Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Kaca yang Pecah
Hujan turun sejak sore pada hari kelima perang dingin.
Keisha sudah tidak demam, tetapi tubuhnya masih lemah. Setelah pulang dari café bersama Deby, ia mengukur suhu 37,1, mengirim hasilnya sesuai janji, lalu mematikan notifikasi selain panggilan darurat.
Arya menelepon tiga kali.
Keisha tidak mengangkat.
Ia belum siap mendengar sumpah lain sebelum ada fakta. Jaket bernoda tetap terkunci. Salinan perjanjian mereka tergeletak di atas meja, terbuka pada bagian evaluasi satu tahun.
Bu Yati pergi ke apotek dan minimarket untuk membeli cairan elektrolit serta makanan. Sebelum berangkat, ia memastikan Keisha bisa menghubungi keamanan rumah dan berjanji kembali kurang dari satu jam.
Di luar gerbang Dago, sebuah mobil berhenti di tengah hujan.
Arya duduk di kursi belakang bersama seorang pria berjaket hitam. Wajah pria itu tenang, rambutnya dipotong pendek, dan sebuah map tahan air berada di pangkuannya.
Bara Firmansyah pernah berdinas sebelum beralih menangani keamanan dan investigasi privat. Arya memilihnya bukan karena ia mau melanggar batas, melainkan karena Bara tahu bukti yang diperoleh secara liar akan runtuh saat dibawa ke proses hukum.
"Tidak ada peretasan, penyadapan, atau akses ke rekam medis anak," kata Bara sebelum membuka map. "Kalau kamu butuh data platform atau dokumen identitas, jalurnya tetap pengacara dan permintaan resmi."
"Bagus. Aku butuh kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar jawaban cepat."
"Ini semua yang bisa diperoleh secara sah dalam dua hari," katanya. "Nama saya dicantumkan sebagai pengumpul, sumber asli tetap disimpan pemiliknya."
"Tunjukkan," jawab Arya.
"Pertama, rekaman CCTV halaman arisan. Sudutnya tidak sempurna, tapi terlihat Vanya melilitkan sesuatu pada kuku sebelum berjalan ke arahmu. Dia sengaja mengaitkan hak sepatu di tepi paving, lalu menekan wajah ke belakang kerahmu saat kamu menahan lengannya."
Pria itu memperbesar beberapa bingkai. Rambut panjang tampak berpindah dari jari Vanya ke manset Arya.
"Kedua, foto asli dari salah satu anggota arisan. Lima menit sebelum kontak, kerah jaketmu bersih. Foto sesudahnya menunjukkan noda merah. Waktu dan berkas asli tersedia."
Arya menatap layar tanpa bergerak.
"Ketiga, log gerbang membuktikan Vanya tidak pernah masuk ruang pribadi atau area latihan. Semua kunjungannya berhenti di tempat tamu. Pernyataan tiga petugas sudah dibuat tertulis."
"Akun anonim?"
"Belum bisa dipastikan secara hukum tanpa permintaan resmi ke platform. Tapi gambar yang dikirim berasal dari arsip lama Vanya dan satu unggahan terbatas yang pertama kali muncul dari akunnya. Kami sudah meminta pengacara mengirim preservation request. Jangan sebut itu bukti final dulu."
"Tata?"
"Kami tidak menanyai anak. Ada audio rumah sakit saat Vanya berbisik 'ingat yang Tante bilang', ditambah rekaman halaman saat dia menggunakan kata Papa setelah kamu menolak. Itu menunjukkan pola, belum membuktikan semua bentuk pengajaran."
Arya menerima map. "Terima kasih, Bara."
Bara Firmansyah menahan pintu sebelum Arya turun. "Jangan datang membawa amarah dan menganggap bukti akan menyelesaikan semuanya. Yang rusak bukan hanya fitnahnya. Kamu terlambat bicara."
Arya menatap rumah yang gelap. "Aku tahu."
"Kalau tahu, ketuk pintu. Jangan rusak lebih banyak."
Arya turun menerjang hujan.
Kunci digital membuka pintu utama, tetapi rantai pengaman dari dalam masih terpasang. Arya mengetuk.
"Keisha. Aku membawa bukti."
Tidak ada jawaban.
Ia menelepon. Ponsel bergetar di meja ruang tengah, terlihat melalui panel kaca lebar di samping pintu.
"Kei, buka pintu. Aku tidak akan masuk kalau kamu tidak mau. Lihat buktinya dari balik pintu saja."
Keisha akhirnya muncul di ruang tengah. Wajahnya pucat, rambutnya diikat asal. Ia berdiri beberapa meter dari pintu dengan salinan kontrak di tangan.
Satu tas kecil sudah terletak di dekat sofa. Keisha sempat mempertimbangkan tawaran kamar tamu Deby, tetapi tidak ingin meninggalkan rumah hanya karena sedang terluka. Ia mengemas pakaian untuk berjaga-jaga, lalu memilih menunggu sampai pikirannya jernih.
Arya melihat tas itu dari balik kaca. Ketakutan bahwa Keisha akan pergi menyambar lebih keras daripada hujan. Ia tahu tas bukan izin untuk menerobos. Ia juga tahu memaksa masuk hanya akan membuktikan bahwa dirinya masih memperlakukan pernikahan seperti wilayah yang harus dikuasai.
Ia mencoba mengetuk sekali lagi.
"Kirim ke pengacara saya," katanya melalui interkom. "Saya akan lihat besok."
"Aku ingin menjelaskan sekarang."
"Saya tidak ingin mendengar sekarang."
Arya meletakkan map di depan kamera pintu. "CCTV menunjukkan Vanya menaruh rambut dan lipstik. Aku tidak menyentuhnya selain mencegah dia jatuh."
"Bagus. Berarti satu pertanyaan selesai."
"Bukan hanya itu. Aku minta maaf tidak memberitahumu semua kedatangannya."
Keisha menutup mata sejenak. "Pergilah dulu, Mas Arya. Saya butuh ruang."
Seharusnya Arya menurut.
Ia sudah berjanji menghormati batas. Bara bahkan baru saja memperingatkannya. Namun petir menyambar dekat rumah, lampu berkedip, dan Keisha menjatuhkan gelas ketika mundur. Suara pecah terdengar dari dalam.
"Keisha!"
"Saya tidak apa-apa. Jangan masuk."
Arya melihatnya membungkuk di dekat pecahan gelas, lalu tubuhnya oleng karena masih lemah. Keisha menahan meja dan kembali berdiri, tetapi darah sudah menguasai kepala Arya sebelum pikirannya mengejar.
Ia memukul panel kaca di sisi pintu dengan kepalan kanan.
Benturan pertama hanya membuat retakan memutih.
"Mas Arya, jangan!"
Pukulan kedua memecahkan panel. Kaca pengaman runtuh menjadi butiran dan beberapa bagian tajam yang masih menempel pada bingkai. Sebuah tepi mengiris lengan bawah Arya saat ia menarik tangan kembali.
Darah langsung mengalir bersama air hujan.
Keisha membeku. "Ya Allah."
Arya menendang sisa pecahan bagian bawah menjauh dengan sepatu sebelum melangkah masuk. Ia tidak mendekati Keisha. Ia berhenti di sisi lain ruang, napas berat, darah menetes ke lantai.
"Jangan bergerak tanpa alas kaki," katanya. "Ada kaca di bawah meja."
Ia menarik kursi sebagai penghalang agar Keisha tidak melangkah ke area pecahan, lalu menekan tombol keamanan rumah. Petugas di gerbang diminta menutup akses teras dan menunggu teknisi setelah keadaan medis ditangani.
Tindakan yang terlambat itu tidak menghapus kebodohannya, tetapi setidaknya mencegah orang lain terluka.
"Aku salah memecahkan kaca," katanya. "Aku akan mengganti dan memperbaiki sistemnya. Aku juga salah menerobos batasmu. Tapi aku tidak akan membiarkan kebohongan itu menjadi jawaban terakhir di antara kita."
"Lenganmu berdarah."
"Lihat buktinya dulu."
"Saya dokter. Duduk!"
Arya meletakkan map di meja, lalu turun dengan satu lutut karena Keisha menunjuk kursi tetapi kakinya justru melemah. Keisha mengambil kotak pertolongan pertama. Ia mengenakan sarung tangan, menekan luka dengan kasa tebal dan kain bersih, lalu mengangkat lengan Arya.
Sayatannya cukup panjang dan tepinya terbuka. Darah terus merembes, tetapi tidak menyembur. Tidak ada serpihan besar yang terlihat menancap.
"Tekan ini. Jangan dilepas untuk melihat-lihat. Kita ke IGD setelah perdarahannya terkendali."
Arya menekan kasa dengan tangan kiri.
Keisha membuka video dari perangkat Bara. Ia melihat Vanya melilitkan rambut, mengaitkan sepatu, dan menempel pada kerah. Foto sebelum dan sesudah memiliki waktu yang jelas. Log gerbang menunjukkan tidak ada akses pribadi. Dokumen belum menjawab seluruh misteri Tata, tetapi cukup untuk menghancurkan noda lipstik sebagai bukti pengkhianatan.
Air mata Keisha jatuh tanpa izin.
"Kamu benar," katanya. "Kamu tidak melakukannya."
"Aku benar soal kesetiaan, tapi kamu benar soal diamku."
Arya tetap berlutut, satu tangan menekan lukanya. "Aku pikir menolak Vanya diam-diam akan membuatnya hilang. Aku salah. Aku membiarkanmu menghadapi serangannya tanpa peta."
"Kenapa kamu selalu baru bicara setelah semuanya pecah?"
Tatapan Arya turun pada kaca di lantai. "Karena aku dibesarkan untuk menyelesaikan masalah sebelum menyebutnya. Ternyata pernikahan bukan ruang komando. Kamu tidak butuh laporan akhir. Kamu butuh diajak melihat prosesnya."
Keisha menggigit bibir, menangis lebih keras.
Arya mengeluarkan pelat identitas dari balik kemejanya. "Demi sumpah prajurit, aku tidak pernah mengkhianatimu. Tidak dengan Vanya. Tidak dengan siapa pun."
"Jangan memakai darahmu untuk memaksaku percaya."
"Aku tidak meminta kamu percaya karena darah." Suaranya pecah untuk pertama kali. "Percayalah pada bukti. Nilai juga kesalahanku sendiri. Kalau kamu ingin marah karena aku memecahkan kaca dan terlambat jujur, aku terima."
Keisha menekan kasa lebih kuat ketika darah merembes lagi. "Saya sangat marah."
"Aku tahu."
"Kamu merusak rumah. Kamu bisa memutus tendon atau saraf."
"Aku tahu."
"Dan saya belum memaafkanmu soal Tata."
"Aku akan memberimu semua yang sudah diverifikasi. Tidak ada lagi kata nanti tanpa batas waktu."
"Berapa lama?"
"Tujuh hari untuk dokumen awal. Kalau belum selesai, kamu tetap mendapat laporan tentang apa yang sudah ditemukan."
Itu jawaban pertama yang memiliki tenggat.
Keisha mengangguk kecil. Arya mengulurkan tangan kirinya, berhenti sebelum menyentuh.
"Boleh?"
Keisha meletakkan tangannya yang bernoda darah di telapak itu.
Arya membawanya ke dadanya. Di balik kemeja basah, jantungnya menghantam keras.
"Dengar detaknya," katanya. "Ini hanya untuk satu orang."
Keisha menatapnya melalui air mata. "Jantungmu juga berdetak untuk membuatmu tetap hidup, Komandan. Jangan bicara seperti pasien drama."
Tawa serak keluar dari Arya, lalu berubah menjadi ringis ketika lengannya bergerak.
Keisha berlutut di depannya dan menyandarkan dahi ke dada Arya. Lengan kiri lelaki itu mengelilingi punggungnya setelah Keisha tidak menjauh. Mereka berpelukan di antara hujan, darah, dan kaca yang harus dibayar mahal.
Lampu mobil menyapu teras. Bu Yati berlari masuk, menjerit melihat panel pecah.
"Ya Allah, Pak Arya!"
"Ambilkan handuk tambahan dan hubungi pengemudi," kata Keisha. "Kita ke IGD sekarang."
Bu Yati mengangguk cepat, lalu mengangkat ponsel yang masih tersambung dengan panggilan masuk.
"Bu Keisha," katanya dengan wajah pucat. "Ada telepon dari rumah sakit di Surabaya. Soal Mama Anin."