NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 024: Ujian Tertulis 98 Poin

Surat evaluasi kompetensi ditempel di papan pengumuman IKF pada Senin pagi.

Nama Arka Pratama ada di baris pertama.

Ujian tertulis.

Praktik autopsi.

Wawancara panel.

Tiga tahap untuk mengubah satu kata di depan namanya.

Dari Dokter Muda menjadi dr.

Di belakangnya, beberapa teknisi berbisik.

"Cepat sekali."

"Wajar. Dua kasus besar."

"Tapi Galang pasti panas."

Arka tidak menoleh.

Ia sudah tahu.

Malam sebelumnya, ia menempelkan sepotong pita bening sangat tipis di sudut loker. Bukan untuk mengunci. Hanya untuk mengetahui apakah ada orang membuka.

Pagi itu, pita itu putus.

Posisi kunci sedikit berubah.

Tidak ada barang hilang.

Tetapi buku catatan evaluasi bergeser dua sentimeter dari posisi semula.

Arka menatap loker selama tiga detik.

Label kuning Galang yang muncul beberapa kali dalam minggu terakhir terlintas di kepalanya.

[Iri kuat]

[Permusuhan tertahan]

Sekarang permusuhan itu punya tangan.

Dimas muncul membawa kopi. "Mas Arka, wajahmu seperti menemukan mayat di loker."

"Bukan mayat. Jejak."

"Itu lebih seram."

"Ada orang membuka loker saya."

Dimas langsung berhenti bercanda. "Mau lapor?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Karena yang hilang belum barang. Yang muncul baru niat."

Dimas menatap loker, lalu menurunkan suara. "Galang?"

Arka menutup pintu loker. "Saya tidak menyebut nama tanpa bukti cukup."

"Tapi kamu tahu."

"Saya tahu cukup untuk tidak lengah."

Ujian tertulis dimulai pukul sembilan di ruang rapat lantai enam Polrestabes.

Kepala IKF, dr. Hartono, duduk di depan bersama dr. Suherman dan seorang pemeriksa senior dari Polda Jatim, dr. Teguh Nugraha. Galang berdiri di luar ruangan sebagai peserta evaluasi internal lain yang ikut menunggu sesi berbeda.

Ia melihat Arka masuk.

Senyumnya tipis.

"Semoga lancar, Mas Arka. Soal evaluasi biasanya tidak bisa diselesaikan dengan keberanian saja."

Arka berhenti. "Benar, Mas Galang. Karena itu saya belajar."

"Belajar dari mana? Buku catatan?"

Kalimat itu terlalu halus untuk orang lain.

Terlalu jelas untuk Arka.

Arka menatapnya. "Dari banyak tempat. Termasuk dari orang yang mengira membuka loker orang lain tidak meninggalkan tanda."

Senyum Galang membeku.

Label kuning muncul.

[Terkejut]

[Panik ringan]

[Permusuhan meningkat]

Arka masuk ke ruang ujian tanpa menunggu jawaban.

Soal dibagikan.

Seratus pertanyaan.

Kematian karena trauma tumpul.

Toksikologi dasar.

Livor mortis.

Algor mortis.

Luka iris dan luka tusuk.

Prosedur VeR.

KUHAP Pasal 133 dan 134.

Rantai bukti.

Etika pemeriksaan jenazah.

Satu soal uraian panjang tentang racun organofosfat dan perbedaan gejala dengan sianida.

Arka membaca cepat.

Di kepalanya, Injeksi Pengetahuan yang dulu terasa seperti api kini bekerja seperti rak arsip yang rapi.

Ia tidak merasa semua mudah.

Ia merasa semua punya tempat.

Pukul sepuluh lewat sepuluh, ia meletakkan pena.

Dr. Hartono mengangkat wajah. "Sudah selesai?"

"Sudah, Dok."

"Masih ada lima puluh menit."

"Saya gunakan untuk cek ulang."

Ia mengecek ulang semua jawaban selama tujuh menit.

Lalu menyerahkan lembar.

Ruangan hening.

Dr. Teguh menerima lembar itu, membaca beberapa nomor acak, lalu menatap Arka.

"Kamu yakin?"

"Yakin, Dok."

"Baik. Tunggu di luar."

Di koridor, Galang masih berdiri.

"Cepat sekali," katanya. "Kadang terlalu cepat berarti ceroboh."

Arka duduk di bangku. "Kadang terlalu lama juga berarti tidak tahu."

Dimas yang baru lewat hampir tersedak kopi.

Satu jam kemudian, hasil sementara keluar.

Dr. Hartono membuka pintu.

"Arka Pratama."

Arka berdiri.

Galang ikut menoleh.

"Nilai tertulis: sembilan puluh delapan."

Koridor langsung diam.

Dimas berbisik, "Sembilan puluh delapan? Dari seratus?"

Dr. Hartono melanjutkan, "Nilai tertinggi evaluasi IKF dalam dua belas tahun terakhir. Dua poin dikurangi karena uraian toksikologi Anda memakai alur lanjutan yang belum diminta dalam kunci jawaban standar."

Galang tidak berkata apa-apa.

Wajahnya berubah dari putih ke merah tipis.

Arka hanya mengangguk. "Terima kasih, Dok."

"Jangan terima kasih dulu. Praktik dimulai tiga puluh menit lagi."

Ruang praktik berada di teaching autopsy room IKF.

Di meja, ada spesimen latihan dan simulasi laporan. Tugasnya jelas: identifikasi pola luka, buat insisi standar, catat temuan, susun kesimpulan awal.

Standar waktu: enam puluh menit.

Arka memakai sarung tangan.

Skalpel di tangannya terasa jauh lebih akrab daripada pena ujian.

Dr. Teguh berdiri di sisi kanan.

Dr. Suherman di sisi kiri.

Dr. Hartono di belakang meja penilaian.

"Mulai," kata dr. Hartono.

Arka tidak bergerak cepat pada lima menit pertama.

Ia melihat.

Membaca arah luka.

Mencocokkan warna jaringan.

Mengecek apakah ada jebakan pada spesimen latihan.

Lalu tangannya mulai bekerja.

Insisi pertama bersih.

Tidak terlalu dalam.

Tidak terlalu dangkal.

Pinset mengambil jaringan tanpa merusak tepi.

Catatan dibuat pendek, langsung, bisa dibaca pemeriksa.

Dr. Teguh yang awalnya berdiri santai mulai condong ke depan.

"Tekanan pisaunya stabil," gumamnya.

Suherman menjawab pelan, "Saya sudah bilang."

Menit kedua puluh, Arka menemukan kejanggalan pertama.

"Dok, spesimen ini punya bekas sayatan lama di tepi bawah yang tidak tercantum di lembar simulasi."

Dr. Hartono mengangkat alis. "Tunjukkan."

Arka menunjuk. "Di sini. Tepi jaringan sudah mengering, sudah ada sebelum insisi saya. Ini bekas penyimpanan atau pemotongan sebelumnya. Kalau tidak dicatat, bisa dianggap luka baru."

Dr. Teguh mendekat, lalu mengangguk. "Benar."

Menit kedua puluh delapan, ia menemukan kejanggalan kedua.

"Ada fragmen kecil serat kain menempel di bagian samping. Bukan bagian dari kasus simulasi."

Dr. Hartono melihat teknisi.

Teknisi itu pucat. "Mungkin tertinggal saat persiapan, Dok."

Dr. Hartono tidak marah. Ia justru menulis sesuatu di formulir.

Menit ketiga puluh lima, Arka meletakkan alat.

"Selesai."

Dr. Teguh melihat jam. "Tiga puluh lima menit."

"Laporan awal sudah lengkap?"

Arka menyerahkan lembar. "Silakan diperiksa, Dok."

Tiga pemeriksa membaca.

Tidak ada suara selama beberapa menit.

Akhirnya dr. Hartono berkata, "Praktik autopsi: seratus."

Dimas yang menunggu di pintu hampir bersorak, tetapi ditahan oleh tatapan Adira yang baru datang dari koridor.

Galang berdiri di belakang Adira.

Ia melihat lembar nilai di tangan dr. Hartono.

98.

100.

Dua angka itu seperti dua tamparan yang tidak mengeluarkan suara.

Adira mendekati Arka. "Selamat, Dok. Dua tahap pertama bersih."

"Masih ada wawancara panel."

"Benar."

Dr. Hartono menutup map. "Wawancara panel dijadwalkan besok. Ada satu catatan tambahan yang harus dibahas."

Arka menatapnya. "Catatan apa, Dok?"

Dr. Hartono melirik Galang sebentar.

Galang menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.

"Ada opini tertulis terkait prosedur etik pada kasus pertama Anda," kata dr. Hartono. "Akan dibahas di panel."

Adira langsung menoleh ke Galang.

Label kuning di wajah Galang menyala tajam.

[Puas tertahan]

[Iri]

[Serangan administratif]

Arka melepas sarung tangan dengan tenang.

Ia tidak terkejut.

Orang yang membuka loker biasanya tidak hanya mencari catatan.

Ia mencari celah.

"Baik, Dok," kata Arka. "Kalau yang diuji besok prosedur, saya akan jawab dengan prosedur."

Galang akhirnya mengangkat wajah.

Kali ini, Arka membalas tatapannya.

Tidak marah.

Tidak takut.

Hanya mencatat.

Dalam ruang autopsi, luka paling berbahaya kadang bukan yang berdarah.

Kadang ia datang dalam bentuk selembar opini tertulis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!