Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Pukul 05.00 pagi. Suasana ruang tamu berantakan. Tikar bergeser, botol-botol kosong berserakan, tisu bekas darah di pipi Serra menumpuk di sudut ruangan. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tertidur.
Anya bersandar di dinding dengan wajah pucat pasi. Kantung matanya menghitam. Memar di lehernya tidak lagi terasa panas. Di sebelahnya, Serra tampak kelelahan dengan tiga bekas cakaran di pipi yang sudah mengering dan memerah.
Bu Mimi berdiri dengan tubuh tampak ringkih, tapi tatapan matanya penuh tekad. Ia membuka gorden ruang tamu, membiarkan cahaya matahari pagi masuk. Mengusir hawa dingin yang mencekam.
Cahaya keemasan yang masuk terasa begitu asing, seolah-olah mereka baru saja melewati malam yang panjang.
Bu Mimi berbalik, memandang kedua gadis muda di hadapannya dengan gurat kesedihan sekaligus kelegaan yang mendalam. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara pagi.
"Sudah berakhir," bisik Bu Mimi, suaranya serak namun sarat akan kepastian. "Setidaknya untuk saat ini. Dia tidak bisa menyentuh kita."
Anya perlahan menegakkan kepalanya. Gerakan kecil itu membuat otot lehernya yang memar. Menegang. Ringisan kecil keluar dari bibirnya yang pecah-pecah. Ia menatap tangannya yang masih gemetar, lalu beralih menatap Serra.
"Serra..." suara Anya nyaris tak terdengar, serak dan parau. karna terlalu banyak berteriak semalam. "Pipimu...kita harus mengobatinya. Nanti bisa infeksi."
Serra tidak langsung menjawab. Matanya yang sembap, menatap kosong ke arah tumpukan tisu di sudut ruangan. Bayangan jemari pucat dengan kuku-kuku hitam, merobek kulit pipinya masih terpatri jelas di ingatan. Dengan gerakan kaku, ia menyentuh wajahnya sendiri, meringis.....Saat jarinya tak sengaja menekan luka yang mulai perih.
Air mata mengalir melewati luka cakarannya, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat. "Tapi rasanya... rasanya dia kaya ada di dekatku."
Bu Mimi melangkah mendekat, mengabaikan rasa ngilu di tubuh tuanya. Ia berlutut di antara Anya dan Serra, lalu menggenggam tangan mereka berdua. Sentuhan tangan Bu Mimi yang hangat dan nyata perlahan membawa kesadaran kedua gadis itu kembali ke realitas.
Bu Mimi tahu mereka tidak punya banyak waktu untuk meratap. Siang hari adalah satu-satunya untuk bersiap sebelum kegelapan kembali menjemput.
"Dengar." ucap Bu Mimi, suaranya bergetar. Sarat akan penekanan, memaksa Anya dan Serra untuk fokus. "Kita tak punya waktu. Makhluk itu memang udah pergi. Tapi dia sudah menandai kalian. Darah di pipimu, Serra, dan memar di lehermu, Anya...?itu adalah jangkar yang dia tinggalkan."
Serra tersentak, Bu Mimi menghapus sisa air mata di pipinya dengan ujung daster. menghindari luka cakar agar tidak semakin perih.
"Lalu... kita harus bagaimana, Bu?" Tanya Wulan. Suaranya bergetar menahan tangis. "Rumah ini....tempat ini sudah tidak aman lagi, kan?"
Bu Mimi menggeleng pelan, lalu berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. "Tidak ada tempat yang aman kalo kita hanya diam dan menunggu. Kita harus bergerak."
Bu mimi mengambil baskom berisi air hangat dan garam bersih. Lalu membersihkan luka cakar secara perlahan, mengolesinya dengan parutan kunyit, kencur dan ramuan darurat untuk meredam 'hawa' yang menempel pada luka Serra.
Anya pun mendapat usapan minyak pada lehernya yang membiru. Rasa hangat perlahan meresap, memaksa ketegangan di otot-otot Anya sedikit mengendur, meski kewaspadaannya sama sekali tidak berkurang.
"Tio, Tari."Ujar Bu Mimi. Matanya menatap tajam ke arah sudut ruangan yang dipenuhi noda. "Tugas kalian sekarang adalah membersihkan sisa semalam. Kumpulkan semua tisu bernoda darah, dan botol-botol kosong itu ke dalam satu wadah. Ingat, jangan ada satu tetes darah pun yang tertinggal di lantai. Bisa jadi celah buat dia kembali."
Tari yang sejak tadi gemetar, coba menguatkan kakinya untuk berdiri. Tio dengan gerakan canggung dan diselimuti ketakutan, mereka mulai memunguti sisa-sisa malam jahanam itu. Tiap kali jemari mereka menyentuh tisu yang mengering, sekelebat hawa dingin seolah kembali menggelitik tengkuk mereka.
Bu Mimi melangkah menuju dapur. Langkah kakinya yang ringkih sengaja dihentakkan, seolah sedang menegaskan kepemilikan atas rumah itu. Ia mengambil segenggam garam dan sekantung kecil belerang yang sengaja ia simpan di bawah amben.
Bu Mimi kembali ke ruang tamu dengan membawa bahan-bahan tersebut. Ia menaburkan garam dan belerang yang sudah di campur ke tempat tisu berdarah tadi, ia menggosoknya dengan kain basah hingga aromanya menyengat.
"Setelah ini, masukkan pakaian seadanya ke dalam tas kalian. Yang penting. Kita tidak akan berada di sini saat matahari terbenam," perintah Bu Mimi mutlak.
Anya menyeka keringat dingin di dahinya. "Kita mau ke mana, Bu? Kalo makhluk itu sudah menandai kami, apa dia tidak akan mengikuti ke mana pun kami pergi?"
Bu Mimi tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah jendela, menatap lurus ke arah pohon beringin tua di ujung pekarangan. Daunnya tampak bergoyang. Pagi ini sama sekali tidak ada angin.
"Dia akan mengikuti aroma darah kalian," jawab Bu Mimi lirih tanpa menoleh. "Itulah kenapa kita harus menemui ustadz haris. Sebelum malam datang."
"Wulan, bantu Serra kemasi pakaian yang penting saja. Tio, ambil tas ransel di kamar belakang!" perintah Bu Mimi dengan nada menekan.
Suaranya menjadi satu-satunya batas antara akal sehat dan ketakutan yang siap menelan kembali. Wulan mengangguk cepat meski bibirnya masih bergetar. Tangannya yang dingin membantu Serra berdiri. Setiap kali Serra menarik napas pendek, rasa perih di pipinya terasa menusuk hingga ke saraf.
Anya mengikat rambutnya ke atas untuk menghindari gesekan kain pada lehernya. Bau minyak urut bercampur aroma ramuan kunyit dan belerang memenuhi ruangan, menciptakan aroma...menusuk.
"Jaga pikiran kalian tetap jernih," bisik Bu Mimi seraya membagikan segenggam beras kuning bercampur garam kasar ke mereka. "Jika di perjalanan kalian mendengar suara yang memanggil nama kalian dari balik semak atau arah belakang... jangan pernah menoleh. Sekali pun itu terdengar seperti suara orang yang kalian kenal."
Mereka bergerak keluar secara beriringan. Bu Mimi berada paling depan, sementara Tio dan Tari berada paling belakang. Anya dan Serra diapit ketat. Sebagai dua sosok yang paling "harum" oleh darah.
Saat kaki Anya melangkah melewati ambang pintu, tengkuknya mendadak meremang hebat. Udara terasa sangat tebal, seolah merapat ketat di sekeliling lehernya yang memar.
Sret... sret... sret...
Daun-daun kering di bawah pohon beringin bergoyang berisik, padahal tidak ada angin. Dari kejauhan, bau amis samar-samar tercium kembali. Bau yang sama dengan yang semalam.
"Bu...," bisik Tari dengan ketakutan, menunjuk ke arah bayangan beringin yang tampak menekuk aneh, seolah condong menyambut jalan setapak tempat mereka berdiri.
Bu Mimi menggenggam erat kantung belerangnya, dadanya naik turun menahan gumpalan rasa takut yang mati-matian ia sembunyikan.
"Jalan terus. Jangan berhenti dan jangan sekali-kali menatap ke arah beringin itu," tegas Bu Mimi tanpa berbalik. "Ustadz Haris tinggal dua desa dari sini. Kita punya waktu kurang dari tiga jam sebelum 'jangkar' di tubuh Serra dan Anya menarik perhatiannya saat matahari mulai bergeser."
Langkah kaki mereka berpacu dengan bayang-bayang yang perlahan memanjang. perjalanan mencekam menembus keheningan jalan desa yang terasa kian asing dan mengancam.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?