NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Gerbang Menuju Grand Line

​Langit di atas perairan itu seolah menumpahkan seluruh amarahnya.

​Awan hitam pekat menggantung sangat rendah, menutupi sisa-sisa cahaya matahari. Kilat menyambar membelah kegelapan, disusul suara guntur yang menggelegar beberapa detik kemudian. Hujan turun dengan sangat deras, terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit tanpa ampun.

​Kapal Bajak Laut Mugen terombang-ambing di tengah lautan yang mengamuk gila.

​Gelombang air setinggi belasan meter menghantam lambung kapal kayu tersebut berulang kali. Suara papan kayu yang berderit nyaring menjadi melodi kematian yang mengiringi pelayaran mereka.

​Ini adalah perairan tempat bertemunya arus dari 4 lautan besar. Perairan yang menjadi gerbang pembatas antara dunia manusia biasa dan lautan para monster.

​Di depan mereka, menjulang sebuah dinding batu berwarna merah bata yang tingginya menembus awan badai. Dinding raksasa itu membentang dari ujung horizon ke ujung horizon lainnya, seolah tidak memiliki batas akhir.

​Benua raksasa pemisah dunia, Red Line.

​Mantan kapten bajak laut yang kini hanya berstatus sebagai awak kapal jatuh berlutut di atas geladak yang licin. Wajah gemuknya pucat pasi tanpa setetes darah pun. Air hujan dan air mata bercampur menyamarkan ketakutannya.

​“K-Kita akan mati!” teriak mantan kapten itu histeris. Suaranya bergetar hebat.

​Dia menunjuk dengan tangan gemetar ke arah tebing batu merah raksasa di depan mereka.

​“Arus gila ini menarik kita langsung menuju dinding tebing! Kapal ini akan hancur berkeping-keping!” lanjutnya panik.

​Kru bajak laut lainnya ikut menangis dan meratap putus asa. Mitos tentang pintu masuk Grand Line yang mematikan kini menjadi kenyataan yang akan merenggut nyawa mereka.

​Di ruang kemudi, Nico Robin berdiri dengan postur tubuh yang sangat tegang.

​Tangannya mencengkeram roda kemudi kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Hujan membasahi rambut hitam dan pakaian kasualnya. Mata birunya menatap lurus ke depan, berusaha keras mempertahankan fokus di tengah kekacauan alam.

​Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyeimbangkan arah kapal di tengah pusaran air yang tidak masuk akal ini.

​Vinsmoke Reiju berdiri mematung di ambang pintu kabin navigasi. Gadis berambut merah muda itu melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya tetap terlihat tenang, namun matanya memancarkan kewaspadaan militer tingkat tinggi.

​Tatapan Reiju terkunci pada gerbang batu di kaki tebing Red Line.

​Terdapat sebuah celah besar di sana. Dari dalam celah tersebut, air laut tidak mengalir turun seperti air terjun normal. Air laut justru mengalir deras mendaki tebing batu yang sangat curam, melawan seluruh hukum gravitasi secara mutlak.

​Arus sungai mendaki yang menjadi legenda, Reverse Mountain.

​Di ujung haluan kapal, berdiri satu sosok yang sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan badai dan teror alam.

​Uchiha Madara berdiri tegak menantang hujan.

​Kedua tangannya disilangkan dengan sangat santai di depan dada. Pelindung dada merahnya berkilau setiap kali kilat menyambar di langit. Rambut hitam panjangnya berkibar liar ke belakang, ditiup angin badai tanpa henti.

​Dia tidak berpegangan pada pagar haluan kapal. Dia tidak mencari tiang untuk berlindung.

​Sebuah aliran Chakra yang sangat tipis namun padat terpusat di telapak sandal kayunya, mengunci kakinya ke atas lantai geladak bagaikan akar pohon yang tertanam di dalam bumi. Sebanyak apapun kapal itu berguncang dan melompat di atas ombak, tubuhnya tidak bergeser satu sentimeter pun.

​Mata hitam kelamnya menatap arus air yang mendaki tebing batu di kejauhan.

​'Hukum fisika di dunia ini benar-benar dipenuhi oleh anomali yang konyol,' batin Madara dengan tenang.

​Dia menilai aliran sungai vertikal itu murni dari sudut pandang seorang ahli taktik perang. Ada sebuah kekuatan tekanan alam yang sangat besar sedang bekerja di bawah permukaan air sana.

​Kapal Bajak Laut Mugen semakin mendekati celah berbatu.

​Suara gemuruh air yang saling bertabrakan terdengar menulikan telinga. Arus dari 4 arah lautan bertemu dan bertabrakan tepat di titik ini, menciptakan sebuah dorongan hidrolik raksasa yang memaksa jutaan kubik air naik ke atas gunung.

​“Pegang pegangan kalian kuat-kuat!” teriak Robin dari ruang kemudi.

​Bagian depan lambung kapal menyentuh arus mendaki tersebut.

​Sentakan yang luar biasa hebat mengguncang seluruh kerangka kapal kayu itu. Mantan kapten dan para kru terlempar menabrak dinding kabin dan terguling di atas geladak yang basah.

​Kapal mereka terangkat secara paksa ke udara.

​Air laut yang menderu membawa kapal kayu itu mendaki permukaan dinding batu Red Line dengan sudut kemiringan nyaris 45 derajat. Kecepatan mereka mendadak melesat drastis, bagaikan ditarik oleh tali tak kasatmata menuju langit.

​Awan badai kelabu perlahan tertinggal di bawah mereka. Mereka benar-benar sedang mendaki menuju puncak dunia.

​Namun, kelegaan sesaat itu segera digantikan oleh krisis yang jauh lebih mematikan.

​Arus air di sungai mendaki Reverse Mountain tidaklah lurus dan tenang. Air itu bergolak liar. Ada banyak pusaran air kecil yang tercipta akibat tabrakan arus dengan batu karang tajam di dasar kanal gunung tersebut.

​Kapal Bajak Laut Mugen tiba-tiba kehilangan keseimbangannya.

​Ujung lambung kapal sebelah kanan menghantam sebuah pusaran air yang tidak terlihat. Dorongan mendadak dari bawah air itu merusak pusat gravitasi kapal secara instan.

​Kapal kayu itu mulai miring ke arah kiri dengan sangat drastis.

​Kemiringannya terus bertambah seiring kecepatan mereka mendaki tebing. 30 derajat. 40 derajat. Titik kritis keseimbangan nyaris terlewati.

​“Kapal kita miring! Kita akan terbalik!” teriak salah satu kru dengan wajah pucat.

​Tubuh kru itu merosot meluncur di atas lantai geladak yang kini berubah menjadi bidang miring. Dia berusaha menggapai tali tambang namun gagal menahannya.

​Robin mengerahkan seluruh tenaga lengannya, memutar kemudi sekuat tenaga ke arah kanan untuk melawan kemiringan tersebut. Urat-urat di punggung tangannya menonjol keluar.

​Tetapi tenaga manusia biasa tidak bisa melawan momentum kekuatan alam berskala gunung.

​Roda kemudi kayu itu berderit keras seolah akan patah. Kapal tidak merespons putaran kemudi.

​Dinding tebing batu merah yang bergerigi tajam kini berjarak kurang dari 5 meter di sisi kiri mereka.

​Dengan kecepatan mendaki yang gila ini, jika tiang layar atau lambung kapal menyentuh permukaan tebing batu keras tersebut, kapal mereka akan hancur menjadi serpihan debu kayu. Mereka semua akan terlempar ke arus deras dan mati hancur terbentur bebatuan.

​Kepanikan mencapai puncaknya. Kematian sudah menari di depan mata mereka.

​Reiju menggigit bibir bawahnya. Otaknya menghitung probabilitas. Dia bersiap mengaktifkan sepatu antigravitasi dari perlengkapan tempurnya yang tersimpan rapi, merencanakan cara menyelamatkan diri dan Robin jika lambung kapal benar-benar hancur menabrak tebing.

​Di tengah histeria massal para kru yang menangis menunggu ajalnya, Uchiha Madara akhirnya bergerak.

​Dia mengurai lipatan tangannya perlahan. Dia menatap sisi kiri kapal yang terus miring mendekati ancaman tebing batu raksasa.

​'Benda kayu yang sangat merepotkan,' keluh Madara dalam hati.

​Dia tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Matanya tetap datar, memancarkan kebosanan mutlak dari seseorang yang telah menatap kematian ribuan kali.

​Madara sedikit menekuk lututnya untuk menurunkan pusat gravitasi.

​Dia mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Jari-jarinya mulai merangkai segel tangan dengan kecepatan yang mustahil ditangkap oleh mata telanjang orang biasa.

​Segel tangan itu selesai dalam hitungan sepersekian detik.

​Sebuah ledakan Chakra elemen api yang sangat padat mengalir dari pusat tenketsu di perutnya menuju tenggorokan. Udara basah di sekitar haluan kapal mendadak mendidih.

​Madara mencondongkan tubuhnya ke arah sisi kiri kapal yang miring tajam.

​Dia menarik napas sangat dalam, lalu menyemburkan udara berenergi itu dari paru-parunya.

​Katon: Goukakyu no Jutsu.

​Sebuah bola api raksasa berwarna merah kekuningan menyembur keluar dari sela-sela bibirnya. Hawa panas yang ekstrem langsung menguapkan air hujan yang jatuh di sekitarnya.

​Api itu tidak ditembakkan ke arah tebing batu untuk menghancurkannya, atau ke langit kosong. Madara mengarahkan serangan ninjutsu tingkat tingginya lurus ke arah permukaan air laut yang bergolak deras, tepat di samping lambung kapal sebelah kiri yang sedang miring.

​Jarak tembakannya sangat dekat.

​Bola api raksasa yang membawa suhu ribuan derajat celcius itu menghantam permukaan air sungai mendaki.

​Tidak ada ledakan api yang menyebar membakar kapal.

​Yang terjadi adalah sebuah reaksi fisika yang jauh lebih mengerikan dan bertenaga. Reaksi dari perubahan wujud materi air secara instan.

​Air laut dalam volume besar mendadak menguap paksa saat bersentuhan dengan suhu api anomali yang tidak masuk akal tersebut.

​Ledakan uap super panas terjadi seketika.

​Bum.

​Suara ledakan berfrekuensi rendah bergema di sepanjang kanal Reverse Mountain.

​Sebuah awan uap putih yang sangat tebal dan bertekanan luar biasa tinggi menyembur dari titik benturan antara air dan api.

​Gelombang kejut dari ledakan uap itu menghantam sisi kiri lambung kapal dengan kekuatan hidrolik raksasa. Gaya dorong itu bekerja persis seperti tangan dewa tak kasatmata yang memukul badan kapal dari arah samping dengan presisi sempurna.

​Kapal Bajak Laut Mugen tersentak keras ke arah kanan.

​Gaya dorong dari uap super panas itu berhasil melawan dan membalikkan momentum kemiringan kapal.

​Hanya dalam hitungan detik, lambung kapal kembali tegak lurus sempurna di atas arus air yang menderu.

​Dinding tebing batu merah yang tadinya berjarak kurang dari 1 meter dari tiang layar, kini kembali menjauh memberikan jarak aman.

​Kapal mereka selamat dari kehancuran absolut tanpa satu goresan pun pada lambungnya.

​Awan uap panas menyapu melintasi geladak kapal, membuat pakaian para kru basah oleh suhu yang menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan.

​Mantan kapten bajak laut dan para kru menahan napas mereka. Mulut mereka terbuka lebar, namun pita suara mereka membeku.

​Mereka melihat dengan mata kepala sendiri apa yang baru saja terjadi.

​Tuan besar mereka tidak mengayunkan sabit hitamnya. Tuan besar mereka tidak menggunakan kekuatan Haki.

​Pemuda iblis itu menyemburkan bola api raksasa dari mulutnya ke lautan, dan murni menggunakan kekuatan ledakan uap fisika untuk menyeimbangkan kapal kayu seberat puluhan ton. Sebuah perhitungan taktis brilian dan penguasaan elemen yang melampaui nalar manusia.

​Di ruang kemudi, Robin melepaskan cengkeramannya dari roda kemudi kayu yang kini kembali terasa ringan dan stabil.

​Dada Robin naik turun mengatur napasnya. Dia menatap punggung Madara dari kejauhan melalui jendela kabin.

​'Dia tidak pernah kehabisan cara untuk membuktikan bahwa logika dunia ini tidak berlaku baginya,' batin Robin, rasa kagum dan hormat semakin mengakar di dalam hatinya.

​Reiju yang berdiri di ambang pintu kabin juga tertegun. Mata birunya berbinar terang. Dia semakin yakin bahwa kekuatan murni di depannya ini adalah sesuatu yang berada jauh di luar batas puncak evolusi ilmu pengetahuan mana pun yang pernah dipuja ayahnya.

​Madara kembali berdiri tegak.

​Dia mengusap sudut bibirnya perlahan dengan punggung tangan, menghapus sisa hawa panas dari mulutnya.

​Dia tidak menoleh sedikit pun untuk melihat reaksi kru bodohnya. Fokusnya tetap terkunci ke arah depan.

​Arus sungai Reverse Mountain membawa kapal mereka semakin tinggi mendaki tebing.

​Udara di sekitar mereka menjadi semakin dingin dan tipis. Awan awan badai kelabu terbelah saat lambung kapal mereka membelah batas langit.

​Beberapa menit kemudian, ujung tebing tertinggi dari benua Red Line mulai terlihat.

​Kapal mereka melesat melewati puncak gunung berbatu. Untuk beberapa detik yang terasa melambat, kapal kayu itu melayang di udara, menembus kabut tebal di puncak dunia.

​Pemandangan menakjubkan terhampar jelas di depan mata mereka.

​Sebuah lautan luas tanpa batas membentang membelah dunia di bawah sana. Lautan yang dihiasi oleh formasi cuaca yang sangat aneh dan awan yang bergerak tidak beraturan tanpa pola.

​Grand Line. Lautan para monster.

​Gravitasi dunia kembali menarik lambung kapal mereka.

​Kapal Bajak Laut Mugen mulai meluncur turun, mengikuti aliran sungai menurun yang mengarah langsung ke lautan lepas.

​Kecepatan luncur mereka jauh lebih cepat daripada saat mereka mendaki tebing tadi. Angin berdesing keras menyakiti telinga mereka.

​Para kru mulai bersorak kegirangan dan memeluk satu sama lain. Mereka berhasil melewati rintangan alam terbesar. Mereka masih hidup dan bernapas.

​Namun, euforia kelegaan itu hanya bertahan untuk beberapa tarikan napas.

​Di ujung sungai menurun tersebut, tepat di titik pertemuan aliran kanal dan lautan Grand Line, sebuah dinding hitam raksasa menghadang jalur air mereka.

​Dinding itu tidak terbuat dari batu merah bata.

​Dinding hitam itu bergerak beraturan mengikuti ritme napas.

​Mata para kru melebar maksimal saat menyadari bahwa dinding hitam raksasa itu memiliki tekstur kulit hewan yang licin dan berbekas luka.

​Tiba-tiba, sebuah mata bundar berukuran sebesar lapangan kota terbuka perlahan di dinding hitam tersebut. Mata itu menatap kosong ke arah langit mendung di atasnya.

​“I-Itu bukan dinding batu!” teriak mantan kapten bajak laut histeris, menunjuk dengan tangan gemetar.

​“Itu ikan paus raksasa! U-Ukurannya sebesar gunung!” sahut kru lainnya dengan suara serak yang dipenuhi keputusasaan mutlak.

​Makhluk raksasa bernama Laboon itu mengapung menghalangi seluruh pintu keluar dari arus Reverse Mountain.

​Kapal mereka meluncur deras dengan kecepatan penuh mengarah langsung ke tubuh tebal paus tersebut.

​Robin berusaha memutar kemudi kembali, tetapi arus air yang menurun terlalu kuat dan cepat. Kapal sama sekali tidak bisa dibelokkan.

​Tepat saat tiang layar depan kapal mereka hampir menabrak dinding kulit hitam itu, Laboon membuka mulut raksasanya lebar-lebar.

​Suara raungan kesedihan yang menggetarkan udara terdengar memekakkan telinga. Air laut berhamburan ke segala arah akibat pergerakan rahang tersebut.

​Sebuah lubang hitam pekat berukuran raksasa menganga di depan jalur kapal mereka. Arus air yang deras menyedot kapal kayu itu masuk ke dalam kegelapan tersebut tanpa memberikan perlawanan sedikit pun.

​Gigi-gigi seukuran menara istana menjulang menyeramkan di atas kapal mereka.

​Dalam sekejap mata, Kapal Bajak Laut Mugen tertelan bulat bulat.

​Mulut paus raksasa itu tertutup rapat, memutus seluruh cahaya matahari dari dunia luar.

​Suasana di dalam mulut paus itu awalnya gelap gulita pekat. Hanya terdengar suara gemuruh pusaran air laut yang masuk bersama mereka.

​Para kru menjerit ketakutan, membayangkan tubuh mereka akan dihancurkan oleh asam lambung mematikan dari monster laut tersebut dalam hitungan menit.

​Namun, Madara tetap berdiri tenang di posisi haluannya.

​Mata hitamnya beradaptasi dengan sangat cepat di dalam kegelapan.

​Tiba-tiba, cahaya yang sangat terang muncul menerangi ruangan di sekitar mereka.

​Mantan kapten dan para kru membuka mata mereka perlahan dengan perasaan campur aduk. Mereka tertegun melihat pemandangan anomali di sekitar mereka.

​Ini bukan pemandangan isi perut ikan pada umumnya.

​Langit di atas mereka tidak berupa daging merah berlendir, melainkan langit biru cerah yang dilukis dengan sangat teliti di atas langit langit kubah dinding daging raksasa. Lukisan itu lengkap dengan gambar awan putih dan burung camar yang beterbangan damai.

​Lautan di bawah kapal mereka adalah genangan asam lambung yang anehnya terlihat tenang menyerupai air laut biasa.

​Di kejauhan, tepat di tengah danau asam tersebut, terdapat sebuah pulau kecil buatan yang terbuat dari tumpukan ratusan kapal karam.

​Di atas pulau kapal karam itu, berdiri sebuah rumah kayu kecil yang dilengkapi dengan kursi santai rotan dan payung peneduh berwarna cerah.

​“A-Apa ini? Apakah kita sudah mati dan masuk ke surga yang aneh?” gumam mantan kapten bajak laut dengan pandangan kosong, akal sehatnya telah lama menyerah.

​Robin melangkah perlahan keluar dari ruang kemudi, diikuti oleh Reiju. Keduanya menatap sekeliling dengan penuh kewaspadaan tinggi.

​“Kita ada di dalam perut ikan paus raksasa tadi,” kata Robin memberikan analisis logisnya dengan tenang. “Seseorang yang eksentrik telah membangun tempat tinggal di dalam sini.”

​Tiba-tiba, suara engsel pintu kayu berderit memecah keheningan aneh di dalam perut paus tersebut.

​Pintu rumah kayu di atas pulau kapal karam itu terbuka perlahan.

​Seorang pria tua melangkah keluar ke halaman rumahnya.

​Pria itu memiliki rambut putih yang mengembang mekar di kedua sisi kepalanya menyerupai kelopak bunga besar. Dia mengenakan kemeja pantai bercorak bunga liburan dan kacamata berbingkai bulat yang terlihat sangat eksentrik. Di tangannya, dia memegang sebuah surat kabar harian.

​Pria tua itu adalah Crocus. Sang penjaga mercusuar dan mantan dokter kapal dari Bajak Laut Gol D. Roger.

​Crocus meletakkan surat kabarnya di atas meja kayu. Dia merapikan letak kacamata bulatnya dan menatap lurus ke arah Kapal Bajak Laut Mugen yang baru saja terbawa arus masuk ke wilayahnya.

​Awalnya, tatapan Crocus terlihat sangat bosan dan datar. Dia sudah terlalu sering melihat bajak laut pemula yang tertelan oleh Laboon setiap tahunnya. Mereka biasanya panik, menangis, dan berteriak memohon ampun pada nasib.

​Namun, rutinitas membosankan dari masa pensiunnya itu mendadak hancur berkeping-keping.

​Insting bertahan hidup Crocus, yang telah diasah selama puluhan tahun mengarungi lautan paling berbahaya di dunia bersama Raja Bajak Laut, tiba-tiba berteriak memberikan peringatan ancaman tingkat tertinggi.

​Crocus memfokuskan pikirannya secara instan. Dia mengaktifkan Kenbunshoku Haki tingkat tingginya.

​Gelombang radarnya meluas menyeberangi danau asam lambung, menyapu kapal kayu berbendera tengkorak Sharingan tersebut.

​Mata Crocus melebar maksimal di balik kacamata bulatnya.

​Keringat dingin seketika merembes deras dari pori-pori kulit keriputnya. Jantungnya yang sudah menua berdetak dengan ritme yang menyakitkan tulang rusuknya.

​Haki Pengamatan milik Crocus sama sekali tidak merasakan niat membunuh dari para kru bajak laut yang ketakutan. Dia juga menepis energi tajam dari dua wanita berbahaya yang berdiri di dekat kemudi.

​Fokus Haki Crocus terkunci sepenuhnya pada sosok pemuda berarmor merah yang sedang berdiri tegak di ujung haluan kapal.

​Di mata batin Kenbunshoku Haki milik Crocus, pemuda remaja itu bukanlah entitas manusia biasa.

​Pemuda itu memancarkan sebuah aura energi spiritual yang sangat asing, pekat, dan luar biasa masif.

​Itu bukanlah kekuatan murni dari semangat Haki biasa yang lazim dikenal di lautan ini. Itu adalah energi kehidupan dan spiritual murni yang menyatu menjadi bentuk kekuatan destruktif yang jauh lebih mengerikan.

​Bagi penglihatan spiritual Crocus, energi yang mengelilingi pemuda itu terasa seperti sebuah lautan darah hitam yang bergejolak tanpa batas. Hawa kematian yang absolut, keangkuhan mutlak, dan tekanan yang setara dengan bencana alam yang bernapas.

​Bahkan saat dia berlayar menghadapi tokoh-tokoh terkuat dunia dahulu, Crocus jarang merasakan tekanan aura yang sedingin dan segelap ini, terlebih dari seseorang yang fisiknya terlihat masih sangat muda.

​'Monster jenis apa ini?' batin Crocus menahan napasnya. Tangan tua itu tanpa sadar mengepal erat. 'Energi spiritualnya sangat tidak normal. Dia berdiri di dalam perut monster, seolah tempat ini adalah halaman belakang rumahnya sendiri.'

​Di ujung haluan kapal, Madara menatap pulau kecil di tengah danau asam tersebut dengan bosan.

​Mata hitamnya bertabrakan langsung dengan tatapan Crocus yang berjarak ratusan meter darinya.

​Madara merasakan pindaian gelombang energi yang menyapu tubuhnya. Dia tahu persis bahwa pria tua berpenampilan konyol itu sedang mencoba membaca ukuran batas kekuatannya. Madara tidak repot-repot menyembunyikan atau menekan energinya sedikit pun. Dia sengaja membiarkan pria tua itu merasakan sekilas dari jurang keputusasaan yang tidak berdasar dari seorang Uchiha.

​Madara mengalihkan pandangannya dari Crocus dengan tidak tertarik.

​Dia menatap ke sekeliling, memandangi dinding perut daging ikan paus raksasa yang dihiasi lukisan langit palsu yang konyol.

​Melihat ukuran makhluk biologis raksasa ini sedikit mengingatkannya pada monster-monster berekor di dunia lamanya, atau pada hewan panggilan mistis berukuran raksasa seperti Katsuyu dan Manda. Namun, ikan paus bodoh ini tidak memiliki energi spiritual sedikit pun. Ia murni makhluk lautan yang hanya mengandalkan ukuran dan insting hewani.

​Madara mendengus pelan, merasa sangat diremehkan oleh keadaan.

​Dia kembali menatap Crocus yang masih berdiri mematung di depan rumah kayu musim panasnya.

​Suara Madara mengudara, membawa frekuensi energi ringan yang membuat artikulasi kalimatnya terdengar jernih dan jelas di seluruh penjuru ruang tertutup perut paus tersebut.

​“Kuchiyose yang berisik dan menyedihkan,” ucap Madara dengan nada suara yang sangat datar dan penuh penghinaan.

​Crocus tersentak kaget mendengar suara pemuda itu bergema langsung di dalam gendang telinganya dari jarak sejauh itu.

​“Kau butuh genjutsu agar hewan peliharaanmu ini tertidur, Orang Tua?” lanjut Madara santai, menyilangkan tangannya kembali.

​Kata-kata itu diucapkan tanpa niat permusuhan yang meledak-ledak. Pemuda itu hanya menawarkan sebuah solusi logis dari sudut pandang dunianya sendiri. Jika seekor hewan raksasa tidak bisa diatur, maka cukup hancurkan pikirannya dengan kendali ilusi visual hingga patuh. Sebuah solusi penyelesaian masalah yang sangat khas bagi klan Uchiha.

​Crocus menelan ludahnya yang terasa kering.

​Tangan pria tua itu turun secara perlahan. Ketegangan otot di bahunya mulai sedikit mengendur, namun kewaspadaan di matanya tidak berkurang satu persen pun.

​Dia menatap pemuda berarmor merah yang berbicara dengan nada bosan tersebut. Pemuda yang saat ini berada di dalam perut monster laut mematikan, namun bersikap seolah dia yang mengendalikan seluruh situasi.

​'Ketenangan absolut yang benar-benar tidak wajar,' pikir Crocus, rasa takjub perlahan berbaur dengan kengeriannya. 'Generasi monster seperti apa yang baru saja melangkah masuk melewati gerbang Grand Line tahun ini? Keberadaan iblis muda ini pasti akan mengguncang seluruh keseimbangan rapuh dunia ini.'

​Kapal Bajak Laut Mugen terus meluncur perlahan mendekati pulau kapal karam tersebut. Pertemuan tidak terduga dengan salah satu sisa legenda era masa lalu dimulai dengan sebuah dominasi mental tanpa tanding dari sang dewa perang, yang baru saja melangkahkan kakinya di lautan para monster.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!