"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Bujukan Ingrid
"Iya," Ingrid mengangguk pelan, jemarinya merapikan blusnya dengan gerakan yang sengaja dibuat anggun. "Saya ke Jakarta karena mau mencari pekerjaan. Jadi, selama proses itu, Bude Reni meminta saya tinggal di sana. Kebetulan rumah Kak Satria besar sekali tapi sepi. Jadi, tugas saya di sana selain cari kerja adalah mengurus rumah. Dan nanti ... kalau Rafka sudah pulang dari rumah ini dan kembali tinggal bersama papanya, saya juga bisa sekalian telaten menjaga Rafka kalau Kak Satria sedang dinas malam atau ada latihan menembak di markas. Menjaga anak kecil memang butuh kelembutan ekstra, bukan begitu, Keisha?"
Mendengar rentetan kalimat bernada mendayu namun menusuk itu, telinga Keisha mendadak terasa panas. Jiwa barbar dan keras kepalanya yang sempat menciut di ruang tamu kini seketika tersengat bangun. Otaknya yang cerdas langsung menangkap maksud tersembunyi dari ucapan gadis di depannya ini. Kehadiran Ingrid di rumah pribadi Satria, meski Rafka saat ini faktanya masih tinggal di sini bersamanya dan kedua orang tuanya, jelas merupakan sebuah sinyal perang terselubung.
Keisha memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Ingrid, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pose menantang khas cewek barbar kampus yang siap adu argumen. Senyum jahil dan cuek sengaja ia kembangkan di bibirnya.
"Oh, tinggal di rumah Kak Satria toh? Bagus deh kalau begitu, Mbak Ingrid," sahut Keisha dengan nada santai yang dibuat-buat, namun matanya menatap lurus menantang mata Ingrid. "Rumah Kak Satria itu emang luas banget, tapi sayang, pemiliknya kaku kayak tripleks bangunan. Jadi kalau Mbak Ingrid betah menghadapi kulkas berjalan tiap hari, saya angkat jempol deh."
Keisha melangkah maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka, memancarkan aura dominasi teritorial yang kuat. "Tapi kalau soal Rafka ... Mbak Ingrid harus tahu ya, bocil satu itu sekarang masih betah tinggal di sini sama saya, Eyang Uti, dan Eyang Kakung. Dan wataknya keras banget, persis bapaknya. Dia itu dari bayi merah yang ngurusin aku sama Ibu. Makanya dia paling antik kalau ada orang baru yang sok kenal mencoba mengambil hatinya. Jadi, selamat berjuang ya, Mbak!"
Mendengar balasan blak-blakan dan penuh penekanan dari Keisha, senyuman anggun di wajah Ingrid sempat membeku selama beberapa detik. Ujung jarinya mengetat di pinggiran nampan, tidak menyangka bahwa adik ipar Satria yang berpenampilan acak-acakan ini ternyata memiliki taring yang cukup tajam.
***
Tepat di saat tensi di dapur kian memanas, suara klakson mobil antar jemputan sekolah terdengar dari depan pagar, diikuti oleh suara langkah kaki kecil yang berlari riang memasuki rumah.
"Eyang Uti! Tante Kei! Rafka pulaaang!" seru suara cempreng khas anak kecil memecah ketegangan.
Rafka, dengan seragam TK kotak-kotaknya yang sedikit berantakan dan tas ransel kecil di punggungnya, langsung berlari masuk ke ruang tamu. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti ketika melihat sosok asing dan wajah-wajah yang sangat ia rindukan duduk di sofa.
"Loh ... Eyang Uti? Eyang Kakung?" mata bulat Rafka berbinar lebar. Ia langsung melupakan rasa kesalnya pada papanya kemarin pagi. Dengan heboh, bocah lima tahun itu berlari kencang dan menghambur ke pelukan Bu Reni.
"Aduh, cucu Ibu yang paling ganteng!" seru Bu Reni dengan mata berkaca-kaca, langsung menangkap tubuh mungil Rafka dan memeluknya teramat erat, menciumi kedua pipi gembilnya dengan penuh kerinduan. Ayah Isa pun ikut mengacak rambut Rafka dengan senyum kebapakan yang sangat bangga. "Wah, jagoan Eyang sudah besar ya, makin tinggi seperti Papamu."
Mendengar keributan manis di depan, Keisha dan Ingrid serentak melangkah keluar dari dapur menuju ruang tamu. Satria yang sejak tadi duduk tegap langsung berdiri saat anaknya mendekat.
Rafka mendongak dari pelukan Eyang Utinya, menatap Ingrid yang baru keluar dari dapur dengan tatapan bingung, lalu matanya beralih menatap Keisha dengan pandangan mencari perlindungan. Bocah itu langsung melepaskan pelukannya dan beralih menggandeng erat tangan Keisha, seolah ingin menegaskan kepada semua orang di ruangan itu ke mana hatinya berpihak.
Ingrid yang melihat momen keakraban instan itu hanya bisa tersenyum kaku di samping Bu Reni. Sementara Satria, dengan langkah tegapnya, berjalan mendekati Keisha dan Rafka. Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata Keisha yang masih menyiratkan sisa-sisa kejengkelan akibat obrolan di dapur tadi.
"Kakak pulang dulu, Dek. Soalnya harus balik ke kantor. Jaga Rafka baik-baik," ucap Satria dengan suara beratnya yang rendah, memberikan tekanan halus pada panggilan *'Dek'* yang sukses membuat bulu kuduk Keisha meremang kembali di depan seluruh keluarga.
***
Melihat rombongan sang Mayor bersiap untuk melangkah keluar menuju pintu teras, Bu Reni mendadak menghentikan langkahnya. Langkah kakinya kembali berputar menghadap sang cucu yang masih setia menempel di samping kaki Keisha seperti perangko. Rasa rindu yang menumpuk selama berbulan-bulan di dalam dada seorang nenek rasanya belum terbayar tuntas hanya dengan pelukan singkat beberapa menit yang lalu.
Bu Reni berjongkok di hadapan Rafka, menyamakan tinggi badannya dengan sang cucu. Tangannya yang hangat meraih lembut jemari mungil Rafka yang bebas. "Rafka Jagoan ... Eyang Uti kan baru sampai dari Yogyakarta, kangennya masih banyak sekali. Bagaimana kalau siang ini Rafka ikut pulang ke rumah Papa dulu? Di sana rumahnya luas, nanti kita bisa main tebak-tebakan dan cerita-cerita sampai malam. Mau ya, Nak?"
Mendengar bujukan manis dari sang nenek, Rafka tidak langsung menjawab. Bocah lima tahun itu justru mendongak, menatap wajah Keisha dengan mata bulatnya yang berkedip ragu.
Melihat celah tersebut, Ingrid tidak mau kehilangan momentum untuk menunjukkan pesona kelembutannya di depan Satria dan kedua orang tuanya. Gadis berparas ayu itu ikut melangkah maju setapak, lalu ikut berlutut dengan gerakan yang teramat anggun di sebelah Bu Reni. Wajahnya dihiasi senyuman manis yang luar biasa ramah, memancarkan aura keibuan yang sengaja dibuat se-sempurna mungkin.
"Iya, Dek Rafka ... ayo ikut pulang sama Eyang Uti dan Tante Ingrid," ajak Ingrid dengan nada suara yang teramat lembut, mendayu-dayu penuh bujukan manis. Tangannya bergerak halus, mencoba mengusap pundak kecil Rafka dengan telaten. "Di rumah Papa, Tante Ingrid sudah menyiapkan banyak sekali mainan baru yang seru. Nanti di sana Tante Ingrid juga bisa buatkan camilan kue yang enak-enak untuk Dek Rafka. Kita main bersama-sama di rumah Papa ya?"
Bersambung...