NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb 1

Mentari begitu menyengat meski waktu baru menunjukkan pukul sembilan. Tennis court di sebuah hotel bintang lima mendadak ramai, bukan oleh kaum elit yang sibuk bermain melainkan teriakan para stafnya.

"Hey kau, larimu lamban sekali." Teriak ibu paruh baya berbadan gemuk mengomentari seorang gadis.

"Haha dia pasti gugur di tahap fisik." Wanita disamping ikut mengejek.

Mereka sangat menikmati waktu luang itu, keluar dari ruangan panas berbau minyak juga penuh tekanan.

Prit....

Bunyi peluit akhirnya terdengar nyaring. Membuat peserta tadi berhenti seketika menghirup udara sebanyak mungkin.

"Istirahat tiga puluh menit, selanjutnya akan ada tes praktek." Ujar pak Lim selaku head chef, dia selalu memperhatikan siapa saja yang berpotensi menjadi crew mereka yang baru.

Ya, mereka adalah bagian dapur Le Star Hotel. Dikarenakan kekurangan personel mau tidak mau harus ada perekrutan secara ketat. Apa lagi menghadapi selera bos mereka. Harus ada yang bisa menyamai skill sang nenek selaku pendiri hotel.

Bugh...

"Maaf." Ucap Ryn, dia baru saja menabrak seseorang yang tinggi dengan dada bidang nan keras.

"Kau harus berhati-hati." Balas pria di hadapan Ryn, suaranya mengalun indah bagai symphony. Mereka bertabrakan di depan toilet dimana bilik laki-laki sebelah kanan sementara wanita sisi kiri.

"Tuan, anda sudah ditunggu." Kedatangan salah satu pesuruh membuat pria tadi bergegas meninggalkan Ryn.

Ryn terpana, terpesona tentunya oleh ketampanan pria yang berjalan menjauh dengan gagahnya.

"Ryn sedang apa kau? Ayo pergi, sebentar lagi tes dimulai." Ajak teman Ryn, lebih tepatnya teman baru karena mereka berkenalan di tahap pertama yaitu wawancara.

"Oh baiklah Glenn." Sahut Ryn pada Glenn. Ryn berlari kecil menyusul langkah Glenn menuju bagian dapur.

Zhao Ryn, gadis energik berusia dua puluh tahun merupakan fresh graduate di bidang culinary. Dirinya mengikuti program studi Chinese cuisine dan patisserie.

Mereka berlima kini sudah mengenakan chef jacket, kepala koki menjelaskan masakan apa saja yang harus di buat untuk di hidangkan. Pimpinan perusahaan sendiri akan mencicipi guna menentukan dua orang yang lolos menjadi trainee.

"Waku satu jam, silahkan dimulai." Perintah pak Lim. Kelima peserta kini sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Ryn menjadi salah satu peserta yang mencuri perhatian penonton. Dimana ia lebih memilih melakukan preparation semua menu masakan di saat keempat peserta lain menyelesaikan satu persatu tiap menunya.

Tes ini merupakan salah satu kunci penting agar mereka bisa di rekrut. Selain wawancara, latihan fisik dan terakhir try out secara langsung.

Glenn juga melakukannya dengan baik, tempatnya memasak begitu rapi dan bersih seolah sudah terbiasa.

"Lihat itu, plating Zhao Ryn mengagumkan." Bisik Aci ke dekat telinga nyonya Fei.

"Dia memang jagoanku." Gumam Fei tersenyum samar. Sejak awal Fei sudah menaruh harapan besar terhadap Ryn hanya dengan melihat karakternya saja.

"Tuan Lee segera hadir." Ungkap pak Lim memberitahu semua orang ketika waktu enam puluh menit telah usai.

Munculnya sosok pria tampan berkharisma diikuti sang asisten berhasil menarik pandangan mereka semua ke arah Sian Lee.

Sian Lee, pria berusia matang yaitu tiga puluh dua adalah generasi ketiga penerus Lee Group selanjutnya. Irit bicara, memiliki tatapan dingin dan aura mengintimidasi. Tidak ada yang bisa menjamahnya, Sian benar-benar tak tersentuh siapapun. Bahkan meimei adiknya saja di kirim ke luar negeri agar menjaganya dari pergaulan bebas kota Jasata.

"Tuan, anda bisa memilih dua hidangan terbaik. Lalu mereka akan di uji coba bekerja tiga hari di restoran Le Dinning." Asisten Jun, yang juga tampan namun masih di bawah Sian menerangkan peraturan.

Hanya anggukkan kepala sebagai jawaban Sian. Lalu pak Lim meminta peserta maju secara bergantian. Mereka memasak menu hidangan utama yang sama yaitu berupa sup, tumisan dan satu kreasi bebas.

"Ini... " Sian bersuara, Ryn gugup takut masakannya tidak sesuai dengan keinginan Sian.

"Aku memasak chicken kung pao khas Sichuan. Aku dengar anda mencari juru masak yang keahliannya serupa dengan nenek anda, jadi aku memilih ayam kung pao karena memiliki rasa yang identik dengan masakan orang tua zaman dulu." Jelas Ryn panjang lebar, tentu asisten Jun terkejut melihat ketenangan seorang Sian.

Biasanya Sian tidak suka orang yang berisik, banyak bicara, meskipun tengah menerangkan keuntungan perusahaan sekalipun.

Setelah mencicipi sedikit demi sedikit setiap hidangan, asisten Jun mengajak pak Lim berbicara berdua guna menyampaikan siapa yang lolos ke tahap selanjutnya. Sementara Sian, memilih menyendiri di luar untuk menghisap sebatang rokok.

Mata Sian menangkap pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Ryn sangat kepanasan hingga melepas jaketnya, menyisakan tanktop berwarna hitam di atas pusat. Jelas penampakan perut ratanya menodai Sian yang seumur hidupnya belum pernah melihat bagian dalam perempuan secantik itu.

Sian bukan pria kalem dan datar, dia sering melakukan pelepasan namun tanpa penyatuan hanya demi mendapat kepuasan. Memesan wanita penghibur atau memilih kalangan atas yang secara sukarela ingin merangkak dibawahnya.

"Halo... " Sayup-sayup Sian mendengar Ryn menyapa seseorang melalui telepon.

"Aku akan segera mendapat pekerjaan, jadi jangan ganggu aku lagi." Larang Ryn merasa kesal dibuatnya. Padahal suasana hati Ryn sedang bagus hari ini. Alasannya sederhana, dia bisa melihat pria setampan Sian.

Ryn bagai burung yang baru lepas dari sangkar. Melihat dunia luar memberinya kebahagiaan tersendiri. Dia ingin meninggalkan semua yang ada di belakangnya.

Enggan mendengar lebih banyak, Sianpun bergegas pergi tanpa Asisten Jun. Pria itu setidaknya harus menikmati waktu luang setelah jam kerjanya usai.

"Zhao Ryn, masuk! " Teriak Fei.

Ryn yang namanya dipanggil bergegas memakai kembali jaketnya sambil berjalan ke arah sumber suara.

"Tuan Lee telah memutuskan, Glenn dan Ryn yang berhasil lolos. Mulai besok selama tiga hari kalian akan di latih di restoran. Persiapkan diri kalian." Tutur Pak Lim menyudahi pertemuan mereka yang melelahkan.

"Pulang bersama? " Ajak Glenn pada Ryn agar mau dibonceng menggunakan motor listrik keluaran terbaru Chinland.

"Tidak terima kasih." Tolak Ryn, kemudian berlari mengejar bus tujuannya.

"Kau dingin sekali Ryn." Bisik Glenn tentu tak akan didengar oleh Ryn.

Selama lima belas menit perjalanan, Ryn memilih memejamkan matanya beristirahat sejenak. Hari yang melelahkan baginya setelah semalam melalui hal buruk.

"Ganti bajumu dengan yang aku berikan anak sialan." Teriakan melengking langsung menyambut kepulangan Ryn.

"Sudah aku katakan, aku berhenti bekerja. Aku juga akan pindah dari sini." Rin menatap wanita di hadapannya penuh penekanan.

"Kau anak tidak tahu di untung, apa semalam belum cukup hah? " Sebuah toyoran Ryn dapatkan dari sang ibu.

Madam Yuni, ibu asuh para wanita penghibur di klub malam. Sejak Zhao Ryn lahir keduanya tinggal di sebuah asrama di belakang klub. Pemilik klub cukup baik menampung mereka dengan beberapa persetujuan. Diantaranya Yuni harus menjadi madam dan mendidik gadis muda untuk menjamu hingga merayu para tamu elit. Ryn juga harus ikut bekerja sebagai pengantar minuman setelah dirinya lulus sekolah menengah akhir tanpa di bayar. Pemilik klub menganggap itu sebagai bayaran karena sudah menampung Ryn selama ini.

"Yuni, kau harus memberitahu anakmu tugas terakhirnya jika memang ingin keluar dari tempatku." Ujar Peni, pria berbadan gemulai tanpa rambut namun penampilannya persis seperti Yuni.

"Tidak! Aku akan membayar menggunakan gajiku di tempat baru. Aku tidak ada kaitannya dengan perjanjian kalian." Ryn menggeleng menatap Yuni intens.

"Ikuti peraturan disini Zhao Ryn. Atau kau akan terperangkap selamanya." Yuni menolak pengajuan anak kandungnya sendiri.

"Good. Persiapkan dia, malam ini tamu penting akan datang. Dia suka barang baru, Ryn sangat cocok." Sorot mata Peni membuat Ryn ingin muntah, Ryn tidak bodoh.

"Aku lebih baik mati dari pada harus memuaskan mereka." Ryn memberi ultimatum sebelum masuk ke dalam meninggalkan Yuni.

Salah satu alasan terbesar Ryn harus mendapatkan pekerjaan di Le Star adalah agar dia bisa bebas dari belenggu sang ibu. Pantas saja Yuni setuju dirinya melanjutkan sekolah dan mencari pekerjaan. Rupanya Ryn harus menerima persyaratan gila, ibunya sendiri menjual tubuh sang anak.

"Ini kesempatan terakhirku." Gumam Ryn menatap pantulannya di cermin.

Sadar hari ini akan tiba, Ryn jauh hari sudah melakukan persiapan. Mulai dari menyimpan uang tunai di brankas umum, mencari pekerjaan juga tempat tinggal baru. Pakaiannya bahkan sudah ia kemas dibawa ke flat sewaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!