NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Wuxia / Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Mengubah Takdir / Dan budidaya abadi / Ahli Bela Diri Kuno / Perperangan / Barat / Tamat
Popularitas:14.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kak Vi

Kekacauan dan penderitaan kembali datang, seperti penyakit yang telah mengakar hingga tumbuh semakin ganas. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari di mana haru bahagia dikumandangkan di seluruh penjuru, saat akhirnya Ratu Iblis dan Naga Es berhasil dikalahkan di tangan Xin Fai.

Ibarat api kecil yang membesar dan melahap apapun yang berada di sekitarnya, musuh lama pun mulai menampakkan jati dirinya kembali, mengguncang dunia persilatan setelah beberapa tahun dan kembali dengan membawa bencana yang jauh lebih mengerikan.

Bahkan Rubah Petir pun tak yakin Xin Fai bisa mengalahkan musuh ini dan dibanding melihat Xin Zhan yang merupakan anak tertua dengan kejeniusan tak terbandingi, dia justru menunjuk Xin Chen yang sama sekali takmemiliki bakat dalam bertarung.

Xin Chen yang sering disebut 'anak gagal' berlari melawan takdirnya, menantang langit dan mengukir namanya sendiri dalam benak orang-orang.

Meski sering kalah dari Xin Zhan namun dia tetap bersikukuh menjadi Pedang Iblis kedua. Untuk menjamin perdamaian dengan nyawanya sendiri, walaupun kebanyakan orang yang ingin dia lindungi adalah mereka yang melihatnya sebelah mata.

"Tidak ada kekalahan dalam diriku, aku hanya jatuh untuk menang. Karena pemenang sebenarnya adalah seorang pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 9 - Akar Masalah

"Jadi kau pergi diam-diam dari rumah untuk mencari siapa pelaku yang mencelakai kakakmu?"

"Benar, Guru. Tak tahu mengapa, ketika penyerangan hari itu aku merasa pelakunya tidak sendirian. Seingatku ada dua orang lain lagi yang berpakaian sama. Mereka seperti mencari sesuatu di tempat kami."

Xin Chen berkata pasti, sedang fokus mencari jalan untuk ditapaki tiba-tiba saja seekor ular datang menyerangnya.

Respon Xin Chen terlalu lamban, dia tidak bisa menghindari patokan ular tersebut, mengakibatkan tungkai kakinya yang memang sudah terluka harus terkena bisa racun.

Jeritan anak itu membuat Rubah Petir menoleh, siluman itu menancapkan tongkat yang dia pakai untuk menyamar ke atas tanah sembari memperlihatkan wajah tak peduli. "Jangan merengek hanya dengan luka kecil, hanya mengeluh seperti itu takkan membuat lukamu sembuh. Bergerak terus dan carilah tanaman obat di sekitar sini."

Xin Chen ingin sekali menangis, memang dia masih belum terbiasa dengan dunia luar. Selama hidupnya Xin Chen paling banyak berlatih di halaman rumah, tidak ada yang mengijinkannya pergi jauh dari rumah kecuali untuk berburu.

Saat pergi berburu pun yang biasanya mengalahkan binatang buas adalah Xin Zhan, sedang dirinya hanya menunggu di belakang sampai keadaan aman.

"Guru... ini terlalu sulit, setidaknya bantu aku berdiri-" Xin Chen mengerjapkan mata, hampir tak percaya Rubah Petir sudah meninggalkannya begitu saja. "Guru! Tunggu aku!"

Namun belum beberapa jengkal dirinya berjalan Xin Chen mulai menyadari sedang berada di mana mereka berjalan, sebuah sarang ular terpampang jelas di depan sana dengan puluhan ular-ular berlalu lalang. Hampir membuat Xin Chen kehabisan napas.

Rubah Petir sendiri tak peduli, jika dia mau pun, dengan mengeluarkan energi siluman miliknya para ular itu akan bubar seketika.

Tak ada satupun hewan yang berani mendekat padanya. Hanya saja Rubah Petir kini sedang menyamar, mengeluarkan kekuatan seperti itu berkemungkinan besar memancing rasa curiga para manusia.

Teriakan demi teriakan terdengar di belakangnya, setelah menarik napas dalam Rubah Petir akhirnya menoleh ke sana dan mendapati Xin Chen tengah berusaha memanjat pohon. Di bawahnya ular-ular berbisa sedang memanjat hendak mematoknya.

"Arrghh! Ibu!!!"

"Haish, anak ini. Bukan hanya tubuhnya yang harus dilatih. Mentalnya juga demikian." Gerutuan kecil samar-samar terdengar, Rubah Petir mengangkat tongkatnya yang kali ini mengeluarkan loncatan energi listrik kemudian menyambar ular di depannya. Membuat mereka seketika hangus seperti debu.

Rubah Petir berucap, "Sekarang kau sudah boleh turun."

Xin Chen menarik napas lega, sedikit malu pada Rubah Petir karena dia berteriak terlalu keras tadi. Lagipula Xin Chen yakin Rubah Petir pasti akan membandingkan dirinya dengan Ayahnya.

"Sepertinya aku memang tidak pantas menjadi muridmu, kau pasti menyadarinya lebih dulu." Xin Chen mengutarakan kekhawatirannya. Hanya terdengar kesunyian di antara mereka berdua. Diamnya Rubah Petir bisa berarti memang dirinya tak layak berguru pada Rubah Petir yang kenyataannya adalah seekor Siluman Penguasa Bumi.

"Aku tidak tahu ke mana Guru akan pergi, tapi selama perjalanan aku tidak ingin merepotkanmu juga."

"Untuk ukura manusia seusiamu kau termasuk orang yang tidak teguh pendirian. Sebelumnya kau yang meminta untuk menjadi muridku dan sekarang malah berubah pikiran."

Usai mengatakannya Rubah Petir berhenti sejenak, menatap tajam bola mata Xin Chen dengan penuh penekanan. "Kau tidak akan menjadi apa-apa dengan sifat seperti itu. Jika sudah memilih kau harus menjalaninya, jangan di tengah jalan berhenti dan memilih melarikan diri. Menyedihkan."

Xin Chen menunduk dalam, dia kembali melakukan kesalahan. Hanya saja dia sendiri tak enak pada Rubah Petir.

Denyut di kakinya mulai terasa kembali, ingin sekali Xin Chen menjerit kesakitan sebab racun ular di kakinya mulai menimbulkan rasa sakit luar biasa. "K-kalau begitu... Boleh aku memintamu untuk melatihku dengan keras? Aku berjanji tidak akan mengeluh."

Rubah Petir menepuk pundaknya pelan. "Jangan berjanji untuk tidak mengeluh. Berjanjilah untuk tidak menyerah."

"Baik."

Dalam perjalanan Xin Chen menemui banyak hal baru, dia terkesima ketika melewatinya. Hal ini membuat Rubah Petir jengah lama-kelamaan, siluman itu melihat ke bawah. Kaki Xin Chen mulai membiru namun anak itu tetap berjalan walau terpincang-pincang.

"Apa benar lukamu itu tidak apa-apa?"

"Aku masih bisa menahannya, mungkin di sekitar sini ada tanaman yang bisa menetralkan bisa racun ular ini." Jawaban Xin Chen seolah menambah beban berat hingga akhirnya Rubah Petir langsung mengobati kakinya dengan kekuatan yang dia miliki.

"Menunggu sampai kita menemukannya mungkin akan menghabiskan waktu berjam-jam, kau pasti sudah pingsan lebih dulu sebelum berhasil mendapatkannya."

Terdengar anak itu tertawa kecil, dia melihat sendiri dengan ajaib kekuatan Rubah Petir menyembuhkan lukanya hingga tak bersisa. Anak itu memerhatikan tungkai kakinya dengan senang. "Baiklah, terimakasih. Dengan ini aku bisa melanjutkan pencarian untuk menemukan penawar racun dan mengambil kembali Permata Cahaya Biru!"

"Kau yakin tentang itu?"

"Kenapa?"

Tiba-tiba angin berderu kencang, membuat jubah yang dikenakan Rubah Petir melambai tersapu angin. Seolah memberi sebuah isyarat tersembunyi akan tetapi Xin Chen tidak mengetahuinya. "Sudahlah lupakan saja," tandas Rubah Petir memutuskan percakapan. Terjadi jeda sejenak dan Xin Chen akhirnya mengeluarkan suara kembali.

"Guru, menurutmu untuk menemukan orang itu kita harus pergi ke mana?"

"Menurutmu?" Rubah Petir membalikkan pertanyaan.

"Mencari identitasnya dulu, bukan?"

"Dengan cara?"

Terlihat Xin Chen berpikir agak lama, antara ragu tak ragu menjawabnya. "Mungkin... Menemui penjual informasi?"

Rubah Petir menjawab kemudian. "Tidak ada salahnya untuk mencari tahu terlebih dulu informasi mengenai musuh, tapi sebenarnya aku sedikit curiga pada pelaku yang mencuri Permata Cahaya Biru mu itu. Apa dia hanya sekedar mengambilnya untuk dijual atau memiliki maksud lain?"

Xin Chen berpikir sebentar, "Saat mengambilnya dia bilang memang sedang mengincar Permata Cahaya Biru milik Ayah..."

"Sedikit mulai sedikit masalah ini mulai saling berhubungan, mungkin masalahmu memiliki kaitan dengan aura aneh yang muncul akhir-akhir ini."

"Benarkah? Darimana kau mengetahui hal itu?"

Rubah Petir membalikkan badannya dengan tatap mata jauh lebih serius, "Untuk alasan itulah aku turun tangan. Kutanya padamu, apa kau pernah melihat kitab berwarna merah darah milik Ayahmu?"

"Kitab merah darah...? Kitab Terlarang? Aku pernah melihatnya sekali dan sebelum bisa menyentuhnya Ayah marah besar kepadaku."

Kali ini Rubah Petir agak menggumam, "Di dalam Kitab itu sumber permasalahannya, mungkin saja tebakanku salah tapi masih ada kemungkinan jurus itulah yang menimbulkan pekatnya energi jahat belakangan ini."

Xin Chen mengacak rambutnya, benar-benar tak mengerti apa yang diomongkan Rubah Petir dan ingin sekali dia menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Entah apa yang sedang siluman itu pusingkan juga dia tidak mengerti.

"Masalah ini tidak seharusnya kuberitahu pada Ayahmu dulu, kau pasti kebingungan dengan apa yang kubicarakan, bukan?"

Anak itu menarik napas lega, akhirnya Rubah Petir mengerti. Sedang Rubah Petir sendiri menyuruhnya untuk duduk di bawah pohon teduh yang telah berusia lebih dari seratus tahun.

"Entah darimana aku harus menjelaskannya..."

1
Aleanzo
jirr ngerti aje lu thor🗿
Aleanzo
eh sumpah gw ikutan sakit ati jir pas Xin chan dihina🗿
Asep Darajat
mantap ..
Fachri Mamonto
penulisan yang baik seperti novel
novel kho ping ho
pertahankan terus author...mudah mudahan kesini bikin novel pendekar dengan karakter nusantara
VirgoRaurus 31Smile
kisah ini mirip film 300 antara Sparta vs Persia....
VirgoRaurus 31Smile
bisa bayangkan orang berlari sembari berlutut....??? oon di piara....
VirgoRaurus 31Smile
di hiasi pakaian permadani...rupanya Author ga tahu, apa itu permadani.../Facepalm/
VirgoRaurus 31Smile
lho...kan para pema ah sudah di habisin MC semua....lha ini kok masih di incar panah...panah dari mana...
VirgoRaurus 31Smile
bukankah waktu itu hujan lebat...kenapa darah ga luntur oleh air hujan...yg bener aja Thor...
VirgoRaurus 31Smile
baru tahu ada pendekar takut di lempar sandal...
VirgoRaurus 31Smile
kekaisaran Shang yg damai & tenteram....tapi keropos di dalam...
VirgoRaurus 31Smile
emangnya kerbau makan kayu juga ya....kerbau dungu namanya...kayak Author, DUNGU.
VirgoRaurus 31Smile
mereka menyahuti para prajurit....apa yg di sahuti...yg betul "memerintahkan" para prajurit...sebenarnya Author bego atau oon...?
VirgoRaurus 31Smile
kok bisa ibunya MC dg gampangnya di culik, bukankah kediamannya dekat dg kekaisaran Shang...hal ini menunjukkan betapa lemahnya penjagaan di sekitar kekaisaran Shang.
VirgoRaurus 31Smile
kalau alurnya sudah keluar dari alur sebelumnya...jangan harap Author dpt dukungan lebih.....
karena ceritanya jadi bertele tele...bikin pusing readers.
VirgoRaurus 31Smile
ini bukan jawaban atas pertanyaannya sendiri...karena ada tanda tanya...kalau jawaban ga usah di beri tanda tanya (?).
VirgoRaurus 31Smile
lari Luntang lantung...kayak gelandangan aja istilahmu Thor...
VirgoRaurus 31Smile
ke 52 orang tersisa....pada paragraf di atas disebutkan tersisa 152 orang...yg 100 orang kemana Thor, bisa hitungan ga...?
VirgoRaurus 31Smile
AREP mbebaske bapake wae kok mbulet, Melu seleksi...ora mutuuuu...
VirgoRaurus 31Smile
di paragraf atas disebutkan tinggal MC berdua Yu Xiong...kok ini masih ada yg lain...hadeh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!