NovelToon NovelToon
AKAD NIKAHKU BATAL KARENA TUNANGANKU MENGHAMILI WANITA LAIN

AKAD NIKAHKU BATAL KARENA TUNANGANKU MENGHAMILI WANITA LAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengkhianatan / Drama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Umma Khummaira

Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.

Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.

Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.

Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Suasana Minggu pagi di dalam unit apartemen mewah milik Larasati di kawasan Jakarta Selatan terasa begitu tenang. Sinar matahari pagi menembus celah gorden jendela kaca besar, menerangi ruang tengah yang tertata rapi minimalis. Larasati baru saja menyelesaikan sarapan sederhananya dan sedang duduk santai di sofa kulit sambil memegang secangkir teh melati hangat, menikmati hari libur kerja yang sudah lama tidak ia rasakan dengan pikiran yang rileks.

Drrt... drrt...

Ponsel Larasati di atas meja kaca bergetar, menampilkan nama sang ayah, Baskoro, di layarnya. Larasati tersenyum tipis lalu segera menggeser layar untuk mengangkat sambungan telepon tersebut.

"Selamat pagi, Ayah. Ada apa telepon Laras sepagi ini?" sapa Larasati dengan nada suara yang lembut dan santai.

Di seberang telepon, suara Baskoro terdengar sangat tenang.

"Selamat pagi, Laras sayang. Ayah menelepon karena ada hal penting yang ingin Ayah sampaikan. Baru saja, Ayahnya Arjuna menghubungi Ayah secara pribadi. Dia meminta izin untuk datang langsung ke rumah utama kita sore nanti pukul empat."

Larasati tertegun sejenak, menurunkan cangkir tehnya ke atas meja. "Om Hendra mau datang ke rumah, Yah? Sama siapa aja?"

"Dia tidak sendiri, Nak. Hendra akan membawa istrinya, serta mengajak Arjuna dan Selly untuk datang langsung bertemu kamu dan Ayah." jawab Baskoro dengan nada suara yang melembut, memberikan penjelasan dengan hati-hati.

"Hendra bilang, mereka ingin meminta maaf secara terbuka dan tulus langsung di hadapan kita secara tatap muka. Ayah sudah mengizinkan karena tidak mau memelihara dendam. Jadi, apakah kamu bisa pulang ke rumah Ayah siang ini, Laras?"

Larasati menyandarkan punggungnya ke sofa, mengembuskan napas panjang yang terasa begitu lega. Tidak ada lagi gurat kemarahan atau letupan emosi negatif di dadanya. Di dalam lubuk hatinya, Larasati terus merapalkan doa, berusaha keras untuk mengikis habis sisa-sisa rasa tidak nyaman atau perih yang mungkin masih tertinggal akibat peristiwa lalu. Ia ingin menyambut mereka dengan hati yang benar-benar bersih dan ikhlas.

"Laras tidak keberatan sama sekali, Ayah. Laras justru bersyukur kepada Tuhan karena mimpi buruk ini bisa diselesaikan dengan cepat tanpa harus berlarut-larut dalam lingkaran kebencian.

Siang ini, setelah bersiap-siap, Laras langsung menyetir mobilnya menuju rumah orangtuanya.

Pukul dua siang, Larasati tiba di kawasan perumahan itu. Sambutan hangat dari Ayah Baskoro dan Ibu Ratna di teras belakang membuat hatinya kian damai. Mereka sempat minum teh bersama di ayunan kayu, mematangkan ketegangan batin sebelum tamu mereka tiba di sore hari.

Tepat pukul empat sore, dua mobil mewah milik keluarga Arjuna perlahan berhenti di depan pagar tinggi rumah Baskoro. Dari mobil pertama, turun Hendra dan istrinya dengan pakaian formal yang sangat sopan namun bersahaja. Sementara dari mobil kedua, Arjuna melangkah keluar dengan setelan kemeja batik tulis yang elegan, berjalan pelan sambil menggandeng tangan Selly yang tampak anggun mengenakan gaun terusan hamil berwarna pastel yang longgar dan rapi. Di tangan Arjuna, terdapat sebuah keranjang anyaman besar berisi buah-buahan premium impor dan sekotak kue tradisional kelas atas dari toko kue paling ternama di Jakarta. Buah tangan ini sengaja disiapkan oleh Ibunya Arjuna.

Langkah kaki mereka menyusuri halaman depan. Begitu pintu utama dibuka oleh Baskoro dan Ratna, Hendra langsung melangkah maju, mengulurkan kedua tangannya untuk menjabat tangan rekannya itu dengan sangat erat.

"Baskoro, Ratna... Terima kasih banyak atas kebesaran hati kalian yang luar biasa, karena sudah sudi mengizinkan keluarga kami yang penuh aib ini untuk menginjakkan kaki di rumahmu." ucap Hendra dengan suara yang bergetar lirih, melepaskan seluruh egonya demi menebus dosa masa lalu anaknya.

Baskoro membalas jabat tangan itu dengan senyuman hangat penuh keteduhan. "Masuklah, Hendra. Hari minggu ini terlalu berharga untuk terus memelihara dinding pembatas. Mari kita mengobrol di ruang tamu."

Mereka semua akhirnya duduk melingkar di atas sofa ruang tamu yang mewah namun terasa begitu sejuk.

Larasati berjalan keluar dari arah koridor dalam, memancarkan aura wanita mandiri yang sangat anggun dan tenang.

Melihat kehadiran Larasati, Arjuna langsung meletakkan buah tangan mewahnya di atas meja marmer, lalu berdiri bersama Selly dengan kepala yang tertunduk dalam.

Tanpa memedulikan gengsi atau martabat di depan orang tua, Arjuna dan Selly melangkah maju, lalu menjatuhkan diri mereka untuk berlutut bersimpuh di atas lantai ubin, tepat di depan lutut Larasati serta kedua orang tuanya. Tangis penyesalan keduanya itu seketika pecah.

"Larasati... Om Baskoro, Tante Ratna... di hari ini, aku dan Selly datang bersimpuh untuk memohon ampunan yang sedalam-dalamnya secara langsung di hadapan kalian semua." ratap Arjuna dengan suara serak yang tersedak oleh air mata, tubuh tegapnya bergetar hebat meluapkan rasa penyesalannya.

"Perbuatanku ini telah merobek kehormatan keluarga besar kita. Tolong ampuni aku... Terima kasih banyak karena Larasati sudah sangat adil menyelamatkan karier kerjaku kemarin."

Selly ikut menangis tersedu-sedu di samping suaminya, mencium punggung tangan Ratna dan Larasati dengan takzim dan penuh kepasrahan.

"Mbak Laras... saya memohon maaf setulus-tulusnya karena telah menjadi orang ketiga yang merusak kebahagiaan Mbak. Saya mengaku salah, saya siap menerima hukuman apa pun, namun saya mohon... ampuni dosa masa lalu kami agar anak di dalam kandungan saya ini bisa lahir dengan lembaran hidup yang lebih bersih..."

Suasana di dalam ruang tamu megah itu mendadak berubah mengharu biru yang luar biasa dalam.

Ratna dan Ibu Arjuna tampak saling berpelukan di sofa sambil menangis bersama, menyadari beban mental yang harus dipikul oleh anak-anak mereka akibat kelalaian masa lalu.

Larasati merunduk perlahan, lalu dengan jemarinya yang lembut, ia memegang bahu Arjuna dan Selly secara bergantian, menuntun kedua insan itu untuk bangkit berdiri kembali dari lantai ubin dan duduk di sofa kosong. Sorot mata Larasati memancarkan keteduhan seorang wanita yang telah berdamai dengan takdir.

"Arjuna, Selly... berdirilah. Kalian tidak perlu bersimpuh seperti ini lagi di depanku." ucap Larasati dengan nada suara yang teramat lembut, jernih, dan menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya.

Larasati menatap lekat wajah pucat Selly, lalu mengulas senyum tulus yang paling indah. "Semua luka masa lalu sudah aku kubur dalam-dalam, dan hari ini aku nyatakan di hadapan kedua orang tua kita kalau aku sudah seratus persen ikhlas memaafkan kalian berdua. Tidak ada lagi rasa tidak nyaman barang sedikit pun di hatiku. Sekarang, fokuslah membangun keluarga kecil kalian. Jagalah kandungan Selly dengan baik. Masa depan sudah menanti kalian."

Mendengar untaian kata-kata bijaksana dari Larasati, Hendra dan istrinya langsung menarik napas lega yang teramat besar dengan air mata syukur yang menetes di pipi mereka.

1
Melda Andriyani
jempol untuk mu Larasati 😍😍🤗
Siti M Akil
lanjut thor
sunaryati jarum
Dikhianati tunangan dicintai bos besar
sunaryati jarum
Kena mental kan kamu , Arjuna
sunaryati jarum
Kapook
sunaryati jarum
Ibumu orang baik,demi smbisimu hidup enak dan kebiasaan hidup liarmu membawamu menjadi pelakor.
Ibu Anak Dua
Sebagai pemula ya novel ini bisa dibilang lumayan ya. Semoga author semakin semangat menerbitkan karyanya
Ibu Anak Dua
laki-laki alasannya dijebak, tapi sampai hamidun gede gitu. Ya ampun Junnnn,,,sing eling toh Jun
partini
silakan di nikmati jun penyesalan mu
Ibu Anak Dua
syalan kalian emang🤭🤭🤭
Ibu Anak Dua
munahfiq banget si Jun, dasar buaya🤣🤣
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
partini
aihhh kata cinta tapi selingkuh itu ga cinta namanya jun
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!