Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Suara lonceng panjang yang menandakan berakhirnya jam pelajaran reguler bergema memantul di dinding-dinding lorong Akademi Kuoh.
Sinar matahari sore yang mulai condong ke arah barat memancarkan warna jingga keemasan, menembus kaca-kaca jendela dan mencetak bayangan panjang para siswa yang mulai berhamburan keluar dari kelas masing-masing.
Di tengah keramaian dan suara langkah kaki yang saling bersahutan, sesosok pemuda bergerak dengan sangat tidak wajar. Yudi merapatkan punggungnya ke dinding beton di sudut koridor lantai dua.
Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia mengintip perlahan dari balik pilar, matanya memindai gerombolan siswa laki-laki yang berpatroli di ujung tangga.
Di barisan paling depan, Matsuda dan Motohama berdiri dengan wajah merah padam, memegang sapu dan penggaris kayu panjang layaknya senjata tajam, memimpin komplotan siswa yang masih menyimpan dendam atas insiden bergandengan tangan tadi pagi.
Melihat celah kecil saat Motohama menoleh ke arah yang berlawanan, Yudi langsung merendahkan postur tubuhnya. Ia berlari mengendap-endap tanpa menimbulkan suara langkah kaki, memanfaatkan loker-loker besi sebagai tempat berlindung.
Keringat membasahi dahi dan kerah seragamnya. Entah bagaimana, melalui serangkaian manuver mengelak, merunduk di balik tempat sampah, dan menyelinap melalui ruang klub yang kosong, Yudi akhirnya berhasil lolos dari kepungan mematikan tersebut tanpa tertangkap.
Yudi menghela napas panjang saat ia akhirnya melangkah keluar dari gedung utama menuju area terbuka. Angin sore yang sejuk berhembus menerpa wajahnya, mengeringkan sedikit keringat di pelipisnya.
Ia berjalan gontai menuju area lapangan basket outdoor. Suara pantulan bola karet dan decitan sepatu olahraga terdengar berirama dari kejauhan.
Tepat saat ia melewati pinggiran lapangan yang dibatasi oleh pagar kawat tinggi, Yudi berpapasan dengan sesosok gadis bertubuh mungil yang sedang berjalan dari arah berlawanan.
Rambut cokelatnya yang diikat model twintail bergoyang seirama dengan langkah kakinya. Di pelukannya, terdapat setumpuk map dokumen yang cukup tebal.
"Ah! Yudi-senpai!" seru Nimura Ruruko. Mata beriris hijau emerald miliknya melebar dengan tatapan lega. Ia mempercepat langkahnya menghampiri Yudi.
Yudi menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Ia mengusap bagian belakang lehernya yang terasa kaku. Keduanya kemudian berjalan berdampingan melintasi halaman belakang sekolah. Tujuan mereka saat ini hanya satu: kembali ke ruang klub OSIS di sayap barat gedung.
"Kenapa kita harus kumpul-kumpul lagi di jam pulang sekolah begini?" keluh Yudi dengan nada malas. Ia menatap langit jingga di atasnya, tubuhnya sedikit membungkuk karena kelelahan setelah sesi pelariannya.
"Bukannya rapat evaluasinya sudah selesai tadi siang?" Nimura mengeratkan pelukannya pada tumpukan map di dadanya. Ia menoleh ke arah Yudi sambil terus melangkah. "Saat ini kita di OSIS sedang sangat sibuk mempersiapkan draft awal untuk event festival budaya sekolah yang akan datang, Senpai. Pada periode waktu seperti ini, menurut instruksi dari Sona Kaichou, adalah waktu paling sibuk bagi seluruh anggota."
Nimura mengangkat salah satu map sedikit untuk menunjukkannya. "Kita tidak hanya sekadar mengatur jadwal acara dan perizinan ruang kelas, tapi juga harus memeriksa, menyusun, dan mengirimkan belasan proposal ke berbagai pihak untuk penambahan biaya alokasi dana operasional kegiatan. Semua dokumen ini harus segera ditinjau dan ditandatangani oleh Kaichou sore ini juga."
Yudi mengangkat tangan kanannya, memegang dagunya sendiri dengan gestur berpikir. Ia menatap map-map tersebut selama beberapa detik, mencerna informasi yang baru saja diberikan oleh adik kelasnya itu.
"Hn... jadi begitu sistem kerjanya. Pantas saja ruangan itu selalu dipenuhi oleh tumpukan kertas," gumam Yudi pelan, kepalanya mengangguk-angguk kecil mengerti beban kerja administrasi yang ditanggung oleh kelompok Sona. Ia kemudian menurunkan tangannya dan menatap wajah Nimura dari samping. Raut wajah malasnya tergantikan oleh sorot keingintahuan.
"Omong-omong," Yudi memutar posisi berjalannya sedikit agar lebih menghadap Nimura. "Kapan tepatnya kau diangkat menjadi bagian dari keluarga Sitri, Nimura?" tanyanya dengan nada antusias.
Langkah Nimura sedikit melambat. "Eh... etto..." Gadis mungil itu menundukkan wajahnya, menatap ujung sepatunya yang melangkah secara ritmis. Rona merah tipis muncul di pipinya.
"Kalau tidak salah, aku baru resmi bergabung dengan kelompok ini sekitar tiga bulan yang lalu."
Nimura memiringkan kepalanya, matanya menyipit seolah sedang berusaha menggali ingatan yang terkubur dalam.
"Detail spesifik mengenai alasan kenapa aku bisa sampai berada di ambang kematian dan akhirnya bergabung juga... sejujurnya aku kurang begitu ingat sampai detik ini. Ingatanku sangat kabur. Tapi, satu-satunya hal terakhir yang paling kuingat dengan sangat jelas dari malam itu adalah... sebuah cahaya berwarna merah keunguan yang sangat terang dan menyilaukan, yang menerangi langsung tepat di depan mataku sebelum kesadaranku benar-benar memudar."
Yudi mendengarkan penjelasan itu dalam diam. Matanya menatap lurus ke depan, menganalisis kepingan informasi tersebut.
"Begitu ya..." gumam Yudi lirih. "Jadi jeda waktu rekrutmen antara aku dan kau adalah sekitar tiga bulan."
Yudi kembali menatap Nimura. "Eh iya, aku penasaran tentang satu hal lagi. Tugas rutin kita sebagai anggota peerage selain mengurus tumpukan kertas administrasi di ruang OSIS itu apa saja? Maksudku, sebagai pelayan langsung dari Kaichou, apakah kita diwajibkan untuk mengurus segala keperluan pribadinya seperti membuatkan teh setiap saat, membawakan tasnya, atau hal-hal semacam itu?" tanya Yudi, mengangkat kedua tangannya membuat gestur melayani.
Mendengar pertanyaan polos tersebut, Nimura terkikik geli. "Hehehe... tentu saja tidak begitu, Senpai." Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Sebagai anggota dari keluarga Sitri, kita sebenarnya diberikan kebebasan yang sangat luas dan tidak diharuskan untuk melayani Sona-sama sampai sebegitunya secara fisik. Fokus tugas utama kita di luar urusan sekolah palingan adalah mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas lapangan, seperti pemenuhan kontrak panggilan dengan manusia."
"Oh, sistem kontrak ya..." Yudi memutar bola matanya ke atas, mengingat penjelasan singkat mengenai lembaran sihir pemanggilan. Ia kembali menatap Nimura. "Kamu sendiri sudah berapa banyak tugas kontrak yang berhasil diselesaikan selama tiga bulan ini?"
"Etto..." Nimura menghentikan langkahnya sejenak. Ia memindahkan seluruh map ke lengan kirinya, lalu menggunakan jari-jari tangan kanannya untuk menghitung satu per satu.
Mulutnya berkomat-kamit menghitung angka tanpa suara. "Satu... empat... sepuluh... ah! Selama tiga bulan ini, aku sudah berhasil mengerjakan sekitar lima belas tugas kontrak pemanggilan dengan lancar!"
Nimura tersenyum lebar, memancarkan aura kebanggaan dari wajahnya. "Untungnya lagi, tugas-tugas yang diminta oleh para klienku selama ini sangatlah mudah dan tidak melibatkan hal-hal berbahaya. Kebanyakan dari mereka hanya memintaku untuk melakukan cosplay mengenakan pakaian tertentu... seperti berdandan menjadi karakter imouto (adik perempuan) fiksi dari anime, lalu menemani mereka menonton, begitu."
Langkah kaki Yudi terhenti seketika. Tubuhnya membeku di tempat. Matanya membelalak lebar, urat-urat di lehernya menonjol.
"APA?!"
Teriakan Yudi meledak dengan suara melengking yang sangat memekakkan telinga, bergema keras memantul di dinding-dinding koridor dan membuat beberapa burung merpati yang sedang bertengger di atas pohon halaman sekolah terbang berhamburan.
Beberapa siswa yang berjalan jauh di depan mereka sampai menoleh kaget mencari sumber suara. Nimura tersentak kaget. Ia buru-buru mengangkat tangan kanannya yang bebas untuk menutup satu telinganya, sementara bahunya bergidik. Matanya mengerjap-ngerjap menatap kakak kelasnya yang tiba-tiba bereaksi kelewat batas tersebut.
"Ugh... telingaku sakit sekali," keluh Nimura dengan alis berkerut, mengusap-usap telinganya. "Yudi-senpai, kenapa kau tiba-tiba berteriak sekencang itu di lorong?!"
Yudi tersadar dari keterkejutannya. Ia segera merendahkan postur tubuhnya, melambaikan kedua tangannya di udara dengan panik. "Ah, maaf! Maafkan aku! Aku refleks!" ucap Yudi dengan napas memburu. Namun, raut wajahnya kembali berubah menjadi sangat serius. Matanya memicing tajam ke arah depan.
"Tapi... tapi siapa bajingan laki-laki kurang ajar yang berani menyuruhmu berpakaian seperti itu, hah?!" geram Yudi, suaranya sedikit bergetar karena campuran emosi dan insting protektif yang meledak tiba-tiba. Ia melangkah maju mendekati Nimura.
"Beritahukan saja nama dan alamatnya padaku sekarang juga. Beraninya orang itu menyuruh Kouhai-ku yang sangat polos dan imut ini untuk berpakaian yang tidak senonoh! Biar aku sendiri yang pergi ke sana dan memberinya pelajaran fisik yang tidak akan dia lupakan!"
Sambil mengucapkan deklarasi pelindung tersebut, Yudi dengan cepat menggulung kedua lengan kemeja seragamnya hingga ke siku. Ia mengangkat kedua lengannya ke atas, mengepalkan telapak tangannya dengan kuat, lalu menekuk sikunya untuk memamerkan otot-otot lengannya (bicep) dengan gaya binaragawan di hadapan Nimura.
Namun, alih-alih terlihat mengintimidasi, lengan yang dipamerkan oleh Yudi itu sama sekali tidak memiliki definisi otot yang berarti. Lengannya terlihat sangat kurus, rata, dan lurus layaknya sebatang lidi kayu yang bisa patah hanya dengan satu sentilan.
Melihat tingkah laku hiperbolis sekaligus kontras yang sangat lucu antara ucapan berani dan bentuk fisik kakak kelasnya tersebut, pertahanan Nimura runtuh. Ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan kirinya.
"Pfftt... hahaha!" Nimura terkekeh pelan. Tubuhnya sedikit bergetar menahan tawa yang terus keluar. Ia memandangi lengan kurus Yudi dengan mata berair karena geli. Ketakutannya akibat teriakan tadi menguap sepenuhnya.
Yudi menurunkan lengannya, wajahnya sedikit memerah karena malu menyadari kelemahannya sendiri, namun ia tetap mempertahankan tatapan seriusnya.
"Kau ini begitu bersemangat dan gampang terbawa emosi ya, Senpai," ucap Nimura setelah berhasil meredakan tawanya. Ia menurunkan tangannya dari mulut, mengukir senyuman yang sangat menenangkan. "Tapi tolong jangan khawatir sampai sebegitunya. Klien-klien yang menyuruhku melakukan cosplay itu semuanya adalah perempuan. Mereka hanya para penggemar anime biasa."
Nimura kembali melangkahkan kakinya perlahan, diikuti oleh Yudi di sampingnya. "Kalaupun suatu saat nanti ada klien laki-laki yang memanggilku, aku biasanya akan langsung menatap lurus ke mata mereka dan memancarkan sedikit niat membunuh dari aura iblisku. Begitu mereka merasakannya, mereka akan langsung ketakutan, pucat pasi, dan tidak akan berani memikirkan hal yang macam-macam. Ujung-ujungnya, mereka hanya akan memintaku untuk duduk diam dan menemani mereka minum teh saja sampai durasi kontraknya habis."
Mendengar penjelasan yang rasional dan menenangkan itu, otot-otot bahu Yudi yang tadinya menegang perlahan mengendur. Ia menghembuskan napas lega yang cukup panjang, mengusap dadanya pelan. Kekhawatirannya sebagai seorang senior perlahan surut.