NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Kalimat itu sederhana. Namun bagi Dira, rasanya begitu sedih. Ia tahu... Yang ingin didengar Adrian adalah kisah Dira sebagai pengusaha muda. Bukan kisah gadis jalanan yang pernah ia selamatkan bertahun-tahun lalu. Dira menahan semua gejolak di dalam dadanya. Ia hanya membalas dengan senyum hangat. "Semoga." Satu kata itu terdengar pelan, tetapi menyimpan begitu banyak harapan.

Adrian membalas senyumnya. "Sampai jumpa, Dira."

"Sampai jumpa, Mas Adrian."nMereka berjalan ke arah mobil masing-masing.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Adrian sempat menoleh ke belakang. Dilihatnya Dira sedang merapikan kantong belanjaannya sambil tersenyum kecil seorang diri. Tanpa sadar, Adrian ikut tersenyum. Ada sesuatu pada diri perempuan itu yang selalu membuatnya ingin mengenalnya lebih jauh.

Sementara di dalam mobilnya, Dira menggenggam erat setir sebelum menyalakan mesin. Ia menutup mata sejenak. Ia senang namun juga terbebani. Adrian ingin tahu tentang hidupnya. Bagian yang mana? Lalu kalau sudah yaji, apakah Adrian bisa menerima masa lalu itu?

Mobil Dira melaju meninggalkan pusat perbelanjaan. Di sebuah persimpangan, ia menyalakan lampu sein ke arah jalan yang mengarah ke apartemennya. Rencananya sederhana. Pulang. Beristirahat sebentar. Lalu kembali bekerja hingga larut malam. Namun entah mengapa, bayangan wajah Adrian terus memenuhi pikirannya. Ucapan lelaki itu beberapa menit lalu masih terngiang jelas. "Semoga kita bisa bertemu lagi. Aku masih ingin mendengar banyak cerita tentangmu."

Dira mengembuskan napas pelan. Tanpa sadar, senyum kecil kembali menghiasi wajahnya. "Aneh..." gumamnya pelan. "Aku sudah bertemu dengannya berkali-kali. Tapi kenapa setiap berpisah rasanya tetap seperti ini?"

Saat lampu lalu lintas berubah merah, mobilnya berhenti. Jemarinya mengetuk pelan setir. Pulang ke apartemen mendadak terasa membosankan. Ia justru ingin berbicara dengan seseorang. Seseorang yang selama ini selalu menjadi tempatnya meminta pendapat.

Tanpa berpikir panjang, Dira memutar setirnya. Lampu sein berganti arah. Mobil mewah itu berbelok, meninggalkan jalur menuju apartemen. Tujuannya berubah. Gedung perkantoran tempat Beri bekerja.

Empat puluh menit kemudian, mobil Dira memasuki area parkir sebuah gedung bertingkat. Ia turun sambil membawa tas kerjanya. Beberapa karyawan yang mengenalnya langsung menyapa dengan ramah. "Selamat sore, Bu Dira."

"Sore." Dira membalas sambil tersenyum.

Ia menaiki lift menuju lantai tempat kantor konsultan bisnis milik Beri berada. Sesampainya di depan ruang kerja, sekretaris Beri langsung berdiri. "Bu Dira?"

"Iya."

"Pak Beri sedang senggang. Silakan langsung masuk."

Dira mengangguk pelan. Tanpa mengetuk terlalu keras, ia membuka pintu. Beri yang sedang membaca laporan mengangkat kepalanya. Melihat siapa yang datang, senyumnya langsung mengembang. "Eh... Calon ratu tender datang lagi."

Dira tertawa kecil. "Aku boleh mengganggu?"

Beri menutup map di hadapannya. "Untuk kamu...pintuku selalu terbuka."

Dira mengembuskan napas lega. Entah mengapa, setiap kali pikirannya penuh, tempat pertama yang selalu ingin ia datangi adalah ruangan itu. Ruangan sederhana milik seseorang yang selama bertahun-tahun telah menjadi mentor, pelindung, sekaligus sahabat terbaik dalam perjalanan hidupnya.

Dira menjatuhkan tubuhnya ke sofa di ruang kerja Beri. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tampak benar-benar kehilangan semangat. Beri yang mengenalnya bertahun-tahun langsung menyadari perubahan itu. Ia menutup laptopnya. "Ada apa?"

Dira memandangi langit-langit ruangan beberapa detik. "Aku baru bertemu Adrian."

Beri tersenyum kecil. "Lalu?"

"Hari ini kami minum kopi lagi." Dira mengembuskan napas panjang. "Dia bilang...dia merasa pernah bertemu denganku."

"Lalu?"

"Dia mengira aku pernah menjadi relawan di yayasan." Ruangan mendadak sunyi. Dira menundukkan wajahnya. "Sepertinya....dia punya bayangan yang sangat indah tentang siapa diriku. Dia bilang keluargaku pasti berhasil mendidikku menjadi perempuan yang baik." Suara Dira semakin lirih. "Padahal... Aku bukan perempuan yang dia bayangkan. Aku hanyalah gadis jalanan yang pernah hampir dijual ayahnya. Kalau suatu hari dia tahu siapa aku sebenarnya... Apa dia masih akan memandangku seperti sekarang?"

Beri memandang Dira dalam diam. Hatinya tiba-tiba sesak. Setelah beberapa saat terdiam, Beri bertanya pelan, "Dir... Kamu suka Adrian?"

"Hmm," jawab Dira, sambil menutup wajahnya yang memerah

"Kenapa kamu menyukai Adrian?"

Dira mengangkat wajahnya. Tatapannya kosong, seolah sedang melihat masa lalu. "Karena dia menolongku. Saat semua orang membiarkanku. Saat aku merasa hidupku sudah selesai. Dia datang. Kalau malam itu Mas Adrian tidak muncul...mungkin aku sudah tidak hidup seperti sekarang."

Beri tersenyum hambar. "Begitu." Ia mengangguk pelan. "Lalu...berarti kamu akan menyukai setiap laki-laki yang menolongmu?"

Dira langsung menggeleng. "Tentu tidak."

Beri menatapnya. "Aku juga sudah berkali-kali menolongmu. Mendampingimu membangun usaha. Menyelamatkanmu dari ayahmu. Menjadi tamengmu. Kalau begitu...berarti kamu juga bisa mencintaiku?"

Kalimat itu membuat Dira membelalakkan mata. "Hah?" Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil. "Tentu saja tidak." Jawabannya begitu cepat. Tanpa ragu sedikit pun.

Beri tersenyum tipis. Meski jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang terasa runtuh. "Kenapa?" tanyanya, tetap berusaha terdengar santai.

Dira tersenyum hangat. "Karena Kakak itu tamengku. Tempatku pulang kalau ada masalah. Orang yang paling kupercaya. Tapi...bukan laki-laki yang kulihat sebagai pasangan. Dan lagi..." Dira menatap keluar jendela. "Aku sudah menyukai satu orang sejak awal. Sampai akhir pun rasanya akan tetap begitu."

Ruangan kembali sunyi. Beri tertawa pelan. Namun kali ini tawanya terdengar pahit. "Tak adil."

Dira mengerutkan dahinya. "Apanya yang tidak adil?"

"Adrian menolongmu sekali. Aku berkali-kali. Yang kamu cintai tetap dia."

Dira terkikik geli. "Iss... Kakak ini lucu." Ia menyenggol pelan lengan Beri. "Lagian aneh kalau Kakak menyukaiku."

Beri menoleh. "Kenapa aneh?"

"Soalnya..." Dira tertawa lagi. "...kita ini seperti kakak adik. Mana ada kakak suka sama adiknya, atau adik suka sama kakaknya." Lalu ia menatap Beri sambil menyipitkan mata. "Ei... Apa jangan-jangan Kakak suka sama aku?"

Ruangan mendadak hening. Jantung Beri berdegup lebih cepat. Andai saja Dira tahu... Bahwa pertanyaan itu bukan sekadar candaan. Ia memandang wajah Dira yang menunggu jawaban dengan ekspresi polos. Lalu, seperti biasa, ia memilih menyembunyikan semuanya. Beri tersenyum kecil. Senyum yang menutupi rasa getir di dadanya. "Kamu ini....kebanyakan membaca novel."

Dira langsung tertawa puas. "Nah, kan! Aku juga yakin begitu. Kakak mana mungkin suka sama aku."

Beri ikut tertawa. Namun hanya ia yang tahu... Tawa itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada diam. Sementara Dira sama sekali tidak menyadari bahwa lelaki yang selama ini ia sebut sebagai tamengnya, diam-diam telah menyerahkan seluruh hatinya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Dira masih terus bercerita. Tentang pertemuannya dengan Adrian. Tentang obrolan mereka di kafe. Tentang bagaimana Adrian menganggap dirinya berasal dari keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Sesekali Dira tersenyum sendiri saat mengingat setiap ucapan Adrian.

1
...
ya sudah lh,,
...
sumpah cerita nya bikin Mut3rmuter.. tapi penasaran. karena emang dr awal aku mau nya beri yg nikah sama dira. karena selama ini beri yg bnyk berjuang untuk dira
...
dan setelah berjuang demi restu mertuamu sendiri dira,, kamu baru nyesel. pengen gue tendang aja😭😭😭
...
kenapa makin kesini cerita nya malah makin ngawur.. harus nya sebelum nikah sama Adrian dira nyesal nya. 😭😭😭 kamu ini jahat thor.. bkin cerita muter² obok² Hati mereka aja.
...
ibu egois,, ini cuma prank kan bu. kamu mau uji cinta Adrian dan dira kan😭😭😭
...
menghidupi ayah dan keluarga,,/Slight/ bukan kh ayah nya sebatang kara, cuma punya anak dira aja kn
...
dira😭😭😭😭😭
...
beri😭😭😭
...
knp sekarang sebutannya beliau thor.. kesan nya kayak udah tua
...
hati mu terbuat dari apa sih ber🥲🥲🥲
...
gimana tuh komentar ibu nya Adrian,, msh kh memandang kasta🤣🤣
...
nahh lohh,, beri benerkah beri?? kmu punya rasa sama dira
...
egois gak sih kalau adrian yg selalu ada di hati dira, pdhl dr awal dira berjuang beri lah yang selama ini jd tameng untuk dira
...
nah kan beri lagi,, 🥲🥲 padahal beri yang selalu ada di sisi dira😭😭 egois gak sih klu dira sama beri aja😭😭
...
bingung dengan beri, beri ini tipe orang seperti apa. dulu aku kira dia menyukai dira, tp makin kesini kelihatannya beri hanya menganggap dira seperti adik nya sendiri.
...
malah sekarang beri lh yg selalu berada di sisi dira..
...
Adrian kapan kembali?? apakah Adrian tahu usaha dira selama ini karena dia
...
aku kira Adrian yang datang, ternyata beri
...
sejauh ini bagus.. kata-kata nya bagus,, typo gak ada. teruskan
Hara Hari
sepertinya Beri suka Dira🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!