NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9: Cetak Biru Menuju Kompetisi Resmi

BAB 9: Cetak Biru Menuju Kompetisi Resmi

Malam harinya, setelah mandi dan makan malam bersama ibunya, Velix duduk bersila di atas kasur kamarnya. Kamar itu terasa sunyi, hanya ditemani suara jangkrik dari luar jendela dan deru kipas angin dinding yang berputar pelan.

Velix memejamkan mata, memfokuskan pikirannya untuk memanggil layar Sistem.

Ting!

[STATUS TUAN RUMAH - DIPERBARUI]

Nama: Velix Purnama (Usia: 14 Tahun)

Posisi Kemampuan: Amatir Atas

Fisik:

- Kecepatan (Speed): 45.2 / 100

- Stamina: 40.3 / 100

- Kekuatan (Strength): 39.0 / 100

Teknik:

- Kontrol Bola (Ball Control): 38.2 / 100

- Operan (Passing): 43.5 / 100

- Tembakan (Shooting): 31.0 / 100

[Miliki Skill: Sentuhan Pertama Sutra (Berbatov - Fase 1 / Sinkronisasi: 8%)]

[System Points (SP): 51 SP]

Velix mengamati angka-angka itu dengan ketenangan seorang pria dewasa. Meskipun ada peningkatan di beberapa sektor setelah seminggu latihan spartan dan performa gemilang di seleksi sekolah, dia tidak boleh cepat berpuas diri.

'Rating rata-rataku masih di kisaran 40. Untuk level SMP negeri di Jakarta Timur, ini mungkin sudah cukup untuk jadi pembeda. Tapi kalau targetku adalah masuk akademi profesional, lalu terbang ke Eropa... angka ini masih terlalu jauh,' analisis Velix logis.

Pandangannya kemudian beralih ke angka 51 SP. Hanya butuh 9 poin lagi untuk menyentuh angka 60 SP, jumlah minimal untuk membeli skill permanen pertamanya di Toko Tier Perunggu.

Sisi antusiasnya sebagai pencinta sepak bola garis keras mulai membayangkan kombinasi yang mematikan. 'Kalau aku bisa mengombinasikan Sentuhan Pertama Sutra milik Berbatov dengan Ketenangan Penalti Frank Lampard, atau visi operan pendek Xavi... lini tengah tim sekolah ini akan berada di level yang sepenuhnya berbeda.'

[Pemberitahuan Sistem: Turnamen Antar-Kecamatan akan dimulai dalam 10 hari.]

[Misi Utama Baru Tersedia: "Juara Kecamatan".]

[Tujuan: Bawa Tim SMP Anda menjuarai Turnamen Antar-Kecamatan.]

[Hadiah Utama: 100 System Points (SP), +5.0 untuk Semua Atribut Fisik, dan Membuka Akses ke Toko Tier Perak.]

[Penalti Gagal: Tidak ada, tetapi kegagalan akan menunda perkembangan cetak biru karier Anda selama 1 tahun.]

Mata Velix berbinar menatap layar emas tersebut. Seratus poin! Ditambah peningkatan semua atribut fisik sebesar lima poin secara instan. Itu adalah lompatan besar yang dia butuhkan untuk mempercepat perkembangan tubuh remaja amatirnya.

"Menunda satu tahun berarti membuang waktu berharga. Di usia 15 tahun nanti, aku sudah harus masuk radar klub profesional lokal," gumam Velix dengan mata berkilat penuh tekad. Mode seriusnya langsung terkunci meskipun dia sedang berada di dalam kamar.

Keesokan harinya di sekolah, atmosfer sudah berubah. Pengumuman resmi 18 pemain yang lolos seleksi telah ditempel di mading sekolah. Nama Velix Purnama tercantum di urutan teratas untuk pengisi pos gelandang serang, bersanding dengan Danu sebagai kapten dan gelandang bertahan.

Saat jam istirahat, Velix sedang duduk di kantin bersama Ryan sambil menikmati es teh manis. Tiba-tiba, Danu datang membawa lembaran kertas dan langsung duduk di hadapan Velix. Sikap Danu sangat hangat, jauh dari kesan angkuh yang dulu melekat padanya.

"Vel, ini ada jadwal pembagian grup buat turnamen minggu depan," kata Danu sambil menyodorkan kertas tersebut. "Kita masuk di Grup B. Musuh paling berat itu SMP 21. Mereka punya striker langganan tim regional Jakarta Timur. Badannya bongsor, larinya cepat mirip penyerang tarkam."

Velix menerima kertas itu dengan tenang. Dia melihat nama-nama sekolah yang akan menjadi lawan mereka. Berkat memori masa depannya, dia samar-samar ingat bahwa SMP 21 memang selalu menjadi momok menakutkan di turnamen tingkat pelajar daerah ini.

"Lu nggak kelihatan tegang sama sekali, Vel?" tanya Danu heran melihat ekspresi Velix yang sedatar air di dalam gelas.

Velix tersenyum hangat, menepuk bahu Danu. "Tegang nggak akan bikin musuh kita jadi lemah, Dan. Mending kita fokus ke latihan taktik dari Pak Joko sore nanti. Kalau striker mereka cepat, kita tinggal potong aliran bolanya dari lini tengah sebelum sampai ke dia. Itu tugas gua dan lu nanti."

Danu tertegun mendengar analisis singkat yang begitu dewasa dan tenang dari mulut Velix. Rasa percaya dirinya yang sempat ciut langsung bangkit kembali. "Lu bener. Lu yang ngatur ritme di depan, gua yang bakal jadi badak di belakang lu buat rebut bola."

"Nah, gitu dong. Itu baru kapten," balas Velix dengan tawa renyah, kembali ke sifat ramahnya di luar lapangan.

Sore harinya, latihan resmi perdana tim sekolah dimulai dengan intensitas yang lebih tinggi. Pak Joko tidak lagi memberikan latihan dasar, melainkan fokus pada skema permainan formasi 4-2-3-1, dengan Velix sebagai pusat orkestrasi serangan di posisi nomor 10.

Dalam latihan tanding koordinasi tersebut, Velix tidak banyak berlari egois. Dia memanfaatkan ketenangan mentalnya untuk mendikte permainan. Setiap kali bola datang ke kakinya, dengan Sentuhan Pertama Sutra, dia langsung menjinakkan bola dalam sekali sentuh, lalu membaginya ke sayap atau memberikan umpan terobosan tak terduga yang memanjakan striker.

Pak Joko yang berdiri di pinggir lapangan terus mengangguk-angguk puas dengan peluit di mulutnya. "Bagus, Velix! Alirkan terus seperti itu! Jangan biarkan gelandang lawan punya waktu untuk mendekat!"

Di sela-sela peluh yang membanjiri tubuhnya, Velix melirik papan skor imajiner di kepalanya. Hitungan mundur menuju turnamen resmi pertamanya di tahun 2014 terus berjalan. Panggung kecil di Jakarta Timur ini akan menjadi saksi pertama dari bangkitnya seorang legenda yang kelak akan mengguncang dunia sepak bola.

1
Riyanganz
semangat thor💪
Riyanganz
bagus 👍
Riyanganz
ringan ceritanya mengalir, semoga aja kedepannya ga boring ceritanya
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!