"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Mayat Pertama
Gang di Jalan Pahlawan terlalu sempit untuk menampung rasa ingin tahu warga.
Mereka berdiri rapat di balik garis polisi, berbisik, menutup hidung, mengangkat ponsel diam-diam. Dimas dan dua anggota lain terus mendorong mereka mundur. Lampu biru mobil patroli memantul di dinding lembap, membuat gang itu terlihat seperti mulut panjang yang tidak ingin dimasuki siapa pun.
Raka berdiri satu langkah di belakang Yudha.
Bau busuk menamparnya lagi.
Perutnya bergerak naik.
Ia menelan keras.
Yudha tidak menertawakan. Ia hanya berkata pelan, "Bernapas lewat mulut. Jangan lama-lama menatap satu titik kalau kepala mulai ringan."
"Siap, Pak."
Mereka masuk.
Setiap langkah terasa terlalu keras. Air kotor menggenang di sela paving. Ada bekas ban motor tipis di dekat mulut gang, sebagian sudah rusak oleh kaki warga sebelum garis polisi dipasang. Raka mencatatnya dalam kepala, tetapi tidak berani menunjuk terlalu cepat. Di TKP, detail yang benar pun bisa rusak kalau disebut pada waktu yang salah.
Di ujung gang, dekat tumpukan kardus basah dan drum plastik, ada kantong hitam besar. Bukan satu. Dua kantong. Salah satunya sudah terbuka karena ditemukan pemulung yang panik dan berlari memanggil warga.
Tim forensik lokal sedang memasang lampu portable. Seorang petugas muda memotret dengan tangan gemetar.
Yudha menatapnya. "Kalau tanganmu gemetar, berhenti. Foto buram tidak menolong korban."
Petugas itu menelan ludah dan mengangguk.
Dimas membuka catatan TKP. "Laporan awal: ditemukan pukul 17.42 oleh pemulung. Warga mengaku bau tercium dua hari, dikira tikus mati atau sampah busuk. Tidak ada identitas."
Raka memaksa matanya melihat.
Di dalam kantong pertama, ada torso manusia. Perempuan muda, kemungkinan dewasa awal. Kepala tidak ada. Kedua kaki tidak ada. Satu lengan hilang. Lengan lain berada di kantong kedua, terbungkus plastik tambahan.
Potongannya terlalu rapi untuk panik.
Bukan kerja orang yang sekadar ingin membuang mayat.
Ini kerja orang yang tahu cara memisahkan tubuh.
Kribo tidak ada di TKP, tapi suaranya seperti muncul di kepala Raka: kalau mau muntah, minggir dulu.
Raka tidak muntah.
Tapi ia ingin.
Mata Dosa aktif pelan.
Bukan di atas kepala orang. Kali ini, ia melihat sisa aura di sekitar TKP. Tipis, bertumpuk, seperti asap yang sudah tertiup angin. Ada banyak jejak warga, pemulung, petugas pertama. Tapi di bawah semuanya, ada satu lapisan gelap yang anehnya tidak pekat di lokasi mayat.
Sistem berbisik di pikirannya.
【Analisis aura lokasi: TKP pembuangan.】
【Kemungkinan lokasi pembunuhan: berbeda.】
Raka menahan napas.
"Ini bukan tempat dia dibunuh," katanya pelan.
Dimas yang berada di dekatnya menoleh. "Dari apa?"
Raka menunjuk sekeliling tanpa menyentuh apa pun. "Tidak ada pola darah besar. Tidak ada tanda perlawanan. Mayat dibawa ke sini setelah dipotong. Gang ini cuma tempat pembuangan."
Dimas menatap lantai, dinding, tumpukan kardus. "Masuk akal."
Yudha mendengar, tapi tidak berkomentar. Ia berjongkok di dekat kantong, menjaga jarak dari garis bukti.
"Plastiknya tebal," kata Raka.
Dimas mengangkat alis. "Plastik sampah besar."
"Bukan yang biasa dipakai rumah tangga." Raka menunjuk tepi kantong dengan pena. "Lebih tebal, permukaannya agak mengilap, lipatannya rapi. Ini seperti plastik industri. Untuk makanan atau bahan basah."
Yudha menoleh ke petugas forensik. "Ambil sampel plastik. Jangan cuma mayatnya."
"Siap, Komandan."
Raka melihat satu detail lain.
Di bagian dalam lipatan plastik, ada serbuk kecokelatan yang menempel samar. Bukan tanah. Bukan karat. Saat lampu portable bergeser, serbuk itu terlihat seperti sisa bumbu halus yang mengering.
Ia tidak mengambilnya. Tidak boleh.
Ia hanya berkata, "Ada residu di lipatan plastik. Warna cokelat. Tolong foto makro dan ambil sampel."
Petugas forensik lokal hampir melewatkannya. Dimas langsung memanggil, "Dengar konsultan. Ambil."
Kata konsultan itu keluar natural.
Raka menyadarinya, tapi tidak sempat memikirkan lama.
Ia juga melihat simpul plastik di kantong kedua. Simpul itu diikat dua kali, kuat, lalu diputar ke dalam agar tidak mudah terbuka. Cara orang yang terbiasa membungkus bahan basah, bukan orang yang panik membuang barang. Di salah satu sisi, ada bekas minyak tipis yang membuat plastik memantulkan lampu seperti kulit basah.
"Foto simpulnya juga," kata Raka.
Petugas forensik menoleh. "Simpul?"
Yudha menjawab sebelum Raka perlu membela diri. "Foto. Semua cara pelaku menyentuh barang bukti adalah tanda tangan."
Seorang warga tua di balik garis berteriak, "Pak, saya sudah bilang ke RT bau dari kemarin! Saya kira bangkai kucing!"
Dimas mendekat untuk mencatat. "Sejak kapan tepatnya?"
"Dua hari. Mungkin tiga. Malam-malam ada motor lewat, tapi di sini banyak motor. Saya tidak lihat plat."
"Jam?"
"Lewat tengah malam. Saya bangun karena batuk. Ada suara plastik diseret. Saya pikir pemulung."
Yudha memberi isyarat agar keterangan itu dicatat.
Sementara itu, Kribo mengirim pesan.
— CCTV gang utama mati. Dua toko terdekat juga mati sejak tiga hari lalu. Kebetulan yang sangat tidak lucu.
Raka menunjukkan pesan itu kepada Yudha.
Yudha membaca, lalu menatap Raka. "Temanmu cepat."
"Dia sedang di warnet, Pak."
"Pastikan dia tidak masuk sistem yang tidak boleh dimasuki."
"Siap."
Pesan kedua masuk.
— Kamera minimarket 200 meter dari gang masih hidup tapi angle jelek. Ada motor bebek lewat 00.47 dua malam lalu, bawa karung/kantong besar. Plat kabur.
Yudha langsung memberi instruksi ke Andi melalui telepon. "Amankan rekaman minimarket dekat Jalan Pahlawan. Jangan tunggu pagi."
TKP berlangsung hampir dua jam.
Saat kantong jenazah resmi ditutup, Raka baru sadar telapak tangannya basah oleh keringat. Ia tidak menyentuh mayat, tidak mengangkat barang bukti, tidak melakukan apa pun yang terlihat dramatis. Tapi tubuhnya seperti baru selesai berlari. Kasus Dewi mengajarinya tentang duka. TKP ini mengajarinya sesSatu yang lain: ada pelaku yang tidak hanya membunuh, tetapi juga mengatur sisa tubuh korban seperti logistik.
Dimas berdiri di sampingnya. "Masih mau lanjut jadi konsultan?"
"Ya."
"Jawab besok kalau perlu."
"Jawabannya tetap ya."
Dimas menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil.
Setelah mayat dibawa ke kantong jenazah resmi dan lokasi disegel, tim kembali ke kantor untuk briefing malam. Ruang Satreskrim yang biasanya bising menjadi lebih rendah suaranya. Foto-foto TKP ditempel di layar. Tidak ada yang makan.
Dimas membuka hipotesis awal. "Korban perempuan muda. Mutilasi. Pembuangan terencana. Motif bisa seksual, dendam personal, atau upaya menghilangkan identitas."
Yudha menatap Raka. "Pendapatmu?"
Semua mata bergerak ke arahnya.
Raka memilih kata dengan hati-hati. "Pelaku tidak panik. Potongan rapi. Plastik bukan plastik acak. CCTV sekitar dimatikan sebelum pembuangan. Ini bukan orang yang baru pertama kali menutupi kejahatan."
"Kau bilang sudah pernah?" tanya Dimas.
"Saya bilang ada kemungkinan."
Buku Penghakiman bergetar samar di tas Raka.
Panel muncul di pikirannya.
【Peringatan.】
【Pola pembunuhan berantai terdeteksi.】
【Korban potensial: lebih dari 1.】
Raka merasakan punggungnya dingin.
Di layar, foto kantong hitam itu diam saja.
Tapi kini ia tahu, korban di gang Jalan Pahlawan mungkin bukan yang pertama.
Dan hampir pasti bukan yang terakhir.