NovelToon NovelToon
Menjinakkan Tuan Kaku

Menjinakkan Tuan Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Freya Winata (25) adalah definisi sempurna dari wanita modern, cantik, ceria, manja, dan enerjik. hidupnya yang penuh warna mendadak berubah ketika kedua orang tuanya menjodohkannya dengan Adrian Valerick (30), seorang CEO dingin yang kaku, keras kepala dan hanya peduli dengan tumpukan berkas di kantornya.

Bagi Adrian, pernikahan adalah transaksi yang tidak logis. Namun, ancaman pencopotan jabatan dari sang ayah membuatnya terpaksa mengucapkan janji suci. Berbeda dengan Adrian yang murka, Freya justru melihat kejengkelan Adrian sebagai tantangan paling seru dalam hidupnya. Ia bertekad menjinakkan "Tuan Kaku".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabotase

Suasana di dalam ruang kendali siber berdinding kaca itu semakin mencekam. Bunyi alarm darurat yang melengking tinggi bertubrukan dengan teriakan panik puluhan teknisi. Mereka saling melempar perintah, mencoba menyuntikkan skrip penyelamat darurat, namun sia-sia. Jari-jari mereka menghantam papan ketik secara gila-gilaan, hingga tombol-tombol komputer basah oleh keringat dingin.

"Tidak bisa! Mutasi kodenya memblokir hak akses administrator kita!" teriak salah satu teknisi.

"Sembilan puluh tiga persen! Menara energi sektor utara bergerak turun tanpa kendali hidrolik!" sahut teknisi lain dari sudut meja bundar.

"Jika menabrak tangki pasokan energi bawah, seluruh area proyek bisa meledak!"

Di tengah kepanikan massal yang mendominasi ruangan berdinding kaca itu, Adrian masih tetap berdiri diam bagai patung. Wajah tegasnya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dingin. Kaku. Fokusnya terkunci hanya pada barisan kode biner yang bergerak liar di layar monitor raksasa.

"Tarik kendali utama ke mode manual, sekarang," perintah Adrian. Suara baritonnya yang berat memotong histeria massal di ruangan itu.

Bram bergegas maju dengan menyeka keringat di pelipisnya. "Sudah dicoba, Tuan Adrian! Tuan elektronik di lapangan terkunci enkripsi militer peretas itu!"

"Buka port sekunder pada switch jaringan lokal," titah Adrian kaku tanpa menoleh.

Ia melangkah maju, menggeser Kepala Divisi Keamanan Siber yang sudah terduduk lemas dengan tubuh gemetar. Seluruh mata di ruangan itu kini tertuju pada Adrian. Semua orang menahan napas, menyeka peluh yang bercucuran di dahi mereka.

Di tengah situasi kritis yang bisa menghancurkan investasi triliunan ini, mereka sepenuhnya mempercayakan nasib proyek Metro Pulse ke tangan sang CEO. Kejeniusan teknis Adrian sebagai The Arsitek adalah dinding pertahanan terakhir mereka.

Jemari kokoh Adrian mulai mengetik dengan kecepatan gila-gilaan dan ritme taktis yang konstan. Struktur rahang tegasnya mengeras sempurna, menciptakan garis kaku yang mengerikan saat matanya membaca pola enkripsi musuh. Di saat semua orang kehilangan logika akibat tekanan ekstrem, otak Adrian justru bekerja dengan efesiensi mutlak.

"Sembilan puluh tujuh persen, Tuan! Waktu kita kurang dari empat puluh detik!" teriak Kepala Divisi dengan napas memburu, matanya membelalak menatap bilah presentase kerusakan yang merayap merah. Adrian tetap tenang.

Ia menyuntikkan skrip pemutus asimetris buatannya sendiri untuk memotong duplikasi tepat di titik jangkarnya. Tangannya bergerak cepat, mengeksekusi perintah akhir dengan sentakan tegas pada tombol enter.

KLIK.

Layar monitor raksasa itu mendadak berkedip kasar sebanyak tiga kali. Visual menara angkat konstruksi raksasa di lokasi proyek perlahan melambat, lalu membeku sempurna tepat lima meter di atas tangki energi utama. Bunyi alarm darurat yang memekakkan telinga seketika mati secara instan, berganti dengan pendar hijau tanda sistem telah kembali bersih.

Bram mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya, bahunya merosot lega dengan tubuh yang lemas. Riuh helaan napas lega dari semua orang menggema di ruangan. Mereka saling berpandangan, menyeka sisa keringat dingin di wajah dengan tangan gemetar, takjub bagaimana sang tuan muda meruntuhkan kejeniusan peretas dalam hitungan detik.

Adrian berdiri tegak kembali. Wajah tegasnya tetap datar bagai es freezer, tanpa ada binar kepuasan sedikit pun.

"Bersihkan sisa log data terinfeksi," perintah Adrian kaku, matanya yang tajam menatap puluhan teknisi yang masih terduduk lemas.

"Ganti seluruh kunci enkripsi gateway utama dalam waktu dua jam. Saya tidak menoleransi adanya celah sekecil apa pun pada sistem operasional besok pagi."

"Siap, laksanakan, Pak CEO!" jawab Kepala Divisi itu dengan nada patuh yang bergetar penuh rasa hormat.

Adrian berbalik tegap, melangkah kaku keluar dari ruang bawah tanah menuju lift khusus eksekutif. Di belakangnya, Bram mengekor sembari memegang tablet laporan digital.

"Selidiki seluruh koordinat transmisi satelit harian yang masuk ke kediaman saya, Bram," ketus Adrian dingin tanpa menoleh saat pintu pintu lift tertutup rapat.

"Baik, Tuan Adrian. Apakah Anda mencurigai ada kebocoran fisik dari dalam mansion pribadi?" tanya Bram gugup.

"Lakukan saja tanpa banyak tanya," potong Adrian mutlak.

Rahang tegasnya mengeras rapat saat mengingat kembali teka-teki peretas tentang 'Garis batas guling'. Logika ekstremnya menolak percaya bahwa kehidupan domestiknya telah disusupi secara digital. Di balik setelan jas hitamnya yang rapi, dada bidang Adrian kembang kempis tak beraturan menahan dongkol sekaligus kewaspadaan tingkat tinggi untuk melindungi wilayah kekuasaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!