Gadis cantik yang biasa di panggil Arra itu harus hidup tanpa ayah dan ibunya, ia hanya gadis biasa yang hidup bersama bibinya sejak kecil. Namun suatu hari Arra harus menghadapi masalah besar menyelamatkan restauran kecil milik bibinya tersebut dengan jaminan dirinya yang harus menikahi pria yang baru saja dikenalnya. Akankah Arra menerima tawaran tersebut? Ikuti terus cerita ini untuk mengetahui keputusannya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Keesokan paginya setelah mas Daniel berangkat kerja aku kembali mengecek beberapa email di laptop jadul ku, ada dua perusahaan yang memintaku hadir interview besok. Dengan sangat senang aku merespon undangan mereka, akhirnya setelah sekian lama lulus kuliah aku bisa menggunakan ilmuku untuk mencari uang. Meski bukan universitas ternama namun aku menjadi wisudawan terbaik di angkatanku, dengan IPK 3,81 aku bisa membiayai kuliah dari hasil beasiswa saat itu.
Siang ini aku bongkar-bongkar pakaian yang ada, mencari baju yang kiranya pantas untuk ku pakai interview besok. Namun baju-baju yang di siapkan oleh mas Daniel rata-rata adalah dress dan gaun-gaun yang menurutku terlalu mewah untuk di kenakan sehari-hari, akhirnya aku memutuskan untuk membelinya dengan uang tabungan yang tak seberapa. Memang sejak sah menjadi istri mas Daniel aku belum pernah menerima uang nafkah darinya, meski begitu aku tidak ingin meminta padanya karena ia sudah begitu baik
menolong keluargaku dari masalah.
...****************...
"Mbok saya mau keluar sebentar" ucapku pada mbok Asih yang sedang memasak di dapur
"Baik non, mau saya panggilkan pak Bagas untuk mengantarkan? "
"Tidak usah mbok, saya naik taksi online saja. Lagipula pak Bagas baru membersihkan kolam renang"
"Tapi non, nanti kalau tuan Daniel marah bagaimana? "
"Nanti biar saya yang bilang ke mas Daniel mbok"
"Ya sudah non, kalau begitu non Rain hati-hati ya"
"Iya mbok"
...****************...
Aku sampai di salah satu mall di dekat rumah, setelah mengunjungi beberapa toko aku belum juga mendapatkan setelan yang pas dengan budget yang kumiliki. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat-lihat di pusat grosir baju yang tempatnya lumayan jauh dari rumah, namun karena tidak ada pilihan lain akhirnya aku segera meluncur.
Sesampainya disana kebetulan awan sedikit menghitam, aku yakin sore ini pasti akan turun hujan. Karena tidak ingin berlama-lama aku segera menuju toko yang bisa di tawar, yang penting sekarang baju itu layak pakai soal merk biarlah nomer sekian batinku dalam hati.
Setelah sekitar satu jam mencari akhirnya aku mendapatkan semuanya, aku segera memesan taksi online sambil berjalan menuju pintu keluar. Ternyata hujan sudah turun lebih awal, aku menunggu di depan kios yang berada di tepi jalan raya, namun dari tadi tidak ada satupun taksi online yang merespon di aplikasi.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 beberapa toko sudah tutup, hujan masih juga belum sepenuhnya reda. Aku bingung bagaimana kalau sampai nanti tidak mendapatkan taksi juga, sedangkan nomer mas Daniel saja aku tidak punya.
Aku memutuskan untuk berjalan di tepi trotoar sambil mencari manakala ada pangkalan ojek, tiba-tiba sebuah mobil melintas dan genangan air di sebelah trotoar menyembur membasahi tubuhku. Aku hanya bisa diam manakala kaos bermotif bunga daisy kuning serta celana jeans putih itu penuh dengan noda lumpur, dari jarak 20 meter mobil itu berhenti dan pengendaranya turun.
Seorang laki-laki bertubuh jangkung dan berkulit putih menghampiriku, aku hanya diam mematung karena tidak tahu harus bagaimana.
"Mbak, mbak maaf. Saya benar-benar tidak sengaja barusan" ucapnya dengan sangat sopan lalu memberikan sapu tangannya untuk menyeka lumpur di wajahku
"Tidak apa mas, maaf saya buru-buru takut hujannya tambah lebat"
"Mbak mau kemana? "
"Saya mau pulang"
"Bagaimana jika sebagai tanda permintaan maaf, saya antarkan mbak"
"Tidak usah mas, saya cari ojek saja"
"Di daerah sini kalau hujan jarang ada ojek mangkal mbak, apalagi taksi online jam segini pasti rame karena jam pulang kantor"
Benar juga ucapannya, sedari tadi aku tidak dapat satupun taksi online. Akhirnya dengan terpaksa aku memutuskan untuk menerima tawarannya, sepanjang perjalanan aku hanya diam dan memperhatikan jalan. Ternyata kawasan ini masih saja macet meski sudah di berlakukan sistem satu jalur, aku semakin cemas takut mas Daniel marah karena sampai jam 17.30 aku masih belum pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daniel yang sudah pulang sedari tadi dan belum sempat ke kamar tidak mengetahui kalau istrinya sedang tidak ada di rumah, saat ia ingin mandi barulah ia menyadari bahwa Rain tidak ada di kamar. Ia kembali turun ke bawah untuk mencari istrinya
"Mbok Rain dimana? " tanya Daniel
"Loh bukannya dikamar tuan? "
"Tidak ada mbok, saya baru saja dari kamar"
"Berarti dari tadi non Rain belum pulang tuan? "
"Memangnya Rain kemana mbok? "
"Tadi non Rain pamit mau keluar sebentar, tapi sudah sejak jam 14.00 tadi tuan"
"Sebentar tapi sejak jam 14.00 sampai sekarang belum pulang? tapi keluar kemana Rain gak bilang sama mbok Asih? "
"Tidak tuan, tadi mbok juga meminta pada non Rain agar pak Bagas mengantarnya. Tetapi nona Rain menolak katanya mau naik taksi online saja"
Daniel semakin bingung, bahkan ia juga tidak punya nomer ponsel istrinya. Akhirnya karena tidak ada cara lain ia meminta nomer Rain pada Anton, kebetulan William masih menyimpan nomernya.
Setelah mendapatkannya dan dingin menghubunginya tiba-tiba suara gerbang terbuka, Daniel segera menuju ke pintu depan. Terlihat Rain berjalan sembari di temani oleh satpam pribadi mereka
"Kamu darimana jam segini baru pulang? " ucap Daniel dengan nada tinggi
"Maaf mas, aku dari pusat grosir nyari kemeja untuk interview besok"
"Kenapa tidak izin? kenapa tidak mau di antar sopir? kenapa tidak kasih kabar kalau pulang malam? "
"Mas, bisa nggak tanya-tanya nanti saja. Aku kedinginan, capek, aku mandi dulu ya"
"Rain, saya ini suami kamu. Kamu jangan seperti ini, saya berhak tahu kamu dimana dengan siapa"
"Aku tahu mas, tapi aku bingung mau izin bagaimana kalau nomer telfon kamu saja aku tidak punya"
"Kenapa nggak tanya ke mbok Asih atau pak Bagas atau bisa juga ke pak Toni kan"
"Maaf mas, aku benar-benar minta maaf. aku tidak terpikirkan hal itu karena saya mendesak harus dapat kemeja karena besok mau aku pakai interview"
"Apapun alasan kamu, disini posisi kamu tetap salah."
"Okay mas, aku tidak menghindar kalau aku memang salah. Tapi tolong biar saya ke kamar dan mandi dulu, saya benar-benar tidak kuat"
"Rain, saya baik ke kamu bukan berarti kamu bisa seenaknya. Disini saya kepala keluarga dan saya harus tegas, saya punya hak memperingatkan jika kamu salah... "
Belum selesai Daniel bicara,Rain yang masih berdiri di samping sofa tiba-tiba ambruk. Daniel terkejut dan menghampiri istrinya yang sudah tak sadarkan diri itu
"Rain bangun, Rain.... astaga kenapa badan kamu dingin sekali"
Mbok Asih yang mendengar teriakan Daniel bergegas menghampiri mereka kedepan , melihat Rain yang tak sadarkan diri di pangkuan Daniel membuatnya khawatir
"Tuan, ini nona Rain kenapa? "
"Saya tidak tahu mbok, tolong hubungi dokter keluarga saya bawa Rain ke kamar dulu"
"Baik tuan"
*
Semampai di kamar Daniel langsung meletakkan tubuh Rain yang basah dan dingin itu ke atas ranjang, ia melepas sepatu dan baju yang di kenakan istrinya dan mengganti dengan yang baru. Sembari menunggu dokter datang ia meminta mbok Asih memberikan minyak angin pada Rain yang masih belum sadarkan diri, beberapa saat dokter datang dan segera memeriksanya. Setelah selesai ia memberikan penjelasan bahwa Rain hanya demam serta kelelahan saja, dokter meminta supaya Daniel tidak perlu cemas.
Tak berselang lama Rain bangun, Daniel yang sedari tadi tidak beranjak dari sampingnya segera membantu sang istri duduk.
"Rain, ada yang sakit? "
"enggak mas,"
"Syukurlah kalau begitu"
"Mas, aku benar-benar minta maaf.... "
"Sttt sudah, seharusnya saya paham ucapan kamu dan membiarkan kamu segera berganti baju bukannya malah mengajakmu berdebat"
"Tidak apa mas, kamu berhak marah karena memang aku salah"
"Sudah tidak perlu di bahas, sekarang kamu harus istirahat"
Rain tersenyum melihat hubungan mereka berdua kembali membaik meski sempat ada pertengkaran kecil tadi.
kenapa sita sejahat itu
& jgn biarkan dia ada di tengah2 Edgar & Arra
kasian Arra