NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 : Rumah Singgah

Hujan di luar semakin deras, butiran air menghantam kaca jendela ruang kerja Adrian, menciptakan suara yang menenangkan. Namun pikirannya justru semakin dipenuhi berbagai pertanyaan.

Ia kembali membuka map hitam itu. "Johan."

"Ya, Don."

"Tidak banyak data tentang masa kecil Aurora?"

Johan mengangguk. "Benar, Don. Sepertinya ada beberapa tahun riwayat hidupnya yang hilang."

Adrian menyipitkan mata. "Periksa lagi. Selidiki Panti Asuhan Kasih Bunda. Aku ingin tahu sejak kapan Aurora berada di sana, siapa yang membawanya, siapa yang mengadopsinya, dan siapa saja yang pernah bekerja di panti itu."

"Baik, Don."

"Jangan lewatkan satu nama pun."

"Saya mengerti."

Johan menerima kembali map tersebut sebelum membungkukkan badan dan meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup.

Kini Adrian kembali sendirian. Ia mengambil gelas kopi yang sedari tadi dibiarkan dingin. Namun baru satu tegukan, ia kembali meletakkannya. Entah mengapa, sejak melihat foto itu, kenangan masa kecil yang selama ini berhasil ia kubur mulai bermunculan satu per satu.

"Aku tidak mencuri... tolong percaya padaku...." Suara Adrian kecil seolah kembali terdengar di telinganya. Perlahan ia mengepalkan tangan. "Aku sudah bukan anak itu lagi."

Tatapannya berubah setajam biasanya. Tak ada lagi anak kecil yang menangis di depan gerbang panti. Yang ada sekarang hanyalah Adrian Moretti, Don keluarga Moretti.

Sementara itu...

Di lantai tiga, Aurora masih belum bisa memejamkan mata. Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri. Kasur yang terlalu empuk justru membuatnya merasa asing.

"Huh..." Ia duduk sambil mengacak rambutnya sendiri. "Aku benar-benar tidak bisa tidur."

Matanya kemudian beralih ke jendela besar yang menghadap taman belakang. Hujan turun cukup deras, lampu-lampu taman memantulkan cahaya ke permukaan air mancur sehingga pemandangan malam itu terlihat begitu indah.

Aurora berjalan mendekati balkon, saat tirai dibuka... matanya menangkap sosok seseorang yang berdiri sendirian di bawah gazebo taman. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku. Tanpa jas, tanpa pengawal. Kedua tangannya berada di saku celana sambil menatap hujan yang turun.

"Adrian..." Aurora bergumam pelan.

Ia mengira pria itu akan terlihat menyeramkan setiap saat. Namun dari kejauhan, Adrian justru tampak sangat kesepian.

Aurora mengerutkan kening. "Apa yang dia lakukan di sana?"

Ia memperhatikan beberapa menit. Adrian sama sekali tidak bergerak, hanya berdiri diam. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.

Aurora menghela napas. "Dasar pria aneh." Ia kembali menutup tirai.

Tanpa ia sadari... di taman bawah, Adrian perlahan mengangkat kepalanya ke arah jendela kamar Aurora. Lampu kamar itu baru saja padam.

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Setidaknya dia mau beristirahat." Ia berbalik, kemudian berjalan kembali memasuki bangunan utama.

Keesokan paginya...

Sinar matahari mulai memasuki sela-sela tirai kamar Aurora.

Tok... tok... tok...

"Nona Aurora."

Aurora menggeliat pelan.

Tok... tok...

"Nona, sudah pukul tujuh."

Aurora membuka matanya perlahan. "Hmm..."

Ia baru teringat, semalam ia berada di markas keluarga Moretti. Bukan di rumah kecilnya, Aurora langsung duduk.

"Astaga..."

Tok...

"Nona, boleh saya masuk?"

"Itu pasti Isabel." Aurora segera merapikan rambutnya. "Masuk."

Isabel masuk sambil mendorong troli berisi sarapan. "Selamat pagi."

Aurora menguap kecil. "Pagi...."

Isabel tersenyum melihat wajah Aurora yang masih mengantuk. "Don Adrian meminta saya memastikan Anda sarapan."

Aurora langsung mendengus. "Dia lagi... dia selalu mengatur semuanya?"

Isabel terkekeh kecil. "Kurang lebih begitu."

Aurora memijat pelipisnya. "Kalau begitu... bagaimana kalau aku tidak mau sarapan?"

Isabel tersenyum penuh arti. "Kalau begitu, Don Adrian kemungkinan akan datang sendiri untuk memastikan Nona makan."

Aurora membelalakkan mata. "Apa?"

"Don tidak suka orang yang berada di bawah perlindungannya mengabaikan kesehatan."

Aurora menatap langit-langit kamar. "Ya Tuhan... kenapa aku bertemu pria yang sangat keras kepala seperti dia?"

Di saat yang sama, di ruang makan utama. Adrian duduk seorang diri di ujung meja makan yang panjang.

Johan datang membawa sebuah map baru. "Don."

"Sudah ada hasilnya?"

"Sedikit." Johan meletakkan map itu di depan Adrian. "Dan menurut saya... Don perlu melihatnya sendiri."

Adrian membuka halaman pertama. Hanya dalam beberapa detik.... tatapan matanya berubah tajam. "Mustahil..." gumamnya pelan.

Di halaman itu tertera sebuah nama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia dengar lagi. Seseorang yang berasal dari Panti Asuhan Kasih Bunda. Seseorang yang ternyata memiliki hubungan dengan Aurora Bellini.

Adrian menatap lembar demi lembar berkas itu tanpa berkedip. Di sudut kanan atas halaman pertama, tertulis sebuah nama yang membuat napasnya seperti tertahan... Maria Laurent.

Nama itu begitu familiar, jemarinya perlahan mencengkeram map hitam tersebut. Johan yang berdiri di samping meja memperhatikan perubahan ekspresi Don mudanya.

"Don... Anda mengenalnya?"

Adrian terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Ya.... dia adalah satu-satunya pengurus panti yang pernah membelaku."

Suara Adrian terdengar datar, tetapi Johan dapat menangkap emosi yang selama ini jarang terlihat.

***

(Flash Back Lima belas tahun yang lalu...)

"Aku tidak mencuri...." Adrian kecil menangis sambil menggenggam lengan seorang wanita muda.

"Ibu Maria... tolong percaya padaku."

Wanita itu berlutut di hadapannya. Wajahnya penuh rasa iba. "Ibu percaya padamu, Adrian."

"Kalau begitu katakan kepada mereka!"

Maria menggigit bibirnya. "Aku sudah mencoba, tapi tidak ada yang mau mendengarkan."

Saat itu seluruh pengurus panti telah mengambil keputusan. Mereka tetap mengusir Adrian. Sebelum gerbang ditutup, Maria diam-diam menyelipkan beberapa lembar uang dan sepotong roti ke dalam tas kecil Adrian.

"Maafkan Ibu... Ibu tidak cukup kuat untuk menghentikan mereka."

***

"Itu bukan salahmu."

Brak.

Adrian menutup map itu perlahan, tatapannya kembali dingin. "Apa hubungan Maria dengan Aurora?"

Johan membuka halaman berikutnya. "Dua belas tahun yang lalu, Maria Laurent mengundurkan diri dari Panti Asuhan Kasih Bunda. Setelah itu beliau membuka sebuah rumah singgah kecil untuk anak-anak terlantar."

Adrian mendengarkan tanpa menyela.

"Menurut data kami, Aurora Bellini tinggal di rumah singgah itu selama hampir enam tahun."

Mata Adrian sedikit menyipit. "Jadi... Aurora tidak dibesarkan di panti?"

"Tidak sepenuhnya... ketika berusia sekitar sepuluh tahun, Aurora dipindahkan ke rumah singgah milik Maria. Beliau yang membesarkannya sampai Aurora dewasa."

Adrian kembali membuka foto Aurora kecil. Kini semuanya mulai masuk akal. "Bagaimana keadaan Maria sekarang?"

Johan menghela napas pelan. "Beliau meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit."

Ruangan mendadak sunyi.

Adrian perlahan menutup matanya. Wanita yang dulu menjadi satu-satunya orang yang mempercayainya. Kini telah tiada, beberapa saat kemudian ia membuka mata kembali.

"Bagaimana dengan rumah singgah itu?"

"Sudah tutup."

"Setelah Maria meninggal, Aurora berusaha mempertahankannya. Tetapi... biaya operasional terlalu besar. Ditambah lagi beliau meninggalkan cukup banyak utang untuk biaya pengobatan."

Tatapan Adrian berubah semakin dalam. "Jadi hutang yang dikejar para rentenir itu..."

Johan mengangguk. "Bukan hutang Nona Aurora. Itu hutang peninggalan Maria Laurent."

Adrian terdiam, kini ia mulai memahami alasan Aurora bersikeras menghadapi para penagih hutang sendirian. Gadis itu bukan melarikan diri. Ia sedang berusaha menanggung hutang seseorang yang telah membesarkannya.

Sudut mata Adrian perlahan melembut. "Hm... gadis bodoh."

Johan sedikit terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulut Don mudanya. "Don?"

"Dia tidak punya kewajiban membayar hutang itu. Tapi dia tetap memilih melakukannya." Adrian menutup map tersebut. "Berapa jumlah hutangnya?"

"Lima ratus ribu franc Swiss. Itu belum termasuk bunga dari para rentenir."

Tanpa berpikir lama Adrian berdiri. "Lunasi."

Johan mengangguk.

"Sekarang juga?"

"Baik, Don."

"Tapi jangan beri tahu Aurora."

Johan tampak bingung. "Kenapa, Don?"

Adrian berjalan menuju jendela. "Karena aku ingin melihat sampai kapan gadis keras kepala itu berusaha memikul semuanya sendirian." Sesaat kemudian ia menambahkan dengan suara pelan. "Dan... aku tidak ingin dia merasa berutang kepadaku."

Johan tersenyum tipis. Selama bertahun-tahun mengikuti Adrian, ia tahu pemimpinnya bukan orang yang pandai menunjukkan kepedulian. Semua perhatian Adrian selalu disampaikan lewat tindakan, bukan kata-kata.

Di saat yang sama, Aurora yang sedang menikmati sarapannya tiba-tiba bersin kecil.

"Hachii!"

Ia mengusap hidungnya. "Aneh... kenapa rasanya seperti ada yang sedang membicarakanku?"

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!