Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
Malam harinya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik meluncur dengan sangat tenang memasuki halaman gedung konvensi Jakarta Pusat yang sangat megah.
Pertemuan tahunan para pemegang saham Ernest Group malam ini menjadi panggung formal pertama di mana mereka harus menunjukkan stabilitas hubungan pernikahan mereka.
Nadine turun dari mobil dengan mengenakan gaun sutra hitam tanpa lengan yang memperlihatkan keanggunan kulit bahunya yang sangat bersih.
Meskipun ia sama sekali tidak peduli pada konsep romansa, ia memiliki dedikasi profesional yang sangat tinggi untuk tidak merusak reputasi investasi mereka di mata publik.
Kyle yang sudah berdiri di samping pintu mobil langsung menyodorkan lengan kanannya dengan gerakan yang sangat kaku namun elegan.
"Pegang lengan saya dengan erat, Nadine, karena puluhan kamera wartawan sedang menyoroti setiap gerak-gerik kita dari arah lobi."
"Ini adalah bagian dari akting resmi yang sudah dibayar, jadi saya harap Anda tidak merasa canggung dengan kedekatan formal ini."
Nadine menyambut lengan tersebut, melangkah berdampingan dengan Kyle memasuki ruang pesta yang sangat megah dengan kepala yang tegak penuh wibawa.
Aura dingin dan berkelas yang dipancarkan oleh pasangan muda itu seketika menjadi pusat perhatian dari seluruh tamu undangan yang hadir malam itu.
Di tengah kerumunan, seorang investor muda bernama Tuan Wijaya melangkah mendekat dengan segelas minuman di tangannya dan senyuman yang tampak sangat bersahabat.
"Selamat malam, Tuan Ernest, Nona Nadine, sungguh sebuah pemandangan yang luar biasa melihat kalian berdua tampil sangat serasi malam ini."
Tuan Wijaya menatap Nadine dengan pandangan mata yang terlalu lama dan penuh dengan kekaguman yang tidak disembunyikan, membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah drastis.
Kyle yang menyadari arah pandangan pria itu langsung mempererat cengkeramannya pada pinggang Nadine, menarik tubuh istrinya hingga menempel sempurna pada tubuh tegapnya.
"Istri saya tidak sedang mencari mitra bisnis baru malam ini, Tuan Wijaya, jadi silakan tawarkan proposal Anda kepada sekretaris saya besok pagi."
Nada suara Kyle yang sedingin es kutub utara seketika membungkam keramahan Tuan Wijaya hingga pria itu terpaksa mundur dengan senyuman yang sangat canggung.
Nadine mengernyitkan dahinya rapat-rapat, merasa tindakan posesif Kyle tadi sangat berlebihan dan berpotensi merusak hubungan kerja sama dengan investor potensial.
"Sikap kaku Anda tadi baru saja menghancurkan peluang investasi sebesar sepuluh miliar rupiah untuk proyek ekspansi kita bulan depan."
"Saya tidak membutuhkan uang dari seorang pria yang menatap istri saya seolah-olah dia adalah barang pajangan yang bisa ditawar dengan harga murah."
Kyle menatap Nadine dengan mata kelabunya yang berkilat tajam, memancarkan aura dominasi mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun dari siapa pun.
Nadine tertegun diam, merasa kebingungan dengan intensitas ketegangan yang mendadak melingkupi diri suaminya yang biasanya sangat cuek terhadap sekitar.
(Pria ini... apakah dia benar-benar sedang menunjukkan rasa cemburu yang nyata, atau ini hanya bagian dari totalitas akting posesifnya di depan publik?)
Sebelum Nadine sempat merumuskan jawaban yang logis, Kyle sudah menuntunnya kembali menuju ke arah lobi keluar dengan langkah kaki yang sangat cepat dan tegas.
Rangkulan tangan Kyle di pinggang Nadine terasa sangat erat dan tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi wanita itu untuk melarikan diri dari dekapannya.
Mereka berdua masuk kembali ke dalam mobil mewah dengan keheningan yang sangat kaku, membiarkan ketegangan yang belum mereda memenuhi kabin penumpang.
Sesampainya di dalam kamar sayap barat, Nadine langsung berbalik menghadap Kyle dengan kedua tangan yang bersedekap di dada, bersiap untuk melayangkan protes kerasnya.
"Tindakan posesif berlebih Anda di pesta tadi sudah sangat mengacaukan batas-batas profesionalitas kerja kita, Pak Kyle."
Kyle tidak menjawab, melainkan terus melangkah maju hingga tubuh tegapnya kembali menyudutkan Nadine pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Ia mencondongkan wajah tampannya hingga embusan napasnya terasa sangat nyata di permukaan bibir Nadine yang mulai bergetar halus.
"Saya tidak sedang berakting di depan Tuan Wijaya tadi, Nadine, dan saya harap Anda segera menyadari bahwa Anda adalah milik saya sepenuhnya."
Kyle menempelkan bibirnya perlahan pada kening Nadine, memberikan sebuah kecupan yang sangat hangat, lama, dan penuh dengan kepemilikan yang absolut sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan istrinya yang berdiri terpaku dengan jantung yang berdegup kencang tanpa kendali logika keuangan lagi.