NovelToon NovelToon
Sistem Pager Iblis

Sistem Pager Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Ketakutan Ibu Lin Fan

Suara patahan ranting dan desir angin malam di Hutan Terlarang seolah-olah lenyap seketika.

Suasana di area terbuka sekitar altar kayu hitam itu menjadi sangat membeku.

Lin Fan mematung di tempatnya berdiri, pisau belati yang masih bernoda darah tipis terkulai di samping paha kanannya.

Di depan sana, tepat di balik batang pohon pinus tua, Chen Meng berdiri dengan tubuh gemetar hebat.

Air mata membasahi pipinya yang mulus, memantulkan sisa-sisa cahaya merah kehitaman dari lontar tua yang perlahan memudar di atas altar.

"Chen Meng..." bisik Lin Fan dengan suara yang bergetar.

Gadis itu melangkah mundur satu langkah, kedua tangannya menutup mulutnya sendiri untuk menahan jeritan ketakutan yang hendak meledak dari kerongkongannya.

Matanya berulang kali melirik bergantian antara bangkai kambing hitam yang mengering tanpa darah dan sosok Lin Fan yang berdiri tegak di tengah kegelapan hutan.

"Kamu... kamu membunuh binatang itu untuk ritual?" tanya Chen Meng dengan suara serak bercampur tangis.

"Lin Fan, apa yang sebenarnya terjadi padamu?! Kenapa kamu melakukan hal mengerikan seperti ini di dalam hutan terlarang?!" teriak Chen Meng dengan nada penuh keputusasaan.

Lin Fan melangkah maju satu langkah, berusaha mendekati Chen Meng untuk menjelaskan.

"Chen Meng, dengarkan aku dulu—"

"Jangan mendekat!" jerit Chen Meng refleks sambil melangkah mundur dua langkah ke belakang.

Mata Iblis milik Lin Fan yang tersembunyi di balik manik matanya menangkap indikator emosi Chen Meng yang bergejolak hebat.

[Nama: Chen Meng]

[Status: Teman Masa Kecil]

[Tingkat Niat Buruk: 0% (Sangat Trauma / Terkejut / Bingung)]

[Keterangan: Aliran Adrenalin Tinggi. Berpotensi Melari Diri Dalam Keadaan Histeris]

Lin Fan menghentikan langkah kakinya seketika.

Ia menarik napas panjang, menundukkan kepalanya, lalu menyembunyikan pisau belati ke dalam tas selempangnya.

Ia memungut gulungan lontar tua dari atas altar dan merapikan pakaiannya yang terkena debu tanah.

"Aku tidak akan menyakitimu, Chen Meng," kata Lin Fan dengan suara pelan namun sangat dalam.

"Aku tahu apa yang kamu lihat malam ini kelihatan sangat mengerikan dan tidak masuk akal," lanjut Lin Fan sambil menatap mata gadis itu.

"Tapi aku bersumpah demi nyawaku sendiri, aku tidak pernah berniat menjadi iblis atau menyakiti orang-orang baik di desa ini."

Chen Meng menyapu air matanya dengan lengan bajunya, dadanya naik turun mengembunkan napas dingin di udara malam.

"Lalu kenapa, Fan? Kenapa kamu harus berurusan dengan hal-hal ghaib seperti ini?" bisik Chen Meng dengan nada memohon penjelasan.

"Karena kalau aku tidak melakukan ini, keluarga kita sudah hancur sejak tiga hari lalu!" tegas Lin Fan, suara lantangnya memecah keheningan hutan.

"Tuan Tanah Li dan Zhao Qiang tidak akan pernah melepaskan rumah kami. Mereka memalsukan utang ayahku, membuang ayahku dalam kondisi lumpuh, dan semalam mereka datang membawa bensin untuk membakar rumah kami hidup-hidup!"

Lin Fan menunjuk ke arah jalanan desa di luar hutan.

"Apakah ada hukum atau polisi yang menolong kami saat kami dimaki dan diancam setiap hari? Tidak ada, Chen Meng! Tidak ada seorang pun yang peduli!"

Chen Meng bungkam seketika.

Kata-kata Lin Fan menghantam dadanya bagaikan godam berat.

Ia tahu betapa menderitanya keluarga Lin selama tiga tahun terakhir sejak ditinggal oleh ayahnya, Lin Guo.

Ia juga tahu betapa licik dan serakahnya Tuan Tanah Li serta kelompok preman Zhao Qiang dalam menguasai tanah-tanah warga desa secara paksa.

"Aku... aku tidak tahu kalau masalahnya sejauh itu..." gumam Chen Meng pelan, suaranya mulai melunak meskipun rasa takut masih tersisa di matanya.

Lin Fan melangkah perlahan mendekati Chen Meng.

Kali ini, gadis itu tidak melangkah mundur lagi, meskipun tubuhnya masih tampak sedikit tegang.

Lin Fan berdiri dua meter di depan Chen Meng, memandangi wajah teman masa kecilnya itu dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Chen Meng, aku memohon padamu... jangan ceritakan apa yang kamu lihat malam ini kepada siapa pun. Terutama kepada ibuku dan Lin Mei," kata Lin Fan memohon.

"Ibuku sudah terlalu banyak menderita. Jika dia tahu aku terikat kontrak dengan hal gaib begini, hatinya akan hancur," lanjut Lin Fan dengan raut wajah yang sangat tulus.

Chen Meng menatap Lin Fan cukup lama, mencari kebohongan di dalam mata pemuda di depannya.

Namun yang ia temukan hanyalah rasa lelah dan beban berat seorang anak laki-laki yang berusaha melindungi keluarganya dengan cara apa pun yang tersisa.

Chen Meng menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di pipinya.

"Baiklah... aku tidak akan memberitahu siapa-siapa," ucap Chen Meng akhirnya mengalah.

"Tapi janjilah padaku, Lin Fan... jangan biarkan hal gaib ini menguasai pikiranmu sampai kamu kehilangan kemanusiaanmu," pinta Chen Meng tegas.

Lin Fan tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah lama tidak dilihat oleh Chen Meng.

"Aku janji," jawab Lin Fan singkat.

Malam makin larut saat Lin Fan dan Chen Meng berjalan keluar dari Hutan Terlarang secara terpisah agar tidak menimbulkan kecurigaan warga desa.

Lin Fan menyusuri jalanan tanah desa yang sepi menuju ke rumah tua miliknya.

Lampu pijar redup di teras rumah tampak menyala, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat di tengah kegelapan malam.

Lin Fan mendorong pintu kayu depan yang tidak dikunci rapat dari dalam.

Sfx: Kriiet...

Suara pintu berderit kaku memenuhi ruang tamu yang hening.

Di dalam rumah, ibu Lin Fan tampak duduk sendirian di sofa tua dengan sebuah alkitab/buku doa kecil di pangkuannya.

Wajah ibunya tampak sangat lesu dengan mata yang sembab dan memerah, seolah baru saja menangis dalam waktu yang cukup lama.

"Bu? Ibu belum tidur?" panggil Lin Fan kaget melihat ibunya masih terjaga di tengah malam begini.

Ibunya tersentak kaget mendengar suara Lin Fan.

Ia mendongak dan menatap Lin Fan dengan raut wajah yang dipenuhi rasa takut dan cemas yang teramat sangat.

"Lin Fan... kamu dari mana saja jam segini, Nak?" tanya ibunya dengan suara bergetar.

Lin Fan melangkah mendekati ibunya dan duduk di kursi kayu di samping sofa.

"Aku baru saja menyelesaikan perbaikan gudang belakang dan berputar sebentar di batas desa, Bu," alibi Lin Fan berusaha tenang.

Namun ibunya tidak tersenyum seperti biasanya.

Ibunya meraih kedua tangan Lin Fan dan menggenggamnya dengan sangat erat, jemarinya terasa begitu dingin dan gemetar.

"Lin Fan... Ibu takut..." bisik ibunya tiba-tiba dengan air mata yang mendadak menetes membasahi pipinya yang berkerut.

Jantung Lin Fan seketika berdebar kencang.

"Takut? Takut kenapa, Bu? Zhao Qiang sudah tidak akan datang lagi mengganggu kita, aku sudah urus semuanya," kata Lin Fan menenangkan.

Ibunya menggelengkan kepala dengan cepat, mengusap tangannya ke dada Lin Fan.

"Bukan tentang Zhao Qiang, Nak..." ucap ibunya terisak pelan.

"Sore tadi... setelah kamu pergi ke pasar, paman sepupumu dari desa sebelah datang membawakan kabar," lanjut ibunya.

Lin Fan mengerutkan dahinya heran.

"Kabar apa, Bu?"

Ibunya menatap mata Lin Fan dengan tatapan yang dipenuhi rasa trauma mendalam.

"Zhao Qiang... dan empat premannya..." bisik ibunya dengan nada memandu horor.

"Mereka semua dilarikan ke rumah sakit kota sore tadi dalam kondisi gila, Lin Fan!"

Lin Fan tersentak kaget di tempat duduknya.

"Gila?"

"Iya, Nak! Pamanmu bilang, Zhao Qiang terus-terusan menjerit ketakutan di rumahnya sambil berteriak tentang 'api hitam' dan 'iblis rumah Lin'!" kata ibunya dengan napas yang memburu.

"Bahkan Tuan Tanah Li... sore tadi dia mendadak terserang kejang-kejang di rumah mewahnya dan membakar sendiri seluruh surat-surat utang warga desa sambil menangis histeris!" lanjut ibunya.

Ibunya memegang bahu Lin Fan dengan raut wajah yang sangat panik.

"Orang-orang di pasar desa mulai bergosip, Lin Fan... Mereka bilang rumah tua leluhur kita ini menyimpan kutukan iblis yang mulai bangkit kembali untuk memangsa orang-orang yang berbuat jahat!"

Ibunya memeluk Lin Fan dengan sangat erat, menangis sesenggukan di bahu putranya.

"Ibu takut, Lin Fan... Ibu takut kalau kutukan itu nanti akan meminta bayaran dari kamu atau adikmu... Ibu lebih baik hidup melarat daripada harus kehilangan kamu, Nak!" ratap ibunya penuh duka.

Lin Fan mematung di dalam pelukan ibunya.

Rasa dingin yang membekukan seketika menyebar ke seluruh rongga dadanya.

Efek samping dari [Jebakan Api Spiritual] dan tekanan gaib dari [Sistem Pagar Iblis] semalam ternyata tidak hanya menghancurkan mental Zhao Qiang, tetapi juga mulai menyebarkan teror psikologis dan desas-desus kutukan ke seluruh penjuru Desa Sungai Hitam.

Ibunya, seorang wanita polos yang taat dan penyayang, kini hidup dalam ketakutan yang luar biasa akibat aura kegelapan yang dibawa oleh Lin Fan sendiri ke dalam rumah ini.

Lin Fan membalas pelukan ibunya dengan erat, mengusap punggung ibunya yang gemetar.

"Tidak ada kutukan, Bu... Aku bersumpah tidak ada kutukan apa pun di rumah ini," bisik Lin Fan berbohong di tengah gejolak rasa bersalah yang menggerogoti dadanya.

"Zhao Qiang dan Tuan Tanah Li hanya kena karma atas kejahatan mereka sendiri. Ibu tidak perlu takut pada apa pun, aku akan selalu menjaga Ibu dan Lin Mei," lanjut Lin Fan menenangkan.

Ibunya mengangguk pelan di dalam pelukan Lin Fan, mencoba mencari rasa aman dari kata-kata putra sulungnya tersebut.

Namun di dalam pikiran Lin Fan, sebuah kenyataan pahit kini terpampang sangat jelas.

Kekuatan dari [Sistem Pagar Iblis] memang telah menyelamatkan mereka dari ancaman fisik para penagih utang dan merebut kembali hak tanah keluarganya.

Tetapi sebagai gantinya, kekuatan itu kini mulai menebarkan benih-benih ketakutan, desas-desus mistis, dan penderitaan mental bagi orang-orang di sekitarnya.

Sfx: Bzzzzzt!

Layar transparan dari sistem mendadak muncul mengapung di sudut penglihatan Lin Fan tanpa bersuara.

[Tingkat Resonansi Kutukan Desa Meningkat: 35%]

[Perhatian: Ketakutan Dan Gossip Warga Desa Akan Memancing Perhatian Dari 'Penguasa Gaib Hutan Terlarang']

[Peringatan Tugas Baru Akan Muncul Dalam Waktu 24 Jam]

Lin Fan memejamkan matanya rapat-rapat, menahan rasa geram dan cemas yang bercampur aduk di dalam hatinya.

Pertarungan Lin Fan belum berakhir.

Bahkan, ini baru awal dari lingkaran setan kegelapan yang harus ia hadapi demi mempertahankan kehidupan keluarganya di desa ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!