Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
.
Arga masih berdiri membeku di ambang pintu ballroom. Tepuk tangan yang menggema setelah ijab kabul terdengar begitu jauh di telinganya, seperti suara yang datang dari dunia lain. Pandangannya hanya tertuju pada sosok Rania yang kini telah resmi menjadi istri Alvino Mahendra. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung jasnya yang sudah kusut.
"Sah...."
Satu kata itu menjadi penutup dari semua harapan yang selama ini diam-diam masih ia simpan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga, menetes ke lantai marmer yang mengkilap. Bukan karena ia tidak merelakan Rania bahagia, tetapi karena ia sadar... semua penderitaan itu berawal dari kelemahannya sendiri.
"Aku benar-benar pengecut..." gumamnya lirih, suaranya teredam oleh musik yang mulai berbunyi di dalam ruangan.
Seandainya dulu ia memiliki keberanian melawan ibunya... Seandainya ia lebih memilih mempertahankan Rania daripada menuruti ancaman ibunya... Seandainya ia tidak mengucapkan talak itu... Mungkin saat ini Rania masih berdiri di sampingnya. Namun, semua itu kini tinggal penyesalan yang menusuk hati.
Bayangan saat ibunya menangis histeris sambil mengancam mengakhiri hidup jika ia tidak menceraikan Rania kembali memenuhi kepalanya. Bukan hanya itu, ibunya juga mengancam akan mencelakakan Rania jika di tidak menurut.
Ancaman itulah yang akhirnya menghancurkan keberaniannya. Memilih mengorbankan hatinya sendiri demi melindungi wanita yang dicintainya. Dan sekarang... Keputusan itu justru menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Arga mengusap wajahnya kasar. "Aku gagal menjadi suami...." gumamnya. "Aku gagal mempertahankan perempuan yang paling kucintai."
Dengan langkah berat Arga berbalik meninggalkan ballroom. Kakinya terasa seperti terikat besi yang berat. Tak sekali pun ia menoleh ke belakang. Dan begitu ia keluar dari pintu itu, kisah cintanya dengan Rania benar-benar telah berakhir.
*
Acara dilanjutkan dengan resepsi. Alunan musik biola yang lembut mengiringi langkah Rania dan Alvino saat keduanya naik ke atas pelaminan yang dihiasi bunga putih dan merah muda.
"Kamu baik-baik saja kan?" bisik Alvino sambil menggenggam tangan wanita yang kini telah menjadi istrinya dengan lembut. Jempolnya perlahan mengusap kulit tangan Rania yang dingin.
Rania mengangguk dengan lembut, memberikan senyum yang sedikit terpaksa. "Iya, Pak Alvino. Saya baik-baik saja, terima kasih."
Alvino menatap Rania dengan mata memicing tidak suka. “Kamu memanggilku apa?"
Rania menelan ludahnya saat melihat tatapan Alvino yang terlihat kesal. Apakah dia melakukan kesalahan? Alvino mendengus lalu memalingkan wajahnya karena Rania yang tidak peka.
Di samping mereka Tuan Aksara dan Bu Soraya terkikik geli dan menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.
*
Satu per satu tamu mulai naik ke atas panggung. Para relasi bisnis keluarga Mahendra, para pengusaha ternama, rekan kerja Alvino, direksi Mahendra Grup, juga keluarga besar Mahendra dan keluarga besar Pratama.
"Selamat ya, Pak Alvino. Semoga makin sukses bareng Bu Rania."
"Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah ya."
"Selamat datang di keluarga Mahendra, Bu Rania. Kami senang bisa punya keluarga baru seperti kamu."
Rania terus membungkukkan badan dengan sopan. Hatinya masih terluka, namun ia merasa kuat karena ada Alvino yang selalu ada di sisinya, memberikan dukungan yang tidak terucapkan.
Di tengah meriahnya acara resepsi... Tiba-tiba Bu Ratih muncul bersama Pak Surya dan Angelina. Wajah Bu Ratih terlihat begitu kesal. Tatapannya begitu sinis saat berhadapan dengan Rania.
Bu Ratih sama sekali tidak mengucapkan selamat. Sebaliknya ia menoleh ke arah Bu Soraya dengan senyum sinis, tangan nya menyilang di depan dada.
"Soraya... ternyata benar ya. Kamu itu orang yang pintar tapi buta?"
Bu Soraya menatap ke arah Bu Ratih dengan kening berkerut. “Maksud kamu apa ngomong gitu, Ratih?" tanya Bu Soraya meskipun sebenarnya ia sudah paham arah pembicaraan Bu Ratih.
Ratih tersenyum miring sambil menaikkan dagunya tinggi. Menatap ke arah Bu Soraya dengan tatapan penuh ejekan
"Aku benar-benar tidak habis pikir. Keluarga Mahendra yang begitu terpandang... justru mengambil perempuan seperti Rania menjadi menantu. Apa kamu tidak khawatir akan merusak nama baik keluarga?"
Suasana di atas panggung mulai berubah canggung. Beberapa tamu yang berada di bawah panggung ikut memperhatikan mereka dengan saling pandang satu sama lain.
"Tiga tahun menjadi menantuku, perempuan ini tidak bisa memberi keturunan. Apalagi baru saja diketahui kalau dia berasal dari panti asuhan. Asal-usulnya tidak jelas. Kenapa kalian masih nekat melanjutkan pernikahan ini?"
Ratih menatap Soraya seakan merasa kasihan. Tapi Bu Soraya jelas tahu bahwa itu hanya sandiwara.
"Sebagai saudara ipar, aku hanya ingin mengingatkan. Kalian seharusnya mencari perempuan yang lebih baik untuk Alvino. Seseorang yang bisa membawa keberuntungan dan kehormatan bagi keluarga Mahendra."
Pak Surya ikut menganggukkan kepala, menyetujui ucapan istrinya.
"Istri saya benar. TuanAksara, Anda ini terlalu mudah percaya. Keluarga sebesar Mahendra seharusnya lebih selektif memilih calon menantu. Masih banyak perempuan baik dari keluarga terpandang yang menginginkan putra Anda. Kenapa malah memilih seorang janda menjadi menantu?"
Angelina yang berdiri di samping bu Ratih ikut menimpali, "Kasihan Tuan Alvino. Takutnya beliau akan menyesal nanti. Karena suatu saat Tuan Alvino juga pasti ingin tahu rasanya menggendong anak."
Rania menundukkan wajah. Ucapan mereka kembali menggores luka yang bahkan belum sempat mengering. Tangannya mulai gemetar, namun segera digenggam erat oleh tangan Alvino yang lebih besar dan hangat.
"Jangan mendengarkan mereka. Anggap saja mereka itu hanya lalat yang berdengung." Alvino berbisik di telinga Rania, tapi dia bahkan tidak mengecilkan suaranya, hingga siapapun yang ada di dekat mereka pasti mendengar.
Wajah bu Ratih, tuan Surya dan Angelina seketika merah padam. Marah sekaligus malu.
Bu Soraya menahan diri agar tidak tertawa mendengar kata-kata putranya. Wanita itu kemudian melangkah maju hingga posisinya sekarang berada tepat di depan Bu Ratih, membuat wanita itu sedikit terkejut.
"Ratih… Terima kasih atas perhatianmu. Tapi bagiku nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh siapa orang tuanya. Bukan pula dari statusnya. Juga bukan dari apakah dia bisa memberi keturunan atau tidak. Melainkan dari akhlak dan hatinya."
Bu Soraya kemudian menoleh ke arah Tuan Surya dengan raut penuh kekecewaan. “Kakak dulu tidak seperti ini. Apa yang membuat Kakak berubah? Sejak kapan keluarga kita membedakan manusia dari status sosial dan asal usulnya?"
Bu Ratih mendengus kasar. Namun, belum sempat ia membalas... Tuan Aksara ikut berbicara. Suara pria itu tenang tetapi penuh wibawa, membuat semua orang yang mendengarnya langsung menjadi tenang.
"Sejak awal kami memilih Rania bukan karena silsilah keluarganya. Tapi karena kami mengenal pribadinya."
Tuan Aksara lalu menoleh kepada Rania dengan wajah yang penuh bangga, lalu menatap semua tamu yang ada di ruangan.
"Latar belakangnya tidak mengurangi sedikitpun nilai dirinya. Kami menerima Rania apa adanya. Mulai hari ini… Dia adalah putri kami. Dan siapa pun yang menyakiti Rania..." lanjut Tuan Aksara tegas, matanya menatap langsung ke arah Bu Ratih. "Berarti menentang keluarga Mahendra."
Kalimat itu membuat mata Rania kembali berkaca-kaca. Air mata bahagia mulai mengalir di pipinya. Bu Soraya langsung merangkul bahu menantunya, memeluknya dengan hangat.
Seluruh tamu bertepuk tangan meriah. Beberapa bahkan memberikan sorakan yang penuh dengan dukungan. Bu Ratih mengepalkan kedua tangannya hingga kukunya menusuk telapak tangannya. Amarah memenuhi dadanya hingga membuatnya sulit bernapas.
"Ayo kita pergi!" bentaknya tanpa melihat ke arah siapapun.
Dengan wajah kesal mereka bertiga turun dari pelaminan. Sepanjang perjalanan keluar ballroom, Ratih terus menggertakkan giginya. Bibirnya komat-kamit mengucapkan kata-kata kasar yang tidak terdengar oleh orang lain. Kebenciannya kepada Bu Soraya memenuhi pikirannya, seperti bara yang lama mati kini kembali menyala besar.
Puluhan tahun lalu... Ratih Sanjaya dan Soraya Pratama adalah dua sahabat yang hampir tidak pernah terpisahkan. Mereka kuliah di kampus yang sama, bahkan menyewa kamar kost berdua,menghabiskan waktu bersama.
Sampai suatu hari, seorang senior bernama Aksara Mahendra hadir di kehidupan mereka. Ratih jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatnya memberikan kuliah tamu di kelas mereka. Ia berusaha mendekati Aksara dengan berbagai cara.
Namun semua usahanya sia-sia. Karena ternyata Aksara menyukai Soraya. Hari ketika Aksara menyatakan cinta kepada Soraya menjadi hari yang mengubah persahabatan mereka menjadi kebencian yang ia simpan sendiri.
Berpura-pura tetap menjadi teman baik, Ratih diam-diam mendekati Surya Pratama, kakak Soraya. Bukan karena cinta. Melainkan karena ia ingin masuk ke keluarga Pratama dan mencari kesempatan memisahkan Soraya dengan Aksara.
Sayangnya... Tak satupun rencananya berhasil. Aksara tetap menikahi Soraya dan bahkan membangun bisnis yang sukses bersama. Rasa benci yang selama puluhan tahun tersimpan, kini kembali menyala lebih besar daripada sebelumnya.
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁