Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7
Esok pagi jam 7, mereka sampai di Perguruan Naga, lelah namun bahagia setelah menyelesaikan misi mereka.
Mereka langsung memberikan bingkisan dari Raja untuk Guru Naga Langit.
Arden terlihat ngantuk dan ingin masuk kamar untuk tidur, "Saya tidak bisa menahan lagi, saya mau tidur," ucap Arden.
Oval hendak mandi untuk membersihkan diri, "Saya perlu mandi dulu, saya kotor sekali," ucap Oval.
Apis sudah rebahan di aula perguruan, melepas lelah setelah perjalanan panjang.
"Saya tidak bisa apa-apa lagi, saya di sini saja, perlu istirahat," ucap Apis dengan mata yang mulai berat.
Mereka semalaman tak tidur dan mengendarai kuda dengan kecepatan tinggi, sehingga kelelahan mereka sangat wajar.
Setelah memberikan bingkisan kepada Guru Naga Langit, masing-masing beristirahat.
Kelelahan mereka sangat terlihat, namun mereka bahagia karena telah menyelesaikan misi mereka dengan sukses.
...
Selesai Oval mandi, Oval melihat Apis yang rebahan di aula perguruan. Oval tersenyum dan mengajak Apis ke warung kopi. "Hey Pis, ayo kita ke warung kopi, saya butuh kopi segar," ucap Oval.
Awalnya Apis malas dan tidak ingin bangun, "Saya tidak mau, saya capek," ucap Apis.
Namun, Oval berhasil membujuk Apis dengan janji kopi yang enak. "Ayo Pis, kopi di warung itu enak banget, pemandangan sawah angin sepoi-sepoi, tidur di warung pun tak apa lah," ucap Oval merayu Apis agar ikut.
Akhirnya, Apis setuju dan ikut berlari menyusul Oval ke warung kopi.
Mereka berdua berlari dengan santai, menikmati udara pagi yang segar. "Saya butuh kopi segar setelah semalaman tidak tidur," ucap Oval.
Apis hanya mengangguk dan tersenyum, sudah tidak sabar untuk mencicipi kopi di warung favorit mereka.
Apis dan Oval ngopi sambil melihat petani bekerja di sawah.
"Ayah Arden gagah ya walaupun sudah berumur dan punya jabatan penting di kerajaan," ucap Apis dengan nada kagum.
"Iya betul. Jika Aden mau, di bisa mudah untuk jadi panglima kerajaan, langsung loncat karir yang bagus di kerajaan," ucap Oval dengan senyum.
"Oh itu sih the power of orang dalam dong namanya hehe," ucap Apis dengan tertawa.
"Saya jadi rindu keluarga, saya sempat berpikir untuk pulang kampung, untuk ongkos sudah ada keping emas pemberian kerajaan cukup untuk ongkos perjalanan dan cukup untuk beli sawah 1 hektar di kampung untuk orang tua," ucap Apis dengan nada yang sedikit melankolis.
"Bersyukur lah jika masih ada orang tua, kunjungilah, kamu sudah lulus dan kamu sudah jadi pendekar, kamu sudah bisa tentukan arah hidupmu sendiri," ucap Oval dengan nada yang berusaha tetap ceria, namun terdengar sedikit sedih di balik kata-katanya.
Oval berusaha menyembunyikan rasa sedihnya di hadapan Apis, karena kedua orang tuanya telah tiada sejak Oval masih kecil, kedua orang tua oval tiada dalam perang melawan Kerajaan Jasinga yang berambisi menguasai Kerajaan Kencana di masa lalu.
Meskipun demikian, Oval tetap berusaha tegar dan memberikan nasihat kepada Apis. "Pulang kampung pasti akan sangat berarti bagi orang tua kamu, Pis, untuk melepas rindu dan silaturahmi."tambah Oval dengan senyum yang sedikit paksakan.
"Nanti saja bang, saya masih betah di sini... Ini sudah menjadi tempat tinggal saya, kebaikan guru membuat saya merasa guru sebagai pengganti orang tua," ucap Apis dengan nada yang penuh rasa syukur.
Oval mengangguk paham, "Saya mengerti, Pis. Dan kita memang keluarga di sini," ucap Oval dengan senyum.
Setelah nongkrong dua jam di warung kopi, Oval dan Apis kembali ke perguruan dan tidur di kamar masing-masing. Mereka berdua merasa lelah setelah perjalanan panjang dan misi yang telah mereka selesaikan, sehingga tidur yang nyenyak sangat mereka butuhkan.
Dengan rasa puas dan lelah, Oval dan Apis langsung tertidur setelah kepala mereka menyentuh bantal.
Mereka berdua akan bangun kembali esok hari, siap untuk melanjutkan latihan dan petualangan mereka sebagai pendekar.
**
Dua hari kemudian....
Di bukit naga , belakang perguruan naga.
Oval dan Arden dan Apis berlatih ilmu meringankan tubuh.
Mereka bertiga loncat dari batu ke baru dari pohon ke pohon menuju kaki bukit.
Dengan kecepatan tinggi mereka seperti berlari di udara.
Wuzz... Wuzz
Tappp.. tap..
Wuzz wuzz..
Seperti beradu kecepatan dalam menuruni bukit.
"Hmmm mereka cepat sekali guru..."ucap Guru Naga Langit sambil memerhatikan ketiga muridnya di kaki bukit.
20 menit kemudian ketiga murid semakin dekat dengan keberadaan Guru Naga Langit.
Hisaattt.... Jreggg! Jreeg! Jregggg!!
Oval, Arden dan Apis sampai di hadapan guru naga langit.
"Bagus ilmu meringankan tubuh kalian ku anggap telah sempurna...!! "ucap Guru Naga langit.
Apis terengah-engah... "Lumayan menguras energi guru, apalagi siang-siang begini."ucap Apis.
"Minum sejenak.. itu saya sediakan air minum."ucap Guru Naga Langit.
Setelah beristirahat sejenak.
Dan dirasa tenaga ketiga muridnya sudah pulih, guru naga langit menguji kembali ilmu meringankan tubuh ke tiga muridnya.
"Dalam pertempuran ada saat-saat darurat yang terkadang kita pun tak sanggup mengatasi, dan terkadang kita di harus kan untuk lari menghindar atau menjauh dari sebuah pertempuran"ucap Guru Naga Langit.
"Bagaimana jika Kawan kita, teman kita yang ikut untuk menghindari hal tersebut tidak mempunyai kemampuan yang sama dengan kita apa kita akan meninggalkan nya?"
Oval , Arden, Apis mendengarkan dengan seksama.
"Bagaimana jika ada yang terluka, tak bisa bergerak dan harus kita bawa di saat-saat tersebut."
"Maka itu Kita akan uji situasi tersebut, kalian lihat ada 3 batang kayu itu. Kalian panggul di pundak, kalian naik ke bukit dengan ilmu meringankan tubuh ... Batas atas batu yang terbelah itu jadi pijakan atas... Lalu kalian kembali turun dengan tetap membawa batang kayu tersebut."
Ketiganya memperhatikan batang kayu seukuran manusia dengan panjang 2 meter.
Ketiganya mengambil dan memanggul masing-masing batang pohon.
Berbalik badan ke arah bukit.
"Apa kalian siap...!!!"ucap Guru Naga Langit.
"Siapppp Guruuuu ..!!" serentak bertiga menjawab.
"Mulaiiiii......!!!!"
Wuzzxx wuzzx wizzxxg.....!!!
Ketiganya loncat dengan kecepatan tinggi.
Batang kayu terlihat tak ada artinya.
Seolah olah mereka tak terbebani oleh berat batang kayu itu
Di tengah perbukitan.
Sambil berlomba adu kecepatan di udara, pijakan satu ke pijakan ke dua sampai berjarak 20 meter melayang layang di antar batang pohon dan bebatuan besar.
"Leher ku kaku..... Tenaga hampir habissss...
Luarrr bisaaaa....."ucap Apis.
1 jam kemudian
Happpp...
Jerg jreeg jreggg......!!
Ketiganya telah sampai kembali di depan Giru Naga Langit.
"Bagus , latihan selesai... Saya sudah siapkan ayam bakar dan ikan bakar untuk kalian... Sudah ada di aula siap untuk di santap."ucap Guru Naga.
"Silahkan makan lalu istirahat."ucap Guru Naga.
"Terimakasih Guru ...."ucap ketiganya serentak.
Apis langsung terjerembab ke belakang... Tiduran meluruskan badan sambil terengah-engah.
Oval mengambil minum dan langsung meminum nya...
Arden terengah-engah sambil bertolak pinggang.
"Astaga tenaga dalam kita terkuras 50 persen karena beban dari batang kayu tersebut."ucap Arden yang ahli pengobatan dan strategi perang.
"Kondisi seperti ini bisa terjadi di Medan pertarungan dan di mana teman kita kondisi terluka, kita pun harus membawa pergi segera dengan mengunakan jurus meringankan tubuh."ucap Guru Naga Langit.
Apis bangun dan berdiri.
"Guru kapan guru menyiapkan makanan yang lezat itu, kan guru berada di sini bersama kami."tanya Apis.
"Guru order di warung Mpok Minah, deliver ke aula kita."ucap Guru Naga Langit.
"Pis... bawa tempat minum itu ayo semua kita ke aula untuk makan siang."ucap Guru Naga Langit lalu loncat mengunakan jurus meringankan tubuh menuju aula.
Happp.... Wuzzxx....
Melihat Gurunya menggunakan jurus meringankan tubuh, Oval dan Arden pun menyusul menggunakan jurus yang sama untuk mengejar gurunya.
Wuzzxx wuzzxx.....
"Weyyy tunggu, waduhhh...."ucap Apis yang ketika hendak ikut loncat namun teringat tempat minum mereka yang harus di bawa oleh Apis.
Setelah meraih tempat minum, Apis pun dengan segera meluncur ke aula.