Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — Rombongan diplomasi
Pagi membeku diselimuti kabut tipis. Serpihan es pertama mulai mengendap di atas dedaunan gersang di gerbang utama Suku Serigala.
Di depan barisan perapian kecil, lima prajurit veteran pilihan Aron sedang menata muatan pada kantong-kantong kulit tebal. Isi kantong itu adalah penawar racun dan Akar Api dari Lembah Bintang—beban berat yang menjadi taruhan keberhasilan aliansi mereka.
Yana mengencangkan ikatan mantel kulit rusanya. Di sampingnya, Aron berdiri memeriksa ketajaman tombaknya.
"Semua persediaan sudah siap, Ayah?" tanya Yana.
Aron menoleh, mengangguk pelan. "Sudah, Yana. Bimo dan tiga prajurit terbaik akan mengawal kita. Tapi perjalanan menembus Jalur Salju menuju Suku Elang tidak akan mudah."
"Apalagi jika ada pengacau yang membawa amarah di dalam rombongan," potong sebuah suara dingin dari arah belakang mereka.
Yana dan Aron membalikkan badan. Paman Bimo melangkah mendekat dengan raut wajah gusar. Di belakangnya, tampak Luka berjalan lambat dengan busur panah melingkar di bahunya. Wajah pemuda itu masih diliputi kebencian yang tertahan pasca-perdebatan panas di Balai Utama kemarin.
Aron mengerutkan dahi. "Luka? Mengapa kamu ada di sini? Bukankah aku menyuruhmu bersiap meneliti benteng utara bersama para pemuda?"
Luka berhenti tepat di hadapan Aron, melirik Yana dengan tatapan tajam dan penuh penolakan.
"Paman Bimo yang memanggilku, Paman," jawab Luka, nada suaranya mengeras. "Katanya rombongan butuh pemanah terlatih untuk menjaga jalur tebing. Tapi kalau keberadaanku hanya akan mengganggu putri kesayanganmu yang sok tahu ini, aku lebih baik mundur!"
Paman Bimo menghentakkan kaki ke tanah. "Jaga mulutmu, Luka! Aku mengajakmu karena kemampuan memanahmu adalah yang terbaik di antara para pemuda! Jangan campur adukkan kekesalan pribadimu dengan keselamatan suku!"
"Aku tidak mencampuradukkan apa pun, Paman Bimo!" bentak Luka tak mau kalah, dadanya naik-turun. Ia menunjuk Yana dengan telunjuknya yang gemetar. "Aku hanya muak! Sejak kapan keputusan strategis suku kita ditentukan oleh gadis yang cuma tahu dapur dan goa obat?! Kenapa kalian semua seperti terhipnotis oleh ramalan dan firasat tidak masuk akal darinya?!"
Yana melangkah maju satu langkah.
Ia menepis tangan Luka yang menunjuk wajahnya dengan gerakan yang sangat cepat dan keras.
Plak!
Suara tepisan itu bergema nyaring di gerbang desa.
Luka terkejut, menggenggam pergelangan tangannya yang terasa panas.
"Tutup mulutmu jika kamu tidak tahu apa-apa, Luka," bisik Yana. Matanya yang abu-abu kehijauan menyala dingin, menatap lurus ke dalam pupil mata Luka. "Aku berdiri di sini bukan untuk membuktikan apa pun padamu. Kalau kamu merasa keberatan ikut, lepaskan busurmu dan kembalilah ke dalam gua seperti anak kecil yang merajuk!"
"Kamu—" Luka mengepalkan tinjunya, wajahnya memerah padam karena dipermalukan lagi. "Yana, kamu benar-benar menguji kesabaranku! Dulu kamu yang selalu memohon padaku untuk mengajarimu memanah! Dulu kamu yang selalu bersembunyi di belakangku setiap ada bahaya! Sekarang kamu bersikap seolah kamu pahlawan penyelamat suku?!"
"Dulu aku cukup bodoh untuk percaya bahwa kamu bisa melindungiku," balas Yana tanpa keraguan sedikit pun, senyum tipis yang sarat cemoohan terukir di bibirnya. "Tapi sekarang aku sadar... mengandalkan orang lemah dan bermuka dua seperti dirimu hanya akan membawa kehancuran."
"Yana! Luka! Cukup!" bentak Aron dengan suara yang mengguncang udara pagi. Kepala Suku itu melangkah ke tengah-tengah mereka, menghentakkan tangkai tombaknya ke tanah.
Aron menatap Luka dengan pandangan yang membuat pemuda itu langsung menunduk.
"Luka, jika kamu melangkah ikut dalam perjalanan ini, kamu adalah prajurit Suku Serigala di bawah perintahku. Jika kamu melanggar perintah atau menciptakan kekacauan karena ego pribadimu, aku sendiri yang akan mencabut hakmu sebagai pemburu!" ancam Aron berat dan tidak menerima bantahan.
Luka menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga memutih. "Aku mengerti... Kepala Suku."
"Bagus," pangkas Aron. Ia menoleh ke arah Paman Bimo. "Bimo, amankan jalur depan. Kita berangkat sekarang sebelum angin utara makin kencang."
Rombongan kecil itu akhirnya melangkah keluar dari gerbang kayu Suku Serigala.
Perjalanan menembus kawasan perbukitan utara diselimuti oleh keheningan tegang.
Luka berjalan jauh di barisan belakang, sementara Yana berjalan di samping ayahnya di barisan tengah.
Setelah hampir tiga jam berjalan melintasi celah batu yang tertutup es licin, Paman Bimo di depan mendadak mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti.
"Ada apa, Bimo?" bisik Aron sambil memegang erat gagang kapaknya.
"Di depan... celah Jalur Serigala ditutupi oleh guguran batu tebal," jawab Paman Bimo, matanya menyipit menatap tebing di atas mereka. "Anomali. Kemarin lusa jalur ini masih bersih."
Yana memandang ke puncak tebing terjal di atas mereka.
Di kehidupan pertamanya, Jalur Serigala adalah tempat penyergapan mematikan dari kelompok penyamun pegunungan yang nantinya membelot kepada gadis transmigrator.
"Ini bukan guguran alami," kata Yana pelan tapi tegas.
Luka yang berjalan dari belakang mendekat dengan nada mengejek. "Oh, biarkan aku tebak. Firasat ajaibmu bekerja lagi, Yana? Kamu mau bilang ada musuh tersembunyi di atas tebing batu itu?"
Yana bahkan tidak sudi membalikkan badan menatap Luka. "Bukan firasat, Luka. Lihat jejak ikatan tali di batang cemara atas tebing itu. Batunya disengaja dijatuhkan untuk menjebak kita di celah sempit ini."
Mendengar itu, Aron dan Paman Bimo langsung mendongak tajam.
Benar saja!
Di balik semak berduri di atas tebing, terlihat bayangan beberapa pria berbadan kekar memegang tombak dan panah.
"Suku Elang?!" seru Paman Bimo kaget saat melihat hiasan bulu di kepala orang-orang di atas tebing. "Kenapa prajurit Suku Elang memasang jebakan di batas wilayah ini?!"
Sebuah tawa renyah bergema dari atas tebing.
Seorang pria tinggi besar dengan mantel kulit elang hitam melompat turun dari bebatuan, mendarat dengan ringan sepuluh langkah di depan rombongan Aron.
Di belakangnya, belasan pemanah Suku Elang bermunculan dari balik bebatuan, mengarahkan mata panah mereka ke arah Aron dan rombongannya.
Pria bermantel elang itu adalah Vargas, salah satu panglima perang Suku Elang yang terkenal kejam.
"Langkah yang cerdas untuk seorang gadis kecil," kata Vargas sambil mengelus belati besinya. Matanya yang licik menatap Yana lalu beralih ke Aron. "Aron... mau apa Kepala Suku Serigala membawa rombongan bersenjata masuk ke wilayah pegunungan kami?"
Aron melangkah maju, menutupi tubuh Yana di belakang punggungnya. "Kami datang dengan niat baik, Vargas! Kami ingin bertemu dengan Tetua Suku Elang untuk menawarkan aliansi dan perdamaian!"
Vargas tertawa keras, suara tawanya memantul di dinding tebing es.
"Perdaimain?!" cemooh Vargas sengit. "Tahun lalu suku kalian mengusir pemburu kami dari sungai timur! Dan sekarang, saat musim dingin mulai membunuh suku kami, kalian datang bicara tentang aliansi? Sangat tidak tahu malu!"
Luka yang panik di belakang langsung menarik tali busurnya, mengarahkannya ke Vargas. "Jaga bicaramu, Vargas! Jangan pikir kami takut pada panah-panahmu!"
"Luka, tahan panahmu!" teriak Aron panik.
Namun terlambat.
Melihat Luka menarik busur, para pemanah Suku Elang di atas tebing langsung menarik tali panah mereka.
Suasana mendadak menjadi sangat kritis; satu kesalahan kecil akan memicu bantai darah di celah narrow tersebut.
Di tengah situasi panas itu, Yana justru melangkah keluar dari balik punggung ayahnya.
Tanpa rasa takut sedikit pun, ia berjalan mendekati Vargas.
"Yana! Mundur!" jerit Aron mencoba menahannya.
Yana mengabaikan panggilan ayahnya. Ia berhenti tepat tiga langkah dari ujung belati Vargas.
Matanya yang dingin menatap lurus ke arah Panglima Suku Elang itu.
"Vargas," panggil Yana dengan nada suara yang sangat tenang namun bergema tegas. "Suku Elang sedang diserang oleh wabah racun dingin sejak dua pekan lalu, bukan?"
Vargas tersentak.
Senyum cemoohannya hilang seketika, digantikan oleh rasa terkejut yang mendalam. "Dari mana kamu... bagaimana kamu tahu tentang wabah itu?!"
Di kehidupan lalu, Suku Elang memang hampir punah akibat wabah racun dingin sebelum akhirnya ditolong oleh obat-obatan yang dibawa oleh gadis transmigrator.
Yana tidak menjawab pertanyaan Vargas. Ia memberi isyarat pada Paman Bimo. "Bawa kantong kulit pertama ke depan."
Paman Bimo ragu sejenak, namun melihat ketegasan di wajah Yana, ia maju dan meletakkan kantong kulit berisi Akar Api di atas batu yang telah tertutup es.
Yana menunjuk kantong itu dengan matanya. "Di dalam kantong ini ada Akar Api dan penawar racun kualitas terbaik dari Lembah Bintang. Tanaman ini adalah satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan paru-paru prajuritmu dari racun dingin."
Vargas memandang kantong itu dengan mata berbinar kaget, lalu menatap Yana kembali dengan ketakutan ganjil. "Bagaimana seorang anak perempuan Suku Serigala bisa tahu rahasia terbesar suku kami dan membawa obat yang tepat?"
"Karena aku tidak datang untuk berperang," jawab Yana tegas, suaranya memotong kebisingan angin es. "Bawa kami ke hadapan Tetua Suku Elang sekarang. Jika obat ini tidak menyembuhkan orang-orangmu, kalian boleh memotong leher kami di tempat!"
Luka, Paman Bimo, dan bahkan Aron membelalakkan mata tidak percaya melihat keberanian Yana menaruh taruhan senekat itu di hadapan musuh.
Vargas menatap Yana cukup lama. Keheningan yang mencekam menguasai celah tebing itu. Hingga akhirnya, Vargas menurunkan belatinya dan memberi isyarat pada para pemanah di atas tebing untuk menurunkan senjata mereka.
"Gadis yang sangat berani..." kata Vargas dengan nada suara yang bergolak. "Baiklah! Ikut aku ke pemukiman Suku Elang. Tapi ingat perkataanmu... kalau obat ini palsu, darah kalian semua akan membasahi es ini!"
Yana membalikkan badan, menatap Luka yang berdiri terpaku dengan wajah pucat dan tangan gemetar memegang busur.
Yana melangkah melewati Luka, berbisik sangat pelan di samping telinga pemuda itu.
"Inilah bedanya caraku dan caramu bertarung, Luka... Kamu hanya tahu cara memicu perang, sementara aku tahu cara memenangkannya."
Luka membeku, menatap punggung Yana yang berjalan mendahuluinya menembus celah salju.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Luka merasa sangat kerdil di hadapan gadis yang dulu selalu ia remehkan.
***
Bersambung ....