Bagaimana jadinya jika kamu mengakhiri sebuah hubungan tanpa sebab lalu meninggalkan kekasihmu begitu saja karena suatu alasan?
Begitu pula dengan Serena, ia meninggalkan kekasih nya begitu saja hanya karena suatu alasan yang kurang jelas. Hingga suatu saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan ternama milik mantannya dan bahkan saat ini seorang president.
apakah yang akan terjadi pada kehidupan Serena selanjutnya?
guyss mampir yuk, istirahat sebentar dinovel aku❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Austrea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Ex¹⁸
Di dalam mobil, suasana terasa tenang.
Hanya suara mesin kendaraan yang sesekali terdengar di tengah perjalanan malam itu.
"kau sudah memberi tahu dia mengenai cutinya?"
"Sudah, tuan. Namun, Nona Serena bersikeras tetap ingin bekerja."
Ekspresi Dirga tidak berubah sedikit pun.
"Terserah dia."
Jawabannya terdengar datar.
"Perusahaan sudah memberikan cuti. Jika dia tetap memaksa masuk kerja, maka perusahaan tidak memiliki pilihan selain memberinya pekerjaan seperti biasa."
Zayn melirik kaca spion sesaat.
"Tuan..."
"Hm?"
"Apakah anda tahu alasan nona Serena meninggalkan anda dulu?"
Ruangan mobil mendadak terasa lebih sunyi.
Tatapan Dirga tetap tertuju pada layar iPadnya.
Namun jemarinya berhenti bergerak.
"Zayn." Nada suaranya rendah.
"aku rasa percakapan ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."
Zayn tersenyum tipis.
"Maafkan saya, Tuan."
Pria itu kembali fokus ke jalan.
"Saya hanya ingin memastikan bahwa kalian berdua baik-baik saja."
Kali ini Dirga benar-benar mengangkat pandangannya.
"Apa maksudmu?"
Tatapannya bertemu dengan mata Zayn melalui pantulan kaca spion.
Zayn terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan hati-hati.
"Karena sejak nona Serena bekerja di perusahaan ini..."
Ia memilih kata-katanya dengan cermat.
"Emosi anda menjadi tidak stabil."
Dirga mengernyit.
"aku tidak mengerti."
"Anda lebih mudah marah."
"Lebih sering memikirkan hal di luar pekerjaan."
"Dan hari ini..." Zayn berhenti sejenak.
"Anda bahkan memberikan cuti khusus kepada seorang karyawan."
Dirga mendecih pelan.
"Kau terlalu banyak berpikir."
Meskipun berkata demikian, ia tetap mematikan layar iPad di tangannya.
Entah mengapa, ia sudah tidak tertarik melanjutkan pekerjaannya.
Dirga mengembuskan napas pelan lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Lampu-lampu kota melintas dengan cepat di hadapan matanya.
Kemudian...pandangannya tertuju pada sebuah danau yang mereka lewati.
Napasnya tertahan sesaat. Danau itu, tempat yang sangat ia kenal.
Dulu, hampir setiap akhir pekan, ia dan Serena menghabiskan waktu di sana.
Serena selalu menyukai tempat itu.
Katanya, suara air yang tenang membuatnya merasa damai.
Dirga mengepalkan tangannya tanpa sadar.
"Sial..."
Dari sekian banyak jalan yang bisa dilalui, mengapa mereka harus melewati tempat ini?
"Belok."
"Tuan?"
"Hindari jalan ini lain kali."
Zayn melirik ke arah danau yang masih terlihat dari kejauhan.
Kemudian ia kembali menatap jalan di depannya.
"Baik, Tuan."
Namun keduanya sama-sama tahu.
Yang sebenarnya ingin dihindari Dirga bukanlah jalan itu, melainkan kenangan yang masih tertinggal di sana.
Di rumah sakit.
Serena duduk di kursi yang berada di samping ranjang tempat ibunya terbaring lemah.
Tatapannya dipenuhi kesedihan saat melihat wanita itu belum juga membuka mata.
Tubuh ibunya tampak semakin kurus dari hari ke hari.
Berbagai alat medis masih terpasang, membuat hidupnya bergantung pada mesin-mesin tersebut.
"Bagaimana kondisi ibu saya, Dok? Apakah dia semakin membaik?"
Dokter yang berdiri di sampingnya menghela napas pelan.
"Nona Serena, meskipun operasi telah berjalan dengan baik, kondisi ibu anda memang sangat lemah. Usianya sudah tidak muda lagi."
Pria itu menatap pasien yang terbaring di atas ranjang.
"Saat ini, alat-alat medis tersebut sangat membantu mempertahankan kondisinya. Jika alat bantu itu dilepas, risikonya akan sangat besar bagi keselamatannya."
Mendengar penjelasan itu, hati Serena terasa semakin hancur.
Air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya.
"Saya belum rela kehilangan ibu saya, dok."
Suara Serena bergetar.
"Saya akan membayar berapa pun biayanya. Jadi tolong... jangan lepaskan alat-alat medis itu sampai saya benar-benar siap untuk merelakannya."
Dokter terdiam sejenak.
Sebagai dokter, ia memahami perasaan Serena yang belum siap kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Pada akhirnya, ia hanya mengangguk pelan.
"Saya mengerti."
Dokter kemudian menyerahkan sebuah formulir kepada Serena.
"Jika suatu saat nanti anda sudah siap mengambil keputusan, anda bisa mengisi formulir persetujuan ini."
Serena menerima lembaran kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Tatapannya kembali tertuju pada wajah sang ibu.
Untuk saat ini, ia belum siap.
Belum siap kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Bersambung.....
Hai para readers kesayangan Author, terimakasih sudah menjadi para pembaca yang setia dan selalu menemani hari² author💞🌹 Love You buat kalian semua yang selalu tinggalkan jejak sehat dan bahagia selalu ya🍃