Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Draka tersenyum tipis, menggenggam tangan Gymora dengan lembut.
"Kamu tak pernah bisa menyembunyikan apa yang kamu suka, dan aku selalu memperhatikanmu,” ucapnya tenang, seolah ingin mengatakan bahwa ia akan selalu ada di sisinya, baik dalam tawa maupun dalam air mata.
Gymora menunduk, napasnya mulai membaik, dan sedikit demi sedikit beban di dadanya terasa lebih ringan.
Di hadapan laut yang luas dan angin senja yang menenangkan, ada harapan kecil yang mulai tumbuh kembali.
Di dalam kabin mewah Bentley yang berlapis kulit hitam mengkilap, Draka dengan santai mengunyah potongan ayam Richeese yang berbalut saus merah menyala.
Mulutnya tetap tenang, tak setitik pun air mata atau keringat muncul di wajahnya. Ia bahkan tak peduli pada suara kriuk-kriuk dan aroma pedas yang menguar di udara, seolah rasa pedas itu hanyalah bumbu biasa dalam hidupnya.
Tanpa memperdulikan sopan santun makan, Draka menggigit dengan lahap, jari-jarinya yang panjang sesekali menjilat saus yang melekat.
Sementara itu, di kursi sebelahnya, Gymora mulai memakan ayam itu dengan hati-hati, mengunyah pelan dan menahan napas setiap kali saus pedas menyentuh lidahnya.
Namun, tak lama kemudian, matanya mulai berair.
Dadanya bergemuruh, dan suara isak tangis pelan keluar tanpa bisa ia tahan.
Tubuhnya sedikit mengguncang, bibirnya bergetar saat ia berusaha menahan rasa pedih yang membakar.
Draka menatap Gymora dengan ekspresi tenang, setengah tersenyum penuh kemenangan. "Aku tahu, Mora, sayang kamu terharu..." ucapnya ringan, seolah pedas itu adalah ujian emosional yang harus dilewati.
Gymora menggeleng pelan, suaranya lembut tapi penuh penyesalan, "Aku nggak bisa makan pedas. Aku nggak suka pedas."
Draka yang tadinya santai langsung terkejut, matanya membelalak seakan baru saja mendengar pengakuan yang mengejutkan.
Tanpa berkata banyak, ia meraih botol minuman dingin dari wadah pendingin di samping kursi dan menyerahkannya pada Gymora dengan gerakan tenang namun penuh perhatian.
"Mora maaf ... Aku akan memesankan ayam lagi untukmu!"
Gymora menggeleng, "nggak perlu. Aku hanya akan makan nasinya saja!!"
Draka memilih tidak memaksa, tapi ia merutuki kebodohannya.
"Sial!! Bukankah kata Dylan Gymora setiap bulan selalu pergi ke kedai ayam Rhicese. Harusnya dia tahu, kalau kedai itu hanya menjual ayam pedas," gumam Draka dalam hatinya.
Ia sendiri juga tidak pernah makan ayam disana, karena kedai ayam Rhicese begitu terkenal dengan ayam pedasnya.
Jadi Draka mengira, disana hanya menjual ayam pedas.
Gymora pun mendapatkan pesan dari seseorang, orang itu mengabarkan jika namanya sudah bersih.
Lalu Gymora melihat beberapa situs di internet, sudah tidak ada lagi berita tentangnya yang mencuri teknologi inti Biome.
Dia melirik ke arah Draka, "Draka makasih. Kamu sudah membuat namaku menjadi bersih dikota ini!"
Draka menoleh bingung.
Lalu Gymora menunjukkan pesan diponselnya.
"Siapa pria itu? Apakah dia Wiliam?"
Gymora bingung.
Wiliam duduk didepan brangkar neneknya.
"Gymora sudah nggak mau kembali bersamaku lagi, Nek. Bisakah nenek membantuku?" tanya Wiliam dengan nada putus asa.
Terlihat ada guratan penyesalan yang ditunjukan wajahnya.
Nenek Willy yang terbaring lemah hanya bisa menghembuskan napas kasar.
"Nenek nggak bisa membantumu lagi mulai sekarang," sahut nenek Willy.
Sontak saja Wiliam langsung terkejut, merasa tidak percaya dengan ucapan neneknya.
"Kenapa nenek sudah nggak mau membantuku? Bukankah katanya nenek ingin menjadikan Gymora menajdi cucu menantu nenek?" Ia masih tidak mempercayai ucapan neneknya.
Bukankah sebelumnya saat Wiliam belum memiliki perasaan pada Gymora, nenek Willy yang terus memaksanya.
Bahkan dulu neneknya itu juga memaksa putus dengan Kania.
cerita nya seruuu👍