Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 15: Aroma Sup di Dapur Arthur
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar nomor dua, membawa kehangatan baru yang mengusir sisa-sisa ketegangan malam sebelumnya.
Gisella terbangun tepat pukul enam pagi. Untuk pertama kalinya sejak dia bertransmigrasi ke tubuh ini, dia tidak merasakan sesak di dada atau kecemasan yang melumpuhkan.
Aturan baru yang ditandatanganinya bersama Adrian semalam—meski terkesan kaku seperti jurnal ilmiah—entah bagaimana justru memberikan rasa aman dan batasan yang jelas bagi posisinya di rumah ini.
Setelah mencuci muka dan mengganti piyamanya dengan gaun rumahan kasual berwarna krem dengan celemek linen berwarna cokelat muda, Gisella melangkah mantap menuju dapur utama.
Hari ini adalah hari pertama penerapan resmi Poin Pertama dari protokol mereka:
Manajemen Nutrisi dan Kesehatan.
Di dunia aslinya, sebagai seorang manajer humas yang super sibuk, memasak adalah bentuk meditasi terapeutik bagi Gisella setelah seharian menghadapi tekanan media.
Kini, dia ingin menggunakan keahlian itu tidak hanya untuk mempertahankan diri, tetapi juga untuk menepati janjinya dalam merawat kesehatan sang profesor yang rapuh di balik topeng kesempurnaannya.
Aroma gurih nan segar mulai memenuhi udara dapur kediaman Arthur setengah jam kemudian.
Di atas kompor, sebuah panci keramik besar sedang mengepulkan uap panas. Gisella sedang menyiapkan Sup Tomat Daging Sapi Cincang dengan Rempah Basil.
"Tomat kaya akan likopen yang baik untuk kesehatan kardiovaskular, dan sedikit bawang putih panggang untuk menurunkan tekanan darah,"
gumam Gisella pada dirinya sendiri sembari mengaduk sup tersebut dengan sendok kayu. Langkah kakinya bergerak ritmis dan efisien dari meja konter ke kompor, memperlihatkan keanggunan alami yang kini melekat kuat pada dirinya.
"Sret."
Suara langkah kaki yang tenang terdengar mendekat.
Gisella menoleh dan mendapati Adrian sudah berdiri di ambang pintu dapur.
Pria itu tampak segar dengan kemeja putih bersih yang lengan panjangnya digulung hingga ke siku, menampilkan lengan bawahnya yang tegap dan kokoh.
Kacamata berbingkai peraknya bertengger rapi, dan rambut hitamnya sudah disisir dengan gaya formalnya yang biasa.
Adrian mengendus udara dapur, sepasang alisnya terangkat sedikit.
"Aroma yang tidak biasa untuk sarapan di rumah ini. Biasanya aroma mentega cair atau bacon goreng yang mendominasi."
Gisella tersenyum tipis, tidak merasa terintimidasi lagi oleh kehadiran sang suami.
Dia mematikan kompor dan berbalik menghadap Adrian.
"Selamat pagi, Profesor. Mulai hari ini, menu sarapan tinggi lemak jenuh dan natrium resmi dihapus dari daftar. Ini adalah Sup Tomat Basil dengan Daging Sapi Tanpa Lemak. Sangat ramah untuk tekanan darahmu pagi ini."
Adrian melangkah masuk ke dalam dapur, mendekati konter meja tempat Gisella menyajikan makanan.
Dia memperhatikan bagaimana Gisella menuangkan sup berwarna merah pekat yang menggiurkan itu ke dalam mangkuk porselen putih dengan gerakan yang sangat rapi, tanpa ada satu tetes pun yang meleset ke pinggiran mangkuk.
"Kau sangat mematuhi protokol semalam, Nyonya Arthur,"
ucap Adrian, suaranya yang bariton terdengar rendah di antara keheningan dapur pagi.
Dia mengambil posisi duduk di kursi bar konter dapur, tepat di hadapan Gisella.
"Tentu saja. Aku selalu profesional dengan kontrak yang sudah kutandatangani,"
balas Gisella seraya menggeser mangkuk sup panas dan sepotong kecil roti gandum panggang kering ke depan Adrian.
"Silakan dinikmati. Dan ingat, jangan terburu-buru menghabiskannya. Kunyah dengan baik demi pencernaanmu."
Adrian mengambil sendok.
Sebelum menyuap, dia menatap sup itu dengan pandangan analitis khas seorang ilmuwan.
Namun, begitu suapan pertama menyentuh lidahnya, kilat kejutan yang samar melintas di matanya.
Rasa asam segar dari tomat segar berpadu sempurna dengan gurih alami daging sapi dan aroma aromatik dari daun basil.
Teksturnya pas—hangat dan menenangkan perutnya yang sering kali terasa perih di pagi hari akibat kopi hitam.
"Bagaimana?"
tanya Gisella, menopang dagunya dengan kedua tangan di atas konter, menatap Adrian dengan binar penuh rasa ingin tahu yang jenaka.
"Apakah lulus uji laboratorium lidahmu, Profesor?"
Adrian menelan supnya perlahan, lalu mendongak menatap sepasang mata bulat cokelat milik Gisella.
"Secara empiris... rasa asam dari asam sitrat dalam tomat ini berhasil merangsang kelenjar ludah dengan baik, dan kombinasi rempahnya menekan aroma amis daging. Ini jauh lebih baik daripada sup hambar di kafetaria universitas."
"Itu adalah pujian bersayap khas seorang dosen, tapi aku menerimanya," kekeh Gisella.
Tawa renyahnya yang lepas membuat atmosfer dapur yang biasanya dingin dan kaku menjadi terasa begitu hidup dan hangat.
Adrian tertegun sejenak mendengar tawa itu.
Dia kembali menyadari betapa drastisnya perbedaan wanita di hadapannya ini dengan Gisella yang dulu selalu cemberut dan mengeluh setiap pagi.
Perubahan ini begitu organik, seolah-olah jiwa yang baru telah ditiupkan ke dalam tubuh istrinya.
Sebelum Adrian sempat membalas, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menuruni tangga.
Valerie masuk ke dalam dapur dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah cemas.
"Kak Adrian! Gisella! Apakah kalian melihat—"
kalimat Valerie terhenti saat hidungnya menghirup aroma masakan yang memenuhi ruangan.
Mata gadis muda itu langsung tertuju pada mangkuk sup di depan kakaknya, lalu beralih pada panci di atas kompor.
"Bau apa ini? Enak sekali..."
Gisella tersenyum ramah pada adik iparnya.
"Ini sup tomat basil, Valerie. Duduklah, aku sudah menyiapkan porsi untukmu dan Ibu."
Valerie mengerjap, harga dirinya sempat bergolak sesaat, namun rasa lapar dan aroma sup yang begitu memikat mengalahkan gengsinya.
Dia duduk di samping Adrian dengan patuh. Saat Gisella menyajikan semangkuk sup hangat di depannya, Valerie menggigit bibir bawahnya sebelum berkata dengan nada pelan,
"Terima kasih... Gisella."
"Sama-sama. Makanlah yang banyak agar kau punya energi untuk kelas siangmu,"
jawab Gisella tulus, memberikan usapan lembut yang sekilas pada bahu Valerie sebelum berbalik untuk merapikan konter dapur.
Adrian yang menyaksikan interaksi tersebut tidak melewatkan detail kecil itu.
Dia teringat pada Poin Ketiga dari aturan mereka:
Interaksi Publik dan Keluarga. Gisella tidak sekadar bersandiwara; dia benar-benar mampu menyentuh hati Valerie yang keras kepala hanya dalam hitungan hari dengan kelembutan dan perhatian yang nyata.
Nyonya Arthur kemudian bergabung dengan mereka di dapur.
Wanita paruh baya itu hampir meneteskan air mata haru saat melihat kedua anak dan menantunya duduk bersama di konter dapur, menikmati sarapan buatan Gisella dalam suasana yang begitu damai—sebuah pemandangan yang selama enam bulan terakhir dianggap sebagai kemustahilan di rumah ini.
"Gisella, Sayang, masakanmu benar-benar luar biasa,"
puji Nyonya Arthur dengan mata berbinar setelah menyelesaikan mangkuk sup nya.
"Ibu tidak pernah menyangka rumah ini bisa terasa sehangat ini di pagi hari."
"Ini sudah menjadi tugasku, Ibu. Aku senang jika Ibu dan semua orang menyukainya,"
jawab Gisella dengan anggun, membungkuk sedikit sebagai tanda hormat yang sopan.
Pukul delapan pagi, Adrian bersiap untuk berangkat ke universitas.
Dia berdiri di koridor depan, mengenakan jas formalnya.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana dia akan pergi begitu saja tanpa pamit, kali ini dia berdiri diam di dekat pintu, seolah sedang menunggu sesuatu.
Gisella yang menyadari hal itu berjalan menghampirinya dari arah dapur, membawa sebuah kotak bekal kecil berwarna biru pastel di tangannya.
"Ini untuk makan siangmu, Adrian," ucap Gisella, menyerahkan kotak bekal tersebut.
"Jangan menyentuh makanan cepat saji atau kopi instan di ruang dosen hari ini. Di dalam sini ada salad dada ayam dengan saus lemon dan air detoks timun mint."
Adrian menerima kotak bekal itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang mandiri dan kaku, ada seorang wanita yang menyiapkan bekal makan siang untuknya.
Perasaan asing yang hangat dan protektif kembali merayapi dadanya.
Pria itu menatap Gisella lekat-lekat.
Dia maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka di koridor yang sepi karena Valerie dan ibunya masih berada di ruang belakang.
Sesuai dengan Poin Ketiga tentang kontak fisik minimal demi meyakinkan lingkungan sekitar, Adrian mengulurkan tangan kirinya, perlahan menyelipkan sehelai rambut cokelat bergelombang Gisella yang terlepas ke belakang telinganya.
Sentuhan kulit jari Adrian yang hangat di daun telinganya membuat napas Gisella tercekat seketika.
Jantungnya kembali berkhianat, berdetak dengan ritme cepat yang salah arah.
"Aku akan memakan semuanya sampai habis, Nyonya Arthur,"
bisik Adrian dengan suara rendah yang terdengar sangat intim, matanya mengunci pandangan Gisella.
"Pastikan pianomu sudah siap pada pukul lima sore nanti. Jangan terlambat satu menit pun dari protokol kita."
Gisella hanya bisa mengangguk kaku, tenggorokannya mendadak kering di bawah intensitas pesona sang profesor.
"Y-ya. Hati-hati di jalan."
Adrian memberikan seulas senyuman tipis yang penuh kemenangan sebelum berbalik, membuka pintu, dan melangkah menuju mobilnya yang sudah menunggu.
Gisella menyentuh daun telinganya yang masih terasa hangat akibat sentuhan jari Adrian.
Dia menatap pintu yang tertutup dengan perasaan campur aduk antara frustrasi dan getaran manis yang tak tertahankan.
Aroma sup di dapur pagi ini mungkin telah berhasil meredakan badai kesehatan Adrian, tetapi tampaknya, aroma itu juga telah menyalut awal dari badai baru yang jauh lebih berbahaya bagi kedamaian hatinya sendiri.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...