NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

Malam itu, kamar kontrakan sederhana berukuran mungil terasa begitu mencekam. Adinda duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kegelapan ruang tengah yang juga berfungsi sebagai area dapur kateringnya. Di layar perbankan digital, angka Rp450.000 sudah tertera di kolom nominal transfer. Jari Adinda melayang di atas tombol kirim, gemetar hebat bukan karena nominalnya, melainkan karena rasa sesak yang menghimpit dadanya.

​Ini adalah uang modal yang seharusnya dipakai untuk membeli stok cup kue dan pelengkap pesanan katering besok subuh. Namun, ketukan demi ketukan pesan di grup WhatsApp keluarga Bagas yang dipimpin oleh Mas Broto terus meneror sejak sore.

"Nomor Enam, bagaimana? Yang lain sudah lunas semua. Tinggal kamu yang belum. Jangan sampai acara ulang tahun Ibu yang ke-70 ini terhambat cuma karena satu orang telat patungan. Kita harus kompak kasih kejutan mewah."

​Kalimat dari kakak tertua Bagas itu bagai cambuk yang terus melecut harga diri suaminya. Dan seperti biasa, Bagas akan melimpahkan beban itu ke pundak Adinda.

​Bagas yang saat itu baru keluar dari kamar mandi, langsung berdiri di depan Adinda sambil berkacak pinggang. "Sudah kamu transfer, Din? Mas Broto sudah nanya lagi itu di grup. Malu aku kalau diledek terus."

​Adinda mendongak, matanya yang sembap menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ini uang terakhir yang aku punya untuk muter modal besok, Mas. Kalau aku transfer ini, besok aku harus putar otak buat cari pinjaman bahan kue."

​"Alah, besok kan ada uang masuk lagi dari pesanan orang! Sini, biar aku saja yang pencet!" Bagas merebut ponsel dari tangan Adinda, lalu dengan cepat memasukkan PIN dan menekan tombol konfirmasi.

Bip.

​Transaksi berhasil. Uang itu melayang ke rekening Mas Broto.

​Bagas bernapas lega, tersenyum puas seolah baru saja memenangkan sebuah penghargaan besar. "Nah, begitu dong. Berbakti sama orang tua itu gak akan bikin miskin, Din. Kamu lihat saja nanti, Ibu pasti senang sekali melihat kejutan pesta mewah dari anak-anaknya."

​Adinda tidak menjawab. Ia hanya mengambil kembali ponselnya dengan tangan dingin. Di dalam hatinya, sebuah janji telah terpatri dengan sangat kuat. Ini yang terakhir. Ini adalah uang terakhir yang aku relakan untuk gengsi kalian. Dan besok, adalah kehadiran terakhirku di tengah keluarga yang tidak pernah menganggapku ada.

Setelah Bagas melangkah pergi dengan wajah puas karena berhasil mentransfer uang Rp450.000 ke rekening Mas Broto, Adinda hanya bisa terduduk lemas di kursi dapur. Tangannya mengepal kuat di atas meja kayu yang dingin. Dadanya naik-turun menahan sesak. Suaminya baru saja merampas modal perputaran katering untuk besok subuh, meninggalkan Adinda dalam posisi paling terjepit sebagai seorang pengusaha.

​Adinda melirik jam dinding di atas kulkas 1 pintu miliknya. Sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pasar induk akan mulai ramai dua jam lagi, dan para pemasok daging serta sayuran tidak akan mau memberikan toleransi utang jika ia tidak membawa uang tunai yang cukup.

Dengan langkah berat dan hati yang hancur, Adinda bangkit. Ia berjalan pelan menuju satu-satunya kamar di rumah mungil itu kamar yang sebenarnya menjadi tempat tidur mereka bertiga, namun ruang tengahnya sudah disekat lemari kain untuk memberikan privasi bagi anak laki-lakinya yang beranjak remaja, Dimas.

​Adinda menggeser pintu sekat perlahan. Di dalam, Dimas yang masih mengenakan seragam sekolah yang belum sempat diganti, tengah duduk di kasur lantai sambil membaca buku pelajaran SMP-nya. Mendengar langkah sang ibu, Dimas mendongak.

​"Ibu? Belum tidur? Bukannya besok subuh harus antar katering?" tanya Dimas, suaranya yang mulai pecah khas remaja terdengar sangat lembut.

​Adinda memaksakan sebuah senyum tipis, meski matanya tidak bisa berbohong kalau ia sedang menahan tangis. "Belum, Sayang. Ibu... Ibu mau ambil sesuatu di bawah lemari kamu."

​Dimas segera menggeser duduknya, memberikan ruang bagi ibunya. Adinda berlutut di lantai semen yang dilapisi karpet plastik, lalu meraba bagian kolong lemari pakaian plastik milik Dimas. Dari sana, ia menarik sebuah kotak kue kaleng bekas yang sudah berkarat di bagian pinggirnya. Di dalam kotak itulah, Adinda menyembunyikan uang tunai hasil sisa keuntungan katering kecil-kecilan selama berbulan-bulan.

​Uang itu sengaja ditaruh di kamar Dimas agar tidak terendus oleh jemari Bagas yang ringan tangan jika menyangkut urusan iuran keluarga besarnya. Itu adalah uang impian Adinda. Uang yang rencananya akan ia kumpulkan sedikit demi sedikit sebagai DP untuk membeli rumah sederhana milik mereka sendiri, agar mereka bisa keluar dari lingkaran tuntutan keluarga mertua yang toxic.

Dengan tangan bergetar, Adinda membuka kaleng tersebut. Ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari sana. Jiwanya terasa tercabik. Impiannya untuk punya rumah sendiri terpaksa mundur lagi selangkah demi menambal bakti buta suaminya.

​"Bu..."

​Suara Dimas memecah keheningan. Anak remaja itu menatap lembaran uang di tangan ibunya dengan tatapan nanar. Dia bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi dengan alasan uangnya disimpan di bank. Dimas tahu persis untuk apa kotak kaleng itu selama ini dirawat oleh ibunya.

​"Bu, buat apa Ibu menarik uang itu?" tanya Dimas langsung, nadanya bergetar penuh rasa ingin tahu sekaligus cemas. "Itu kan uang tabungan Ibu buat kita beli rumah nanti? Kenapa diambil malam-malam begini?"

​Adinda membeku. Ia buru-buru menyeka setetes air mata yang lolos di pipinya, lalu berbalik menghadap anaknya. "Gak apa-apa, Nak. Ibu cuma... cuma butuh tambahan modal sedikit untuk belanja daging di pasar nanti malam. Uang modal yang tadi terpakai dulu."

​Dimas mengepalkan tangannya di atas lutut. Wajah remajanya mengeras, memancarkan kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan. "Dipakai Abah lagi, kan, Bu?" tembak Dimas telak. "Abah pakai uang Ibu lagi buat patungan keluarga Mas Broto?"

​"Dimas, gak boleh begitu sama Abah..." Adinda mencoba menenangkan, walau hatinya sendiri membenarkan ucapan anaknya.

"Tapi itu kenyataannya, Bu!" Suara Dimas meninggi, matanya mulai berkaca-kata karena tidak tega melihat ibunya selalu mandi keringat di depan oven tapi hasilnya selalu dirampas. "Tadi siang aku dengar Abah teleponan sama Om Broto di depan rumah. Mereka bahas soal pesta ulang tahun Nenek yang ke-70 minggu depan. Mereka mau bikin acara mewah, pakai kado mahal dan kue yang besar. Kenapa harus Ibu yang susah payah cari uang malam-malam begini sementara Abah cuma tahu beres?"

​Dimas bergeser mendekati ibunya, lalu memegang tangan Adinda yang terasa dingin. "Bu, sepatu sekolahku yang jebol saja Ibu bilang harus nunggu bulan depan karena uangnya belum cukup. Tapi kenapa kalau buat pesta Nenek, Abah langsung ambil uang Ibu begitu saja? Ini gak adil buat Ibu, gak adil juga buat aku!"

​Tangisan yang sejak tadi Adinda tahan akhirnya pecah juga di hadapan anak laki-lakinya. Ia memeluk tubuh Dimas dengan erat, menumpahkan segala rasa sesak, lelah, dan terhina yang selama ini ia pendam sendiri sebagai seorang istri. Dimas membalas pelukan ibunya dengan kuat, matanya menatap tajam ke arah pintu sekat luar, tempat di mana ayahnya mungkin sedang asyik bermain ponsel tanpa beban.

​"Maafkan Ibu ya, Dimas. Maafkan Ibu belum bisa kasih kehidupan yang tenang buat kamu," bisik Adinda di sela tangisnya.

​Dimas menggelengkan kepala di pundak ibunya. "Ibu gak salah. Ibu sudah kerja keras setiap hari buat aku. Tapi aku muak melihat Abah dan keluarga Nenek yang selalu menuntut ini itu tanpa peduli kita makan atau tidak."

​Dimas melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata di pipi Adinda dengan ibu jarinya yang kasar. "Bu, ambil saja uang tabungan itu untuk modal besok. Tapi aku mohon, ini harus jadi yang terakhir kalinya Ibu mengalah. Kalau Abah atau keluarga besar itu minta iuran lagi minggu depan untuk pesta mewah mereka, Ibu harus tolak. Kalau Ibu gak berani, biar aku yang maju menghadapi Abah."

Mendengar kalimat tegas dari anak laki-lakinya yang baru SMP itu, Adinda terpaku. Di dalam ruangan sempit itu, di bawah pendar lampu lima watt kamar Dimas, Adinda seperti mendapatkan suntikan keberanian baru. Kesabarannya yang selama ini layaknya karet yang ditarik ulur, malam itu resmi telah putus di titik paling ujung.

​Adinda mengangguk mantap sambil menggenggam sisa uang tunai di tangannya. "Iya, Nak. Ibu janji. Ini adalah uang terakhir yang Ibu keluarkan untuk kebodohan Abahmu. Pekan depan, di acara ulang tahun itu, Ibu tidak akan diam lagi."

​Malam itu, Adinda menutup kembali kotak kalengnya dengan tekad yang sudah bulat. Dia akan menyelesaikan pesanan katering besok subuh dengan sebaik mungkin, mengumpulkan tenaga, karena di hari-H pesta kejutan sang mertua nanti, Adinda tidak akan datang sebagai menantu yang tertindas, melainkan sebagai seorang wanita yang siap menghancurkan topeng gengsi palsu keluarga besar suaminya.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!