NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Raja Iblis

Reinkarnasi Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Reinkarnasi
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Sulaiman1927

Raja Iblis Vorthar adalah penguasa seluruh wilayah kegelapan yang ditakuti oleh para dewa dan manusia. Setelah perang besar yang memakan korban tak terhitung, ia akhirnya dikalahkan dan dikurung selama ribuan tahun. Namun, kutukan para dewa tak mampu menghapus keberadaannya sepenuhnya.

Saat terbangun kembali, Vorthar tidak lagi berada di istana kegelapan yang megah. Ia terlahir kembali sebagai seorang anak biasa di dunia manusia yang damai dan penuh dengan para kultivator yang menganggap kekuatan kegelapan sebagai hal terlarang. Dengan ingatan dan kekuatan dasar yang masih tersimpan, ia harus menavigasi dunia yang memandangnya sebagai musuh.

Tanpa teman dan dengan banyak musuh yang mengincar nyawanya, Vorthar mulai menapaki jalan kembali menuju puncak kekuatan. Ia tidak hanya ingin memulihkan kekuatannya sebagai Raja Iblis, tetapi juga mencari tahu rahasia di balik perang kuno yang menghancurkan dunianya. Dalam perjalanannya, ia akan bertemu dengan sekutu yang tak terduga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan dengan penguasa

Hari berikutnya adalah hari Upacara Penyucian Besar. Ribuan kultivator berkumpul di alun-alun utama Kota Surgawi. Di atas panggung tinggi berdiri Tujuh Dewa Penguasa, masing-masing memancarkan cahaya yang berbeda dan memegang simbol kekuasaan mereka.

Upacara dimulai dengan doa dan ritual pembersihan. Namun Ryn dan teman-temannya tahu bahwa di balik upacara suci itu tersembunyi tujuan yang jahat.

Saat upacara berlangsung hingga pertengahan, tiba-tiba Dewa Kaelus berbicara dengan suara yang lantang hingga ke seluruh penjuru alun-alun.

"Selamat datang, semua kultivator yang setia pada cahaya dan kebenaran," kata Dewa Kaelus. "Hari ini kita akan memperkuat pertahanan dunia dan memastikan bahwa tidak ada lagi ancaman dari kekuatan jahat yang pernah disebutkan dalam sejarah. Ingatlah, keamanan dunia ada di tangan kita dan kita akan menjaganya dengan segala cara."

Setelah berkata demikian, Dewa Kaelus mengangkat tangan dan mulai menarik energi alam dari seluruh wilayah. Energi itu bergerak menuju arah panggung dan terkumpul di dekatnya, membuatnya semakin kuat dan bersinar terang.

Namun tepat saat itu, Ryn melangkah maju ke depan dari antara ribuan orang.

"Kebenaran bukanlah apa yang kalian katakan," suara Ryn terdengar jelas dan kuat, mengalahkan suara upacara dan angin kota. "Kalian bukan menjaga dunia, kalian hanya menguasainya dengan cara yang salah. Keseimbangan tidak bisa dibangun dengan menghapus jenis kekuatan lain."

Seluruh alun-alun menjadi sunyi sepenuhnya. Semua mata beralih ke arah Ryn, dan suasana menjadi tegang hingga bisa didengar suara jantung yang berdetak.

Dewa Kaelus menatap Ryn dengan tatapan dingin dan tidak percaya.

"Siapa kau yang berani membantah aku di tempat ini?" tanya Dewa Kaelus dengan suara yang penuh kekuasaan. "Kau tahu tidak apa yang kau lakukan? Kau akan dihukum karena menodai upacara suci ini."

"Aku hanya berbicara kebenaran," jawab Ryn dengan tenang. "Dan aku di sini untuk mengambil apa yang menjadi hak dunia ini kembali. Permata Dunia harus dikembalikan ke alam semesta, bukan disimpan oleh sekelompok orang yang ingin menguasai segalanya."

Ryn mengeluarkan kedua pedang yang ia miliki, dan cahaya ungu dan biru bersinar terang, melawan cahaya emas yang dipancarkan oleh Dewa Kaelus.

"Jadi kau adalah orang yang dicari selama ribuan tahun..." kata Dewa Kaelus sambil tersenyum sinis. "Raja Iblis yang telah kembali. Baiklah, hari ini aku akan mengakhiri legenda ini selamanya."

Dewa Kaelus melompat turun dari panggung dan berdiri berhadapan langsung dengan Ryn. Di belakangnya, enam Dewa Penguasa lainnya juga bersiap bertindak.

Lira, Zarathos, dan Gareth berdiri di samping Ryn, siap melindunginya dan bertarung bersama.

"Ini adalah pertarungan yang akan mengubah nasib dunia," bisik Zarathos. "Dan hari ini, kita mulai."

Ryn memegang kedua pedangnya dengan erat dan menatap musuh-musuhnya yang paling kuat. Ia tidak lagi takut. Ia telah menempuh perjalanan panjang, menemukan kebenaran, dan kini ia siap untuk melawan yang paling kuat dari semuanya.

"Datanglah," kata Ryn dengan suara tegas. "Aku siap."

Hari itu, alun-alun Kota Surgawi yang biasanya penuh dengan ketenangan dan rasa hormat tiba-tiba berubah menjadi medan pertempuran yang penuh tekanan. Ribuan kultivator yang hadir terdiam, menyaksikan pertemuan antara Ryn dan Dewa Kaelus, salah satu pemimpin tertinggi Persekutuan Dewa.

Cahaya emas yang memancar dari tubuh Dewa Kaelus membuat seluruh area menjadi terang benderang, namun di hadapannya, cahaya ungu dan biru dari kedua pedang milik Ryn tidak kalah bersinar. Kedua kekuatan itu saling bertentangan, menciptakan gelombang energi yang menghancurkan lantai batu alun-alun dan membuat angin berputar kencang.

"Kau berani menentang kehendak para Dewa di tempat yang paling suci ini?" suara Dewa Kaelus bergema, tidak hanya terdengar di telinga Ryn tapi juga terdengar oleh semua orang yang ada di sana. Wajahnya dingin namun penuh dengan kemarahan yang telah terpendam selama ribuan tahun. "Kau pikir dengan membawa sepotong senjata kuno ini, kau bisa mengubah apa yang telah ditetapkan?"

"Ini bukan tentang mengubah aturan yang salah," jawab Ryn dengan suara yang tenang namun tegas, sambil memegang gagang kedua pedang dengan erat. "Ini tentang mengembalikan keseimbangan yang dirampas. Selama ribuan tahun, dunia ini hanya mengenal satu jenis kekuatan sebagai yang benar, sementara yang lain dikutuk dan disembunyikan. Apakah itu keadilan? Apakah itu kebenaran?"

Dewa Kaelus tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gemuruh petir dari kejauhan. "Kebenaran ditentukan oleh mereka yang memegang kekuasaan dan menjaga ketertiban. Tanpa aturan yang kita buat, dunia ini akan runtuh menjadi kekacauan. Kau menganggap dirimu sebagai penyelamat, padahal kau hanya membangkitkan kembali kejahatan yang sudah lama kita hapus."

Sebelum Ryn bisa menjawab, Dewa Kaelus sudah bergerak. Ia mengangkat tangan kanannya, dan ribuan anak panah cahaya emas terbentuk di udara, kemudian menyerang Ryn dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.

"Jaga dirimu!" teriak Lira dari sampingnya, langsung mengeluarkan teknik angin untuk menahan sebagian anak panah itu. Namun kekuatan cahaya dari Dewa Kaelus terlalu kuat, anak panah itu tetap menembus pertahanan angin dan meluncur lurus ke arah Ryn.

Ryn tidak mundur. Ia menggabungkan energi dari kedua pedangnya menjadi satu lapisan pelindung yang berwarna ungu dan biru. Saat anak panah cahaya itu menyentuh pelindungnya, mereka tidak langsung menghancurkannya, melainkan saling bertarung seimbang.

BUK! BUK! BUK!

Suara ledakan kecil terdengar beruntun. Ryn terpental mundur beberapa langkah hingga kakinya menekan batu lantai yang mengeras, meninggalkan jejak goresan yang dalam. Wajahnya sedikit pucat, namun tatapannya tetap tajam dan tidak pernah berkedip.

"Kekuatanmu kuat," akui Ryn, mengatur napasnya kembali. "Tapi kamu salah mengerti satu hal: Kekuatan kegelapan bukan kejahatan. Ia hanya sisi lain dari koin yang sama. Tanpa kegelapan, tidak ada cahaya yang bisa bersinar terang."

"Kau masih saja membela hal yang salah," kata Dewa Kaelus dengan dingin. Ia kembali menyerang, kali ini tidak menggunakan serangan jarak jauh, melainkan bergerak secepat kilat menghadap Ryn. Pedang cahaya emas muncul di tangannya, tajam dan bersinar seperti matahari yang sedang terbit.

Pertarungan antara dua kekuatan yang bertentangan itu dimulai. Setiap benturan pedang menciptakan ledakan energi yang menghancurkan bangunan di sekitar mereka. Batu-batu besar terlempar ke mana-mana, dan banyak kultivator yang hadir terpaksa lari menjauh demi keselamatan diri sendiri.

Zarathos, Lira, dan Gareth berdiri di dekat pinggir medan, tidak berani masuk terlalu dalam karena kekuatan pertarungan mereka bisa melukai siapa saja di sekitarnya. Namun mereka tetap waspada, siap membantu jika ada kesempatan.

"Kamu belajar dengan cepat," kata Dewa Kaelus saat mereka bertabrakan lagi. "Tapi teknikmu masih belum sempurna. Kekuatan kuno yang kamu bawa itu belum sepenuhnya kamu kuasai."

"Itu karena aku belum memiliki bagian terakhirnya," jawab Ryn sambil menghindari serangan balik yang cepat. "Tapi satu bagian saja sudah cukup untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya memiliki hak di dunia ini."

Ryn mulai menggunakan teknik yang ia pelajari dari Desa Lembah Kabut Abadi. Ia tidak lagi hanya bertarung dengan kekuatan fisik, tetapi mulai menggerakkan aliran energi di sekitarnya. Ia membuat cahaya ungu dan biru dari pedangnya tidak hanya menjadi pertahanan, tapi juga mulai menyerap sedikit energi cahaya dari musuhnya dan mengubahnya menjadi bagian dari kekuatannya sendiri.

Dewa Kaelus mulai terkejut. Ia tidak pernah menyangka ada orang yang bisa menetralkan dan mengubah energi cahayanya dengan cara seperti itu.

"Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan ini?" tanya Dewa Kaelus dengan nada yang mulai kehilangan ketenangannya.

"Karena aku adalah bagian dari keseimbangan ini," jawab Ryn tegas. "Aku bukan musuhmu, Dewa Kaelus. Aku hanya seseorang yang ingin mengembalikan apa yang seharusnya ada sejak awal."

Saat Ryn berbicara, ia mengumpulkan seluruh sisa energinya. Kedua pedang di tangannya bersinar lebih terang dari sebelumnya, menggabungkan kekuatan keseimbangan yang ia miliki. Ia melompat ke udara dan menyerang dengan satu serangan terakhir yang menyatukan semua teknik yang sudah ia pelajari.

Serangan itu bernama "Titik Keseimbangan". Di satu sisi ada cahaya, di sisi lain ada kegelapan, dan di tengahnya ada titik di mana keduanya bertemu dan menjadi satu kekuatan yang utuh.

Dewa Kaelus mencoba menahan serangan itu dengan seluruh kekuatannya. Pedang cahayanya bersinar sekuat tenaga, menciptakan dinding cahaya yang tebal dan kuat. Namun serangan Ryn tidak bisa dihentikan. Kekuatan keseimbangan itu mampu menembus bahkan pertahanan terkuat sekalipun, karena ia tidak bertarung dengan cara menghancurkan, melainkan dengan cara menyeimbangkan.

BUKKKK!

Ledakan besar mengguncang seluruh Kota Surgawi. Debu dan asap menyelimuti area itu, membuat semua orang tidak bisa melihat apa yang terjadi. Ketika kabut perlahan mulai hilang, Dewa Kaelus terlihat berdiri di sana dengan pakaian yang robek dan luka di tubuhnya, sementara pedang cahayanya sudah melemah dan tidak lagi bersinar terang.

Ryn berdiri beberapa meter jauhnya, meskipun juga terlihat lelah dan berdarah di sudut bibir, namun ia tetap tegak dan tidak jatuh.

"Kamu... kamu benar-benar memiliki kekuatan yang sama dengan Vorthar," kata Dewa Kaelus dengan suara yang gemetar. Wajahnya kini tidak lagi penuh dengan kemarahan, melainkan penuh dengan kebingungan dan ketakutan. "Bagaimana mungkin kamu masih bisa berdiri setelah menerima serangan penuh dariku?"

"Karena aku tidak bertarung untuk menguasai," jawab Ryn perlahan. "Aku bertarung untuk kebenaran. Dan kekuatan yang berasal dari kebenaran tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kekuatan yang berasal dari penindasan."

Saat itu, dari balik bangunan panggung utama, muncul enam sosok lain. Mereka adalah Enam Dewa Penguasa lainnya, masing-masing memancarkan aura yang sangat kuat dan penuh otoritas. Mereka tidak lagi bisa membiarkan Ryn tetap hidup di sini.

"Kalian semua bisa datang sekaligus saja," kata Ryn dengan napas terengah namun suaranya tetap berani. "Aku tidak akan lari dari tugasku."

Lira maju sedikit dan berkata dengan suara lantang:

"Jangan menghukumnya sebelum kalian mendengar penjelasannya! Selama ribuan tahun kalian telah menulis sejarah sesuai keinginan sendiri dan menyembunyikan kebenaran. Sekarang saatnya kalian tahu bahwa dunia ini tidak hanya milik kalian!"

Namun Enam Dewa Penguasa itu tidak mau mendengar apa pun. Mereka segera maju bersama-sama, membentuk formasi pertahanan dan serangan yang sangat kuat. Kekuatan mereka gabungan jauh melampaui apa yang bisa ditandingi oleh Ryn dan teman-temannya saat ini.

Zarathos mendekati Ryn dan berbisik pelan:

"Kita tidak bisa menang jika bertarung sekarang. Mereka memiliki kekuatan yang terlalu besar dan sudah bersatu. Kita harus mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan Permata Dunia, lalu pergi dan bersiap untuk pertarungan terakhir nanti."

Ryn mengerti maksud Zarathos. Ia tahu bahwa meskipun ia berhasil melukai Dewa Kaelus, ia belum cukup kuat untuk mengalahkan seluruh Tujuh Dewa sekaligus.

"Baiklah," kata Ryn pelan. "Lira, Gareth, ikut aku. Kita akan mengambil Permata Dunia dan pergi dari sini sekarang."

Mereka mulai bergerak cepat, tidak lagi bertarung secara terbuka, melainkan menyelinap melewati pertarungan yang baru saja dimulai antara Enam Dewa dan sisa kultivator yang masih setia pada Persekutuan Dewa.

Saat mereka bergerak menuju pusat panggung tempat Permata Dunia disimpan, Ryn bisa merasakan energi yang sangat besar dan kuno dari objek itu. Itu adalah energi yang mengikat seluruh dunia, dan hanya orang yang memiliki darah Vorthar yang bisa mendekatinya tanpa dimakan oleh kekuatannya sendiri.

Mereka berhasil mencapai ruang tersembunyi di belakang panggung tanpa ditemukan. Di tengah ruangan itu, di atas sebuah alas batu yang tinggi, terdapat sebuah batu permata berwarna hitam pekat yang memancarkan cahaya ungu samar namun sangat kuat. Itulah Permata Dunia yang mereka cari.

Saat Ryn mendekat dan menyentuh permata itu, seluruh tubuhnya digelombangi oleh ingatan dan pengetahuan baru. Ia tidak hanya merasakan kekuatan permata itu, tetapi juga melihat seluruh sejarah dunia dari awal hingga saat ini. Ia melihat bagaimana Persekutuan Dewa mulai menyebarkan kebohongan, bagaimana Vorthar dikhianati, dan bagaimana keseimbangan dunia mulai rusak.

"Ambil itu cepat!" bisik Zarathos. "Mereka akan segera datang kembali!"

Ryn menarik tangannya dan mengambil Permata Dunia itu, menyimpannya bersama dua pedang keseimbangan di dalam Cincin Penyimpanan. Begitu ia menyimpannya, suara keras terdengar dari luar ruangan.

"Mereka ada di sini! Cegah mereka!" teriak salah satu pengawal.

Ryn, Lira, dan Gareth segera berbalik dan berlari keluar dari ruangan. Di depan mereka sudah menunggu Dewa Kaelus yang kini sudah pulih sebagian kekuatannya, bersama dengan Enam Dewa Penguasa lainnya yang kini tampak marah dan berbahaya.

"Kalian pikir kalian bisa mengambil apa yang menjadi milik kita dan pergi begitu saja?" tanya salah satu Dewa dengan suara dingin.

Ryn berdiri di depan teman-temannya, dan kini ia sudah memiliki ketiga bagian dari kekuatan legendaris itu. Energi yang terpancar dari tubuhnya kini jauh lebih kuat dan stabil, menyatukan cahaya dan kegelapan menjadi satu kesatuan yang sempurna.

"Aku tidak akan memberikannya kembali," kata Ryn dengan suara yang bergema hingga ke seluruh alun-alun yang kini sudah sepi. "Permata Dunia milik semua makhluk, bukan milik kelompok yang ingin menguasai segalanya. Dan hari ini, aku akan membawanya pergi untuk memulihkan dunia ini."

Dewa Kaelus dan Enam Dewa lainnya saling bertukar pandang. Mereka melihat perubahan pada diri Ryn. Ia tidak lagi hanya seorang murid biasa, ia telah menjadi pembawa keseimbangan yang mereka takuti selama ribuan tahun.

"Jika kalian ingin mengambilnya, datanglah dan ambil sendiri," tantang Ryn sambil memegang kedua pedang dan menyimpan energi Permata Dunia ke dalam tubuhnya. "Tapi ingat, kali ini aku tidak akan mundur."

Pertarungan baru saja akan dimulai kembali, namun kali ini Ryn sudah tidak sendirian dengan kekuatannya yang baru. Ia siap untuk pertarungan terakhir yang akan menentukan nasib seluruh dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!