Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Kedua orang tua Larasati seketika membeku di tempat duduk mereka. Cangkir teh yang dipegang sang ibu hampir saja terlepas, sementara ayahnya perlahan menurunkan koran di tangannya. Wajahnya berubah tegang, memandangi putri tunggal mereka yang berdiri mengenakan gaun pengantin tertutup blazer.
"Laras, jangan bercanda! Undangan sudah disebar, semua persiapan sudah selesai, kenapa kamu tiba-tiba bicara sekotor itu tentang calon suamimu?" tanya Baskoro, sang ayah, dengan nada suara yang bergetar menahan syok sekaligus amarah yang mendadak membubung.
"Laras tidak sedang bercanda, Ayah. Laras baru saja pulang dari Rumah Sakit Ibu dan Anak, Laras melihat dengan mata kepala Laras sendiri bagaimana Arjuna mengelus perut wanita lain yang sedang hamil dan berjanji akan bertanggung jawab setelah pernikahan kami dilaksanakan!" jawab Larasati dengan suara yang luar biasa tenang namun sedingin es, tanpa ada satu pun tetes air mata yang jatuh di pipinya.
Ratna, sang ibu, langsung bangkit berdiri dan memeluk putrinya sambil menangis histeris, sementara Baskoro mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena murka yang tak tertahankan.
Tepat saat suasana ruang tamu itu diselimuti ketegangan yang pekat, suara deru mobil yang berhenti mendadak di halaman depan terdengar, diikuti suara gedoran pintu yang brutal dan teriakan panik yang sangat mereka kenal.
"Laras! Laras, tolong keluar, Laras! Demi Tuhan, aku bisa jelaskan semuanya! Om, Tante, tolong biarkan aku bicara dengan Laras sebentar saja!" teriak Arjuna dari luar rumah. Dia terus-menerus menggedor pintu kayu jati tersebut tanpa memedulikan tatapan para tetangga.
Baskoro melangkah lebar membuka pintu dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. Begitu pintu terbuka, Arjuna langsung menjatuhkan dirinya, berlutut di lantai teras dengan air mata yang bercucuran, mencoba meraih kaki calon mertuanya itu demi mengemis maaf.
"Om, saya khilaf, saya dijebak oleh Selly! Pernikahan ini harus tetap berjalan, Om, saya sangat mencintai Laras dan tidak mau kehilangan dia!" ratap Arjuna dengan suara serak, wajahnya tampak sangat berantakan dan dipenuhi keputusasaan.
Larasati melangkah maju, berdiri di belakang ayahnya, memandang rendah pria yang berlutut di bawah sana dengan tatapan muak yang mendalam.
"Simpan saja air mata palsumu untuk anak yang ada di dalam kandungan selingkuhanmu, Arjuna!
Ayah, tolong hubungi orang tua bajingan ini sekarang juga, suruh mereka datang ke sini untuk menjemput anak mereka yang tidak tahu diri, dan mari kita selesaikan pembatalan pernikahan ini secara resmi malam ini juga!" ucap Larasati, suaranya terdengar begitu lantang dan tegas, memutus seluruh harapan Arjuna yang seketika lemas di lantai teras.
Satu jam setelah ketegangan di teras rumah, ruang tamu keluarga Larasati kini berubah mencekam bak ruang sidang. Arjuna masih terduduk lemas di sudut ruangan dengan wajah sembap, sementara di sofa seberang, kedua orang tuanya duduk dengan kepala tertunduk dalam, menanggung rasa malu yang teramat sangat setelah Baskoro membeberkan semua bukti perselingkuhan anak laki-laki mereka.
"Baskoro, Ratna... kami benar-benar meminta maaf atas kekhilafan Arjuna. Namun, apakah tidak ada jalan keluar lain selain membatalkan pernikahan ini? Undangan dari pihak kami sudah tersebar ke relasi bisnis dan seluruh keluarga besar, bayangkan betapa besarnya aib yang harus kami tanggung jika pernikahan ini batal dua minggu sebelum hari-H." ucap Hendra, ayah Arjuna, dengan suara bergetar mencoba menawar keputusan mutlak yang sudah diambil keluarga Larasati.
"Aib? Kamu memikirkan aib keluargamu, Hendra? Lalu bagaimana dengan harga diri putri tunggal kami yang dikhianati secara keji oleh anakmu yang bejat ini? Anakmu menghamili wanita lain di belakang Larasati, dan kamu masih punya muka untuk meminta pernikahan ini tetap dilanjutkan?" sahut Baskoro dengan nada suara yang meninggi, membuat seisi ruangan langsung terdiam mencekam karena murka sang kepala keluarga yang tak lagi bisa dibendung.
Ibu Arjuna, yang sejak tadi hanya bisa menangis sesenggukan, tiba-tiba menghampiri Larasati, mencoba memegang kedua tangan calon menantunya itu dengan tatapan mengiba.
"Laras, Saya mohon pertimbangkan lagi, Nak. Arjuna sangat mencintaimu, dia hanya khilaf dan dijebak oleh perempuan masa lalunya itu. Saya janji, setelah kalian menikah, Saya sendiri yang akan mengurus perempuan itu agar tidak mengganggu rumah tangga kalian, yang penting pernikahan kalian tetap berjalan demi nama baik kita semua." ratap ibu Arjuna dengan suara serak, berharap kelembutan hati Larasati yang selama ini ia kenal bisa meluluhkan keputusan tersebut.
Larasati dengan perlahan namun tegas menarik tangannya dari genggaman wanita paruh baya itu, lalu berdiri dari duduknya untuk menatap seluruh anggota keluarga Arjuna dengan pandangan yang teramat dingin.
"Cukup, Tante. Jangan merendahkan harga diri Tante lebih jauh lagi hanya untuk membela anak laki-laki yang sama sekali tidak punya kehormatan ini. Keputusanku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Malam ini juga, di hadapan kedua orang tua kita, pernikahan antara aku dan Arjuna resmi dibatalkan, dan besok pagi pengacara keluarga kami akan mengirimkan rincian ganti rugi materi atas seluruh biaya vendor yang sudah terlanjur dibayarkan agar diselesaikan oleh pihak kalian!" ucap Larasati, suaranya terdengar begitu lantang, berwibawa, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk negosiasi.
Arjuna yang mendengar itu langsung bersujud di dekat kaki Larasati, mencoba menggapai ujung gaun pengantin yang masih dikenakan wanita itu. Namun Larasati dengan cepat melangkah mundur, menolak disentuh oleh pria yang kini tampak begitu menjijikkan di matanya.
"Laras, aku mohon jangan lakukan ini! Aku tidak bisa hidup tanpamu, Laras! Aku berjanji akan menyuruh Selly menggugurkan kandungan itu jika itu yang kamu mau, yang penting kamu jangan tinggalkan aku!" teriak Arjuna histeris, menunjukkan kepanikan luar biasa hingga mengeluarkan kalimat yang membuat semua orang di ruangan itu terperangah muak.
"Kamu bahkan tega membuang darah dagingmu demi menyelamatkan dirimu sendiri, Arjuna. Kamu benar-benar pria paling menjijikkan yang pernah aku kenal. Dan aku bersyukur, Tuhan menyelamatkanku dari pernikahan busuk bersamamu sebelum semuanya terlambat". Laras sudah teramat muak.
"Silahkan bawa pulang anak kalian yang tidak tahu diri ini, sebelum saya memanggil keamanan untuk mengusir kalian secara paksa dari rumah ini!" pungkas Baskoro sambil menunjuk ke arah pintu keluar dengan tegas, mengakhiri pertemuan malam itu dengan menyisakan kehancuran bagi pihak keluarga Arjuna yang pulang membawa aib yang sangat besar.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok