Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenyataan pahit
Alden melangkah mundur satu langkah, memberikan sedikit ruang bernapas yang semu bagi Aleta, namun tatapan matanya justru semakin mengunci pergerakan gadis itu. Senyum miring kembali terukir di wajahnya saat ia teringat kartu as lain yang ada di tangannya.
"Lagian, lo mau kabur ke mana, hm? Mau ngadu ke nyokap lo?" Alden terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan di keheningan ruang UKS.
Aleta mendongak, menatap Alden dengan sisa-sisa keberaniannya meski air mata masih mengalir di pipinya.
"Lo tahu gak, di mana nyokap lo kerja sekarang?" Alden mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Aleta yang bergetar.
"Perusahaan tempat nyokap lo nyari uang itu... milik nyokap gue. Sepenuhnya ada di bawah kendali keluarga gue."
Kata-kata Alden bak petir di siang bolong bagi Aleta. Tubuhnya mendadak kaku, rasa syok yang baru kembali menghantam dadanya.
"Dan lo tahu yang lebih lucu apa?" Alden berjalan memutari brangkar dengan santai, mengetukkan jarinya di besi pembatas kasur.
"Nyokap lo itu kenal baik sama gue. Tadi malam, waktu gue telepon beliau dan ngasih tahu kalau lo ada di rumah gue... lo tahu apa reaksi nyokap lo?"
Alden sengaja menggantung kalimatnya, menikmati raut wajah Aleta yang kini dipenuhi rasa tidak percaya dan keputusasaan yang mendalam.
"Beliau sama sekali gak mempermasalahkannya," bisik Alden, menekankan setiap kata dengan nada penuh kemenangan.
"Nyokap lo langsung percaya begitu aja waktu gue bilang lo aman sama gue. Beliau bahkan ngerasa tenang karena lo diurus sama anak dari bosnya."
Alden kembali berdiri tepat di depan Aleta, melipat tangan di dada dengan angkuh.
"Jadi sekarang lo paham kan, Aleta? Di sekolah lo gak punya tempat sembunyi, dan di rumah pun... lo gak bakal dapet pembelaan. Nyokap lo udah lepas tangan dan mempercayakan lo sepenuhnya ke gue. Jadi, mending lo buang jauh-jauh pikiran sialan buat kabur itu.
🌍🌍🌍
Aleta seperti kehilangan harapan saat itu juga. Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan udara di dalam ruang UKS mendadak habis. Seluruh dunianya runtuh tanpa sisa. Kenyataan bahwa ibunya—satu-satunya tempat ia bersandar—justru dengan mudah mempercayakan dirinya kepada Alden karena status sosial, benar-benar memutus tali harapan terakhir yang ia miliki.
Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat oleh rasa kecewa dan keputusasaan yang teramat dalam. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mengalir semakin deras, membasahi pipinya yang pias tanpa suara.
Aleta hanya bisa menunduk pasrah, menatap lantai ubin UKS yang dingin. Sepasang tangannya yang gemetar meremas kuat-kuat rok abu-abunya, menyadari dengan pahit bahwa dirinya kini benar-benar terjebak di dalam sangkar emas yang dibuat oleh Alden.
Di sekolah, di rumah, di mana pun... ia tidak memiliki tempat untuk lari lagi.
Melihat kehancuran mutlak di wajah Aleta, Alden hanya berdiri bergeming. Ia memandangi gadis itu dari atas ke bawah dengan tatapan puas, menikmati setiap detik keputusasaan yang terpancar dari sosok yang kini sepenuhnya berada di dalam genggamannya.
Alden melangkah maju, mempersempit sisa jarak di antara mereka hingga tubuhnya hampir menempel pada Aleta. Melihat gadis itu sudah benar-benar hancur dan kehilangan seluruh harapannya membuat ego dan hasrat dominasi di dalam diri Alden semakin memuncak.
Tanpa memedulikan tempat mereka yang berada di lingkungan sekolah, Alden mengulurkan tangannya yang kekar, mencengkeram kuat tengkuk Aleta agar gadis itu tidak bisa memalingkan wajah.
Dengan berani dan tanpa ragu, Alden langsung menundukkan kepalanya dan mencium kembali bibir Aleta.
"Mmpff..." Aleta tersentak, matanya membelalak kaget di sela tangisnya.
Ciuman itu terasa kasar dan menuntut, sebuah penegasan mutlak bahwa Aleta kini sepenuhnya adalah miliknya yang tidak bisa membantah.
Aleta sempat mencoba mendorong dada bidang Alden dengan sisa tenaga yang ia miliki, namun tangannya dengan mudah ditangkap dan dikunci oleh tangan Alden yang lain.
Alden memperdalam ciumannya, mengabaikan air mata Aleta yang mengalir melewati pipi dan membasahi tautan bibir mereka. Di dalam ruang UKS yang terkunci rapat itu, Alden benar-benar merenggut seluruh sisa harga diri Aleta, memastikan gadis itu tahu bahwa mulai hari ini, hidupnya tidak lagi berjalan sesuai kemauannya sendiri.
Aleta akhirnya berhenti bergerak. Sisa-sisa tenaga yang tadi ia gunakan untuk memberontak lenyap begitu saja, mengalir keluar bersama air mata yang terus membasahi pipinya. Kesadaran bahwa ibunya sendiri tidak akan bisa menolongnya membuat seluruh dinding pertahanan di dalam dirinya runtuh total.
Ia tak punya harapan lagi. Di titik keputusasaan tertinggi ini, Aleta memilih pasrah pada kenyataan pahit yang menimpanya.
Saat ciuman Alden terasa semakin menuntut dan mengunci pergerakannya, Aleta tidak lagi melawan. Kedua tangannya yang semula mencoba mendorong dada Alden kini terkulai lemas di sisi tubuhnya. Ia membiarkan bibirnya diinvasi, membiarkan sisa harga dirinya direnggut tanpa ada satu pun penolakan yang keluar dari tubuh mungilnya.
Matanya yang sembap menatap kosong ke arah dinding UKS, memancarkan tatapan mati yang kehilangan seluruh binar kehidupan.
Alden yang merasakan perubahan drastis itu—dari perlawanan sengit menjadi kepasrahan mutlak—perlahan memperlambat intensitasnya. Keheningan dan kepatuhan paksa dari Aleta justru memberikan kepuasan tersendiri bagi ego Alden. Ia tahu, detik ini juga, ia telah berhasil menjinakkan dan menguasai Aleta sepenuhnya.
🌍🌍🌍
Setelah merasa puas merasakan kepasrahan mutlak dari gadis di bawah kuasanya, Alden perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Ia menarik kepalanya mundur, namun tidak langsung menjauhkan tubuhnya. Kedua tangannya beralih menumpu di sisi kanan dan kiri kepala Aleta, mengurung tubuh mungil itu di atas brangkar UKS.
Alden menatap lekat wajah Aleta yang kini tampak kacau—pipi yang basah oleh air mata, bibir yang sedikit bengkak, dan sepasang mata yang menatapnya kosong tanpa binar kehidupan. Melihat pemandangan itu, alih-alih merasa bersalah, Alden justru menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat manis tepat di depan wajah Aleta. Itu adalah senyuman hangat yang biasa ia perlihatkan di depan umum sebagai Ketua OSIS yang ramah, namun di mata Aleta, senyuman itu terasa begitu manipulatif dan mengerikan.
"Anak pintar," bisik Alden lembut, nadanya terdengar seperti sedang memuji peliharaan yang penurut. Ia mengulurkan ibu jarinya, mengusap sisa air mata di pipi Aleta dengan gerakan yang perlahan namun penuh penekanan.
Alden kemudian beranjak dari posisinya, berdiri tegap lalu merapikan kembali seragam OSIS-nya yang sedikit kusut tanpa riak bersalah sedikit pun.
"Sekarang lo diem di sini, tenangin diri lo. Gak usah balik ke lapangan dulu sampai MPLS hari ini selesai," ujar Alden dengan nada santai seraya berjalan menuju pintu UKS dan memutar kembali anak kuncinya.
"Gue ada urusan di luar. Inget, jangan coba-coba keluar dari ruangan ini sebelum gue yang jemput."
Suara klik pintu yang mengunci dari luar menandakan bahwa Alden benar-benar telah pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam ruang UKS.
Aleta menatap nanar ke arah pintu kayu itu. Jika beberapa jam yang lalu otaknya terus berputar mencari celah dan kesempatan untuk kabur dari sekolah ini, sekarang niat itu menguap begitu saja tanpa bekas. Segala ancaman Alden, fakta tentang pekerjaan ibunya, hingga kepasrahan yang baru saja ia lalui, telah merenggut seluruh sisa energinya. Berlari sekarang terasa sangat sia-sia. Ke mana pun ia pergi, bayang-bayang Alden dan kekuasaan keluarganya akan selalu berhasil menemukannya.
Tubuh mungilnya terasa sangat lemah, bahkan untuk sekadar menegakkan punggung pun ia sudah tidak sanggup lagi. Rasa lelah yang teramat sangat—baik secara fisik maupun mental—kini perlahan menggelayuti kesadarannya. Rasa capek itu menghantamnya bertubi-tubi, membuatnya merasa begitu kosong.
Dengan gerakan yang lambat dan lunglai, Aleta perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur brangkar. Ia menarik kedua lututnya mendekati dada, melingkarkan tangan pada tubuhnya sendiri, dan memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas sprei putih yang dingin itu—mencoba mencari rasa aman yang telah renggut darinya.
Aleta memejamkan matanya yang bengkak dan sembap. Di tengah keheningan ruang UKS dan aroma obat-obatan yang menyengat, perlahan rasa kantuk yang berat membawanya pergi dari kenyataan pahit hari ini. Hingga akhirnya, Aleta pun tertidur pulas dalam posisi meringkuk, melarikan diri sejenak ke dalam dunia mimpi di mana Alden tidak bisa menyentuhnya.
🌍🌍🌍
Jangan lupa komen dan like yaaa😁