Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24
Retak di Rumah Waluyo
“Jarwo tidak boleh berada di depan, tapi namanya harus masuk sebagai wakil keluarga.”
Bu Sri mengucapkan kalimat itu sebelum Arya sempat duduk.
Ruang depan rumah Pak Waluyo penuh. Dua putra yang sudah menikah datang bersama istri masing-masing. Ningsih duduk di samping Jarwo. Melati berada paling dekat dengan ibunya, meski ia tidak memiliki tugas dalam perburuan.
Pak Waluyo berdeham. “Kita hanya ingin mengatur supaya keluarga kepala desa ikut mendukung.”
“Aku sudah ikut sejak rapat pertama,” kata Jarwo. “Namaku ada di tim penutup.”
Bu Sri langsung menyela. “Itu terlalu berbahaya. Biarkan orang lain di depan. Nanti kalau berhasil, Bapak menyebut kamu yang menghubungkan warga.”
Ningsih tertawa tanpa humor. “Jadi kerja orang lain, nama kita?”
“Kamu selalu berpikir buruk tentang keluarga.”
“Saya berpikir sesuai kalimat Ibu.”
Kakak Jarwo ikut bicara. Ia tidak mau adiknya mendapat pujian sendirian. Istrinya menuntut agar suaminya dimasukkan ke daftar meski lelaki itu tidak hadir dalam simulasi.
Dalam beberapa menit, pembicaraan tentang keselamatan berubah menjadi pembagian kehormatan yang bahkan belum ada.
Arya menunggu sampai suara mereka mereda. “Daftar tidak diubah. Orang yang tidak ikut simulasi tidak berangkat.”
Pak Waluyo tampak tidak puas. “Saya kepala desa. Kalau saya menjamin anak saya?”
“Jaminan tidak menggantikan latihan.”
“Kamu terlalu kaku.”
“Saya lebih memilih dianggap kaku daripada membawa pulang korban.”
Jarwo mengangguk. “Aku tetap di posisi yang diberikan Mas Arya.”
Bu Sri menatap Ningsih. “Pasti istrimu yang memanas-manasi.”
“Saya justru ingin suami saya pulang selamat,” jawab Ningsih. “Karena itu dia mengikuti aturan, bukan mencari nama.”
Melati akhirnya angkat bicara. “Mungkin kegiatan ini memang terlalu berisiko. Kalau gagal, desa bisa malu dan Mas Arya yang disalahkan.”
Nada suaranya terdengar khawatir, tetapi Laras yang menunggu di teras mengenali kegelisahan lain. Melati ingin perburuan dibatalkan karena hasilnya tidak sesuai dengan masa depan yang ia ingat.
“Kalau tidak dilakukan, ladang terus rusak,” kata Jarwo.
“Kita bisa menunggu pemburu dari kecamatan.”
“Mereka baru bisa datang dua minggu lagi,” jawab Pakde Karyo. “Dokumen dan senapan untuk malam ini sudah sah.”
Melati menekan bibir. “Aku hanya takut ada yang terluka.”
Laras masuk setelah Arya mengulurkan tangan membantunya melewati ambang. “Karena itu semua aturan dibuat. Membatalkan pada menit terakhir justru membuat pemuda desa bergerak sendiri tanpa pengawasan.”
Mata Melati menyipit. “Kamu yakin sekali semuanya akan berhasil.”
“Aku yakin pada persiapan, bukan keberuntungan.”
Untuk sesaat, dua perempuan itu saling menatap. Tidak ada yang menyebut pengetahuan tentang masa depan. Namun Melati tampak seperti orang yang baru mendengar pintu dikunci dari sisi lain.
Pak Waluyo mencoba mengambil alih. “Baik, perburuan tetap jalan. Tapi pembagian hasil harus melalui saya.”
“Daftarnya sudah disepakati warga,” kata Laras. “Keluarga terdampak, petugas, lalu lansia. Pak Waluyo boleh mengawasi.”
“Kamu tidak percaya kepada Bapak?” tanya Bu Sri.
“Justru karena semua tertulis, tidak ada yang perlu dicurigai.”
Ningsih menahan senyum.
Istri putra pertama mendadak menuntut bagian karena suaminya akan menjaga balai. Bu Sri bilang tugas itu tidak sebanding dengan Jarwo di lapangan. Ucapan tersebut memicu pertanyaan lama: mengapa ketika hasil panen dibagi, kerja beberapa anak selalu dianggap lebih kecil, sedangkan kebutuhan Melati selalu paling penting?
“Mesin jahit Ningsih saja sekarang katanya milik dia sendiri,” sindir Bu Sri. “Sejak dekat dengan Laras, menantu mulai menghitung jasa.”
“Karena jasa memang punya nilai,” balas Ningsih. “Saya tidak pernah mengambil uang Ibu.”
“Tapi kamu makan di keluarga ini.”
Jarwo berdiri. “Kami juga menyumbang beras setiap panen.”
Retakan yang selama ini tertutup kesopanan pecah. Putra-putra Pak Waluyo mengungkit modal pupuk, biaya kursus Melati, dan tanah yang dijanjikan tetapi tak pernah dibagi jelas. Bu Sri menangis sambil menuduh semua menantu merebut anaknya.
Pak Waluyo memukul meja. “Diam! Ini bukan waktunya membicarakan warisan.”
“Kapan waktunya?” tanya Jarwo. “Setiap kami bicara, Bapak menyuruh diam supaya rumah tidak ramai.”
Putra tertua membuka suara yang selama ini ia tahan. Uang hasil penjualan kambingnya pernah dipakai untuk biaya kursus Melati tanpa persetujuan. Ketika ia meminta kembali, Bu Sri menyebutnya kakak yang perhitungan.
Istrinya menimpali bahwa giliran mereka menjaga orang tua selalu dianggap kewajiban, sedangkan Melati cukup membawa makanan dari warung untuk dipuji paling berbakti.
“Aku tidak pernah meminta semua itu!” seru Melati.
“Kamu juga tidak pernah menolak,” jawab Ningsih.
Bu Sri berdiri di depan putri bungsunya seperti tameng. “Dia belum menikah. Wajar kalau kami melindunginya.”
“Melindungi tidak sama dengan mengambil bagian orang lain,” kata Jarwo.
Pak Waluyo memandang Arya, mungkin berharap tamunya menertibkan keluarga seperti menertibkan tim. Arya tidak ikut campur. Ia hanya berkata bahwa nama petugas, tugas, dan pembagian hasil tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan hutang lama keluarga Waluyo.
Laras menyadari mengapa rumah itu selalu terlihat rukun dari luar. Setiap ketidakadilan ditutup demi keheningan. Tidak ada luka yang dibersihkan, hanya ditumpuk di balik pintu sampai satu persoalan kecil membuat semuanya membusuk bersamaan.
“Setelah kegiatan selesai, kita bicara lagi,” kata Pak Waluyo.
Anak-anaknya tidak menjawab. Janji itu sudah terlalu sering mereka dengar.
Melati keluar menuju dapur. Laras melihat ia berhenti dekat meja tempat daftar persediaan diletakkan. Tangannya bergerak cepat, seolah hendak mengambil kertas.
“Melati,” panggil Laras.
Perempuan itu tersentak.
“Daftar itu milik tim.” Laras mengambilnya lebih dahulu. “Kalau ingin melihat, baca di sini.”
“Aku tidak tertarik.”
“Bagus.”
Melati berbalik, wajahnya pucat oleh marah. Usahanya mengusik daftar atau mengetahui kelemahan rencana gagal sebelum dimulai.
Tiba-tiba kentongan berbunyi dari arah utara.
Satu pukulan panjang, dua pendek. Sinyal pengamat bahwa kawanan bergerak turun.
Semua pertengkaran terhenti.
Arya berdiri. “Tim yang terdaftar ke titik kumpul. Yang lain ke balai. Tidak ada perubahan.”
Jarwo mencium kening Ningsih, lalu mengikuti Pakde Karyo. Pak Waluyo hendak memberi pidato, tetapi tidak seorang pun menunggu.
Di luar, senter merah menyala satu demi satu.
Arya memegang bahu Laras. “Tetap bersama Ibu.”
“Pulanglah dengan semua orang.”
“Saya berjanji.”
Ia mencium kening istrinya di depan keluarga Waluyo, lalu berlari menyusul tim.
Laras berdiri di gerbang bersama Ningsih. Di belakang mereka, rumah kepala desa masih menyimpan pertengkaran yang belum selesai. Di depan mereka, barisan lelaki bergerak menuju gelap hutan.
Peluit pertama terdengar.
Perburuan dimulai sebelum siapa pun sempat memperebutkan kemenangan.
Melati berdiri di balik tirai, menggenggam ujung kain sampai buku jarinya memutih. Dalam ingatannya, malam ini seharusnya membawa darah dan penyesalan, bukan barisan teratur yang dipimpin Arya sama sekali.