NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Ternyata Dia yang Malam Itu

"Jangan mengerutkan dahi. Concealer-ku mahal."

Tiana menahan dagu Kayla dan merapikan riasan tipis di bawah matanya. Mereka berdiri di depan cermin kamar dinas, dua puluh menit sebelum waktu pertemuan.

Kayla mengenakan gaun putih gading yang dipilih dua hari lalu. Rambutnya dibiarkan tergerai sampai bahu. Ia terlihat lebih lembut daripada biasanya, meski sorot matanya masih seperti dokter yang siap menolak permintaan pasien tidak masuk akal.

"Aku cuma mau minum kopi," kata Kayla.

"Kau mau bertemu calon suami."

"Calon orang asing."

"Semua suami awalnya orang asing."

Kayla mengambil tas. "Kalimat itu sama sekali tidak menenangkan."

Kafe di samping RS Sentosa hanya berjarak lima menit berjalan kaki. Oma Melly sudah menunggu di ruang privat lantai dua, mengenakan blus merah muda dan senyum yang terlalu cerah untuk dipercaya.

"Akhirnya datang juga." Oma memeluk Kayla, lalu memandangnya dari kepala sampai kaki. "Cantik. Cucu Oma pasti langsung lupa cara bicara."

"Kalau begitu pertemuannya akan singkat," jawab Kayla.

Tiana menahan tawa.

Di atas meja sudah tersedia teh melati, kopi hitam, dan sepiring kecil kue. Satu kursi di seberang Kayla masih kosong.

"Dia terlambat?" tanya Kayla.

"Tidak. Dia baru memarkir mobil." Oma Melly melihat jam tangannya. "Tepat waktu sampai ke detik terakhir. Sejak kecil begitu."

Terdengar ketukan di pintu.

"Masuk," seru Oma.

Pintu terbuka.

Kayla mengangkat kepala.

Laki-laki berkemeja abu gelap di ambang pintu berhenti melangkah. Tatapan dinginnya jatuh pada wajah Kayla, lalu pada gaun putih gading yang pernah dikirim staf hotel kepadanya dalam model hampir serupa.

"Kau?" ucap mereka bersamaan.

Tiana menoleh cepat dari Kayla kepada laki-laki itu. Oma Melly justru tersenyum semakin lebar.

"Bagus. Kalian sudah saling kenal."

"Tidak," jawab Kayla.

"Pernah bertemu," kata Adrian pada saat yang sama.

Oma Melly mengangkat alis. "Jadi kenal atau tidak?"

"Pernah bertemu sekali," Kayla memperbaiki. "Pertemuan yang tidak disengaja."

Adrian duduk di seberangnya. Aroma jeruk dingin yang tipis segera membuat punggung Kayla kaku.

Sial. Dari jutaan laki-laki di Jakarta, mengapa cucu Oma Melly harus laki-laki dari kamar 2001?

Adrian tampak tidak lebih senang. "Oma bilang dia ingin mengenalkanku dengan dokter IGD."

"Kayla memang dokter IGD," jawab Oma.

"Oma tidak menyebut namanya."

"Kalau disebut, apa kau akan datang?"

Adrian tidak menjawab.

Oma Melly menepuk kedua tangannya pelan. "Nah, karena kalian sudah pernah bertemu, pekerjaan Oma lebih mudah. Tiana, temani Oma lihat toko sepatu di lantai bawah."

Tiana menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"

"Kau mau duduk di antara mereka sampai selesai?"

Tiana menatap Kayla, meminta izin tanpa suara. Kayla mengangguk tipis. Ia tidak membutuhkan penyelamat. Belum.

Saat melewati Adrian, Tiana berhenti. "Kalau teman saya pulang dengan wajah sedih, saya bekerja di IGD. Saya tahu bagian tubuh mana yang paling sakit kalau dipukul."

"Tia," tegur Kayla.

"Saya hanya memperkenalkan profesi."

Oma Melly tertawa sambil menariknya keluar. Pintu pun tertutup, meninggalkan Kayla dan Adrian dalam keheningan.

Adrian menuang kopi. "Jadi ini caramu mendekatiku?"

Kayla menatapnya tajam. "Maaf?"

"Kau tahu Oma-ku pasienmu."

"Oma yang menghubungiku. Aku bahkan tidak tahu nama cucunya sebelum kau masuk."

"Kebetulan kedua dalam waktu kurang dari seminggu."

"Kau terlalu percaya diri kalau mengira seluruh hidupku berputar untuk menemukanmu."

Adrian mengangkat cangkir. "Aku hanya memastikan kau tidak memakai malam itu agar aku bertanggung jawab."

Kayla hampir tidak percaya ia mendengar kalimat yang sama lagi.

"Syukurlah," jawabnya. "Aku juga tetap tidak mau kau bertanggung jawab. Bahkan setelah tahu kau cucu Oma Melly."

Tangan Adrian berhenti sesaat sebelum cangkir menyentuh bibirnya.

Kayla tersenyum tipis. "Ada masalah?"

"Tidak."

"Bagus. Kita sudah sepakat dalam satu hal."

Adrian meminum kopinya. Di Grand Regalia, jawaban Kayla membuatnya terkejut. Kali ini jawaban yang sama justru terasa melegakan. Perempuan di depannya tidak berusaha memikat, tidak memuji pekerjaannya, bahkan tampak siap pulang sebelum makanan datang.

Anehnya, itu membuat Adrian tidak ingin pertemuan berakhir terlalu cepat.

"Kalau tidak ingin aku bertanggung jawab, mengapa kau menerima perjodohan?" tanyanya.

Kayla mengaduk teh yang tidak diberi gula. "Karena ada laki-laki yang tidak mengerti kata tidak."

Tatapan Adrian berubah. "Wilson?"

Kayla menatapnya. "Kau tahu namanya?"

"Ada di kertas yang kau temukan. Nico juga sudah memeriksa rekaman hotel. Dua perempuan membawamu ke kamar 2001. Salah satunya Vera Halim."

"Kalian menyelidikiku."

"Kami memeriksa apa yang terjadi di kamar yang tercatat atas namaku."

Jawaban itu masuk akal, meski Kayla tetap tidak menyukainya.

"Wilson datang ke rumah sakit tiga hari lalu," katanya. "Dia menganggap penolakanku bagian dari permainan. Keluargaku juga masih menekan. Menurut mereka, pernikahan sah adalah satu-satunya batas yang mungkin dia hormati."

"Mungkin?"

"Orang seperti Wilson hanya menghormati sesuatu kalau ada laki-laki lain yang dianggap lebih berkuasa di belakangnya." Nada Kayla pahit. "Aku tidak menyukai kenyataan itu, tetapi aku cukup realistis untuk memakainya."

Adrian meletakkan cangkir. "Keluargaku juga sedang memaksaku menikah."

"Dengan siapa?"

"Vanessa Wijaya."

Nama itu tidak berarti apa pun bagi Kayla. Ia hanya menangkap keengganan yang jelas dalam suara Adrian.

"Kau tidak menyukainya?"

"Aku tidak suka dipilihkan. Aku juga lelah pada perempuan yang mendekat karena nama keluarga atau apa yang mereka kira bisa kudapatkan."

Kayla melirik jam. Dua puluh menit lalu mereka adalah dua orang yang tidak ingin bertemu lagi. Sekarang mereka duduk dengan masalah berbeda dan kebutuhan yang hampir sama.

"Kalau begitu cari perempuan yang tidak menginginkan apa pun darimu," katanya.

"Misalnya kau?"

Kayla terdiam.

Adrian menyandarkan punggung. "Kau butuh status pernikahan untuk menghentikan Wilson. Aku butuh istri agar keluargaku berhenti mengatur. Kita tidak saling menyukai, jadi risiko drama lebih kecil."

"Kesimpulanmu cepat sekali."

"Aku terbiasa mengambil keputusan dengan informasi terbatas."

"Di kokpit mungkin. Pernikahan bukan pesawat."

"Keduanya membutuhkan aturan jelas dan pintu darurat."

Kayla tidak bisa membantah itu.

"Kenapa aku?" tanyanya. "Kau bisa memilih perempuan lain yang lebih mengenal duniamu."

"Itulah masalahnya. Mereka terlalu mengenal duniaku dan menginginkan bagian darinya." Adrian menatap lurus kepadanya. "Kau satu-satunya perempuan yang bangun di kamarku lalu terlihat lega ketika kubilang aku tidak akan bertanggung jawab."

"Itu bukan pujian."

"Bukan. Itu hasil pengamatan."

"Dan hasil pengamatanmu mengatakan aku calon istri yang baik?"

"Hasil pengamatanku mengatakan kau tidak membuatku muak. Untuk saat ini, itu sudah lebih baik daripada kandidat lain."

Kayla menarik napas. "Cara bicaramu benar-benar buruk."

"Tapi kau belum pergi."

Itu juga benar. Kayla masih duduk di sana karena di balik kesombongan Adrian, ada satu hal yang dibutuhkannya: laki-laki itu tidak meminta cinta, pengabdian, atau tubuhnya. Ia menawarkan kesepakatan.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Tiana masuk.

`Masih hidup? Kalau butuh diselamatkan, kirim emoji cabai.`

Kayla mematikan layar.

"Jika kita melakukan ini," katanya, "semua syarat harus tertulis. Pekerjaan, keuangan, keluarga, dan perceraian."

Adrian tidak tersenyum, tetapi tatapannya menjadi lebih ringan.

"Menikah bisa," katanya. "Tapi aku punya syarat."

Kayla mengangkat sebelah alis. "Aku juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!