NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian Baru di Puncak Tangga

Pelukan hangat di dekat jendela besar itu bertahan cukup lama, membiarkan detak jantung mereka berdua beresonansi dengan keheningan malam Bukit Permai. Adrian perlahan melonggarkan kuncian tangannya di pinggang Kirana, namun ia tidak menjauh.

Ibu jarinya mengusap lembut rahang tegas Kirana, menatap gadis pelayan itu dengan intensitas yang sanggup membuat wanita mana pun berlutut ketakutan—namun di hadapan Kirana, tatapan itu justru menjadi bahan bakar yang membakar obsesinya.

"Kau sangat pandai berbicara, Kirana," ucap Adrian, suaranya yang berat kini terdengar lebih santai, kehilangan sebagian besar nada dingin yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi musuh. "Tapi berdiri di dekatku berarti kau akan ikut terseret ke dalam pusaran bahaya yang bisa mengancam nyawamu. Apakah otak cerdasmu itu sudah memperhitungkan risikonya?"

Kirana terkekeh pelan, sebuah tawa riang yang renyah. Ia melepaskan tangan Adrian dari pinggangnya hanya untuk melangkah mundur satu jengkal, lalu melakukan gerakan membungkuk hormat khas pelayan dengan sangat anggun—namun matanya tetap menatap Adrian dengan binar nakal.

"Tentu saja, Tuan Muda Adrian yang penuh kewaspadaan," sahut Kirana, kembali memanggilnya dengan sebutan formal namun dengan nada yang menggoda.

"Menjadi target dari musuh-musuh Anda jauh lebih menarik daripada menjadi pelayan biasa yang hanya bertugas mengelap vas bunga setiap pagi. Lagipula, jika mereka mencoba menyentuh saya, bukankah singa pemilik rumah ini yang akan mencabik-cabik mereka terlebih dahulu?"

Adrian tidak bisa menahan kedutan kecil di sudut bibirnya. Kelancangan Kirana adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang berbahaya namun sangat ia butuhkan di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan.

"Mulai besok," Adrian berjalan kembali ke arah meja kerjanya, mengambil cangkir kopi jahe yang telah disiapkan Kirana lalu meminumnya dalam satu tegukan panjang, "Kau tidak lagi mengurusi dapur lantai dasar. Aku memindahkan posisi resmimu menjadi pelayan pribadi khusus yang hanya bertanggung jawab atas ruang kerja dan kamar istirahatku di lantai tiga. Ibu Maya akan mengatur kepindahan kamarmu ke paviliun sayap barat yang lebih dekat dengan tangga utama."

Kirana melebarkan senyumnya. Meskipun statusnya tetap seorang pelayan yang mengenakan apron, kenaikan posisi ini berarti ia kini memiliki akses mutlak ke lingkar dalam kekuasaan Arseto tanpa ada pelayan lain yang boleh mencampuri urusannya.

"Keputusan yang sangat bijaksana, Tuan Muda," ujar Kirana dengan nada manja. Ia berjalan mendekat untuk mengambil cangkir kosong dari tangan Adrian. "Saya berjanji akan menjadi pelayan yang sangat... patuh. Dan tentu saja, selalu manis saat mengantarkan kopi Anda."

"Keluar dari kamarku, Kirana. Sebelum aku berubah pikiran dan mengurungmu di paviliun belakang karena terlalu banyak bicara," ketus Adrian, memalingkan wajahnya ke arah layar komputer, mencoba menyembunyikan rona tipis yang muncul di lehernya.

Kirana membungkuk sekali lagi sebelum melangkah keluar kamar dengan langkah kaki yang ringan, tahu bahwa babak baru dalam hidupnya di kediaman ini baru saja resmi dimulai.

 

Keesokan paginya, suasana di lantai tiga kediaman Arseto terasa berbeda. Kirana tetap mengenakan seragam pelayan khasnya—gaun hitam dengan apron putih bersih yang membingkai tubuh proporsionalnya dengan sempurna—namun kini ada aura otoritas yang berbeda dari cara berjalan dan tatapan matanya yang bulat dan jeli.

Kamar barunya di paviliun sayap barat kini jauh lebih nyaman, dan yang paling penting, ia tidak perlu lagi mendengarkan gunjingan pelayan lantai dasar yang iri terhadap kedekatannya dengan sang majikan.

Tepat pukul delapan pagi, Kirana mendorong kereta makan perak masuk ke dalam ruang kerja Adrian. Di atasnya terdapat sarapan pagi dan teh chamomile hangat.

Tok, tok.

"Masuk."

Adrian sudah duduk rapi di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan kerah yang terbuka, tampak sedang membaca beberapa dokumen fisik bersama Hendra yang berdiri di samping meja.

Kirana menata piring sarapan dengan gerakan yang sangat anggun dan tanpa suara. Sifat teliti dan otaknya yang pintar langsung menyaring obrolan serius yang sedang berlangsung di antara kedua pria itu.

"Hancurnya Siberia Hitam menyisakan kekosongan kekuasaan yang kini mulai diperebutkan oleh geng-geng lokal di distrik selatan, Tuan Muda," lapor Hendra, dahinya berkerut dalam. "Jika kita tidak menempatkan orang kita di sana dengan cepat, distrik itu akan berubah menjadi medan perang baru yang mengganggu stabilitas pengiriman kita ke bandara."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!