Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK SENYUMAN
Zenaya melangkah pelan menghampiri Eros yang tengah duduk di sofa ruang tengah mansion mereka. Pria itu tampak begitu fokus menatap layar tablet di tangannya, sesekali mengusap layar sambil membaca berbagai laporan pekerjaan.
"Apakah kau sedang sibuk?" tanya Zenaya lembut.
Eros mengangkat kepalanya.
Senyum hangat langsung terukir ketika melihat sang istri berdiri di hadapannya.
"Tidak. Kenapa?" balasnya sambil mematikan layar tablet dan meletakkannya di atas meja.
Zenaya tersenyum kecil sebelum duduk di sampingnya.
"Begini... Besok aku sudah mulai syuting di film yang berjudul The Black Crown."
Raut wajah Eros seketika berubah senang.
"Syukurlah, selamat. Semoga semuanya berjalan lancar."
"Terima kasih."
Suasana kembali hening beberapa saat. Namun keheningan itu terasa nyaman bagi keduanya.
"Oh ya," lanjut Zenaya, "Sabtu malam akan ada Fashion Show di Hotel Luxury. Siapa tahu kau ingin menghadirinya."
Tatapan Eros sedikit melembut.
"Tentu saja aku akan datang. Tuan Hamilton memang sudah mengundangku. Hanya saja aku tidak tahu kalau ternyata kau juga menjadi salah satu model yang tampil."
Zenaya tersenyum semakin lebar.
"Benarkah?"
Eros mengangguk.
"Tentu."
Wanita itu tampak semakin bersemangat.
"Oh ya, Tuan Elzard juga memintaku mengenakan gaun rancangan terbarunya. Aku benar-benar merasa terhormat. Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau desainer sebesar beliau mempercayakan karya terbarunya kepadaku."
Eros menatap wajah Zenaya penuh kekaguman.
"Kau memang sangat berbakat. Mungkin Tuan Elzard melihat potensi yang ada dalam dirimu. Kau pantas berada di posisi yang sekarang."
Pujian itu membuat pipi Zenaya sedikit memerah.
"Terima kasih, oh ya Tuan Lucian juga akan menghadirinya, kau sudah mengenalnya belum?."
"Aku hanya mengenalnya sskilas," pikir Eros sesaat. "Dia adalah putra dari pemilik Fung Corporation, perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan ku. Tidak lebih dari itu.
"Iyakah, dia itu produser ku saat ini."
"Begitukah, dia pasti akan puas dengan actingmu?." ucap Eros tersenyum.
"Tahu dari mana?, kau saja belum pernah melihat ku acting." ucap Zenaya cemberut.
Eros tersenyum kecil
"Meskipun belum pernah melihatnya, tapi aku percaya pada kemampuan mu."
Tatapan mereka kemudian bertemu.
Beberapa detik berlalu tanpa satu pun dari mereka berbicara.
Entah mengapa, tatapan itu terasa begitu dalam.
Seolah mampu menembus dinding yang selama ini mereka bangun. Ada kehangatan yang menenangkan, tetapi di saat yang sama juga menghadirkan sesak yang sulit dijelaskan.
Sayangnya, momen itu buyar ketika suara dering ponsel Eros memecah keheningan.
Nama yang muncul di layar adalah Jack.
Namun hanya Eros yang tahu, telepon itu sebenarnya berasal dari Lura.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Angkat saja," ujar Zenaya sambil tersenyum. "Siapa tahu ada urusan penting."
Eros mengangguk pelan.
"Sebentar."
Ia berjalan menuju area kolam renang di belakang mansion, memastikan jaraknya cukup jauh dari ruang tengah. Setelah melirik ke arah Zenaya yang kini kembali membaca majalah, ia akhirnya menerima panggilan itu.
"Halo, sayang."
Suara manja Lura langsung terdengar dari seberang.
"Halo. Ada apa meneleponku?"
"Memangnya aku tidak boleh meneleponmu?"
"Bukan begitu," jawab Eros lirih. "Aku sedang berada di mansion. Jangan meneleponku sebelum aku yang menghubungimu."
Nada suaranya dibuat serendah mungkin agar tidak terdengar siapa pun.
"Maaf... aku cuma merindukanmu."
Eros memejamkan mata sejenak.
"Aku juga sangat merindukanmu."
"Aku ingin bertemu."
Kalimat itu membuat Eros terdiam.
"Aku sedang sibuk. Nanti saja kalau pekerjaanku sudah selesai."
Hening beberapa saat.
Kemudian Lura kembali berbicara dengan nada kecewa.
"Jadi sekarang kau sudah tidak membutuhkan aku? Dulu kau tidak pernah bilang sibuk. Kau selalu punya waktu untukku. Apa karena sekarang ada Zenaya di sana?"
Eros mengusap wajahnya pelan.
"Bukan begitu."
Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengalah.
"Baiklah... aku akan meluangkan waktu untuk bertemu denganmu."
"Benarkah?"
Suara Lura langsung terdengar ceria.
"Hm."
Eros hendak mengakhiri panggilan.
"Aku tutup dulu."
"Tunggu."
"Apa lagi, Sayang?"
"Aku ingin liburan ke Kyoto. Aku ingin makan sushi di sana... bersamamu."
Eros kembali terdiam beberapa detik.
"Baiklah."
Setelah itu ia segera menutup telepon ketika tanpa sengaja melihat Zenaya sedang memandang ke arahnya dari kejauhan.
Cepat-cepat ia memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu kembali ke ruang tengah dengan senyum yang dipaksakan.
"Maaf menunggu lama."
"Tidak apa-apa."
Zenaya memperhatikan wajah suaminya. Meski Eros berusaha tersenyum, kegelisahan jelas terpancar dari sorot matanya.
"Ada apa? Soal pekerjaan?"
Eros menganggukkan kepala.
"Klienku meminta rapat di Kyoto. Sebenarnya aku malas pergi, tetapi kerja sama ini bisa memberikan keuntungan tiga puluh persen untuk perusahaan."
Kebohongan itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Padahal alasan sebenarnya bukanlah pekerjaan.
Ia ingin pergi bersama Lura.
Zenaya hanya tersenyum memahami.
"Kalau itu memang penting bagimu, pergilah."
"Tapi... kau tidak apa-apa kalau aku tinggalkan?"
"Tidak."
Zenaya menggeleng pelan.
"Aku sudah harus terbiasa dengan kesibukanmu sebagai pemimpin perusahaan."
Ada rasa hangat yang menyelinap di hati Eros mendengar pengertian istrinya.
Justru karena itulah rasa bersalahnya semakin besar.
"Maafkan aku..."
Bisiknya lirih.
Maaf itu bukan karena ia akan pergi ke Kyoto.
Melainkan karena ia telah membohongi wanita yang begitu tulus mempercayainya.
Zenaya tersenyum lembut.
"Tidak apa-apa."
Kemudian ia kembali bertanya,
"Kalau begitu, kapan kau berangkat?"
"Hari Senin."
Eros menjawab pelan.
"Jadi Sabtu malam aku masih bisa datang menyaksikan Fashion Show-mu."
Mata Zenaya langsung berbinar penuh kebahagiaan.
"Benarkah?"
"Tentu."
Senyumnya mengembang tanpa bisa
disembunyikan.
Baginya, kehadiran Eros di malam itu jauh lebih berharga daripada tepuk tangan ribuan penonton ataupun sorotan kamera.
Tanpa ia sadari, pria yang akan berdiri menyaksikan dirinya berjalan di atas panggung itu... juga sedang menyimpan rahasia yang perlahan dapat menghancurkan rumah tangga mereka.