NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Malam semakin larut dan udara dingin mulai menusuk tulang di Desa Sukamaju.

​Adit berdiri sendirian di halaman belakang rumah sambil menatap sisa lahan luas yang masih dipenuhi semak belukar mati.

​"Sistem, gunakan Kartu Perluasan Lahan Ajaib sekarang," perintah Adit di dalam hatinya.

​[Mengaktifkan Kartu Perluasan Lahan Ajaib.]

​[Target: Seluruh area tanah warisan yang berstatus tanah mati.]

​Sebuah cahaya keemasan tiba-tiba memancar dari tangan Adit dan melesat ke udara.

​Wusss!

​Cahaya itu pecah menjadi ribuan titik terang yang menghujani seluruh lahan kosong di belakang rumah panggung tersebut.

​Adit terpaku melihat bongkahan batu besar hancur menjadi debu dan semak belukar berduri layu seketika.

​Tanah kering yang tadinya pecah-pecah perlahan berubah warna menjadi hitam legam dan sangat gembur.

​Aroma wangi tanah basah yang sangat menyegarkan langsung memenuhi udara malam.

​"Gila, ini benar-benar sihir tingkat dewa," gumam Adit takjub melihat perubahan yang terjadi dalam sekejap mata.

​Kini dia memiliki lahan super subur seluas dua hektar yang siap ditanami apa saja tanpa perlu capek mencangkul.

​Adit tersenyum puas lalu memasukkan tangannya ke dalam saku jaket tebalnya.

​Jemari Adit menyentuh permukaan botol kaca hitam pekat yang dingin.

​Botol itu adalah Cairan Spora Pembusuk yang dia beli dari Toko Sistem seharga lima ratus Poin Pengalaman.

​"Lahan di sini sudah aman, sekarang saatnya mengurus si lintah darat itu," ucap Adit dengan sorot mata tajam.

​Adit berjalan mengendap-endap menuju garasi kayu tempat motor tuanya terparkir.

​Kriet...

​Suara pintu kayu garasi yang dibuka perlahan membuat Adit menahan nafas sejenak.

​"Mau ke mana malam-malam begini, Dit?"

​Sebuah suara serak tiba-tiba terdengar dari arah ruang tengah rumah.

​Adit menoleh dan melihat Bang Sopo sedang berdiri mengucek matanya sambil memegang sarung.

​"Eh, Bang Sopo belum tidur?" Adit sedikit terkejut.

​"Abang mau ke belakang buang air kecil, kamu sendiri ngapain pakai jaket tebal begitu?" tanya Bang Sopo curiga.

​"Saya mau ke kota sebentar, Bang, ada urusan mendadak sama kenalan di sana," Adit beralasan dengan cepat.

​"Malam-malam begini ke kota? Urusan apa memangnya?"

​"Urusan bibit baru, Bang, mumpung orangnya lagi ada di pasar induk."

​Bang Sopo menguap lebar lalu menganggukkan kepalanya pelan.

​"Ya sudah, hati-hati di jalan, Dit, angin malam tidak bagus buat paru-paru."

​"Siap, Bang, Abang lanjut tidur saja, biar kebun saya yang pantau lewat ponsel."

​Setelah Bang Sopo kembali ke kamarnya, Adit segera menuntun motornya keluar halaman agar suara mesinnya tidak berisik.

​Brumm!

​Adit baru menyalakan mesin motornya saat sudah berada di jalan utama desa.

​Motor bebek tua itu melesat membelah kegelapan malam menuju pusat kota.

​Perjalanan malam ini terasa lebih cepat karena jalanan aspal sangat sepi dari kendaraan lain.

​Satu jam kemudian, Adit sudah memarkirkan motornya di gang gelap yang agak jauh dari pasar induk sayuran.

​Dia berjalan kaki menyusuri lorong sempit menuju area gudang penyimpanan milik para tengkulak besar.

​Pasar induk di malam hari masih menyisakan beberapa kuli panggul yang tertidur di emperan toko.

​Adit menarik tudung jaketnya menutupi kepala dan mempercepat langkah kakinya.

​Dia sudah tahu posisi pasti gudang milik Pak Kumis dari obrolan pedagang kemarin pagi.

​Bangunan berdinding seng biru tua yang dikunci gembok besar itu akhirnya terlihat di ujung blok sayuran.

​"Itu pasti gudangnya," batin Adit sambil bersembunyi di balik tumpukan keranjang kosong.

​Adit melihat ada dua orang penjaga bertubuh besar sedang duduk bermain kartu di depan pintu gudang.

​Keduanya asyik merokok sambil tertawa pelan.

​"Kartumu jelek sekali, malam ini uangmu habis buatku," ejek salah satu penjaga.

​"Alah, baru menang dua kali saja sudah sombong kau," balas temannya kesal.

​Adit mengamati celah ventilasi berjeruji besi yang ada di bagian samping gudang seng tersebut.

​Ukurannya cukup besar untuk dilewati tangan, dan posisinya tersembunyi dari pandangan kedua penjaga.

​Srek... srek...

​Adit merayap pelan menempel pada dinding gudang yang dingin.

​Dia berhasil mencapai bawah ventilasi tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan.

​Adit mengeluarkan botol hitam dari saku jaketnya dan membuka tutup gabusnya.

​Aroma busuk yang sangat menyengat seperti bangkai langsung tercium keluar dari dalam botol.

​Adit buru-buru menutup hidungnya dan mengangkat botol itu mendekati jeruji ventilasi.

​"Sistem, bagaimana cara kerja cairan ini?" bisik Adit nyaris tak bersuara.

​[Cairan Spora Pembusuk: Tuangkan satu tetes ke benda organik untuk memulai reaksi berantai.]

​[Proses pembusukan akan menyebar dalam radius lima puluh meter persegi hanya dalam waktu satu jam.]

​Senyum sinis mengembang di bibir Adit mendengar penjelasan sistem.

​"Rasakan ini, Pak Kumis, ini balasan karena berani mengusik tanah peninggalan orang tuaku," gumam Adit dingin.

​Trak!

​Adit melempar botol kecil itu melewati jeruji besi hingga jatuh mengenai tumpukan sayur di dalam gudang.

​Prang!

​Suara botol pecah terdengar cukup jelas memecah kesunyian malam.

​"Woi! Suara apa itu di dalam?" teriak penjaga gudang yang langsung berdiri dari tempat duduknya.

​"Mungkin cuma tikus yang menjatuhkan keranjang plastik," jawab temannya malas.

​"Biar aku cek sebentar lewat pintu samping," kata penjaga pertama sambil mengambil senter.

​Mendengar langkah kaki yang mendekat, Adit segera berlari menjauh dan bersembunyi di balik tong sampah besar.

​Tap! Tap! Tap!

​Penjaga itu menyorotkan senternya ke arah ventilasi namun tidak menemukan siapa pun di sana.

​"Cuma suara kucing liar sepertinya," guman penjaga itu sebelum kembali ke depan.

​Adit bernafas lega dari balik tong sampah yang bau.

​"Misi selesai, saatnya pulang dan menunggu kabar baik besok pagi," batin Adit puas.

​Dia berjalan kembali ke arah motor tuanya dan langsung memacu kendaraannya meninggalkan area pasar.

​Sementara itu di dalam gudang gelap milik Pak Kumis, cairan hitam pekat mulai bereaksi.

​Busa berwarna hijau kecokelatan muncul dari tumpukan tomat dan kol yang terkena cairan tersebut.

​Sss... sss...

​Spora jamur mikroskopis menyebar dengan kecepatan yang tidak wajar melalui udara lembap di dalam gudang.

​Sayuran segar yang bernilai puluhan juta rupiah itu mulai layu, berair, dan membusuk dalam hitungan menit.

​Bau busuk yang tadinya samar kini mulai menguar kuat ke setiap sudut ruangan seng tersebut.

​Keesokan paginya di Desa Sukamaju, sinar matahari menyambut Adit yang baru saja bangun tidur.

​Dia hanya tidur beberapa jam saja namun tubuhnya terasa sangat segar dan bersemangat.

​Adit keluar kamar dan melihat Bang Jarwo sudah sibuk menyeduh kopi di dapur.

​"Pagi, Dit, semalam kamu jadi ke kota?" sapa Bang Jarwo sambil mengaduk kopinya.

​"Jadi, Bang, lancar semua urusannya," jawab Adit sambil menuangkan air ke gelas.

​"Baguslah kalau begitu, hari ini kita mau mulai tanam bibit baru di tanah yang sudah kosong," kata Bang Jarwo.

​"Tidak usah repot bersihkan lahan, Bang, kita langsung tanam saja, tanahnya sudah gembur," Adit mencoba memberi tahu tanpa terlihat mencurigakan.

​"Hah? Gembur dari mana? Kemarin kan masih banyak rumput liar dan batu," Bang Jarwo mengernyit heran.

​"Coba Abang lihat sendiri ke belakang rumah," jawab Adit santai sambil menunjuk pintu belakang.

​Bang Jarwo berjalan ke pintu belakang dan seketika menjatuhkan sendok kopinya.

​Klotang!

​"Astagfirullahaladzim! Bumi gonjang ganjing!" teriak Bang Jarwo histeris.

​Mendengar teriakan itu, Bang Sopo langsung berlari keluar dari kamar mandi dengan handuk di lehernya.

​"Ada apa, Wo? Ada babi hutan masuk lagi?" panik Bang Sopo.

​"Bukan babi hutan, Po, coba kau lihat tanah warisan Adit ini!" tunjuk Bang Jarwo dengan tangan gemetar.

​Bang Sopo melongok ke luar dan matanya langsung melotot lebar.

​Tanah mati yang kemarin masih dipenuhi batu dan rumput liar kini telah berubah menjadi lahan pertanian paling subur yang pernah mereka lihat.

​Tanahnya hitam legam, gembur, dan lembap, membentang seluas dua hektar tanpa ada satu pun kerikil yang tersisa.

​"Dit... kau panggil jin dari gunung mana semalam?" tanya Bang Sopo merinding.

​Adit tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kedua pamannya.

​"Bukan jin, Bang, itu pupuk cair khusus yang saya tebar semalam waktu kalian tidur," Adit membohongi mereka lagi.

​"Pupuk cair apa yang bisa menghancurkan batu segede gaban jadi debu begini?" keluh Bang Jarwo masih tak percaya.

​"Namanya juga pupuk impor teknologi baru, Bang, sudah tidak usah dipikirkan, yang penting kita bisa mulai tanam massal hari ini."

​Bang Sopo mengusap wajahnya kasar lalu tertawa kecil.

​"Terserah kamu saja lah, Dit, otak pamanmu ini sudah tidak sanggup memikirkan keajaiban kebunmu."

​"Yang penting kita siap kaya raya dari panen besar selanjutnya!" seru Bang Jarwo penuh semangat.

​Ting!

​Ponsel di saku celana Adit tiba-tiba berdering nyaring.

​Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal.

​Adit membuka pesan itu dan membacanya dalam hati.

​"Adit, ini Riana. Ada kabar heboh dari pasar induk pagi ini."

​"Gudang sayur milik Pak Kumis diserang hama aneh semalaman."

​"Seluruh stok sayurannya membusuk parah dan dia rugi ratusan juta rupiah hari ini juga."

​Senyum simpul yang sangat mematikan terukir di bibir Adit membaca pesan tersebut.

​"Pembalasan sudah lunas, Pak Kumis," batin Adit penuh kepuasan.

​[Pemberitahuan Sistem: Tindakan Balas Dendam Berhasil Dieksekusi Secara Sempurna.]

​[Tidak Ada Jejak yang Ditinggalkan.]

​[Tuan Mendapatkan Gelar: Petani Bertangan Besi.]

​[Hadiah: 800 Poin Pengalaman dan Pembukaan Fitur Bibit Buah Langka di Toko Sistem.]

​Adit menyimpan ponselnya kembali ke saku dan menatap hamparan lahan barunya.

​Babak baru untuk menjadi raja perkebunan terbesar di desa telah resmi dimulai hari ini.

​Langkah Pak Kumis sudah berhasil dia lumpuhkan tanpa harus menggunakan kekerasan fisik sedikit pun.

​Kini saatnya Adit fokus mengembangkan asetnya dan mengumpulkan kekayaan yang tidak terhingga.

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!