Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Baru di Atas Kertas
Pernyataan tamatnya babak pertama di kantor tempo hari rupanya bukan akhir dari segalanya, melainkan sebuah gerbang menuju dinamika baru yang jauh lebih kompleks. Status kontrak yang telah dibatalkan oleh Devan tidak lantas membuat Mentari mengemas barang-barangnya dan kembali ke flat lamanya. Di bawah tatapan penuh harap—dan sedikit intimidasi halus khas seorang CEO—Mentari akhirnya setuju untuk tetap tinggal di penthouse lantai lima puluh lima tersebut. Namun, kali ini dengan aturannya sendiri.
Pagi itu, meja makan marmer hitam yang biasanya hanya diisi oleh keheningan kaku, kini dipenuhi oleh riuh kecil perdebatan mereka.
"Aku tidak bisa menerima kartu kredit ini, Devan," ujar Mentari datar, menggeser selembar kartu hitam unlimited berlogo platinum kembali ke sisi meja tempat Devan duduk.
Devan yang sedang memotong omeletnya menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap Mentari dengan kening berkerut. "Kenapa? Aku membelikan ini bukan sebagai bagian dari kontrak kemarin. Ini fasilitas untukmu. Biaya rumah sakit ibumu memang sudah diurus oleh yayasanku, tapi kamu butuh pakaian baru, tas baru, dan keperluanmu sendiri."
"Aku punya gaji sekarang. Gaji profesional sebagai asisten pribadiku yang kamu janjikan," sahut Mentari tegas, tatapannya tidak goyah. "Jika aku menggunakan kartu ini untuk keperluan pribadiku, apa bedanya aku dengan Mentari yang menandatangani kontrak jual beli setahun hidupnya minggu lalu? Aku ingin hubungan kita setara, Devan. Tanpa ada bayang-bayang transaksi."
Devan tertegun. Ia meletakkan garpunya, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sepasang mata elangnya menatap Mentari lekat-lekat. Ada kilat kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan di balik topeng datarnya. Wanita di depannya ini selalu tahu cara menjinakkan arogansinya tanpa perlu berteriak.
"Setara, hm?" Devan mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan satu tangan. Sebuah senyuman tipis dan sarat makna terukir di bibirnya. "Baiklah. Aku menghormati prinsipmu. Tapi kartu itu tetap di sana untuk keperluan darurat. Dan sebagai gantinya..." Devan menjeda kalimatnya, merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah map kecil berwarna biru tua. "...kamu harus menandatangani ini."
Mentari mengernyit curiga. "Apa lagi itu? Jangan bilang kamu membuat kontrak baru secara sembunyi-sembunyi."
"Buka saja," tantang Devan ringan.
Dengan ragu, Mentari membuka map tersebut. Matanya langsung tertuju pada baris judul di bagian atas kertas dokumen resmi tersebut. Surat Kepemilikan Saham dan Pengalihan Aset. Di sana tertulis bahwa sepuluh persen saham dari anak perusahaan Elvano Group yang bergerak di bidang properti—perusahaan yang dulu dihancurkan oleh keluarga Bramantyo dari tangan ayah Mentari—kini secara resmi dialihkan atas nama Mentari Ayuningtyas.
"Devan... ini terlalu banyak. Aku tidak bisa—"
"Itu hakmu, Mentari," potong Devan cepat, suaranya mendadak berubah menjadi berat dan penuh determinasi. Genggaman tangannya beralih menangkup tangan Mentari yang memegang dokumen. "Itu adalah aset milik keluargamu yang dulu dijarah secara kotor oleh Bramantyo menggunakan kekuasaan mereka. Aku membelinya kembali dari pasar saham dua tahun lalu dengan tujuan untuk menghancurkannya. Tapi sekarang, aku mengembalikannya kepada pemilik yang sah. Ini bukan transaksi cinta kita, ini adalah keadilan untuk ayahmu."
Mentari menatap dokumen itu dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. Devan tidak hanya membersihkan namanya dan melindunginya dari teror; pria itu bahkan menyembuhkan luka sejarah keluarganya yang paling dalam. Dinding pertahanan hati Mentari yang tersisa rasanya benar-benar meleleh tak berbekas pagi itu.
"Terima kasih, Devan..." bisik Mentari lirih, mendekap map itu di dadanya.
Devan berdiri dari kursinya, melangkah memutari meja dan berhenti tepat di belakang Mentari. Ia menundukkan tubuhnya, memeluk bahu wanita itu dari belakang dan mengecup pelipisnya dengan kelembutan yang memabukkan. "Jangan berterima kasih. Tugasku sekarang adalah memastikan kamu tidak akan pernah kekurangan alasan untuk tersenyum lagi."
Satu jam kemudian, mereka tiba di kantor pusat Elvano Group. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana Mentari selalu berjalan tiga langkah di belakang Devan dengan kepala tertunduk, hari ini mereka melangkah berdampingan keluar dari lift privat lobi eksekutif.
Meskipun status hubungan mereka belum diumumkan secara resmi kepada publik, seluruh staf di lantai lima puluh bisa merasakan perubahan atmosfer yang drastis. Tidak ada lagi ketegangan yang mencekam setiap kali sang CEO lewat. Bahkan, beberapa sekretaris sempat saling berbisik heboh saat melihat Devan sempat menghentikan langkahnya hanya untuk merapikan anak rambut Mentari yang berantakan sebelum memasuki ruang kerja.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sore harinya, saat Mentari sedang meninjau ulang draf laporan keuangan bulanan, ponsel kerjanya berdering. Sebuah panggilan dari meja resepsionis lobi utama di lantai dasar.
"Selamat sore, Ibu Mentari. Mohon maaf mengganggu waktunya," suara resepsionis terdengar agak ragu dan gugup. "Di bawah ada seorang wanita yang memaksa ingin bertemu dengan Anda atau Pak Devan. Beliau tidak memiliki janji temu, tapi beliau membawa dokumen hukum penting."
Mentari mengernyitkan keningnya. "Siapa namanya?"
"Ibu Clara Wijaya, Bu."
Mendengar nama itu, pulpen di tangan Mentari langsung terlepas. Clara Wijaya. Wanita ular yang bersekutu dengan Arkan Bramantyo untuk menjebaknya tempo hari. Setelah kejatuhan keluarga Bramantyo semalam, Mentari mengira Clara akan melarikan diri atau bersembunyi. Ternyata wanita itu justru mendatangi sarang singa dengan berani.
"Biarkan dia naik," ujar sebuah suara bariton yang tiba-tiba menginterupsi.
Mentari menoleh dan mendapati Devan sudah berdiri di ambang pintu penghubung ruangan mereka. Pria itu rupanya mendengar percakapan telepon tersebut melalui saluran interkom yang terbuka. Wajah Devan kembali mengeras laksana es, sepasang matanya memancarkan kilat berbahaya yang siap menghancurkan siapa saja.
"Devan, jangan emosi dulu," pinta Mentari, berdiri dari kursinya. "Kita lihat apa yang ingin dia lakukan. Tanpa dukungan kekuasaan politik Bramantyo, dia tidak punya taji lagi."
"Pemberantasan hama harus dilakukan sampai bersih, Mentari," sahut Devan dingin sembari melipat kedua tangannya di depan dada, bersandar pada pilar pintu sembari menunggu lift privat berdenting terbuka.
Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka. Clara Wijaya melangkah keluar. Penampilannya tidak lagi seanggun dan semewah saat gala dinner tempo hari. Riasan wajahnya tampak agak berantakan, dan matanya menyiratkan keputusasaan yang mendalam di balik topeng arogansinya yang tersisa.
Begitu matanya menangkap sosok Devan dan Mentari yang berdiri berdampingan, Clara langsung mempercepat langkahnya. Namun sebelum ia bisa mendekat, dua pengawal bertubuh kekar yang berjaga di depan lobi langsung menghadangnya dengan barikade tubuh mereka.
"Buka jalan! Aku perlu bicara dengan Devan!" teriak Clara, suaranya melengking frustrasi.
"Biarkan dia bicara di sana," perintah Devan tanpa mengubah posisinya sedikit pun. Suaranya terdengar begitu rendah hingga membuat bulu kuduk kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang. "Kamu punya waktu satu menit sebelum keamanan melemparmu keluar dari gedung ini, Clara."
Clara tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat histeris. Ia mengangkat sebuah amplop cokelat besar yang dipegangnya tinggi-tinggi.
"Devan! Kamu pikir kamu sudah menang karena berhasil menjebloskan Bramantyo Senior kembali ke penjara?!" teriak Clara dengan mata melotot. "Kamu salah besar! Bramantyo memang sudah habis, tapi dokumen di dalam amplop ini... ini adalah dokumen asli audit investigasi independen sembilan tahun lalu! Dokumen yang membuktikan bahwa proyek fiktif yang menghancurkan Wijaya Group bukan hanya permainan Bramantyo, tapi ada tanda tangan dan keterlibatan langsung dari orang dalam Elvano Group saat itu!"
Clara menunjuk Mentari dengan jarinya yang gemetar. "Dan kamu, Mentari! Jangan berlagak seperti korban yang suci! Orang dalam yang mengkhianati ayahmu dan menjual dokumen rahasia itu kepada Bramantyo... adalah pamanmu sendiri! Saudara kandung ibumu! Orang yang selama ini membiayai pengobatan ibumu di awal kebangkrutan kalian!"
Dar!
Informasi itu laksana petir di siang bolong yang menghantam ruangan sunyi tersebut. Mentari seketika terhuyung mundur, wajahnya berubah pucat pasi laksana mayat. Seluruh dunianya kembali berguncang hebat oleh pengkhianatan dari orang terdekat yang sama sekali tidak pernah ia duga sebelumnya.