Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jika Aku Bisa Mencintaimu.
Gemerlap lampu, megahnya panggung, serta kehadiran para tamu penting dari berbagai latar belakang membuat suasana acara fashion week yang diselenggarakan oleh perusahaan Hwi Sol begitu meriah. Kilatan kamera para wartawan tak henti-hentinya mengabadikan setiap momen yang terjadi malam itu. Beberapa selebritas ternama tampak hadir, begitu pula para tamu VVIP yang memiliki pengaruh besar di berbagai bidang.
"Silakan duduk, Nona Seolhwa."
Suara seorang asisten membuyarkan lamunanku. Ia mempersilahkanku menempati kursi yang telah disediakan khusus untuk para tamu undangan.
"Terima kasih," jawabku sambil tersenyum ramah.
Aku duduk dan mengamati sekeliling. Namun, ada satu orang yang belum juga kulihat sejak tadi.
"Oh ya, di mana Hwi Sol Oppa? Aku belum melihatnya."
"Asisten itu tersenyum sopan. "Tuan Hwi Sol akan segera datang. Saat ini beliau masih sibuk memastikan semua persiapan acara berjalan dengan baik. Ada banyak hal yang harus diperiksa sebelum acara dimulai."
Aku mengangguk pelan.
"Wah, Oppa benar-benar profesional. Padahal, dia bisa saja menyerahkan semuanya kepada para karyawannya."
"Iya, benar, Nona. Tuan Hwi Sol selalu memastikan sendiri bahwa tidak ada kesalahan sekecil apa pun dalam pekerjaannya."
Asisten itu sedikit membungkuk.
"Saya permisi dulu. Jika ada yang Nona butuhkan, silakan panggil saya."
"Baik. Terima kasih."
Setelah ia pergi, aku kembali memperhatikan suasana di sekelilingku.
Baru saat itulah aku menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya aku menghadiri fashion week milik perusahaan kami setelah sekian lama. Jika tidak salah ingat, terakhir kali aku menghadiri acara seperti ini adalah saat usiaku masih lima belas tahun dan masih duduk di bangku sekolah saat Eomma dan Appa masih ada.
Tak terasa, sudah selama itu waktu berlalu.
Tak lama setelah itu, Hwi Sol Oppa akhirnya datang menghampiriku.
"Seolhwa..."
Ia memanggil namaku sambil melambaikan tangan dari kejauhan.
Untuk sesaat, aku hanya bisa terdiam.
Mataku terpaku pada sosoknya yang berjalan mendekat. Setelan jas hitam sederhana yang dikenakannya tampak begitu pas di tubuhnya. Meski tanpa banyak aksesori atau detail mencolok, penampilannya justru terlihat semakin elegan dan berkelas.
Entah kenapa, hari ini Oppa terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.
Tampan sekali...
Aku menelan ludah pelan, berusaha menyembunyikan kekagumanku.
"Hei, kamu kenapa?"
Suara Hwi Sol Oppa membuyarkan lamunanku.
Aku tersentak lalu segera menggeleng.
"Oppa! Oppa sangat tampan hari ini!"
Senyum lebar langsung menghiasi wajahku.
Ia terkekeh pelan.
"Benarkah?"
Lalu ia merapikan sedikit bagian jasnya.
"Ini desain terbaru perusahaan kami."
"Serius?"
Aku menatapnya dengan kagum.
Hwi Sol Oppa mengangguk.
"Iya. Bagaimana menurutmu?"
Ia berputar perlahan, seolah sedang memperlihatkan hasil karyanya.
"Bagus! Aku suka sekali!"
Mendengar jawabanku, wajahnya langsung terlihat lega.
"Syukurlah kalau kamu juga menyukainya."
Beberapa saat kemudian, tatapannya beralih kepadaku.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini ia menatapku cukup lama. Matanya bergerak perlahan dari ujung kepala hingga ke kakiku, membuatku tanpa sadar menjadi gugup.
Lalu senyuman hangat mengembang di wajahnya. Senyuman yang begitu lebar hingga kedua matanya ikut melengkung.
"Dress yang kamu pakai juga sangat cantik."
"Benarkah?"
Aku refleks menunduk, memperhatikan gaun yang kukenakan.
Hwi Sol Oppa mengangguk pelan.
"Tentu saja."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Sama cantiknya dengan orang yang memakainya."
Jantungku seakan berhenti berdetak selama sesaat.
Pipiku terasa memanas, sementara pikiranku mendadak kosong.
Aku hanya bisa menundukkan kepala sambil tersipu malu, tak mampu menemukan kata-kata untuk membalas pujiannya.
Tak lama kemudian, acara resmi dimulai.
Hwi Sol Oppa dipersilakan naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan. Dengan langkah percaya diri dan pembawaan yang tenang, ia berdiri di hadapan ratusan tamu yang memenuhi ruangan.
Sorot lampu panggung langsung tertuju padanya.
Aku memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibirnya. Cara Oppa berbicara, sikapnya yang profesional, serta kharismanya yang begitu kuat membuatku kembali menyadari betapa luar biasanya pria itu.
Setelah sambutan selesai, acara fashion show pun resmi dimulai.
Satu per satu model berjalan menyusuri runway dengan anggun, memperagakan koleksi terbaru dari perusahaan Hwi Sol. Puluhan desain eksklusif ditampilkan malam itu, disaksikan oleh para tamu dari berbagai kalangan, mulai dari pebisnis, selebritas, hingga tokoh-tokoh penting lainnya.
Setiap rancangan memiliki keunikan tersendiri.
Desain-desain tersebut tidak terlihat pasaran, tetapi justru memancarkan kesan elegan dan berkelas. Dipadukan dengan kemampuan para model yang membawakannya dengan sempurna, seluruh koleksi berhasil mencuri perhatian para tamu undangan.
Namun, di antara semua busana yang ditampilkan, ada satu gaun yang langsung menarik perhatianku.
Mataku tak bisa berpaling darinya.
Gaun itu mengusung tema princess yang anggun dan memikat. Bordir bunga-bunga yang menghiasi hampir seluruh bagian gaun terlihat begitu detail dan indah. Warna pastel yang mendominasi memberikan kesan lembut, tenang, sekaligus feminin.
Gaun itu tampak seperti gaun yang keluar langsung dari negeri dongeng.
Tanpa sadar, aku terus memperhatikannya hingga model yang mengenakannya tiba di ujung runway.
"Untuk gaun yang satu itu..."
Suara Hwi Sol Oppa terdengar di sampingku.
Aku menoleh ke arahnya.
Ia sedang menatap panggung dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Oppa terinspirasi darimu."
Aku membelalakkan mata karena terkejut.
"Dari aku?"
Hwi Sol Oppa mengangguk pelan.
"Iya. Setelah itu, Oppa mendiskusikan konsepnya dengan tim desainer."
Tatapannya beralih kepadaku.
Senyuman tulus yang selalu berhasil menghangatkan hatiku kembali terlihat di wajahnya.
"Oppa merasa warna-warna lembut dan bunga-bunga seperti itu sangat cocok denganmu. Karena itu, Oppa ingin menciptakan gaun yang bisa menggambarkan kesan tersebut."
Untuk sesaat, aku kehilangan kata-kata.
Pandanganku kembali tertuju pada gaun indah yang masih melintas di atas runway. Namun, pikiranku sudah tidak lagi berada di sana.
Pikiranku justru dipenuhi oleh sosok pria yang duduk di sampingku.
Jika saja aku bisa mencintai Hwi Sol Oppa...
Mungkin aku akan menjadi wanita yang sangat bahagia.
Senyum tipis terukir di bibirku, tetapi ada rasa pahit yang menyertainya.
Bukan hanya gaun itu yang dibuatnya bak gaun seorang putri. Sejak kecil, Oppa juga selalu memperlakukanku layaknya seorang putri.
Ia selalu melindungiku.
Selalu mengutamakanku.
Dan selalu berada di sisiku saat aku membutuhkannya.
Tak pernah sekalipun ia meminta balasan atas semua ketulusan yang diberikannya.
Justru karena itulah, rasa bersalah di dalam hatiku semakin besar dari hari ke hari.
Semakin banyak kebaikan yang Hwi Sol Oppa berikan, semakin sulit bagiku untuk menatapnya tanpa merasa sesak.
Aku merasa bersalah karena tidak mampu membalas perasaannya.
Namun, yang lebih menyakitkan adalah karena aku masih menyimpan rahasia besar darinya.
Rahasia tentang kematian kedua orang tuanya.
Jemariku perlahan mengepal di atas pangkuan.
Bagaimana jika suatu hari Oppa mengetahui semuanya?
Bagaimana jika ia tahu bahwa orang yang bertanggung jawab atas kematian kedua orang tuanya adalah pria yang dicintai oleh adiknya sendiri?
Dadaku terasa semakin berat.
Aku takut.
Sangat takut.
Takut melihat kekecewaan di matanya.
Takut melihat kehangatan yang selama ini ia berikan berubah menjadi kebencian.
Dan yang paling kutakutkan...
Bagaimana jika setelah mengetahui kebenaran itu, Hwi Sol Oppa tidak lagi menganggapku sebagai keluarganya?
Memikirkan kemungkinan itu saja sudah cukup membuat hatiku terasa hancur.
***
Di tempat lain, suasana yang jauh berbeda tengah menyelimuti kediaman keluarga Lee.
Tuan Lee dan Nyonya Kim duduk berhadapan di ruang keluarga. Tak ada senyum ataupun percakapan ringan seperti biasanya. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, memikirkan bagaimana cara menyampaikan kenyataan pahit yang selama ini mereka sembunyikan.
Keheningan yang panjang akhirnya dipecahkan oleh Tuan Lee.
"Siapa yang akan kita beri tahu lebih dulu? Eun Dam atau Seolhwa?"
Nada suaranya terdengar berat, seolah pertanyaan itu menjadi beban yang terus menghantuinya selama beberapa hari terakhir.
Nyonya Kim mengembuskan napas pelan sebelum menjawab.
"Menurutku, kita harus memberitahu Seolhwa lebih dulu."
Ia menundukkan pandangan sejenak, lalu melanjutkan,
"Aku tahu betul seberapa besar perasaan Eun Dam terhadap Seolhwa. Aku khawatir jika kita memberitahunya lebih dulu, dia tidak akan bisa menerima kenyataan ini."
Suara Nyonya Kim mulai bergetar.
"Yang lebih kutakutkan, dia akan melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan."
Tuan Lee terdiam. Ia memahami kekhawatiran istrinya.
"Kita juga harus memberitahu Seolhwa tentang siapa dirinya yang sebenarnya," lanjut Nyonya Kim dengan wajah muram.
Tatapannya menerawang jauh, membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah kebenaran itu terungkap.
"Aku tidak tahu bagaimana reaksinya terhadap kita setelah mengetahui semuanya."
Matanya perlahan memerah.
"Dia mungkin akan marah. Dia mungkin akan membenci kita."
Ruangan kembali diliputi keheningan.
Namun kali ini, keheningan itu terasa lebih berat dari sebelumnya.
"Tapi bagaimanapun juga," ujar Nyonya Kim pelan, "kita harus mencoba. Cepat atau lambat, Seolhwa dan Eun Dam berhak mengetahui semua kebenaran itu."
Tuan Lee mengangguk perlahan.
Meski berat, mereka tahu bahwa waktu untuk menyembunyikan rahasia itu sudah hampir habis.
"Kita harus kembali ke Seoul. Kita harus menemui Seolhwa secara langsung dan menceritakan semuanya," ujar Nyonya Kim dengan suara bergetar.
Kini, setelah bertahun-tahun mencari jawaban, mereka akhirnya mendapatkan petunjuk yang selama ini hilang. Dari pengurus senior panti asuhan yang pernah didatangi Seolhwa saat berusaha menemukan orang tua kandungnya, Nyonya Kim berhasil memperoleh alamat rumah baru gadis itu di Seoul.
Harapan yang sempat redup perlahan kembali menyala di dalam hatinya.
Tuan Lee mengangguk pelan. Wajahnya tampak tegang, tetapi sorot matanya menunjukkan tekad yang sama.
"Ya. Kita tidak bisa menundanya lagi."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan,
"Semakin cepat kita menemuinya, semakin baik."
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Setelah puluhan tahun hidup dalam penyesalan dan ketidaktahuan, kini mereka hanya dipisahkan oleh jarak menuju Seoul.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka merasa semakin dekat dengan putri yang telah lama hilang dari hidup mereka.