Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.
Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.
Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.
Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.
...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rela Dipukul Demi Li Na
Kilatan pedang memantulkan cahaya matahari sore yang mulai surut di halaman pabrik tua. Puluhan pria berpakaian serba hitam kini sudah melingkari Zhang Lin dan Li Na tanpa menyisakan celah sedikit pun untuk melarikan diri.
"Zhang Lin ... bagaimana ini? Mereka ... mereka punya senjata tajam!" bisik Li Na dengan suara yang sangat bergetar dari balik punggung Zhang Lin. Kedua tangannya mencengkeram kain baju Zhang Lin begitu erat, sampai-sampai kuku-kuku jarinya memutih.
"Jangan melepaskan peganganmu padaku, Li Na. Tetaplah di belakangku dan jangan pernah melangkah jauh!" balas Zhang Lin dengan suara berat yang begitu tenang namun penuh dengan konsentrasi penuh.
Tanpa aba-aba, salah seorang pria berpedang di sisi kanan langsung menerjang maju. Pria itu mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, mengincar kepala Zhang Lin dengan kecepatan tinggi.
Dengan refleks tingkat tinggi, Zhang Lin memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri, membiarkan mata pedang itu menebas udara kosong. Tangan kiri Zhang Lin yang tetap memegang Li Na menarik wanita itu ikut bergeser secara bersamaan, menjaga posisinya tetap aman.
BUMM!
Sebelum pria bertopeng itu sempat memulihkan posisinya, Zhang Lin melayangkan satu tendangan telak ke dada pria tersebut. Pria itu terpental ke belakang dan menghantam tembok beton dengan keras sebelum akhirnya ambruk tak sadarkan diri.
Dan sebelum pedang milik musuh itu menyentuh tanah, Zhang Lin dengan cepat menyambar gagangnya di udara.
SREETT!
Suara gesekan besi yang nyaring terdengar saat Zhang Lin menggenggam erat gagang pedang tersebut. Begitu merasakan bilah logam di tangannya, atmosfer di sekitar Zhang Lin berubah drastis; matanya menajam, memancarkan aura dingin yang siap mencabut nyawa siapa pun.
"Sudah sangat lama aku tidak menyentuh senjata ini ..." gumam Zhang Lin pelan.
Melihat rekan mereka tumbang, lima orang pria berpedang lainnya secara bersamaan langsung maju mengepung. Dua mengincar tubuh Zhang Lin, sementara tiga lainnya secara licik mengarahkan tebasan mereka langsung ke arah Li Na!
"Li Na, merunduk!" seru Zhang Lin.
TRANGG!! TRANGG!!
Adu besi yang luar biasa nyaring membahana saat Zhang Lin mengayunkan pedangnya memutar. Hanya dengan satu gerakan cepat, ia menangkis tiga serangan sekaligus yang mengincar Li Na, menciptakan percikan api di udara.
Zhang Lin bergerak dengan kelincahan luar biasa. Setiap tebasan pedangnya memutus serangan musuh dengan presisi tinggi. Ia menangkis tebasan dari kiri, menendang lutut musuh di depan, dan secara bersamaan menggunakan kibasan pedangnya untuk melindungi tubuh Li Na dari gesekan senjata lawan.
"Hahaha! Jenderal Zhang Lin memang tidak pernah mengecewakan! Bahkan tanpa pasukan, kamu masih bisa bertarung seperti monster!" seru salah seorang musuh dari balik penutup wajahnya.
Zhang Lin sama sekali tidak membalas omongan itu. Ia menusukkan pangkal pedangnya ke perut musuh di depannya, lalu memutar tubuh untuk menangkis sabetan dari belakang hingga pedang musuh itu terlempar dan menancap di tanah.
Li Na menjerit ketakutan setiap kali tebasan pedang nyaris mengenai Zhang Lin. Ia sadar dirinya kini menjadi beban. Zhang Lin harus bertarung mati-matian sambil sibuk memposisikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi dirinya.
"Zhang Lin, awas di sebelah kirimu!" teriak Li Na ketakutan.
Zhang Lin menangkis sabetan musuh di kirinya dengan mudah, lalu melayangkan sikutnya tepat ke hidung lawan hingga pria itu berdarah dan tersungkur.
Meskipun Zhang Lin berhasil melumpuhkan lebih dari sepuluh orang, jumlah musuh yang terus bermunculan dari dalam pabrik tampak tidak berkurang. Dan stamina Zhang Lin mulai terkuras karena ia tidak bisa bergerak bebas akibat harus terus mengawal dan merangkul Li Na agar tidak terpisah darinya.
"Terus serang dia! Jangan biarkan dia bernapas! Wanita itu adalah celah terbesarnya!" teriak salah seorang musuh memprovokasi anggotanya yang lain.
Serangan demi serangan terus dilancarkan dari segala arah. Zhang Lin menangkis tebasan pedang musuh dengan tangkas, melancarkan tebasan balik yang mengenai bahu lawan, lalu mendorong tubuh musuh lainnya sampai menabrak deretan ilalang di pinggir pabrik.
"Tatap mataku, Li Na! Jangan pernah melihat ke arah senjata mereka!" tegas Zhang Lin di sela-sela pertarungannya, berusaha menenangkan Li Na yang napasnya sudah memburu ketakutan.
"Tapi Zhang Lin ... darah di lenganmu! Kamu terluka!" seru Li Na panik saat melihat goresan tipis di lengan baju Zhang Lin yang mulai mengeluarkan warna merah.
"Ini bukan apa-apa! Fokus saja padaku!" balur Zhang Lin sambil menebaskan pedangnya ke arah dua musuh yang mencoba menerobos dari sisi kanan.
Melihat pertahanan Zhang Lin yang sangat sulit ditembus jika diserang dari depan, pemimpin kelompok bertopeng memberikan isyarat rahasia kepada dua anggotanya yang bersembunyi di atas atap seng pabrik tua.
Kedua pria itu melompat turun tanpa suara ke dalam semak ilalang tinggi, memanfaatkan kepulan debu dan kebisingan pertempuran. Mereka memutari area pertempuran dan muncul secara tiba-tiba persis dari balik ilalang di belakang posisi Li Na!
"Awas di depanmu!" seru musuh di depan Zhang Lin sengaja untuk mengalihkan perhatian dan memancing refleks bertarung sang Dewa Perang.
TRANGG!
Zhang Lin menangkis tebasan keras dari musuh di depannya. Namun pada detik yang sama, suara jeritan histeris Li Na mendadak menggema dengan sangat keras di halaman pabrik!
"KYAAA! ZHANG LIN! LEPAS! LEPASIN AKU!"
Zhang Lin menoleh ke belakang dengan mata membelalak lebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat seorang pria bertopeng telah berhasil mencengkeram rambut Li Na dari belakang dan menarik tubuh wanita itu secara kasar.
Sebelum Li Na sempat meronta atau melarikan diri, pria bertopeng kedua dengan cepat melingkarkan lengan berototnya ke leher Li Na, lalu mencabut sebuah pisau belati tajam dari balik pinggangnya. Bilah besi yang dingin itu langsung ditempelkan dengan sangat erat di leher halus Li Na!
"Jangan bergerak satu langkah pun atau leher wanita ini kubikin bocor sekarang juga!" bentak penyandera itu dengan suara dingin dan penuh ancaman.
Langkah Zhang Lin seketika terhenti kaku di tempat. Pedang yang tergenggam di tangan kanannya bergetar hebat. Seluruh aura membunuh dan dorongan serangan di tubuhnya lenyap seketika, berganti dengan rasa panik serta ketakutan luar biasa saat melihat pisau tajam itu sudah menekan kulit leher Li Na hingga memerah.
"Li Na ..." gumam Zhang Lin dengan napas yang memburu ketakutan.
"Zhang Lin! Jangan pedulikan aku! Awas di belakangmu!" jerit Li Na dengan air mata yang meleleh deras membasahi pipinya yang pucat.
"Jatuhkan senjatamu, Jenderal! Sekarang juga, atau kamu hanya akan melihat mayat wanitamu ini tergeletak bersimbah darah di sini!" ancam pria yang memegang belati sambil semakin menekan senjatanya ke leher Li Na.
"Lepaskan dia! Musuh kalian adalah aku, bukan dia!" teriak Zhang Lin penuh amarah.
"Kutegaskan sekali lagi ... jatuhkan pedangmu sekarang juga kalau kamu tidak ingin melihat lehernya terputus!" gertak penyandera itu lagi sambil menarik rambut Li Na lebih kencang hingga Li Na merintih kesakitan.
"Akhh! Zhang Lin ..." ringis Li Na menahan sakit di kepalanya.
Zhang Lin memandangi Li Na yang menangis histeris. Kepalan tangannya berguncang hebat. Di kehidupan lamanya di medan perang, seorang komandan perang tidak boleh goyah hanya karena satu orang sandera. Namun di era modern ini ... wanita yang sedang ditodong pisau itu adalah Li Na. Wanita yang telah menampungnya, memberinya tempat tinggal, dan orang yang sudah ia berjanji akan lindungi dengan segenap taruhan nyawanya.
Perlahan-lahan, jari-jari tangan Zhang Lin merenggang dari gagang pedang.
KLANG!
Pedang berkilat itu terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam tanah berdebu. Zhang Lin mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara sebagai tanda menyerah.
"Aku sudah menjatuhkan senjataku. Tolong ... jangan sentuh dia. Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan konflik ini," ucap Zhang Lin dengan nada memohon yang tak pernah terdengar dari mulut seorang Dewa Perang.
Melihat Zhang Lin menyerah dan tak lagi berkutik, para pria bertopeng itu tertawa sinis dan penuh kemenangan. Tiga orang musuh yang berada paling dekat langsung merangsek maju membawa pipa besi dan batang kayu tebal.
BUMM!!
Sebuah pukulan pipa besi yang sangat keras mendarat telak di punggung Zhang Lin. Zhang Lin tersentak hebat dan langsung berlutut di tanah berdebu, menahan rasa sakit luar biasa yang menghantam tulang belakangnya. Namun ia sama sekali tidak membalas atau mencoba bergerak mengepalkan tangan.
"TIDAK! ZHANG LIN! JANGAN PUKUL DIA! HENTIKAN!" teriak Li Na histeris dari tempatnya disandera. Air matanya mengalir deras melihat pria yang biasanya begitu kuat dan tak terkalahkan itu kini membiarkan dirinya dihantam tanpa perlawanan demi keselamatan nyawanya.
BUKK! BUKK! BUMM!
Pukulan demi pukulan beruntun mendarat di dada, bahu, dan wajah Zhang Lin. Pria-pria bertopeng itu melampiaskan dendam mereka, memukuli Zhang Lin habis-habisan menggunakan batang kayu dan tendangan keras.
"Ini balasan karena kamu sudah berani merepotkan kami selama ini, Jenderal!" seru salah seorang musuh sambil mengayunkan kayu tebal tepat ke bahu kanan Zhang Lin.
Darah kental berwarna merah segar mulai menetes keluar dari sudut bibir dan pelipis Zhang Lin, membasahi tanah kering di bawah lututnya. Rasanya seluruh organ dalamnya terguncang akibat pukulan berat bertubi-tubi tersebut.
"Pukul terus! Biar monster ini tahu rasanya jadi manusia lemah yang tidak berdaya!" seru musuh lainnya sambil melayangkan tendangan sepatu boot keras tepat ke rusuk Zhang Lin.
BUMM!
Zhang Lin tersungkur penuh ke tanah dengan napas yang terengah-engah dan berat. Pandangannya perlahan mulai kabur oleh darah kental yang mengalir membasahi matanya. Tubuhnya terasa begitu remuk, tetapi di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh persendian tubuhnya, matanya yang samar-samar masih berusaha tetap terbuka ... terus menatap lurus ke arah Li Na yang sedang menangis meraung-raung menyebut namanya.
"Cukup ... aku mohon jangan ... jangan sentuh Li Na ..." lirih Zhang Lin dengan suara pelan yang terputus-putus di balik tumpukan debu dan darah.
Li Na memberontak sekuat tenaga dalam cengkeraman penyanderanya, tidak peduli meski pisau belati itu menyayat tipis lehernya hingga mengeluarkan darah.
"Zhang Lin! Cukup! Jangan tahan lagi! Balas mereka, Zhang Lin! Aku mohon bangunlah dan balas mereka! Jangan biarkan mereka memukulimu seperti ini!" histeris Li Na dengan suara yang sudah serak dan parau oleh tangisan panjang.
"Tutup mulutmu, Wanita!" bentak penyandera Li Na sambil menampar pipi Li Na dengan keras hingga Li Na tersungkur sedikit, namun tangannya masih tetap memegangi leher Li Na.
Melihat Li Na ditampar di depan matanya sendiri, Zhang Lin mencoba mengerahkan sisa ketahanannya untuk merangkak bangun, namun sebuah pukulan pipa besi kembali menghantam punggungnya hingga ia kembali terhempas ke tanah.
"Tetap di tanah, Jenderal! Kamu sudah bukan siapa-siapa lagi sekarang!" seru musuh sambil menginjak kepala Zhang Lin ke tanah berdebu.
Di tengah siksaan pukulan bertubi-tubi yang seolah tidak ada habisnya itu, dari arah pintu utama pabrik tua yang gelap dan pengap, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu kulit yang berdentang pelan dan teratur.
TAK ... TAK ... TAK ...
Suara langkah kaki itu begitu tenang namun dipenuhi aura dominasi dingin yang mengerikan, seketika membuat seluruh arena pertempuran dan aksi pemukulan itu terhenti.
...
-Bersambung-