Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Kebakaran
Hari Rabu itu adalah hari yang sangat padat di kantor. Tumpukan dokumen dari cabang Jerman, proposal baru dari klien Swiss, dan laporan keuangan kuartalan semuanya menumpuk di meja Sarah. Ia sibuk mengetik, bolak-balik mencetak dokumen, dan sesekali berlari ke ruang rapat untuk memberikan laporan pada Samudra.
Pukul dua siang, Sarah baru saja selesai mengirimkan email penting ketika ponselnya berdering. Ia melihat layar, dan nomor itu tidak dikenalnya. Dengan sedikit ragu, ia menjawab.
"Halo?"
"Bu Sarah? Saya tetangga Ibu, dari apartemen sebelah. Mohon maaf mengganggu, tapi... apartemen Ibu terbakar!"
Sarah langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang. "Apa? Terbakar? Bagaimana bisa?"
"Maaf, Bu. Saya lupa mematikan kompor saat memasak, apinya merambat sampai ke dapur Ibu. Pemadam kebakaran sudah datang, tapi apartemen Ibu terkena dampaknya. Ada asap tebal dan beberapa barang rusak. Ibu harus segera pulang!"
Sarah mematikan telepon, tangannya gemetar. Ia membayangkan semua barang berharganya—laptop, pakaian, foto-foto kenangan—semuanya mungkin sudah hangus atau rusak.
Ia bergegas keluar dari ruang kerjanya, berlari menuju ruang Samudra. Ia mengetuk pintu dengan keras, lalu langsung membukanya tanpa menunggu jawaban.
"Pak! Pak, saya minta izin pulang sekarang!"
Samudra yang sedang menandatangani dokumen mengangkat kepalanya. Ia melihat wajah Sarah yang panik dan pucat. "Ada apa, Sarah?"
"Apartemen saya kebakaran, Pak! Tetangga lupa mematikan kompor. Saya harus pulang sekarang!"
Samudra meletakkan pulpennya, berdiri, dan meraih jasnya. "Aku antar kamu."
"Pak, saya bisa naik taksi—"
"Aku antar kamu," ulang Samudra tegas. "Jangan buang waktu."
Sarah tidak bisa membantah. Ia berlari mengikuti Samudra keluar dari ruangan. Marco yang sedang lewat di lorong hanya bisa melongo melihat bosnya berjalan cepat meninggalkan kantor di tengah jam kerja.
Mereka turun ke lobi dengan lift. Saat mereka melewati pintu putar, Sarah berhenti sejenak, berniat memesan taksi di aplikasi. Tapi Samudra sudah lebih dulu berjalan menuju mobilnya.
"Masuk," perintah Samudra, membuka pintu mobil.
Sarah menatap Samudra, lalu mobil hitam itu. Ia tidak punya pilihan lain. Ia masuk ke dalam mobil, dan Samudra segera melajukan mobil meninggalkan kantor.
Perjalanan menuju apartemen Sarah cukup padat, tapi Samudra menyetir dengan cepat dan hati-hati. Sesekali, ia melirik Sarah yang masih terlihat sangat panik.
"Tenang, Sarah. Pemadam sudah di sana. Mungkin barang-barangmu masih bisa diselamatkan," ujar Samudra mencoba menenangkan.
"Pak, saya punya kenangan di sana. Foto-foto orang tua saya. Buku-buku lama. Kalau semua hangus..." suara Sarah bergetar.
Samudra mengerutkan kening. Ia tidak suka melihat Sarah seperti ini. Wanita itu selalu terlihat kuat, tapi hari ini ia terlihat sangat rapuh.
Mereka tiba di depan apartemen Sarah sekitar 20 menit kemudian. Saat Sarah turun dari mobil, matanya langsung membelalak. Di depan pintu masuk apartemen, sudah banyak orang berkumpul. Ada dua mobil pemadam kebakaran dengan selang besar yang masih mengalirkan air. Asap hitam tebal masih mengepul dari jendela lantai dua—lantai tempat apartemen Sarah berada.
Sarah berlari mendekati area parkir, mencoba melihat lebih jelas. Samudra mengikutinya dari belakang. Seorang petugas pemadam mendekati mereka.
"Anda penghuni apartemen ini?" tanya petugas itu.
"Iya, Pak. Saya Sarah. Bagaimana kondisinya?" tanya Sarah cemas.
"Kebakaran sudah padam. Tapi api sempat menjalar ke kamar tidur dan dapur Anda. Sebagian barang ikut terbakar. Saat ini kami masih melakukan pendinginan dan pemeriksaan," jawab petugas.
Sarah menatap bangunan itu. Dari lantai dua, ia bisa melihat jendela apartemennya yang hitam, kacanya pecah. Ia merasa lemas. Tanpa sadar, ia menggenggam erat lengan Samudra.
Samudra tidak menarik tangannya. Ia membiarkan Sarah berpegangan padanya, merasa bahwa wanita itu membutuhkan dukungan fisik saat ini.
"Apakah saya bisa masuk?" tanya Sarah.
"Maaf, Bu. Belum boleh. Masih ada asap dan risiko struktur bangunan. Kami akan beri tahu jika sudah aman," jawab petugas.
Sarah menghela napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Apartemennya tidak bisa dihuni. Barang-barangnya mungkin rusak. Dan ia tidak punya tempat lain untuk bermalam.
Samudra melihat perubahan ekspresi Sarah. Matanya tidak lagi dingin, tapi penuh perhatian.
"Sarah," ujar Samudra, suaranya rendah. "Kamu tidak bisa tinggal di sini. Tidak ada listrik, tidak ada air, dan kamu hamil. Kamu tidak bisa tidur di sembarang tempat."
Sarah menatap Samudra. "Pak, saya bisa menginap di hotel."
Samudra menggeleng. "Hotel tidak aman untukmu. Makanannya belum tentu higienis, dan kamu butuh kenyamanan. Dengarkan aku. Sementara waktu, kamu tinggal di mansionku. Ada banyak kamar kosong. Kamu bisa memilih kamar mana pun yang kamu suka."
Sarah membelalak. "Pak, saya tidak enak. Ini di luar kontrak. Bapak tidak harus melakukan ini."
"Ini bukan tentang kontrak, Sarah. Ini tentang keselamatanmu. Dan keselamatan janinmu," jawab Samudra tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu tidur di hotel atau di tempat asing. Aku bertanggung jawab atasmu. Jadi, jangan menolak."
Sarah menatap Samudra. Wajahnya serius, tidak bisa ditawar. Dan di balik semua itu, Sarah bisa melihat ada sedikit kehangatan. Ia akhirnya mengangguk.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Samudra menghela napas lega. "Sekarang, kita ambil barang-barangmu yang masih bisa diselamatkan. Setelah itu, kita ke mansion."
Mereka menunggu sekitar satu jam hingga petugas pemadam mengizinkan mereka masuk. Sarah berjalan ke apartemennya dengan hati-hati. Dapur dan kamar tidurnya rusak parah. Tapi di ruang tamu, beberapa barang masih terselamatkan. Ia mengambil beberapa pakaian, laptop, dan dompetnya. Foto-foto orang tuanya juga masih selamat karena ia menyimpannya di laci meja yang tidak terjangkau api.
Sarah mengemas semua barang yang bisa diselamatkan ke dalam satu tas besar. Samudra membantunya membawanya.
"Sudah cukup?" tanya Samudra.
"Sudah, Pak. Yang lain mungkin sudah tidak bisa dipakai," jawab Sarah, suaranya sedikit sedih.
Mereka kembali ke mobil. Samudra membuka pintu untuk Sarah, lalu memasukkannya ke bagasi. Setelah itu, mereka berangkat menuju mansion Samudra.
Perjalanan menuju mansion memakan waktu sekitar 40 menit. Mansion itu berada di pinggiran Milan, di atas sebuah bukit kecil, dengan pemandangan kota yang indah. Rumah itu sangat megah, jauh lebih besar dari rumah Kakek Idris.
Saat mereka tiba, Samudra membawa Sarah masuk. Ia menuntunnya ke lantai dua, membuka pintu sebuah kamar tidur yang luas dengan jendela besar menghadap ke taman.
"Ini kamar tidur tamu utama. Kamar mandinya ada di sebelah. Ada lemari pakaian kosong, kamu bisa menaruh barang-barangmu di sini," ujar Samudra.
Sarah menatap kamar itu. Tempat tidurnya besar dan bersih, seprainya berwarna putih. Ada meja rias, cermin besar, dan karpet bulu tebal di lantai. Ini jauh lebih mewah dari apartemennya.
"Pak... saya benar-benar tidak tahu harus bilang apa," ucap Sarah.
"Kamu tidak perlu bilang apa-apa. Tinggal saja di sini sampai apartemenmu diperbaiki. Kalau butuh apa-apa, hubungi aku. Felix akan mengantarkan makanan untukmu setiap pagi."
Sarah mengangguk. "Terima kasih, Pak. Sungguh."
Samudra menatap Sarah. "Kamu pasti lelah. Istirahatlah. Besok kita akan bicara tentang langkah selanjutnya."
Samudra berbalik dan pergi, meninggalkan Sarah sendirian di kamar itu. Sarah menatap sekeliling, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia memegang perutnya, yang masih terasa aman.
"Setidaknya aku dan kamu selamat," bisiknya pada janinnya. "Dan sekarang, kita punya tempat untuk berlindung."
Malam itu, Sarah tidur di mansion Samudra. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, takdir sedang membawanya ke tempat yang seharusnya.