Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah, Ndak Bohong 12
"Iya saya ndak bohong. Itu buktinya kan bisa dilihat sendiri pas si penerima nerima paketnya,"ucap pemuda yang bernama Fery itu sekali lagi. Dia menegaskan bahwa memang dirinya sudah melakukan pekerjaannya dengan baik dengan mengantar paket tersebut ke tempat tujuan.
Arimbi meminta izin kepada Fery untuk melihat ponsel pemuda tersebut. Ia lalu menggeser layar, dan menemukan bukti foto penerima yang lain.
Semua itu menjelaskan bahwa apa yang dikatakan Fery adalah kebenaran. Surya yang ikut melihat pun merasa lega karena terbukti paket tersebut tidak lah hilang.
Arimbi kemudian memberikan ponsel milik Fery kepada Bhumi. Dengan tangan sedikit bergetar Bhumi mengambil ponsel tersebut. Disana terpampang jelas wajah sang kekasih, Senia. Wajah wanita itu sangat bahagia ketika mendapat kiriman barang yang memang diharapkannya.
Ibnu pun juga melihat dan kini semua jelas bahwa paket tersebut tidak hilang. Dibalik hal yang melegakan tersebut, tersirat fakta pahit lainnya. Yakni Senia telah berbohong kepada Bhumi.
Wajah Ibnu menjadi tidak nyaman terlebih ketika melihat sang tuan yang seketika menjadi murung. Ya Bhumi seperti orang yang linglung sekarang.
Wanita yang dicintainya tiba-tiba berbohong. Dimana kebohongannya termasuk besar. Berkata bahwa barang yang dikirim hilang namun ternyata diterima dengan baik.
"Pak Bhumi, saya ... ."
"Saya minta maaf Bu Arimbi, karena telah membuat keributan. Sampai-sampai membawa Bu Arimbi dan Pak Surya ke tempat yang jauh hanya untuk memeriksa paket. Saya benar-benar minta maaf."
Bhumi langsung membungkukkan tubuhnya sebagai tanda penyesalan terhadap Arimbi dan Surya. Bagaimana tidak, dia tahu mereka pasti sibuk tapi malah menyeret mereka dengan hal yang 'tidak penting' seperti ini.
"Tidak Pak Bhumi, kami dengan senang hati membantu jangan dijadikan beban,"sahut Arimbi cepat.
Dia tahu suasana hati Bhumi sedang sangat tidak karuan sekarang. Entah apa yang dipikirkan pria tersebut kepada sang calon tunangan. Tapi yang jelas, sebuah kecurigaan besar muncul dalam hati Bhumi.
Ibnu kemudian mengembalikan ponsel tersebut. Masalah telah selesai, mereka pun pamit untuk pulang. Namun ketika hendak masuk mobil, pemuda yang bernama Fery tersebut tiba-tiba menghampiri mereka.
"Maaf kalau saya lancang. Sebenarnya saya cuma merasa janggal saja. Mas nya ini bukannya pernah datang ke rumah Mbak Senia ya? Saya memang jarang di rumah tapi kalau tidak salah, saya pernah melihat Mas datang ke rumah Mba Sania,"ucap Fery. Sedari tadi dia mengamati Bhumi dan merasa bahwa wajah Bhumi tidak asing untuknya.
"Iya benar, aku pernah ke rumah Senia. Meski tidak sering tapi pernah beberapa kali, selama kami menjalin hubungan,"jawab Bhumi.
Wajah Fery seketika berkerut mendengar jawaban Bhumi terlebih kalimat terakhir. Pemuda itu seolah kebingungan, bola matanya berputar dan terlihat tidak nyaman.
Bhumi bisa menangkap mimik wajah Fery. Akhirnya ia pun bertanya karena merasa ada yang ingin pemuda itu sampaikan. "Ada apa ya?"
"Anu, sebelumnya maaf kalau saya kesannya ikut campur. Cuma begini, sekarang di rumah Mbak Senia itu lagi ada rame-rame. Saya sendiri ndak paham ada apa, karena saya emang selalu berangkat pagi dan pulang malam. Tapi kata ibuk saya, hari ini Mbak Senia mau lamaran."
Jegleeeeer
Bagai petir yang menyambar di siang bolong. Ucapan Fery sontak membuat Bhumi terkejut bukan main. Tak hanya Bhumi, Ibnu pun juga ikut terkejut.
Sedangkan Arimbi dan Surya, mereka memilih diam dan mundur beberapa langkah untuk memberi Bhumi ruang.
Sreet
Bhumi mencengkeram kerah jaket Fery. Matanya melotot dengan sangat tajam seolah hampir keluar dari tempatnya. Rahangnya mengeras dan giginya bergemelutuk.
Bhumi yang memang selalu dingin dan tegas itu, sekarang benar-benar menakutkan. Ibnu memang selalu berada di sisi Bhumi dan sudah sering melihat wajah dingin tuannya, akan tetapi baru kali ini dia melihat ekspresi wajah yang benar-benar membuatnya takut hingga bergidik ngeri.
"B-bos, anak orang jangan diginiin,"ucap Ibnu memberanikan diri untuk menghalau Bhumi bertindak kelewatan. Dia berusaha melepaskan cengkeraman tangan Bhumi dari kerah jaket Fery.
"Katakan yang bener!!" pekik Bhumi.
"Saya bicara bener Mas. Ibuk saya yang bilang katanya di rumah Mbak Senia lagi ada rame-rame karena mau ada lamaran. Calon suaminya seorang polisi dan cuma tetangga desa, kebetulan saya juga kenal sama cowoknya. Habis lamaran, katanya paling nggak lama langsung nikah. Soalnya mau ikut tugas ke kota lain gitu."
Tubuh Bhumi terhuyung nyaris jatuh, Ibnu yang berada di sisi Bhumi langsung sigap menangkapnya. Sedangkan Surya yang tadi berdiri sedikit jauh, menghampiri mereka dan ikut menahan tubuh Bhumi yang langsung lemas seolah tak bertulang.
Sakit pasti rasanya, Arimbi jelas tahu bagaimana rasanya dikhianati. Terlebih orang yang mengkhianati adalah orang yang dicintai.
"Apa yang kamu katakan ini bener, Fery?" tanya Arimbi. Akhirnya dia angkat bicara juga setelah sedari tadi hanya mengamati.
Dia tahu bahwa itu bukan urusannya. Akan tetapi, karena mungkin tahu bagaimana rasa sakit karena pengkhianatan, Arimbi tak bisa diam saja.
"Bener Bu, saya bersumpah. Saya ndak bohong. Buat apa saya bohong. Saya ngasih tahu Mas nya karena menurut saya si Mas harus tahu. Sebenernya, Mbak Senia itu, maaf bukannya mau ember. Atau mulut cowok kok licin atau sejenisnya. Hanya saja, Mbak Senia itu sedari dulu emang terkenal suka ganti-ganti cowok. Saya ndak tahu apa hubungan si Mas sama Mbak Senia sebelumnya. Tapi melihat Mas nya jauh-jauh datang ke sini cuma buat meriksa paket, itu udah membuktikan kalau hubungan Mas nya sama Mbak Senia bukan hubungan biasa. Maka dari itu saya memberanikan diri buat ngomong seperti ini."
Perkataan Fery yang panjang lebar itu sangat disukai oleh Arimbi. Setidaknya dengan informasi dari Fery, semua kebohongan dari wanita yang bernama Senia itu terungkap.
Sekarang tinggal melihat reaksi apa yang akan diberikan oleh Bhumi. Biasanya pria yang sudah menjadi bucin (budak cinta) akan tertutup matanya.
"Ibnu, kita ke rumah Senia sekarang! Bu Arimbi dan Pak Surya, Anda berdua akan ada di sini atau ikut kami. Setelah dari sana, kita akan sekalian pulang."
"Kami ikut saja."
Arimbi menjawab cepat. Dia tidak ingin membuat Bhumi bolak-balik nantinya. Lagi pula, ia dan Surya hanya perlu diam di mobil saat Bhumi bergerak nantinya.
Brummm
Mobil melaju dengan cepat. Tak lupa sebelum pergi Bhumi meminta maaf dan mengucapkan terimakasih kepada Fery. Dia juga meminta Ibnu untuk memberi sejumlah uang kepada pemuda tersebut.
Awalnya Fery menolak, tapi Bhumi mengatakan bahwa tidak baik menolak rejeki yang diberikan. Akhirnya Fery pun menerima dengan ucapan terimakasih yang begitu besar.
"Semoga urusannya berakhir dengan baik. Sumpah ya, aku bukannya mau ngadu atau mulutku lemes. Tapi kan kasian kalau ada orang yang dibohongi. Satu pria tersakiti, sejuta pria yang lain pun ikut merasakan,"ucap Fery sambil menatap kepergian mobil milik Bhumi.
TBC
mbak mbi yg sabar ....mak lakor tu anggap j angin kentut ...bau..jd lebih baik menjauh..
datang tp di maki diam saja buat apa, ya maki balik lah. sekalian viral nya kl mbales jng setengh setengh.
mampus si amar nyesel ternyata bukan ibu peri yg didapat mak Lampir 🤭🤭🤭
kasian JD korban dari orang tua tapi hati hati Arimbi mnt km mlh disalahkan m orang picik