Novel ini berkisahkan tentang pernikahan yang terjadi karena adanya perjodohan,
Namun pernikahan yang mulanya berjalan tanpa Cinta itu, dapat berubah. Dua insan yang mulanya tidak saling mengenal, kini saling tidak ingin meninggalkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANISA RANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOMOR ASING
"Hemm.. baiklah aku masuk dulu. oyaa, ga mau mampir dulu?" (Tanya Zahra ketika sudah diluar mobil)
"Eemm, terimakasih Ra. Tapi, sudah jam segini. Aku harus sampai rumah lebih awal, karena papa akan berkunjung kerumah teman lamanya dan aku diminta papa untuk membantu menyiapkan apa-apa yang nantinya akan diberikan pada teman papa itu nanti" (Jawab Izzan sambil melihat arloji yang ada ditangannya)
"Heemm begituu, baiklah. Sekali lagi terimakasih ya atas tumpangannya" (Ucap Zahra sambil tersenyum tipis)
"Iya ra sama-sama, anggap saja tumpangan yang ku berikan ini sebagai permintaan maafku" (Ucap Izzan yang membuat Zahra mengangguk)
Lalu, Zahra menutup pintu mobil Izzan. Dan, Zahra melambaikan tangannya pada Izzan yang mulai melajukan mobilnya dari hadapan Zahra
Zahra yang melihat mobil Izzan benar-benar menghilang pun, memutuskan untuk menekan bel rumahnya
Ting tong
Dan dengan cepat, pintu gerbang pun dibuka oleh pak Dadang
"Selamat sore non, lohh non kok ga bawa motor non? bukannya tadi non Zahra bawa motor?" (Tanya pak Dadang bertanya-tanya karena mendapati anak dari majikannya yang pulang tidak membawa motor)
"Duhh, gimana jelasinnya ke pak Dadang ya. Kalau nanti pak Dadang cerita ke abah, teruuss abah salah faham gimana? tapi aku gamau bohong. gimana niihh" gumam Zahra yang merasa dirinya serba salah
"Eemm.. anu pak, ituu ckk.." (Jawab Zahra dengan terbata-bata dan diakhiri dengan decakan bingungnya)
"Anu bagaimana non? apa motor non hilang? Astaga aku harus bilang apa pada tuan besar" (Ucap pak Dadang yang seketika panik)
Zahra yang melihat pak Dadang panik pun, menepuk pelan keningnya
"Hufftt.. pak Dadang, pak Dadang! mudah panik sekali" gumam Zahra dalam hati
"Pak.. tadi, aku bareng temen se organisasiku. Dia mengajakku pulang bareng, karena kalau aku naik motor.. aku bisa bisa pulangnya terlalu sore. Dan sekolah kan akan mengadakan acara Pesta Pelajar, jadi aku gamau jatuh sakit karena nekat pulang ditengah hujan deras seperti ini" (Ucap Zahra menjelaskan)
"Oalahh.. seperti itu toh non, ya Sudah non silahkan" (Ucap pak Dadang sambil sedikit membungkukkan badannya pada Zahra guna mempersilahkan Zahra masuk kedalam rumah)
"Iya pak, marii" (Ucap Zahra yang membungkukkan badannya juga)
"Iya non.." (Balas pak Dadang sambil tersenyum)
Pak Dadang terus memandang Zahra yang sudah melangkahkan kakinya itu. Pak Dadang, sangat kagum dengan keluarga Zahra termasuk juga dengan Zahra. Walaupun dari kalangan orang berada, tidak menjadikan mereka sombong
***
Ketika Zahra baru saja memasuki ruang tamu, dia melihat abah serta kak Aziz sedang mengobrol. Dan dia pun mendekat kearah dua laki-laki yang sangat dicintainya itu,
"Assalamualaikum abah, kak" (Ucap Zahra memberi salam sembari mencium punggung tangan abahnya, lalu mencium punggung tangan kakaknya)
"*Wa'alaikumussalam warrahmatullah wabarokatuh, nak"
"Wa'alaikumussalam dik*"
Jawab ayah Abidzar dan Aziz serempak
"Aaah.. kamu sudah pulang nak, cepat bersihkan dirimu dan makanlah dulu. Lalu, kamu akan pergi ke mall bersama ummi dan kak Mujnah juga kak Fatimah" (Ucap ayah Abidzar pada Zahra)
"Ke mall? tapi bukankah ummi sudah belanja bulanan abah?" (Tanya Zahra sembari mendudukkan bokongnya disamping sang ayah)
"Naak.. nanti malam, ada teman lama abah yang akan berkunjung. Dan kunjungannya itu, membahas tentang perjodohanmu dengan anak beliau" (Jawab ayah Abidzar sambil mengelus punggung Zahra)
"Jadi, nanti di mall.. pilihlah baju yang kamu suka dan pastinya pantas untuk kamu pakai malam nanti" (Lanjut ayah Abidzar sambil terus mengelus punggung anak bungsunya itu)
Zahra yang memang sudah menyetujui perjodohan itupun, tidak bisa menolak apapun yang diminta oleh sang ayah, ibu, dan kakak-kakaknya mengenai perjodohannya
Zahra mengangguk dan tersenyum hangat pada sang ayah, dan dia pun pamit pergi kedalam kamarnya
"Yasudah.. Zahra ke kamar dulu ya bah, kak" (Ucap Zahra dengan lembut)
"*Iya nak"
"Iya dik*"
Jawab ayah Abidzar dan Aziz serempak sambil tersenyum ke arah Zahra
Saat ini, Zahra sudah ada didalam kamarnya. Dia menaruh tas selempangnya diatas meja belajarnya dan dia berjalan gontai ke arah tempat tidurnya
"haaahh.. hari yang sangat melelahkan" (Gerutu Zahra sembari merebahkan tubuhnya ketempat tidurnya)
Sejenak, dia memejamkan matanya karena lelah. Namun, tiba-tiba nada dering ponselnya membuatnya terjaga dari pejaman matanya
"Hufftt.. siapa lagi ini" (Gerutu Zahra kembali karena merasa terganggu dengan nada dering ponselnya yang berbunyi untuk kedua kalinya)
"Nomor siapa ini? aahh sissy.. sissy, kebiasaan banget deh ngasih nomor aku ke oranglain. Itukan privasi ssyy.." gumam Zahra dalam hati, dia mengira bahwa yang menghubunginya itu adalah orang iseng yang meminta nomor ponselnya pada Sissy. Karena, kerap kali Zahra mendapat pesan juga panggilan dari orang asing dan ketika Zahra bertanya yang memberi nomor ponselnya siapa itupun jawabannya adalah Sissy
"Apa aku angkat saja ya? takutnya penting" gumamnya lagi
Dan ketika Zahra mengangkat panggilan itu, Zahra dibuat kaget dengan suara yang dalam waktu singkat ini sudah dikenalnya
"Assalamualaikum, can i talk to Zahra?" (Tanya pria yang menelpon Zahra)
"Waalaikumussalam warrahmatullah wabarokatuh Zan, yaa ini aku sendiri. Ada apa?" (Jawab Zahra pada pria diseberang sana yang ternyata adalah Izzan)
"Hemmm.. aku kira kamu akan langsung memblokirku karena aku berkali-kali menelfonmu" (Ucap Izzan sambil tertawa kecil)
"Ck ck ck... teruslah tertawa" (Sahut Zahra dengan nada kesalnya karena mendengar ucapan Izzan yang terdengar seperti mengejeknya)
"Iyaa.. iyaaa.. aku minta maaf. hahaha! sekarangg, pipi chubby mu itu pasti semerah udang rebus yaa hahaha" (Ucap Izzan lagi sambil mengingat betapa lucunya wajah Zahra ketika sedang marah)
"Hisss... pria ini!" gumam Zahra dalam hati
"Kalau kamu masih saja ingin mengejekku, akan ku akhiri panggilan ini!" (Ucap Zahra dengan nada ketusnya)
"Oohh come on Zahra.. i'm sorry, Thats just kidding" (Ucap Izzan meminta maaf pada Zahra)
"Minta maaf melulu deh ni orang, tapi nanti belum genap 5 menit saja sudah membuatku marah lagi" gumam Zahra dalam hati lagi
"Yaaa.. yaaa.. baiklah baiklah, aku memaafkanmu tuan muda. Sekarang, aku mau mandi dan setelah itu aku pergi makan karena aku sudah sangat lapar" (Ucap Zahra dengan nada yang terdengar sangat dingin)
"Terimakasih pipi Chubby, hehehe" (Ejek Izzan yang langsung memutuskan sambungan telfon)
"Ckk.. awas saja, akan ku balas ejekannya nanti! " (Gerutu Zahra yang merasa kesal karena terus diejek oleh kakak kelasnya itu)