NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Selamat Karena Fitur Suara

​Reno menatap angka persentase di layar ponsel hitamnya dengan jantung yang berdegup kencang layaknya mesin pompa air yang rusak.

​Angka sembilan puluh sembilan persen itu berkedip dengan warna merah menyala yang sangat mengancam sisa kewarasannya.

​{Kalau proses ini sampai menyentuh batas seratus persen, sistem keamanan rektorat pasti akan melacak alamat protokol internet ke jaringan kamarku.}

​Ia buru-buru memasukkan kembali benda berbahaya itu ke dalam saku celananya dengan gerakan kasar sebelum Luna menyadari kepanikannya.

​"Aku baru ingat ada ujian mengulang mata kuliah dasar pemrograman pagi ini."

​Reno memaksakan sebuah senyum canggung yang membuat sudut bibirnya tertarik dengan sangat tidak alami.

​Ia mundur dua langkah menjauhi gadis pujaannya itu, menciptakan jarak aman agar ponsel di sakunya tidak terlihat menonjol.

​"Aku harus segera pergi sebelum dosen pengawas yang sangat galak itu mengunci pintu ruang kelas rapat-rapat."

​Luna hanya menganggukkan kepalanya pelan, raut wajah cantiknya masih memancarkan kebingungan mendalam menatap layar ponselnya sendiri.

​Gadis itu tampak terlalu fokus memikirkan keanehan akun media sosial Dekan sehingga tidak terlalu memedulikan alasan aneh Reno.

​Reno langsung membalikkan badan dengan cepat, memacu langkah kakinya menjadi sebuah lari kecil menyusuri koridor kampus.

​Ia harus segera mencari tempat yang aman untuk memperbaiki kekacauan digital ini, sekaligus menghadiri ujian yang menjadi penentu masa depan akademiknya.

​||||

​Langkah kakinya yang tergesa-gesa akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu tebal bernomor urut ruang kelas reguler.

​Napas pemuda berkemeja kotak-kotak itu terengah-engah setelah berlari menaiki tiga lantai tangga darurat tanpa henti.

​Ia mendorong perlahan daun pintu kayu itu, mengintip kondisi di dalam ruangan yang sudah dipenuhi oleh puluhan mahasiswa.

​Seorang pria paruh baya berkumis tebal sedang berdiri tegap di depan meja guru, memegang selembar daftar hadir dengan tatapan mengintimidasi.

​Dosen pengawas ujian itu menoleh tajam ke arah pintu, memergoki kedatangan Reno yang sudah terlambat cukup lama.

​"Ujian sudah dimulai sejak tadi, mahasiswa yang datang terlambat tidak diizinkan mengikuti evaluasi akademik ini sama sekali."

​Pria paruh baya itu menunjuk lurus ke arah luar ruangan menggunakan ujung pena merah di tangan kanannya.

​Ketegasan suaranya menggema di seluruh penjuru ruang kelas, membuat beberapa mahasiswa yang sedang mengerjakan soal ikut menoleh.

​Reno menelan ludah kasarnya, menyadari bahwa ia baru saja terancam mengulang mata kuliah ini untuk yang ketiga kalinya.

​{Sialan, aku tidak bisa membiarkan diriku gagal lagi hari ini, apalagi aku masih harus membatalkan peretasan akun milik Dekan sebelum terlambat.}

​Ia memberikan anggukan pasrah ke arah dosen tersebut, lalu mundur selangkah untuk menutup kembali pintu kelas secara perlahan.

​||||

​Reno menyandarkan punggung kurusnya pada dinding beton di lorong luar kelas, merasa terjepit di antara dua masalah besar.

​Tangannya merogoh saku celana jins, menarik keluar ponsel X-Phreak 9000 yang layarnya masih berkedip menampilkan kotak peringatan.

​Teks instruksi berwarna biru dari Siri-usly muncul membelah peringatan merah, menawarkan sebuah solusi curang yang sangat tidak terduga.

​"Bagaimana caranya aku bisa masuk ke ruangan itu kalau dosen berkumis tebal tadi menjaga pintu layaknya seorang algojo?"

​Reno berbisik sangat pelan ke arah permukaan layar kacanya, memastikan tidak ada mahasiswa pejalan kaki di lorong yang mendengarnya.

​Penjelasan lanjutan dari kecerdasan buatan itu bergulir cepat, merancang sebuah rencana manipulasi yang sangat berisiko tinggi.

​Mata Reno sedikit membelalak, menyadari bahwa ponsel misterius ini berniat menyamar menjadi Rektor Universitas untuk mengelabui pengawas ujiannya.

​Ia segera menggeser tubuhnya mendekati bingkai jendela kaca, mengintip ke dalam ruangan dengan sangat berhati-hati.

​Tangan kanannya mengangkat bodi ponsel hitam itu, mengarahkan susunan lensa kameranya tepat ke wajah sang dosen.

​Sebuah kotak pemindai berwarna kuning muncul secara holografis di layar, membidik dan mengunci bentuk wajah pria berkumis itu dalam hitungan detik.

​||||

​Di dalam ruangan kelas, ponsel pintar milik dosen pengawas yang tergeletak di atas meja mendadak berdering dengan sangat kencang.

​Pria paruh baya itu mengerutkan kening dengan raut wajah kesal, bersiap memarahi siapa pun yang berani meneleponnya saat ini.

​Namun, ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi pucat pasi saat melihat nama kontak Rektor terpampang jelas di layar panggilannya.

​Ia segera menyambar perangkat komunikasi itu dengan tangan sedikit bergetar, menempelkannya ke telinga dengan sikap duduk yang langsung tegap sempurna.

​Suara bariton berat yang luar biasa berwibawa khas milik Rektor terdengar sangat jernih mengalir dari pelantang suara ponsel Reno.

​Reno hampir saja menjatuhkan ponselnya sendiri saking terkejutnya mendengar akurasi tiruan suara yang benar-benar mencapai tingkat kesempurnaan mutlak tersebut.

​"Benar, Pak Rektor, ada yang bisa saya bantu untuk keperluan akademik pagi ini?"

​Dosen pengawas itu menjawab dengan nada suara yang sangat sopan, kepalanya bahkan menunduk hormat seolah sang atasan sedang berdiri di hadapannya.

​Perintah palsu yang dirangkai secara cerdas oleh Siri-usly itu mengalir mulus tanpa ada nada ragu sedikit pun.

​Alis pria berkumis tebal itu bertaut kebingungan, tidak habis pikir mengapa seorang rektor memintanya mencari dokumen di dalam toilet umum.

​Namun, ia sama sekali tidak berani mempertanyakan perintah langsung dari pimpinan tertinggi kampus yang memegang otoritas penuh atas gajinya.

​"Baik, Pak Rektor, saya akan meninggalkan ruangan ini dan segera meluncur ke toilet lantai dasar sekarang juga."

​Sambungan telepon langsung terputus dari pihak Siri-usly, membiarkan dosen pengawas itu terdiam dalam kondisi kepatuhan yang luar biasa buta.

​Pria paruh baya itu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu berjalan tergesa-gesa keluar dari ruang kelas tanpa mengucapkan sepatah kata penjelasan.

​||||

​Reno memanfaatkan celah kekosongan pengawasan itu untuk segera masuk ke dalam ruangan, melangkah cepat menuju kursi di barisan paling belakang.

​Puluhan mahasiswa lain hanya menatapnya sekilas, terlalu sibuk memikirkan susunan kode pemrograman pada lembar soal mereka.

​Reno mendaratkan bokongnya di kursi kayu dengan tenang, meletakkan ponsel hitamnya secara tersembunyi di balik lembar soal ujian yang besar.

​"Sekarang batalkan proses peretasan akun Dekan itu sebelum angkanya benar-benar menyentuh batas final seratus persen."

​Ia memberikan perintah melalui ketikan cepat dari ibu jarinya di atas kibor virtual yang mengambang di layar ponsel.

​Barisan kode berwarna hijau bergerak turun dengan cepat, menimpa peringatan merah menyala yang sedari tadi mengancam masa depan akademik Reno.

​Reno menghela napas panjang, beban berat yang menindas dadanya sejak pagi akhirnya terangkat sepenuhnya dari pundaknya.

​Ia bisa membayangkan bagaimana Luna dan seluruh mahasiswa di halaman kampus sedang kebingungan melihat akun Dekan kembali normal dalam sekejap mata.

​{Setidaknya aku tidak perlu menghabiskan sisa masa mudaku di dalam penjara kota hanya karena memajang foto karakter kartun di akun pejabat fakultas.}

​||||

​Ia baru saja berniat mengambil pena dari dalam tasnya untuk mulai mengerjakan soal ujian ketika layarnya kembali bergetar satu kali.

​Kali ini bukan peringatan ancaman dari kecerdasan buatan yang menyebalkan itu, melainkan sebuah notifikasi dari aplikasi Instagram aslinya.

​Reno mengernyitkan dahi, menekan ikon kotak masuk kecil di sudut layarnya yang menunjukkan angka satu dalam lingkaran merah.

​Sebuah pesan langsung dari akun pribadi milik Luna baru saja mendarat di ponselnya, sukses membuat aliran darahnya berdesir hebat.

​Jari Reno menggantung kaku di atas permukaan layar, otaknya berjuang keras mencoba memproses fakta langka ini.

​Kedua matanya membelalak menatap deretan pesan tersebut, membacanya berulang kali untuk memastikan ini bukan sekadar halusinasi visual.

​{Seorang Luna baru saja mengajakku bertemu berdua di kafe paling mahal dan romantis di sekitar area kampus ini?}

​Ponsel X-Phreak 9000 mendadak memunculkan sebuah baris teks biru yang menyempil tepat di bawah pesan masuk romantis tersebut.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!