Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Pertempuran Pertama di Luar Tembok
Pagi hari ke-27, Arga membuka gerbang utara.
Seratus perempuan bersenjata berdiri di belakangnya.
Tidak semua wajah tenang. Ada yang menggenggam tombak terlalu kuat. Ada yang berkali-kali menelan ludah. Ada yang menatap reruntuhan di luar Kota Harapan seperti menatap mulut jurang.
Arga tidak memberi pidato panjang.
"Hari ini kalian belajar satu hal."
Semua mata mengarah kepadanya.
"Zombie di luar tembok tidak peduli kalian takut. Jadi rasa takut harus belajar berjalan sambil memegang senjata."
Dara berdiri di depan sepuluh regu.
Setiap regu berisi sepuluh orang. Satu ketua Tingkat 2, sembilan anggota Tingkat 1. Nadira tetap di garis belakang dengan radio HT, peta, dan tiga orang pencatat. Wulan menyiapkan titik medis di dekat mobil pikap tua yang sudah diubah menjadi meja perawatan.
Kiara berdiri di sisi kanan formasi.
Bayangannya di tanah terlihat lebih tebal daripada orang lain.
Arga menunjuk ke arah utara.
"Formasi baji. Jangan mengejar sendiri. Zombie tunggal dikepung. Kelompok besar dipancing, dipotong, lalu dibunuh."
Dara mengangkat golok panjang.
"Regu satu sampai tiga, maju. Regu empat sampai enam, lindungi sisi. Regu tujuh sampai sepuluh, cadangan."
Gerbang dibuka lebih lebar.
Mereka keluar.
Begitu melewati tembok, bau dunia luar menghantam wajah.
Lumpur busuk.
Beton basah.
Darah kering.
Asap dari bangunan yang pernah terbakar.
Zombie pertama muncul dari balik mobil terbalik. Tubuhnya kurus, satu kaki pincang, mulutnya penuh suara lapar.
Seorang anggota baru hampir mundur.
Dara menendang tanah di depannya.
"Tahan!"
Ketua regu Tingkat 2 bergerak lebih dulu, menahan leher Zombie dengan tongkat besi. Dua anggota menusuk lutut. Satu anggota lain mengayunkan parang ke kepala.
Zombie jatuh.
Kristal kecil diambil.
Wajah perempuan yang tadi hampir mundur berubah pucat, lalu bernapas keras.
"Lanjut," kata Arga.
Setengah jam pertama berjalan buruk tetapi masih terkendali.
Tiga orang muntah setelah membelah kepala Zombie. Dua orang hampir menusuk teman sendiri karena panik. Satu regu salah membaca perintah dan membuat celah di sisi kiri.
Nadira langsung bicara lewat radio.
"Regu lima mundur dua meter. Regu delapan tutup celah. Jangan semua mata melihat target yang sama."
Suara Nadira dingin dan jelas.
Kepanikan yang mulai naik langsung turun.
Arga berjalan di tengah formasi, tidak selalu menyerang. Kadang ia hanya berdiri dan membiarkan para anggota menyelesaikan Zombie yang seharusnya bisa mereka bunuh sendiri.
Ia melihat tangan gemetar.
Ia melihat kaki lambat.
Ia melihat siapa yang bisa mendengar perintah saat darah menyiprat ke wajah.
Itu lebih penting daripada jumlah Kristal.
Satu jam berlalu.
Formasi mulai rapi.
Dua jam berlalu.
Ketakutan mulai berubah menjadi panas di mata.
"Kiri!"
"Tahan lututnya!"
"Jangan rebutan kepala!"
"Kristal simpan ke kantong regu!"
Suara-suara itu mulai muncul tanpa menunggu Arga.
Dara tersenyum dengan mulut penuh debu.
"Mereka mulai punya gigi."
Kiara melompat melewati puing rendah. Bayangan di bawah tubuhnya pecah seperti kain hitam. Dua belati Hi-Tech menyambar leher Zombie dari samping. Ia tidak membuang gerakan. Masuk, potong, keluar.
Setiap kali ada Zombie yang hampir menembus sisi kanan, Kiara muncul di belakangnya.
Para anggota melihat itu dengan mata terbuka lebar.
Sebelumnya, mereka tahu Kiara kuat.
Hari ini mereka melihat arti kuat.
Menjelang tengah hari, lebih dari dua ratus Zombie Tingkat 1 sudah dibersihkan. Tidak semua menjatuhkan Kristal, tetapi kantong regu tetap berat. Nadira mencatat seratus lima puluh lebih Kristal Tingkat 1 dari dua jam pertama.
Untuk pasukan baru, itu hasil bagus.
Terlalu bagus.
Arga berhenti di depan reruntuhan bengkel dua lantai.
Telepati menyentuh sesuatu di dalam gelap.
Bukan pikiran lapar yang pecah.
Ini lebih padat.
Lebih kasar.
Seperti batu panas yang menekan dinding kepala.
"Semua berhenti."
Dara langsung mengangkat tangan.
Formasi berhenti.
Satu detik.
Dua detik.
Atap bengkel meledak dari dalam.
Sosok besar jatuh ke jalan.
Tanah bergetar.
Zombie itu hampir dua kali tinggi manusia biasa. Bahunya lebar seperti pintu baja. Kulitnya gelap, keras, penuh urat merah yang berdenyut di bawah permukaan. Matanya bukan merah redup, tetapi menyala seperti bara basah.
Tingkat 3.
Tiga anggota di depan belum sempat mundur.
Satu ayunan tangannya menghantam mereka.
Tubuh mereka terlempar seperti karung.
Tulang retak terdengar jelas.
Formasi pecah setengah langkah.
"Jangan lari!" teriak Dara.
Tapi Zombie Tingkat 3 sudah bergerak.
Cepat.
Terlalu cepat untuk tubuh sebesar itu.
Ia menghantam regu dua, merobek tameng darurat dari pintu mobil, lalu menunduk untuk menggigit leher seorang ketua regu.
Bayangan hitam melintas.
Kiara.
Ia muncul di sisi kiri Zombie, dua belati menusuk ke sela rusuk. Bayangan menutup bahunya. Gerakannya cepat, bersih, mematikan.
Belati menembus.
Tapi tidak cukup dalam.
Zombie Tingkat 3 memutar tubuh.
Reaksinya tidak seperti Tingkat 1.
Tidak lambat.
Tidak bodoh.
Kukunya menyambar.
Kiara menarik tubuh, tetapi ujung cakar tetap merobek perutnya.
Darah menyembur ke batu.
Matanya melebar.
"Kiara!"
Beberapa orang meneriakkan namanya sekaligus.
Arga sudah bergerak sebelum teriakan selesai.
Jaraknya hampir lima puluh meter.
Ia menghilang.
Udara di sebelah Kiara bergetar.
Arga muncul, satu tangan memeluk pinggang Kiara agar tubuhnya tidak jatuh ke depan. Tangan lain mendorong pedang Hi-Tech lurus ke mata Zombie.
Mata merah itu pecah.
Zombie meraung.
Namun tubuh besar itu tidak mundur.
Cakar kirinya menusuk turun.
Arga memutar bahu untuk melindungi Kiara.
Cakar itu menembus bahu kanannya.
Rasa panas meledak sampai tulang.
Darah Arga menetes di wajah Kiara.
Kiara masih sadar. Bibirnya bergerak, tetapi suara tidak keluar.
Arga menatap mata Zombie yang tersisa.
"Belum."
Ia menarik pedang, lalu menghilang lagi.
Saat berikutnya, ia sudah berada dua puluh meter di belakang garis, memegang Kiara yang tubuhnya mulai lemas.
"Wulan!"
Wulan berlari dari titik medis.
Wajahnya memucat begitu melihat luka Kiara.
Perut robek panjang. Darah terlalu banyak. Ada warna hitam tipis di tepi luka.
Racun Zombie.
Arga meletakkan Kiara di meja pikap.
"Antidot. Air bersih. Tekan lukanya."
Wulan mengangguk cepat.
Tangannya gemetar saat membuka kotak obat, tetapi gerakannya tidak berhenti.
"Aku butuh kain bersih. Dua orang pegang bahunya. Jangan biarkan dia bergerak."
Meilan yang ikut di garis belakang langsung membantu. Dua anggota memegang kaki Kiara.
Kiara menggertakkan gigi.
"Aku... masih bisa..."
"Diam," kata Arga.
Wulan menuang air yang baru ia murnikan ke luka.
Kiara menjerit tertahan.
Darah, lumpur, dan racun hitam mengalir turun dari meja.
Wulan menusukkan Antidot ke dekat luka, lalu menekan kain bersih dengan kedua tangan. Air di telapak tangannya terus bergetar halus, menjaga luka tetap bersih.
Ia belum bisa menyembuhkan.
Tapi ia bisa memberi tubuh Kiara kesempatan untuk bertahan.
Di depan, Zombie Tingkat 3 mengamuk.
Satu matanya hancur, namun kekuatannya belum turun banyak.
Regu depan mundur terlalu cepat.
Dara melangkah maju sendiri.
"Semua ketua Tingkat 2, ikut aku!"
Nadira bicara dari radio.
"Dara, jangan habiskan tenaga di awal. Kaki kanan. Sendi kiri. Buat dia berlutut."
"Dengar!" teriak Dara. "Kaki kanan dulu!"
Zombie Tingkat 3 menerjang.
Dara mengaktifkan Ketangguhan.
Kulitnya seperti berubah padat. Ototnya menegang. Ia menahan pukulan pertama dengan perisai logam.
Perisai penyok.
Kaki Dara tenggelam ke lumpur.
Ia batuk, tetapi tidak mundur.
Pukulan kedua datang.
Dara menahan lagi.
Retakan menyebar di perisai.
Pukulan ketiga membuat darah keluar dari sudut mulutnya.
Namun selama tiga pukulan itu, lima ketua regu Tingkat 2 sudah masuk ke sisi Zombie.
Satu menusuk lutut kanan.
Dua menebas tendon kiri.
Satu melempar tombak ke bahu.
Yang terakhir menghantam bagian belakang kepala dengan palu besi.
Zombie Tingkat 3 goyah.
"Sekarang!" teriak Nadira dari belakang.
Dara menjatuhkan perisai rusak, mengambil golok panjang dengan dua tangan, lalu menebas tepat ke leher yang sudah terbuka.
Tidak putus.
Terlalu keras.
Tapi cukup membuat kepalanya miring.
Kiara tidak ada di medan.
Arga terluka.
Maka Dara harus menyelesaikan.
Ia mengaum.
Ketangguhan menahan tubuhnya agar tidak hancur saat ia memaksa seluruh tenaga masuk ke ayunan kedua.
Lima ketua regu menyerang bersamaan.
Pedang, tombak, parang, dan palu menghantam satu titik.
Leher Zombie pecah.
Kepalanya jatuh separuh, lalu seluruh tubuh besar itu roboh ke jalan.
Debu naik.
Tidak ada yang bersorak.
Mereka terlalu sibuk bernapas.
Dara berlutut satu kaki, menahan mual dan sakit di dadanya.
Seorang ketua regu mengambil Kristal besar dari kepala Zombie dengan tangan gemetar.
Kristal Tingkat 3 pertama.
Nadira berjalan mendekat, wajahnya kaku.
"Catat. Untuk membunuh satu Zombie Tingkat 3 dengan risiko terkendali, dibutuhkan minimal lima Tingkat 2 yang disiplin, satu penahan depan, dan dukungan komando."
Salah satu anggota berbisik, "Kalau Kak Kiara tidak menyerang dulu..."
Dara menatapnya tajam.
"Kalau Kiara tidak menyerang dulu, ketua regumu sudah mati."
Anggota itu langsung diam.
Di titik medis, Arga duduk di samping Kiara. Bahu kanannya sudah dibuka. Cakar Zombie menembus dalam, tetapi tidak sampai memutus tulang utama. Darah masih mengalir pelan.
Wulan melihat lukanya, lalu melihat wajah Arga.
"Bos, bahumu harus dijahit."
"Kiara dulu."
"Dia sudah stabil untuk sementara."
"Pastikan."
Wulan menahan napas.
Ia ingin berkata bahwa ia juga manusia, bahwa tangannya gemetar, bahwa ia belum pernah melihat orang hampir mati sedekat ini.
Tapi Arga menatapnya bukan sebagai gadis lemah.
Ia menatapnya sebagai bagian dari tim.
Wulan menunduk.
"Baik."
Ia kembali memeriksa luka Kiara.
Setelah yakin racun hitam berhenti menyebar, barulah ia menangani bahu Arga.
Jarum masuk ke daging.
Arga tidak mengeluarkan suara.
Kiara membuka mata setengah.
Wajahnya pucat seperti kertas basah.
"Kenapa..." suaranya serak, "kenapa tidak bunuh dulu... baru selamatkan aku?"
Arga menoleh.
"Karena kamu lebih berharga."
Mata Kiara bergetar.
Ia ingin tertawa, tetapi luka perut membuat napasnya patah.
"Bodoh."
"Hidup dulu. Marah nanti."
Kiara menggenggam pergelangan tangan kirinya.
Lemah, tetapi tidak mau lepas.
Sore itu, pasukan kembali ke gerbang utara.
Hasilnya berat.
Dua ratus lebih Zombie Tingkat 1 dibersihkan.
Sekitar dua ratus Kristal Tingkat 1 terkumpul setelah penyisiran tambahan.
Satu Kristal Tingkat 3 berada di tangan Nadira.
Tiga anggota patah tulang. Tujuh luka ringan. Tidak ada yang mati.
Namun tidak satu pun wajah terlihat merayakan.
Mereka sudah melihat puncak yang lebih tinggi.
Tingkat 3 Zombie mengubah medan perang.
Ia mengubah medan perang.
Malamnya, Kiara dibaringkan di kamar villa inti.
Wulan memperkirakan perutnya butuh lima hari untuk benar-benar aman. Arga butuh tiga hari agar bahunya bisa bergerak penuh tanpa merobek jahitan. Dara tidak terluka parah, tetapi tulang rusuknya memar karena tiga pukulan.
Nadira menulis semua angka dalam laporan.
Lalu ia menutup buku lebih lama dari biasanya.
"Besok, latihan berubah," katanya.
Arga berdiri di dekat jendela, bahu kanan dibalut tebal.
"Bukan besok."
Nadira mengangkat kepala.
Arga menatap langit utara.
"Kita tidak punya besok yang tenang."
Di kamar, Kiara setengah tidur.
Tangannya masih memegang tangan Arga.
Wulan masuk membawa obat.
Ia berhenti di ambang pintu.
Kiara yang biasanya tajam kini terlihat rapuh. Arga yang biasanya seperti batu juga duduk diam dengan darah menembus sedikit di balutan bahu.
Untuk pertama kalinya, Wulan melihat bahwa orang sekuat Arga tetap bisa terluka.
Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, dadanya terasa sesak.
Ia meletakkan obat di meja kecil.
Pelan.
Tanpa mengganggu.
Saat keluar dari kamar, Wulan menyentuh dadanya sendiri.
"Apa yang sebenarnya aku tunggu..."
Kalimat itu hilang di lorong.
Di luar villa, langit tiba-tiba bergetar.
Bukan petir.
Bukan gempa.
Suara rendah bergulung dari atas Kota Harapan, seperti ribuan pintu jauh sedang dibuka bersamaan.
Arga mengangkat kepala.
Mata Nadira berubah dingin.
Dari balik awan malam, garis-garis hitam mulai merobek langit.
Tanda yang pernah mereka lihat sebelum Hujan Zombie pertama.
Kali ini lebih besar.
Lebih banyak.
Lebih dekat.