kepercayaan yang salah arah akan tetap disebut kebijakan sampai semuanya terlambat.”
Yamato menatapnya sebentar.
“Jadi kau melihat adanya pergeseran.”
Satoshi tidak langsung menjawab. Diaa memilih kata-katanya.
“Aku melihat arah yang tidak lagi menguntungkan fondasi kekaisaran.”
Angin di luar bertiup sedikit lebih kencang, membuat jendela bergetar pelan. Yamato akhirnya berbicara.
“Fondasi kekaisaran tidak hanya ditentukan oleh satu orang.”
“Benar.” ucap Tuan Satoshi.
“Namun satu orang dapat menentukan seberapa cepat fondasi itu retak.”
Hening kembali turun.
Yamato menatap Satoshi lebih lama kali ini.
“Dan menurutmu.. retakan itu sudah mulai terlihat?”
Satoshi menjawab tanpa ragu.
“Sudah lama terlihat. Hanya saja sekarang mulai terdengar.”
Kalimat itu menggantung di udara. Yamato menghela napas pelan, seperti mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih besar dari percakapan mereka.
“Apa yang kau sarankan?”
Satoshi tidak langsung menjawab. Tangannya mengetuk meja sekali.
Pelan.
Terukur.
“Penataan ulang pengaruh.”
Yamato menatapnya.
“Di dalam istana.”
“Di dalam keputusan.”
Satoshi menambahkan dengan tenang.
“Dan di dalam siapa yang benar-benar didengar oleh kekaisaran.”
Yamato diam. Tidak menolak. Tidak menyetujui. Hanya mengamati. Lalu dia berbicara pelan.
“Perubahan seperti itu tidak pernah berjalan tanpa perlawanan.”
Satoshi menatapnya lurus.
“Perlawanan selalu ada.”
Jeda.
“Pertanyaannya hanya.. siapa yang lebih siap menghadapinya.”
Keheningan kembali jatuh. Kali ini lebih lama. Yamato akhirnya berdiri, merapikan lengan bajunya dengan tenang. Tuan Yamato lalu berkata,
“Kita tidak perlu terburu-buru. Selama arahnya sudah jelas.”
Mereka saling menatap singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada ancaman terbuka. Hanya kesepahaman diam bahwa permainan di dalam istana sudah berubah bentuk.
“Belakangan ini, istana menjadi lebih.. aktif,” ujar Tuan Satoshi pelan.
Tuan Yamato tidak langsung menanggapi.
“‘Aktif’ adalah cara halus untuk mengatakan ‘tidak stabil’,” jawabnya akhirnya.
Yamato tersenyum kecil, tipis.
“Tidak semua aktivitas buruk. Tergantung siapa yang mengarahkannya.”
Satoshi menatapnya sebentar.
“Dan saat ini arah itu tidak tunggal.”
Yamato mengangguk pelan, seolah setuju tanpa benar-benar mengiyakan.
“Wajar. Kekaisaran sebesar ini tidak bisa bergantung pada satu pandangan saja.”
Satoshi mengangkat cangkirnya sedikit.
“Masalahnya bukan pada banyaknya pandangan.”
Jeda singkat.
“Masalahnya adalah mana yang akhirnya dipercaya.”
Yamato menatap permukaan teh di cangkirnya.
“Kepercayaan tidak lahir dari kekuasaan.”
Dia berhenti sebentar.
“Kepercayaan lahir dari rasa aman.”
Satoshi mengerti arah pembicaraan itu.
“Dan rasa aman saat ini sedang terganggu.”
Yamato mengangguk kecil.
“Gangguan seperti itu.. biasanya tidak disebabkan oleh satu peristiwa.”
Satoshi melanjutkan.
“Tapi oleh beberapa keputusan kecil yang menumpuk.”
Hening sebentar. Hujan di luar terdengar sedikit lebih keras. Yamato akhirnya berbicara lagi.
“Jika itu benar, maka yang dibutuhkan bukan perubahan besar.”
Dia menatap Satoshi dengan tenang.
“Tapi penyesuaian kecil di tempat yang tepat.”
Satoshi mengamati Yamato lebih lama.
“Dan siapa yang menentukan tempat yang tepat itu?”
Yamato tersenyum halus.
“Orang yang paling memahami bagaimana sistem ini berjalan.”
Satoshi menatapnya tanpa berubah ekspresi.
“Kau terlalu hati-hati, Yamato.”
Yamato meletakkan cangkirnya perlahan.
“Hati-hati adalah cara lain untuk memastikan tidak ada yang rusak tanpa perlu.”
Satoshi mendengus pelan.
“Kadang sesuatu memang harus ‘disesuaikan’ agar tidak runtuh sendiri.”
Yamato tidak membantah. Dia hanya menatap Satoshi sejenak.
“Yang penting bukan siapa yang memegang kendali.”
Suaranya pelan.
“Tapi agar kendali itu tidak jatuh ke tangan yang salah tanpa disadari siapa pun.”
Hening.
Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman. Tidak juga seperti rencana. Lebih seperti prinsip. Satoshi akhirnya berdiri.
“Aku akan mengamati perkembangan di lapangan.”
Yamato mengangguk.
“Dan aku akan memastikan jalur informasi tetap bersih.”
Satoshi berhenti sejenak sebelum pergi.
“Kalau arah mulai bergeser?”
Yamato menjawab tanpa menoleh.
“Kita hanya perlu memastikan semua orang merasa itu memang dari awal adalah arah yang benar.”
Satoshi tidak menjawab lagi. Dia pergi. Pintu tertutup. Yamato tetap duduk di tempatnya.
Aroma teh masih hangat.
Dan ruangan itu kembali sunyi, seolah tidak ada percakapan penting yang baru saja terjadi.