NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Kenapa Ada Bubuk Putih di Gelasku?

Vivi tidak langsung menyentuh botolnya.

Wulan berdiri di sisi bangku dengan kain lap di tangan. Senyumnya masih terpasang, tetapi matanya bergerak ke pintu dua kali dalam beberapa detik.

“Airnya hampir habis, Bu,” ulangnya.

Botol transparan itu masih tiga perempat penuh. Tutupnya terpasang miring, tidak serapat saat Vivi meninggalkannya.

Sebuah ingatan lama menerjang tanpa urutan.

Air yang terasa sedikit pahit. Tubuhnya melemah di tengah latihan. Panas aneh menjalar di bawah kulit, diikuti dorongan putus asa untuk menempel pada siapa pun yang berdiri dekat. Beberapa ponsel terangkat. Regina menatapnya dengan kecewa sebelum Vivi melarikan diri dari studio.

Ia tidak pernah mengetahui siapa yang memasukkan sesuatu ke minumannya. Ia hanya mengingat rasa malu dan hubungan dengan gurunya yang nyaris putus.

Kali ini, Wulan berdiri tepat di depannya.

“Kamu sudah mengganti airnya?” tanya Vivi.

“Belum, Bu. Saya baru mau.”

“Tadi kamu bilang mau mengisi karena hampir habis.”

Wulan meremas kain lap. “Maksud saya, saya pikir sebentar lagi habis.”

Vivi mengangguk seolah menerima jawaban itu. Ia mengambil sepasang sarung tangan sekali pakai dari kotak pertolongan pertama di dekat meja musik. Setelah memakainya, ia mengangkat botol tanpa mengguncang isinya.

Di permukaan air, butiran putih menempel pada dinding plastik. Sebagian telah turun ke dasar dan membentuk lapisan tipis seperti debu.

Dingin menyusuri tulang belakangnya.

“Wulan,” katanya pelan. “Lihat ini.”

Perempuan itu menoleh sekilas. Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Mungkin sisa sabun, Bu.”

“Botol ini dicuci di rumah dan baru dibuka pagi tadi.” Vivi mengeluarkan ponsel, memotret botol dari beberapa sudut tanpa memindahkannya dari bangku. “Kalau kamu tidak menyentuhnya, tidak perlu takut. Kita panggil Miss Regina, periksa rekaman lorong, lalu kirim air ini ke laboratorium.”

“Tidak perlu sejauh itu.”

“Kenapa?”

“Saya cuma ingin membantu.”

Vivi menatapnya. “Ini kesempatan kedua. Katakan sekarang apakah kamu membuka botolku.”

Wulan mundur satu langkah. “Tidak.”

“Baik.” Vivi membuka percakapan dengan Regina dan menekan tombol panggil. “Kalau begitu, hasil laboratorium dan catatan akses akan membuktikannya.”

“Jangan!”

Tangan Wulan bergerak hendak merebut botol. Vivi segera mengangkatnya menjauh dan mundur ke arah pintu. Gerakannya membuat kursi tergeser keras.

Regina muncul dari lorong. “Ada apa?”

Wulan berhenti. Bahunya naik turun cepat.

“Jangan biarkan dia mendekati botol ini,” kata Vivi.

Regina melihat endapan putih, lalu menutup pintu latihan dan berdiri di antara Wulan dengan jalan keluar. “Jelaskan.”

“Saya tidak tahu apa-apa.”

Vivi meletakkan ponselnya di rak terbuka, dengan layar perekam suara terlihat jelas. “Aku merekam mulai sekarang. Kamu boleh menolak bicara dan menunggu penasihat hukum. Tapi botol ini tetap akan diperiksa, dan kamera lorong akan menunjukkan siapa yang berada di dekatnya.”

Tidak ada kamera di bagian dalam ruang ganti setelah pembersihan, tetapi koridor dan pintu latihan telah dilengkapi CCTV baru. Wulan tahu itu.

“Saya cuma diberi uang,” katanya akhirnya.

Regina menegang. “Oleh siapa?”

“Seseorang dari tim Nadya. Saya tidak tahu namanya. Dia menghubungi lewat akun sementara.”

“Untuk memasukkan apa?”

“Katanya obat pencahar. Cuma supaya Bu Vivian malu dan tidak bisa latihan beberapa hari.”

“Berapa banyak yang kamu masukkan?” tanya Vivi.

Wulan menangis. “Satu bungkus kecil. Saya tidak tahu takarannya.”

Regina bergerak maju, tetapi Vivi mengangkat tangan.

“Jangan sentuh dia.” Suaranya sendiri terdengar terlalu tenang. “Miss Regina, telepon penasihat hukum dan pemeriksa yang menangani kamera kemarin. Minta mereka membawa wadah bukti.”

“Kita lapor polisi sekarang.”

“Kita dokumentasikan dulu sesuai prosedur. Jangan sampai rantai buktinya rusak.”

Regina mengangguk kaku lalu menelepon dari sudut ruangan. Vivi tetap mengawasi Wulan.

“Siapa nama akun yang menghubungimu?”

Wulan menyebutkannya. “Pesannya sudah saya hapus.”

“Ponselmu masih ada?”

“Ada.”

“Jangan hapus apa pun lagi. Kamu tidak perlu menyerahkannya kepadaku, tetapi penasihat hukum akan mencatat bahwa perangkat itu ada dan meminta persetujuanmu untuk menyalin percakapan yang bisa dipulihkan.”

Wulan menutupi wajah. “Saya butuh uang untuk membayar kontrakan. Saya pikir itu benar-benar hanya obat pencahar.”

Vivi menatap endapan di dasar botol. “Kalaupun benar, kamu tetap sengaja memasukkan obat ke tubuh orang tanpa izin.”

“Berapa yang mereka bayar?” tanya Regina.

“Lima juta. Setengah kemarin, setengah lagi kalau Bu Vivian meminum airnya.”

“Dari rekening siapa?”

Wulan menyebut nama sebuah perusahaan pemasaran yang tidak dikenali siapa pun di ruangan itu. Ia menunjukkan notifikasi transfer di ponselnya dari jarak aman. Nominalnya cocok dengan pengakuannya.

Vivi meminta Regina memotret layar bersama waktu dan nomor transaksi, tanpa mengambil alih perangkat. Jika perusahaan itu hanya lapisan, setidaknya ada jejak yang dapat ditelusuri ke pengirim berikutnya.

“Orang yang menghubungimu tahu jadwal latihanku?” Vivi bertanya.

Wulan mengangguk kecil. “Dia tahu jam istirahat dan botol yang biasa Ibu bawa.”

Berarti Nadya masih mempunyai mata lain di sekitar studio, atau Wulan telah mengirim laporan sejak hari pertama. Kecurigaan Vivi kini bukan lagi perasaan tanpa bentuk.

Tangis Wulan tersendat.

Penasihat hukum Regina tiba tiga puluh menit kemudian bersama petugas pemeriksa. Mereka merekam posisi botol sebelum menyegelnya, mengambil sampel endapan dengan alat steril, mencatat waktu, serta meminta tanda tangan semua orang yang menyaksikan. Ponsel Wulan diperiksa hanya setelah ia menandatangani persetujuan. Pesan yang terhapus belum pulih, tetapi bukti transfer dan nama akun masih tercatat.

“Laporan awal bisa dibuat hari ini,” kata penasihat hukum. “Untuk jenis zatnya, kita tunggu hasil laboratorium.”

Regina menoleh kepada Vivi. “Kita hentikan latihan dan lapor.”

Vivi menggeleng. “Latihan tidak berhenti. Wulan dilarang masuk mulai sekarang. Kita buat laporan dan simpan buktinya, tetapi jangan umumkan nama Nadya sebelum hubungan akun dan transfer terverifikasi.”

“Kalau dia sadar rencananya gagal, dia akan mengganti cara.”

“Dia akan mengganti cara sekalipun kita membuat keributan hari ini.” Vivi menatap Wulan. “Perbedaannya, sekarang kita tahu dia tidak hanya bermain di media sosial.”

Regina berjalan ke jendela. Amarah membuat bahunya kaku. “Saya tidak akan memintamu bertahan kalau kamu ingin mundur.”

“Aku tidak mundur.”

“Vivi, zat itu bisa saja berbahaya.”

“Karena itu kita periksa semua makanan, minuman, kostum, dan akses mulai sekarang. Aku membawa botol tersegel sendiri. Tidak ada staf yang menyentuhnya.”

Wulan dibawa ke kantor kecil untuk menunggu pendamping dari perusahaan penyedia tenaga kerja. Kartu aksesnya dinonaktifkan. Regina juga memerintahkan agar rekaman CCTV disalin sebelum siklus penyimpanan otomatis menimpanya.

Atas saran penasihat hukum, tidak ada yang menahan Wulan secara fisik. Ia diminta menunggu secara sukarela sampai wakil perusahaan datang, dan jika memilih pergi, waktu serta rekamannya akan dicatat. Wulan memilih tetap duduk di kantor. Mungkin karena takut, mungkin karena untuk pertama kalinya ia memahami bahwa uang lima juta telah meninggalkan jejak yang jauh lebih mahal.

Ketika ruangan kembali sepi, guntur jauh bergulung di balik awan gelap.

Vivi berdiri di depan meja bukti. Botol airnya kini berada di dalam wadah bening dengan segel bernomor.

Dalam kehidupan pertama, segelas air telah merampas kendali atas tubuh dan namanya.

Kali ini, air yang sama berubah menjadi bukti.

“Dia tidak akan berhenti di sini,” bisik Vivi.

Di luar, langit Tangsel menghitam seperti peringatan.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!