"Kenapa tidak kau katakan jika cinta itu mulai memudar. kenapa tidak jujur jika nama ku di hatimu telah digantikan olehnya, Kenapa kau terus berpura-pura menerima ku di hidupmu, kita bisa selesaikan semuanya, kita bisa akhiri kisah cinta kita, kenapa kamu justru menyakiti perasaan ku teramat dalam"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisha.Gw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu mertua dan ipar
Inayah POV
Sudah hampir satu minggu Zidan pergi tidak ada kabar, Zidan bilang padahal hanya tiga hari, tapi ini sudah hari ke tujuh, tidak pernah sekalipun Zidan menelpon setelah malam itu.
Mengirim pesan pun tidak pernah, aku ingin sekali mencarinya ke kantor, tapi Zidan pernah berpesan untuk tidak pernah datang ke kantornya, Zidan hanya takut aku berterima ibu mertua atau ipar ku, mereka tidak menyukai ku. Zidan takut mereka berbuat kasar seperti terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumahnya waktu itu.
Sampai detik ini, hubungan ku dengan keluarga Zidan masih tetap saja, renggang. Zidan juga tidak pernah berusaha untuk memperbaikinya, aku sebagai istri hanya bisa menurut saja apa kata dia.
"kamu kemana si, Zi. Aku sama Aska kangen. Ko nggak pernah kasih kabar" Aku tidak tau harus ke mana mencari Zidan. Di tengah rasa terpuruk ku itu, aku mendengar suara mobil dari depan rumah kami, baru juga aku ingin berdiri, suara teriakan Aska yang memanggil-manggil papahnya terdengar mendekat.
"mama papa pulang" teriak Aska, terlihat sekali mata bulat putra ku berbinar indah.
"iya sayang, ayo kita buka pintu untuk papa" tapi saat pintu terbuka, aku tidak mengenali mobil yang masuk ke pekarangan rumah, mobil siapa itu, yang pasti bukan mobil Zidan. Tapi Aska tetap berlari menghampiri mobil itu, ia masih mengira mobil itu milik papanya.
"Aska, itu bukan papah nak" aku berteriak, tapi nihil, pemilik mobil itu sudah keluar.
"mamah" seketika aku ternganga, yang datang ternyata mamahnya Zidan dengan ipar ku, Aska yang masih berdiri menghalangi jalan mereka tersungkur kebelakang karena ibu mertuaku mendorong dengan tega tubuh Aska.
"Aska" aku memekik kaget, aku berlari cepat menggendong putraku yang wajahnya sudah berubah takut, Aska memeluk erat leherku, dia begitu ketakutan dengan nenenya sendiri.
Sakit sekali hatiku melihat Aska di perlakukan kasar oleh neneknya sendiri. Aku tidak tau alasan kebencian ibu mertuaku pada cucunya ini, anak dari putra nya sendiri, apa mungkin karena ia membenci ku, jadi anak ku pun menerima imbasnya, tapi kan Aska cucu mereka, darah daging mereka, di dalam darah Aska, mengalir darah Zidan, darah mereka juga.
"maaf mah " aku meminta maaf, tidak tau juga atas dasar kesalahan apa aku meminta maaf, yang jelas aku harus terus meminta maaf agar permasalahan tidak berlanjut lebih panjang lagi. Tanpa mengatakan sepatah katapun, ibu mertua dan ipar ku berjalan masuk kedalam rumah, aku mengekor di belakang mereka.
Mereka tidak duduk, mereka mengelilingi seisi rumah ku, entah apa yang ingin mereka lakukan, tiba-tiba datang, setelah mereka puas, barulah ibu mertuaku duduk.
"Ka, mah, mau Inayah buatkan sesuatu?" aku mencoba menawarkan pada mereka, karena terakhir kali mereka datang, itu waktu aku dan Zidan masih tinggal di apartemen, semua makanan dan minuman yang aku buat sendiri hanya berkahir di bak sampah, bukan aku yang membuangnya karena di abaikan, tapi mereka sendiri.
"nggak SUDIH! gue minum atau makan dari tangan kampungan kaya Lo" ku teguk Saliva ku susah payah, kasar sekali ucapan ipar ku ini.
"Jangan dekat-dekat dengan saya!" Tegur Praya, dengan sorot mata tidak bersahabat sekali menatap anak ku yang sedari tadi hanya duduk di atas pangkuanku seperti koala dengan wajah di sembunyikan di dada.
"mamah, Aska takut" bisik Aska yang suaranya begitu lirih.
"nggak papa nak, itu nenek sama tante kamu"
"heh! Inayah, saya nggak pernah sekalipun mengakui anak itu sebagai cucu saya, begitu juga dengan anak saya, anak saya, Zidan, tidak pernah sekalipun mengakui anak itu sebagai putranya" ku gigit bibir bawah ku menahan sesak yang teramat menyiksa di dalam hati. Kenapa mereka sungguh tega mengatakan hal itu, kenapa mereka dengan tega menyebut kan hal itu di depan anak ku. Mereka memang pernah bilang, kalau mereka tidak pernah mengakui anak ku, aku sama sekali tidak tau, kenapa mereka setega itu, dan atas dasar apa mereka pun tidak mengakui jika anak ku ini anak Zidan, suamiku, apa mereka menuduh ku hamil dengan pria lain, ya Allah, serendah itukah aku di hadapan orang-orang kaya seperti mereka.
"Mah, sebentar ya, Inayah bawa Aska kekamar dulu" ibu mertuaku memutar matanya malas, sedangkan ipar ku sama sekali tidak memberikan respon, ipar ku hanya sibuk tertawa melihat layar ponselnya.
Aku bawa Aska dulu masuk kedalam kamarnya, aku tidak ingin Aska mendengar lebih banyak lagi hinaan yang ibu dan ipar ku lontarkan pada mamahnya, aku takut Aska menjadi lebih takut pada keluarganya sendiri.
"Aska, di sini dulu ya sayang, mama mau temui nene sama tante, janji sama mama jangan keluar dulu, ya" ku coba membuat Aska memahami tanpa harus membuatnya bingung.
"iya mama, Aska juga takut ketemu nenek, nenek Dewi jahat sama Aska, nggak kaya nene Farah yang sayang Aska" ini yang aku yang aku takutkan, ku usap pucuk kepala anakku. Ingin sebenarnya memberi nasehat, tapi sepertinya waktunya belum tepat, aku harus kembali kebawah, takut ada hal penting yang ibu dan ipar ku ingin sampaikan.
"mamah kebawah dulu"
Aku kembali duduk di sofa, tangankan terus menggosok satu sama lain, aku gugup juga takut, tatapan kedua wanita di depan ku ini begitu tajam, tidak ada sedikitpun senyum yang mereka perlihatkan.
"langsung aja, saya cuman mau bilang, untuk lepaskan anak saya" seperti ada benda tajam yang mengenai tepat menusuk jantung ku, rasanya sakit sekali ya Allah, lagi-lagi mamahnya Zidan memintaku untuk melepaskan anaknya, di mana separuh hidupku sudah menyatu dengan Zidan.
Tak kuasa ku angkat wajah untuk menatap mereka, ku biarkan mereka berucap apapun yang mungkin akan lebih membuatku terluka lebih jauh lagi.
"Hentikan semua omong kosong ini, hentikan semua kepalsuan ini, lepaskan anak saya, biarkan anak saya hidup bahagia tanpa ada kamu dan anak sialan itu" ku remas kuat dress berwarna coklat yang ku kenakan. Anak ku di sebut sialan, tapi tak sepatah katapun mampu terucap dari mulut ku, ta sanggup aku marah di hadapan mereka yang derajatnya jauh di atas ku.
Mereka menganggap pernikahan ku dengan Zidan hanyalah omong kosong belaka, mereka anggap cinta ku dan Zidan tidak ada artinya, mereka bahkan menganggap anak ku hanyalah kesialan di hidup mereka. Denyutan di kepala ku kembali terasa.
"pergi lah jauh dari hidup Zidan, apa yang kamu mau, harta? saya akan berikan harta, uang, kekayaan untuk kamu, tapi saya mohon, pergilah menjauh dari hidup naka saya!" Bentakan itu membuat kepalaku semakin sakit, aku tidak kuasa untuk tidak mencengkram rambut yang tertutup dengan hijab instan, aku tidak tau lagi apa mereka bicarakan, semunya terdengar samar sekali di pendengaran.
Pandangan ku mulai mengabur, ku lihat mereka berdiri dari menjauh, terisa hanyalah teriakan Aska bersama dengan ambruknya tubuh ku kelantai.
author POV
Aska berlari menghampiri Inayah yang sudah terkapar di lantai yang dingin, Inayah kehilangan kesadarannya, semakin menjerit lah Aska melihat darah kental keluar melalui rongga hidung Inayah.
"mama bangun mama, bangun mama" Aska menjerit meminta mamanya membuka mata, anak kecil berumur empat tahun itu berlari keluar mendekati mobil sang nenek yang perlahan menjauh dari pekarangan rumahnya.
"Nenek, tolong mama Aska nenek, tolong mama Aska, tolong nene" tidak ada rasa iba sama sekali melihat tangisan sang cucu. Aska yang memohon dengan tangan kecil mengatup di depan dada, memohon agar dia orang dewasa itu sudih untuk menolong mamanya.
"Tolong, tolong mama Aska, tolong" pupus harapan Aska, mobil mewah milik Dewi sudah hilang di pandangan mata.
Aska kembali berlari masuk kedalam rumah, ia duduk di depan Inayah, mengarahkan kepala Inayah ke hadapannya, anak kecil itu terus menangis histeris, takut sekali melihat wajah sang mama yang sekarang di hiasi dengan darah. Aska menepuk-nepuk pipi Inayah, tapi sama sekali tidak ada respon. Aska sudah tidak menjerit lagi, tapi isakan memilukan masih terdengar menyesakan dada.
Aska bersihkan darah di wajah Inayah dengan tangan mungilnya, secara bersamaan Aska juga hapus air mata di wajahnya, sekarang darah Inayah yang mulai mengering turut menghiasi wajah polos Aska
Aska letakkan kepalanya di perut Inayah yang masih belum sadarkan diri, mata bulat Aska yang sama persis dengan mata Zidan tidak berkedip sama sekali. Aska dengar semua bentakan yang Dewi tujukan pada Inayah, Aska tidak mengerti apapun tapi Aska Ingat betul, setiap kalimat yang terucap dari mulut Dewi, apalagi saat Dewi menyebutnya anak sialan. Aska marah saat Dewi dan tantenya mengabaikan teriakannya saat memohon untuk menolong Mamahnya.
"Aska nggak Suka nene Dewi, Aska nggak suka tante Praya" teriak Aska dengan posisi yang masih sama
"mamah bangun.... Aska takut mah"