Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7- Arogan
Hari berganti sore ketika langit mulai meredup dan semburat jingga menghiasi jalanan di depan toko. Kini Alena sedang menyusun kembali bunga-bunga yang tersisa dalam suasana yang tenang dan damai.
kring…!
Tiba-tiba pintu toko terbuka dengan kasar sehingga merusak ketenangan Alena yang lalu menoleh, dan seketika ia tau jika masalah telah datang.
Pria yang kemarin duduk di dalam mobil kini berdiri di hadapannya. Dia datang sendirian namun aura arogannya… tetap sama.
“Jadi lo yang namanya Alena?” katanya tanpa basa-basi.
Meski di perlakukan kasar, Alena tetap berdiri tenang dengan ekspresi datar.
“Selamat sore,” ucapnya profesional. “Ada yang bisa saya bantu?”
"Ha ha ha!," Pria itu tertawa sinis. “Bantu?” ulangnya. “Lo pura-pura nggak tau atau emang bego?”
Suasana toko memanas, beberapa pelanggan yang masih ada pun mulai merasa tidak nyaman.
“Saya tidak menerima bahasa seperti itu,” jawab Alena tetap tenang. “Jika ingin membeli, silakan. Jika tidak, saya minta Anda keluar.”
Pria itu lalu melangkah mendekat bahkan lebih dekat. “Tadi pagi, Bara disuruh minta nomor lo, dan lo nolak?” tanyanya merendahkan.
Alena tidak bergeming namun lima detik kemudian ia menjawab, “Saya sudah memberikan nomor toko.”
“Gue nggak butuh nomor toko!” bentaknya. “Gue mau nomor pribadi lo!”
Saat ini terasa hening, namun Alena tetap tenang dan tidak tergoyahkan. “Saya tidak memberikan nomor pribadi kepada siapa pun,” tegasnya lagi.
Pria itu pun menyeringai. “Wah… sok jual mahal ya?”
Ia melirik ke sekeliling seolah ingin mencari dukungan sambil tersenyum meremehkan. “Cuma penjual bunga doang, gaya banget.”
Kini beberapa pelanggan mulai menjauh karena tidak ingin terlibat. Namun Alena tetap berdiri di tempatnya dan tidak mundur apalagi takut.
“Saya hanya menjaga batas,” katanya.
“Batas? A HA HA HA HA....!!” pria itu tertawa keras. “Lo pikir gue siapa sampai harus dibatasin?”
Ia menunjuk pada dirinya sendiri dengan angkuh. “Gue bisa bikin toko lo tutup dalam sehari," ancamnya.
Namun, meski di ancam secara terang-terangan, tidak ada perubahan di wajah Alena. Dia tidak merasa takut dan tidak gentar. Ia hanya menatap pria itu dan terus menatapnya hingga membuat pria itu sedikit tidak nyaman.
“Kalau itu yang Anda inginkan,” jawab Alena akhirnya, “silakan coba.”
Pria itu langsung membisu seolah tidak menyangka atas respon itu. Namun egonya terlalu besar untuk mundur.
“Berani juga lo,” gumamnya.
Ia kemudian melangkah lebih dekat lagi dan nyaris melewati batas pribadi. Namun tanpa disadari kakinya tersandung sedikit dan hampir kehilangan keseimbangan.
“Hah—?”
Ia pun langsung berdiri tegak lagi seraya mengernyit.
Sedangkan Alena tidak bergerak sedikitpun dan tidak melakukan apa-apa. Namun matanya sedikit menyipit.
“Jangan bikin gue marah,” lanjut pria itu, yang mencoba mengembalikan wibawanya.
“Saya tidak melakukan apa-apa,” jawab Alena.
"Ckk!," Pria itu mendecak kesal. “Dasar perempuan aneh.”
Ia lalu menunjuk Alena dengan jarinya.
“Dengar ya. Gue kasih lo kesempatan terakhir.”
“Kasih nomor lo.”
“Atau…”
Ia tersenyum sinis.
“Lo bakal nyesel."
____
_______
Alena sedikit tersenyum lalu melangkah satu langkah ke depan dengan tatapan yang langsung menembus mata pria itu.
“Saya sudah menjawab. Dan jawaban saya… tidak akan berubah.”
"HA HA HA HA HA...!!!." Pria itu tertawa lagi bahkan terkesan lebih meremehkan.
“Baiklah,” katanya lagi. “Kita lihat saja nanti.”
Pria itu lalu beranjak meninggalkan toko sementara Alena terus menatapnya hingga tak terlihat.
Ia lalu menoleh ke arah bunga-bunga di mejanya dan menyentuh kelopak mawar merah dengan lembut. Namun, sorot matanya menakutkan.
**
Lanjut...
Rencananya malam ini Alena akan lembur dan kini masih sibuk di balik meja kerjanya. Tangannya bergerak cekatan, merangkai mawar, lili, dan baby breath menjadi buket pesanan untuk esok hari.
Di pintu, papan kecil bertuliskan CLOSED sudah tergantung, menandakan tidak ada lagi pelanggan yang seharusnya masuk.
“Sedikit lagi…” gumam Alena, lalu menghela napas sebelum kembali fokus merangkai bunga.
Tiba-tiba...
kring…!
Terdengar suara lonceng pintu berbunyi nyaring. Alena tidak langsung menoleh, karena ia mengira jika itu hanya angin atau seseorang yang salah melihat tanda tutup.
“Maaf, toko sudah tutup,” ucapnya, tanpa menghentikan pekerjaannya.
Namun tidak ada jawaban. Justru yang terdengar malah suara langkah kaki yang berjalan dengan tergesa-gesa dan tidak sopan.
Gerakan tangan Alena pun terhenti kemudian perlahan menoleh ke arah pintu dan melihat dua sosok yang berdiri di sana.
Mico.
Dan Bara.
Bara tampak tidak nyaman, terlihat dari langkahnya yang canggung, seolah berada di sana bukan atas keinginannya sendiri. Sementara itu, Mico masuk dengan wajah penuh kesal dan sikap arogan yang sama seperti sebelumnya.
“Gue nggak peduli toko lo tutup atau nggak,” kata Mico sambil berjalan mendekat. “Gue mau ngobrol.”
Alena langsung berdiri tegak dan tatapannya pun berubah dingin. "Keluar," tegasnya.
"Heh" Mico tertawa kecil dan meremehkan. “Wah, galak juga ya malam-malam.”
Ia terus melangkah mendekati meja kerja Alena, seolah tidak menganggap keberadaannya sebagai ancaman.
“Maaf…” kata Bara “Kami tidak bermaksud—”
“Diam lo!” bentak Mico tiba-tiba.
bugh!
Satu pukulan keras mendarat di perut Bara hingga membuatnya langsung membungkuk dan menahan sakit.
“Ukh—!”
Alena membeku melihat pemandangan itu dan tatapannya pun berubah menjadi lebih tajam dari sebelumnya.
“Jangan ikut campur kalau nggak mau gue hajar lagi,” ancam Mico pada Bara tanpa menoleh sedikit pun.
“Cukup,” pinta Alena.
Mico menatapnya seraya menyeringai. “Lo yang harusnya cukup. Gue cuma minta nomor lo. Susah amat sih?”
Alena memalingkan wajahnya sambil merapikan sebuah buket. “Saya sudah menolak.”
“Dan gue nggak suka ditolak.”
Tiba-tiba, tangan Mico menyapu meja.
prak!
Sebuah pot bunga jatuh dan pecah hingga tanah serta kelopak bunga berserakan di lantai.
“Ups,” katanya santai. “Nggak sengaja.”
Alena tidak merespon pada hal itu dan enggan menatap pria brengsek itu. Tapi si Mico melangkah lagi, lalu menendang pot lain.
brak!
“Eh, jatuh lagi,” ujarnya pura-pura heran. “Lantai lo licin sih.”
“Berhenti Mico…” Bara mencoba melerai dengan suara yang terdengar lemah dari belakang.
Namun Mico tidak peduli. Ia lalu mengambil satu pot kecil dari meja, memainkannya sejenak, lalu menjatuhkannya lagi.
crash!
“Maaf ya,” katanya sinis. “Tangan gue emang suka lepas sendiri.”
Alena perlahan meletakkan gunting di tangannya. Ia lalu melangkah dengan tenang hingga berhenti tepat di depan Mico.
“Sudah selesai?” tanyanya.
Mico menatapnya dengan sedikit heran, namun tetap menyeringai. “Belum kalau lo belum kasih nomor lo.”
Bara menatap Alena dengan perasaan tak menentu, seolah bingung apa yang akan terjadi dan apa yang harus dilakukan.
“Kalau begitu…” kata Alena, ia tersenyum seraya matanya melirik pecahan pot di lantai lalu kembali menatap Mico, “ganti semuanya.”
“Hah?! A HA HA HA HA HA...!!."
Mico tertawa keras dan terhenti ketika Alena berkata. “Semua yang kamu rusak."
Mico menatap Alena selama beberapa saat lalu mendekat dan menantang. “Kalau gue nggak mau?”
Alena menatapnya lekat-lekat lalu sedikit memiringkan kepalanya. “Kalau begitu... Jangan salahkan saya… kalau kamu yang akan jatuh berikutnya.”
“Ancaman?” tanya Mico seraya mengernyitkan dahinya.
“Bukan... tapi peringatan.”
Bara yang melihat semua itu hanya menahan napas. Sementara jantungnya berdetak lebih cepat, seperti genderang yang mau perang.