Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Nadia membaca pesan itu berulang kali. Ia sampai mengucek matanya, memastikan bahwa ia tidak sedang salah membaca. Selama ini, ia hanya bermimpi agar desain pakaiannya suatu hari bisa dikenal banyak orang. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa sebuah kesempatan sebesar ini akan datang begitu saja.
Meski begitu, Nadia belum langsung memberikan jawaban. Pengalaman beberapa waktu terakhir membuatnya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Ia tidak ingin kembali menjadi sorotan karena alasan yang salah. Baginya, jika kerja sama itu benar-benar terwujud, ia ingin orang mengenalnya sebagai seorang desainer dan perempuan yang bekerja dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar sosok yang pernah viral karena masalah rumah tangganya.
Harapan yang selama ini terasa begitu jauh, perlahan mulai menampakkan jalannya. Untuk pertama kalinya, pintu kesuksesan terbuka bukan karena luka yang pernah ia alami, melainkan karena bakat dan karakter yang selama ini ia jaga dengan penuh kesabaran.
***
Sore itu, Nadia mengundang Dila datang ke kontrakannya. Di atas meja telah tersaji dua cangkir teh hangat dan beberapa lembar kertas berisi rincian penawaran kerja sama dari sebuah brand busana muslim. Sejak menerima tawaran tersebut, Nadia belum juga berani mengambil keputusan. Ia membaca isi kontrak berulang kali, menimbang setiap keuntungan dan risikonya. Baginya, kesempatan itu memang sangat menggiurkan, tetapi ia masih khawatir jika namanya kembali dikaitkan dengan kisah rumah tangganya.
Dila membaca seluruh isi penawaran dengan saksama. Semakin lama, matanya justru semakin berbinar. "Kalau menurutku, ambil saja."
Nadia menatap sahabatnya. "Tapi aku takut. Takut nanti orang mengira aku memanfaatkan keadaan."
Dila menggeleng pelan.b"Ini beda, Nad." Ia menunjuk beberapa bagian dalam proposal kerja sama itu. "Mereka nggak meminta kamu menceritakan rumah tanggamu. Mereka tertarik sama penampilanmu yang anggun dan desain pakaianmu. Artinya, mereka menghargai kemampuanmu." Dila lalu menggenggam tangan sahabatnya. "Nad, kamu kan harus bayar SPP Kian yang lumayan. Belum biaya makan, kontrakan, listrik, bahan jahit, dan kebutuhan lainnya." Lalu Dila mengingatkan prinsip Nadia yang nggak mau minjam karena takut merepotkan. "Apapun kesempatan baik yang ada di depan mata, ambil." Kalimat itu ia jeda sejenak. "Selama caranya halal dan nggak merugikan siapa pun, kenapa harus ditolak? Kamu sudah terlalu lama berjuang sendirian. Sekarang, saat Allah membuka pintu rezeki, jangan malah kamu tutup sendiri karena takut pada omongan orang."
Nadia menundukkan kepala. Ucapan Dila ada benarnya. Ia memang selalu bermimpi agar hasil karyanya dikenal lebih luas. Bukankah kesempatan ini bisa menjadi langkah pertama menuju impian itu?
Melihat ekspresi sahabatnya mulai berubah, Dila tersenyum lebar. "Lagipula, siapa tahu setelah ini orang-orang bukan lagi mengenal Nadia sebagai mantan istri Reno."
"Terus?"
"Sebagai desainer busana muslim yang sukses."
Kali ini, Nadia ikut tersenyum. Entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak menerima tawaran itu, keraguannya mulai perlahan berganti menjadi harapan.
***
Setelah mempertimbangkannya selama beberapa hari, Nadia akhirnya mengambil keputusan. Dengan hati yang mantap, ia menandatangani kontrak kerja sama tersebut. Nilainya memang belum terlalu besar karena ini merupakan kolaborasi pertamanya.
Pihak brand juga menjelaskan bahwa Nadia akan memulai sebagai model untuk beberapa katalog dan konten promosi sederhana sebelum diberi kesempatan menangani proyek yang lebih besar. Bagi Nadia, itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak pernah bermimpi menjadi model profesional. Ia hanya ingin memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin sambil tetap mengembangkan usaha jahitnya.
Hari pemotretan pun tiba. Begitu memasuki studio, Nadia langsung merasa canggung. Di sekelilingnya terdapat fotografer, penata rias, penata busana, hingga tim kreatif yang sibuk bekerja. Ia menjadi satu-satunya orang yang tampak kebingungan. Saat fotografer mulai mengarahkannya untuk berganti pose, Nadia berkali-kali terlihat kaku. Senyumnya terasa dipaksakan, posisi tangannya sering kali salah, bahkan beberapa kali ia refleks meminta maaf karena merasa menghambat proses pemotretan.
Beberapa jam pertama terasa sangat melelahkan. Nadia sampai berpikir bahwa pekerjaan seorang model jauh lebih sulit daripada yang selama ini ia bayangkan. Berdiri berjam-jam dengan senyum yang tetap terjaga, mengikuti arahan pose, menjaga ekspresi wajah, serta berganti pakaian berkali-kali ternyata menguras tenaga. Sempat terlintas di benaknya untuk menyerah dan kembali fokus menjahit saja.
Namun tim yang mendampinginya justru terus memberi semangat. Mereka mengatakan bahwa kesulitan Nadia bukan terletak pada penampilannya, melainkan karena ia belum terbiasa berada di depan kamera. Wajah Nadia dinilai sangat fotogenik. Sorot matanya lembut, senyumnya alami, dan pembawaannya anggun sehingga kamera mampu menangkap ekspresi yang menarik tanpa perlu banyak diarahkan. Bahkan fotografer beberapa kali memuji hasil jepretan pertama yang menurutnya sudah memiliki karakter kuat.
Mendengar itu, rasa percaya diri Nadia perlahan tumbuh. Ia mulai menikmati setiap arahan yang diberikan. Meski gerakannya masih canggung, senyumnya tidak lagi dibuat-buat. Sedikit demi sedikit ia menemukan ritmenya sendiri.
Saat sesi pemotretan berakhir, seluruh tim memberikan tepuk tangan kecil sebagai bentuk apresiasi. Nadia tersenyum lega sambil mengembuskan napas panjang. Ia memang masih harus belajar banyak, tetapi hari itu menjadi bukti bahwa seseorang tidak harus langsung sempurna untuk memulai sesuatu yang baru. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian mengambil langkah pertama.
***
Hari terakhir pemotretan berlangsung jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Nadia mulai terbiasa berdiri di depan kamera. Meski sesekali masih salah mengambil posisi, rasa gugup yang sempat menguasainya perlahan menghilang. Tim kreatif pun beberapa kali memuji perkembangan Nadia yang dinilai sangat cepat. Wajahnya yang anggun dan ekspresinya yang natural membuat proses pemotretan menjadi jauh lebih lancar.
Di tengah jeda pengambilan gambar, Dila datang membawa sekotak camilan dan minuman. Kehadirannya langsung mencairkan suasana. Seperti biasa, ia tak pernah bisa melihat Nadia terlalu serius tanpa melontarkan candaan. "Nad," panggilnya cukup keras hingga beberapa kru menoleh. Dila mengamati sahabatnya dari ujung kepala sampai kaki, lalu berkata dengan wajah sangat serius, "Udah, Nad. Tinggal bengong-bengong saja kamu sudah cakep kok."
Seisi studio langsung pecah oleh gelak tawa. Bahkan fotografer sampai menurunkan kameranya karena ikut tertawa mendengar komentar Dila.
Salah seorang penata rias menimpali sambil tersenyum, "Nah, itu benar. Justru pas Mbak Nadia lagi nggak sadar kamera, hasil fotonya sering paling bagus."
Mendengar itu, Nadia langsung menutupi wajahnya karena malu. "Ih, kalian ini..." Pipinya memerah.
Melihat reaksi sahabatnya, Dila justru semakin puas. "Tuh, kan? Malu-malu gitu malah tambah cantik."
Gelak tawa kembali memenuhi studio. Suasana yang semula dipenuhi kesibukan berubah hangat dan penuh canda. Nadia hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Dalam hati, ia bersyukur memiliki sahabat seperti Dila. Di saat dirinya mulai kehilangan rasa percaya diri, selalu ada Dila yang mampu mengembalikan senyumnya hanya dengan satu kalimat sederhana yang mengundang tawa semua orang.