Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Cantik
"Tuan, aku serius. Harga satu gaun di sini bisa dipakai untuk makan setahun di kantin kampusku. Apa Tuan tidak rugi?"
Keyla berdiri mematung di tengah butik mewah yang interiornya didominasi warna emas dan kristal.
Keyla meremas ujung gaun merah pemberian Siska yang sudah kusut. Matanya menatap deretan label harga yang angka nolnya membuat kepalanya pusing seketika.
Dominic tidak menjawab. Ia hanya duduk di sofa paling ujung, menyilangkan kaki panjangnya dengan angkuh. Sementara tangannya sibuk menyesap kopi pahit yang disuguhkan pelayan butik.
"Ambil saja gaun apa pun yang kau suka. Jangan membuatku mengulang kalimat yang sama," ucap Dominic dingin, matanya bahkan tidak beralih dari ponsel di tangannya.
"Semuanya? Maksud Tuan, aku boleh memilih lebih dari satu?" tanya Keyla.
"Ya. Kau mau menolak?" Dominic akhirnya mendongak, menatap Keyla dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
Keyla menggigit bibir bawahnya, wajahnya seketika langsung memucat. "Bukan menolak, tapi ini harganya sangat mahal, Tuan. Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayarnya. Kalau aku paksa beli, aku bisa jadi gembel dadakan setelah keluar dari sini."
Hening sejenak. Lalu...
"Pfft—Hahahaha!" tawa Dominic pecah seketika. Suara tawa yang berat, dalam, dan terdengar sangat lepas memenuhi ruangan butik itu.
Marco yang berdiri di samping sofa, hampir saja menjatuhkan tablet di tangannya. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka.
Selama menjadi asisten pribadi, ia belum pernah mendengar Dominic tertawa seperti itu. Biasanya, pria itu hanya tersenyum tipis yang penuh ancaman atau seringai sinis.
Tapi kali ini, Dominic benar-benar tertawa karena kepolosan seorang gadis kecil.
Keyla justru cemberut. Matanya berkaca-kaca karena merasa sedang dipermalukan. "Kenapa Tuan tertawa? Aku serius! Tabunganku tidak sampai satu persen dari harga kancing gaun itu!"
Dominic berdehem pelan, meski sisa-sisa geli masih terlihat di sudut matanya. Ia menatap Keyla yang tampak ingin menangis sekaligus kesal.
"Kau pikir untuk apa kau menyandang nama belakangku sekarang? Untuk menghitung kembalian uang belanja?" tanyanya.
"Nona, tolong dengarkan saya," sahut Marco, mencoba menengahi sambil menahan senyum melihat wajah panik Keyla. "Anda tidak perlu khawatir soal uang. Jangankan satu atau dua gaun, jika anda mau, tuan Dominic bisa membeli butik ini beserta seluruh pegawainya hari ini juga hanya untuk anda."
Keyla menganga, matanya mengerjap tidak percaya. "Apa kau bercanda? Membeli butiknya?"
"Tentu saya tidak bercanda, Nona. Kekayaan tuan Dom itu kalau ditumpuk bisa menutupi—"
"Cukup, Marco! Kau mulai melantur," potong Dominic sambil mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Marco diam. Ia kembali menatap Keyla yang masih berdiri kaku. "Pilih pakaian yang layak. Kau tidak mungkin bertemu orang tuaku dengan pakaian sampah yang kau pakai sekarang. Dan buang semua pakaian lama yang ada di pikiranmu itu."
Keyla masih ragu. "Tapi, Tuan..."
"Pergi sekarang, atau aku yang akan memilihkan gaun paling terbuka di toko ini untukmu," ancam Dominic dengan wajah tenang.
Mendengar itu, Keyla langsung bergidik. Ia membayangkan gaun-gaun tipis yang sering dipakai Clara di majalah.
Dengan terburu-buru, Keyla akhirnya mengikuti pelayan butik yang sudah menunggu dengan senyum ramah.
"Baik, baik! Aku pilih sendiri!" gumam Keyla sambil melangkah pergi.
Setelah Keyla menjauh, Marco mendekat ke arah Dominic. "Tuan, anda terlihat sangat menikmati moment ini. Apakah nona Clara tahu anda sedang berbelanja dengan istri baru?"
Wajah Dominic kembali mengeras, aura dinginnya kembali menyelimuti ruangan. "Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, Marco. Jika dia ingin aku adil, dia harusnya memberikan apa yang menjadi hakku. Tapi karena dia menolak, maka gadis itu yang akan menikmatinya."
"Tapi Tuan, nona Keyla itu terlihat masih sangat polos. Dia bahkan takut menghabiskan uang anda. Sangat berbeda dengan nona Clara yang bisa menghabiskan satu unit mobil sport dalam sekali belanja di Paris," ucap Marco.
Dominic terdiam sembari menatap ke arah ruang ganti tempat Keyla berada. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Ia tahu ia mengkhianati komitmennya pada Clara, tapi melihat Keyla yang begitu jujur dan tidak tahu apa-apa justru membangkitkan insting protektif yang selama ini terpendam.
Tak lama kemudian, tirai ruang ganti terbuka. Keyla keluar dengan gaun sutra berwarna putih gading yang senada dengan warna kulitnya.
Rambutnya yang berantakan kini disanggul rapi oleh pelayan. Ia tampak seperti seorang putri yang tersesat, wajahnya bersemu merah karena malu.
"Bagaimana, apakah gaun ini cocok untukku?" tanya Keyla malu-malu.
Marco bersiul pelan. "Luar biasa. Tuan, sepertinya pilihan nona Keyla tidak buruk juga."
Dominic bangkit dari sofanya, melangkah mendekat ke arah Keyla. Ia berdiri tepat di depan gadis itu, membuat Keyla harus mendongak untuk menatap wajah suaminya.
Dominic merapikan sedikit kerah gaun Keyla, jemarinya yang hangat bersentuhan dengan kulit leher Keyla yang halus.
"Cantik," bisik Dominic singkat, namun cukup membuat jantung Keyla berdegup tidak keruan.
"Terima kasih, Tuan..."
"Panggil aku Dominic. Atau setidaknya, berhenti memanggilku seolah aku ini bosmu," perintah Dominic. Ia berbalik ke arah kasir tanpa menunggu jawaban Keyla.
"Marco, urus semuanya. Kita berangkat ke kediaman utama sekarang. Orangtuaku pasti sudah tidak sabar melihat kejutan yang kubawa."
Marco mengangguk sigap, namun ia sempat berbisik pada Keyla saat Dominic sudah berjalan jauh. "Nona, saran saya, tarik napas dalam-dalam. Karena setelah ini, anda bukan hanya berhadapan dengan harga gaun yang mahal, tapi dengan mertua.
Keyla menelan ludah. "Apakah mereka menakutkan?"
Marco hanya memberikan jempol dan seringai misterius. "Lebih menakutkan dari hantu klab malam ibu tirimu, Nona. Ayo, jangan biarkan singa kita menunggu terlalu lama!"
Keyla menarik napas panjang, meremas jemarinya sendiri. Ia tidak tahu apa yang menantinya di rumah besar itu.
*
*
"Apa Ibu bilang?! Menikah? Dengan siapa Dominic akan menikah?!" Pekik Clara histeris. Ponsel di genggamannya hampir saja terlepas saat ia mendengar suara ibunya di seberang sana.
"Kau pasti akan sangat terkejut, Sayang. Dominic... dia akan menikahi Keyla, adik tirimu sendiri."
Duar!
Bak tersambar petir di siang bolong, jantung Clara seolah berhenti berdetak. Dunia yang ia bangun dengan keangkuhan mendadak runtuh.
"Keyla? Bagaimana bisa? Bukankah selama ini dia dikurung di rumah belakang tanpa boleh bertemu siapa pun?!"
"Ibu juga tidak tahu bagaimana mereka bertemu! Apa Dominic sudah menghubungimu?" tanya Siska dengan nada cemas.
"Belum, Bu. Argh, Dom sialan! Dia mengabaikan aku!"
"Sebaiknya, kau langsung menuju rumah mertuamu sekarang. Katakan semuanya pada mereka agar Dominic segera menceraikan jala-ng kecil itu sebelum terlambat!" perintah Siska sengaja memprovokasi.
Clara menyeringai, wajah cantiknya berubah menyeramkan. "Baiklah. Aku akan ke sana."
Clara yakin mertuanya yang sangat menjunjung tinggi martabat tidak akan sudi menerima gadis pemuas nafsu dari klab malam sebagai menantu.
Kali ini, Clara bersumpah akan menghancurkan Keyla dan mempermalukannya di depan seluruh keluarga besar Dominic.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃