NovelToon NovelToon
Menikah Karena Jebakan

Menikah Karena Jebakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Nikahmuda / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.

Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.

Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.

Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?

Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29.

"Sayang... Ibu datang, Nak..." bisik Bu Safira di sela isaknya. Tangannya mengusap lembut punggung putrinya, seolah ingin menyalurkan seluruh rasa rindu yang selama ini tertahan.

Barulah Zeya benar-benar tersadar. Tanpa ragu, ia membalas pelukan sang ibu dengan lebih erat. Airmata haru akhirnya luruh begitu saja.

"Ibu... Ze kangen Ibu..." lirihnya terbata-bata di sela tangis yang pecah.

Tak ada lagi kata-kata yang mampu mewakili kerinduannya selain kalimat sederhana itu.

Beberapa saat kemudian, Bu Safira perlahan melepaskan pelukannya. Meski begitu, kedua tangannya masih menggenggam lembut bahu Zeya, seakan memastikan bahwa sang putri benar-benar berada di hadapannya.

Di saat itulah Jenna melangkah mendekat. Matanya tampak berkaca-kaca menahan haru. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung merengkuh Zeya ke dalam pelukannya.

"Ze... aku kangen banget sama kamu..." ucapnya dengan suara bergetar.

Senyum tipis menghiasi wajah Zeya di balik sisa-sisa tangisnya. Ia membalas pelukan sahabatnya dengan erat.

"Aku juga, Jen... aku juga."

Tak jauh dari mereka, Dr. Rangga dan Maura tampak turun dari mobil. Daniel segera menghampiri ayah mertuanya dengan senyum hangat, lalu menjabat tangannya erat.

"Selamat datang, Om," sambutnya ramah.

"Terima kasih, Daniel," balas Dr. Rangga sambil menepuk pelan bahu sang menantu.

Sementara itu, Maura masih berdiri beberapa langkah di belakang. Jemarinya meremas ujung bajunya sendiri. Jantungnya berdegup semakin cepat, keberanian yang telah ia kumpulkan sejak berangkat seakan lenyap entah ke mana.

Ketika pelukan Jenna dan Zeya terlepas, pandangan Zeya perlahan beralih ke arah Maura. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap dalam diam. Maura menarik napas panjang, lalu melangkah maju. Dengan kepala tertunduk, ia akhirnya memberanikan diri membuka suara.

"Zeya... Daniel... maafkan, aku." Suaranya lirih, tetapi terdengar begitu tulus.

Perlahan Maura mengangkat wajahnya. Matanya telah dipenuhi airmata yang sejak tadi ia tahan.

"Aku datang ke sini untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan kepada kalian berdua. Sungguh, aku benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki semuanya."

Zeya menatapnya lekat-lekat wajah Maura. Dapat ia lihat penyesalan yang begitu tulus di mata saudara sambungnya. Senyum lembut pun terukir di bibirnya.

"Aku sudah memaafkanmu, Maura. Walaupun mungkin kita butuh waktu untuk kembali sedekat dulu. Tapi hari ini... aku senang kamu datang," ucapnya tenang.

Kalimat itu seolah mengangkat beban berat yang beberapa hari ini menyesakkan dada Maura. Airmatanya jatuh tanpa mampu ia bendung. Senyum lega pun perlahan menghiasi wajahnya. "Terima kasih... Ze."

Suasana yang semula dipenuhi kecanggungan kini berubah menjadi kehangatan. Bu Safira mengusap sudut matanya yang kembali basah, sementara Dr. Rangga dan Daniel saling bertukar pandang penuh kelegaan.

Kemudian Daniel mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah panggung yang menjadi tempat tinggalnya.

"Semuanya silakan masuk. Maaf, hunian kami sangat sederhana," ucapnya dengan apa adanya.

"Jangan bilang begitu, Nak," sahut Dr. Rangga sambil menepuk pelan bahu pemuda itu. "Yang membuat sebuah hunian terasa nyaman bukan kemewahannya, tapi orang-orang yang ada di dalamnya."

Ucapan itu membuat Daniel tersenyum kecil. Mereka pun masuk satu per satu. Aroma kayu yang khas berpadu dengan semilir angin yang masuk melalui jendela membuat suasana rumah panggung sederhana itu terasa sejuk dan nyaman.

Bu Safira memperhatikan setiap sudut rumah itu dengan seksama. Tak ada perabot mewah, tetapi semuanya tertata begitu rapi dan bersih. Hatinya terasa hangat sekaligus sesak membayangkan bagaimana putrinya menjalani kehidupan di tempat seperti itu.

"Silakan duduk, semuanya," ujar Zeya sambil mengambil beberapa bantal duduk.

Daniel segera menuangkan air minum ke dalam gelas, dengan cekatan Zeya membantu menyiapkan camilan seadanya yang mereka punya, yaitu singkong, ubi dan jagung kukus pemberian beberapa warga.

"Maaf, kami cuma bisa menyuguhkan ini," ucap Zeya sedikit sungkan.

Bu Safira langsung menggenggam tangan putrinya. "Jangan meminta maaf, Sayang. Melihat kalian hidup dengan baik di sini, itu sudah lebih dari cukup buat ibu."

Selanjutnya, Dr. Rangga mengajak Daniel turun ke bawah. Membuka bagasi mobil lalu bersama-sama mengangkat beberapa kardus berisi bingkisan ke dalam rumah.

Melihat begitu banyak barang yang dibawa, Daniel langsung menggeleng. "Om... ini terlalu banyak."

"Anggap saja ini bekal dari kami," jawab Dr. Rangga ringan.

"Tapi, Om...." Dr. Rangga langsung memotong ucapan Daniel lembut.

"Daniel... kamu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi, tak perlu merasa sungkan."

Mendengar kalimat sederhana langsung dari mulut Dr. Rangga membuat Daniel terdiam beberapa saat. Hatinya terasa menghangat. "Terima kasih... Om."

Dr. Rangga hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.

Di sudut ruangan, Jenna dan Maura membantu Bu Safira menyusun bingkisan di rak kayu.

"Wah... Tante bawa banyak sekali," ujar Jenna sambil mengeluarkan beberapa bungkus bahan makanan.

Bu Safira tersenyum. "Ini untuk persediaan beberapa minggu. Semoga bermanfaat buat kalian berdua," ucapnya begitu tulus.

Zeya langsung menggeleng pelan. "Masya Allah... ini terlalu banyak, Bu."

"Kalau menurut Ibu, justru masih kurang, Sayang. Di sini sangat jauh dari kota, pasti kalian kesulitan mencari kebutuhan pokok." Bu Safira beralasan yang masuk akal.

Airmata kembali menggenang di pelupuk mata Zeya. Maura yang melihatnya ikut tersenyum haru.

Beberapa saat kemudian suasana berubah lebih santai. Percakapan mulai mengalir dengan ringan. Dr. Rangga banyak bertanya mengenai kehidupan Daniel di desa, dan rencana mereka ke depannya.

"Saya punya rencana mengajak warga memajukan pertanian di desa ini, Om," jawab Daniel jujur.

"Tapi sebelumnya saya ingin belajar dulu teknik pertanian modern yang efektif, supaya nanti saya bisa menerapkannya dengan baik pada warga di sini."

"Wah, itu langkah awal yang bagus, Nak!" ujar Dr Rangga dengan rasa bangga. "Untuk urusan dana kamu nggak perlu khawatir, papa pasti akan membantu."

"Terima kasih banyak, Om." Daniel lantas menyalami ayah mertuanya tersebut.

Dr. Rangga tersenyum dan mengangguk pasti. Semakin lama berbincang, semakin besar rasa kagumnya kepada Daniel. Di balik usianya yang masih muda, pemuda itu memiliki tanggung jawab, kesabaran, dan kedewasaan yang jarang dimiliki banyak anak muda sebayanya. Meskipun dia lahir dari keluarga berkecukupan.

Sementara itu, Maura beberapa kali mencuri pandang ke arah Zeya. Ia masih merasa bersalah, meski permintaan maafnya telah diterima. Dengan ragu, ia akhirnya mendekat.

"Ze..." Zeya menoleh.

"Kalau... suatu hari nanti kamu ada waktu... mau nggak pulang ke rumah? Nggak harus lama. Sekadar main... atau makan bersama."

Suasana mendadak hening. Maura buru-buru menambahkan sambil menggoyangkan kedua tangannya, "Nggak usah dipaksakan kalau memang kamu nggak bisa."

Zeya menatap wajah saudara sambungnya beberapa detik, lalu tersenyum lembut. "Aku akan datang."

Maura tertegun. "Benarkah?"

"Iya..." Zeya mengangguk mantap. "Aku juga ingin hubungan kita membaik."

Senyum Maura langsung mengembang lebar. Bu Safira diam-diam mengusap sudut matanya.

Jenna yang sejak tadi menyaksikan semuanya ikut tersenyum lega. "Akhirnya..." gumamnya pelan.

1
Aditya hp/ bunda Lia
rapat dadakan 😁
Nar Sih
jgn kepede an dulu juragan ,jgn anggap remeh daniel dan zheya yg ada kmu yg kalah🤣
Patrick Khan
kyk nya mw rundingan😁😁
Aditya hp/ bunda Lia
perasaan cuuinttaaaaa ..... itu namanya Zeyaaa kasih tau Moms
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣,
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
ini mama Mia yang di sebelah yah ... Mak Mia 🤭🤭
Aditya hp/ bunda Lia: waduh .. dah ada anaknya yah 😂
total 8 replies
Patrick Khan
serbuuuuuuu🔨🔨🔨🔨🔨ini q bawah senjata😁
Aditya hp/ bunda Lia: siap perang kita 😂😂😂
total 5 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kebalik paaaakkk kamu yang siap2 belum tau ajah kau itu siapa Daniel dan zeya ... kamu salah pilih lawan ...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Esther
Bu Yuni kompor meleduk....kalau iri bilang bu😂🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kak, Es, pernah lihat sinetton tukang ojek pengkolan gak? nah seperti itulah karakter bu yuni dlm bayangan ibu🤭🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
akhirnya maraton 😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 3 replies
Nar Sih
lega kan hti mu maura klau sdh minta maaf dan di terima ,tinggal perbaiki diri dan hti mu biar jauh dri sifat yg gk trrpuji lgi
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Patrick Khan
ahh muara tobat ni ye🤣🤣🤣
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Patrick Khan
terkejut kan zeya
.emaknya datang😁
Esther
kalau akur gini kan enak,gak ada rasa iri.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu ya zhe
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Nar Sih
semoga dgn ada nya zheya dan daniel di desa tersebut bisa membwa perubahan yg lbh maju
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Nar Sih
👍👍maura kmu sdh berani bersikap legowo minta maaf semoga dgn saling memaaf kan bisa membawa hidup lebih damai biar bagai mana pun kmu dan zeya saudara
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
tium atuh Niel udah sah ini tium kening ajah ... 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: wkwkwkk ... iya juga yah
total 4 replies
Dew666
Maksut istri tua gimana nih
Dew666: Ooh begitu 😍
total 2 replies
Aditya hp/ bunda Lia
clear udah
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!