NovelToon NovelToon
PUDARNYA PESONA WANITA PENGGODA

PUDARNYA PESONA WANITA PENGGODA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:81.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lel

"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)

"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)

"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECEWA

Aku kembali ke bilik kerjaku, menyelesaikan pekerjaan saja daripada menunggu Evelyn keluar. Bahkan sudah lebih dari setengah jam tak ada kabar Tristan mencariku. Fix, mereka belum selasi berbicara. Mataku menatap layar komputer, tanganku menekan mouse, tapi hati dan pikiranku berada di delan ruangan Tristan, mereka ngobrol apa selama ini. Prasangka mulai menghampiriku, jangan-jangan Evelyn menggoda Tristan.

Astaghfirullah. Menata hati dan pikiran bahwa Tristan tak akan tergoda pada wanita beristri terus aku gaungkan.

Ting

Sumringah, pesan masuk dan Tristan menanyakan keberadaan. Baru saja aku akan membalas, mataku melotot seketika.

Evelyn hamil.

Astaghfirullah, anak siapa? please jangan bilang anak Tristan. Aku memegang dadaku yang sesak begitu saja. Air mata sebisa mungkin kutahan, ruangan masih banyak orang. Aku takut mereka curiga. Pikiranku semakin kalut, saat beberapa detik kemudian, Tristan menghapus pesan itu.

Me: Aku di ruangan kerja.

Me: kenapa dihapus? emang kamu nulis apa?

Tak dibalas, sungguh aku benci keadaan ini. Di saat aku sudah bilang ya untuk menikah dengannya, cobaan kesetiaan diuji. Aku akan mundur kalau sampai itu terjadi. Bayangkan saja, sebelum nikah sudah tak setia, tidak menutup kemungkinan setelah menikah juga berulah.

Tristan: Ya sudah selesaikan pekerjaan kamu dulu, Sayang. Jam 5 tunggu aku di lobi.

Tes

Air mataku langsung menetes begitu saja, segera kuusap agar tak ketahuan rekan kerjaku. Sungguh hatiku sakit sekali, baru kali ini aku kecewa dengan Tristan.

Me: Aku bareng sama Mbak Tiwi aja, ada urusan.

Tristan: Urusan apa?

Aku kembali menangis, Tristan masih begitu peduli sama aku, terbukti dengan cepatnya ia membalas, dan dia pasti tidak suka aku pulang bersama temanku.

Tristan: Sayang? urusan apa.

Sengaja tak kubalas, main tarik ulur saja, mengetes juga kalau masih care pasti langsung nyusul ke ruanganku.

Tristan: Sayang, kok gak blas.

Hanya kulirik pesannya, tak berniat membalas. Kesel dan kecewa, fokus kembali pada pekerjaan lebih baik. Setidaknya menghindar sementara darinya lebih baik.

Hingga pulang, Tristan sama sekali tak menghampiriku, oke aku juga tak mau tahu. Yang jelas saat ini aku sudah pulang bersama Mbak Tiwi. Meski seniorku itu heran dan berkali-kali tanya kenapa gak diantar Tristan? lagi marahan? Pak Ian meeting? dan berbagai pertanyaan yang malas sekali aku tanggapi.

Wajah senduku pun terbawa hingga di rumah. Ibu yang sudah menungguku untuk makan malam, heran saja karena aku hanya diam.

"Tristan tadi ke sini, Mbak. Kamu emang lagi marahan sama dia?" tanya ibu. Baru saja menyendok nasi, disodori pertanyaan tentang Tristan lagi membuatku hilang selera.

"Nanti aja, aku mau makan dulu, Bu."

"Biasa, Mbak. Kalau menjelang nikah itu banyak rintangan. Hal sepele bisa jadi besar, anggap saja ini latihan sabar ketika nanti berumah tangga."

Nasehat ibu benar-benar menyentil egoku, aku pikir tarik ulur pada Tristan berefek lebih baik, tapi nyatanya aku semakin berburuk sangka padanya.

"Kalau kamu gak suka sama sikap Tristan ngomong, berusaha menekan ego. Tanya baik-baik, tahan emosi. Jawaban apapun yang gak sesuai keinginan kamu mau gak mau harus diterima. Itulah dasar rumah tangga langgeng, membangun komunikasi."

Luntur sudah air mataku, tak kuteruskan makan malam ini. Detik itu juga aku sesenggukan. Mungkin aku terlalu egois, harusnya menjawab pesan Tristan lalu bertemu dan membahas pesan yang terlanjur dihapus.

"Tadi Tristan ke sini, kayaknya buru-buru, cuma mau ngecek aja kamu udah sampai apa belum. Ponsel kamu gak aktif."

"Iya, batrei habis."

"Ya sudah sekarang ces aja, habis itu hubungi Tristan. Jangan bikin dia khawatir." Aku mengangguk, dan berusaha menikmati makan malam. Ngambek juga butuh tenaga bukan.

Tepat jam 10 malam, dering panggilan video Tristan terdengar. Oke...mengikuti nasehat ibu, aku menurunkan ego dan menjawab panggilan tersebut.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Ponselnya jangan gak aktif dong, kenapa?"

"Baterai habis, ini baru full."

"Tadi mampir ke mana, jam 6 belum sampai rumah, tapi keluar kantor jam 5 kurang?"

Aku tersenyum, ternyata Tristan masih seperti biasa, perhatian dan posesif. "Mbak Tiwi mampir beli di korean street."

"Oh. Kamu mau tidur?"

"Enggak nunggu penjelasan kamu."

"Penjelasan apa?"

"Pesan yang terhapus."

Tristan tertawa, "Kamu sudah baca?"

"Udah." Masih ketus.

"Trus kamu overthinking, ngambek, matiin ponsel, lalu dinasehati ibu, baru mau hubungi aku."

"Eh ralat ya, aku yang menerima VC kamu."

"Iya-iya."

"Jadi?"

"Besok aja aku jelaskan."

"Kamu yang hamilin evelyn?"

"Eh Astaghfirullah, enggak ya. Enak aja."

"Trus?"

Tristan hanya senyum, kelihatan gak mau membuka rahasia di antara keduanya. "Yang penting dia bukan anakku, Sayang. Itu sudah cukup mewakili penjelasan pesan yang kuhapus.

"Oke."

"Besok aku jemput ya, numpang sarapan dong."

"Aku besok pengen bawa motor."

"Gak boleh. Besok aku jemput titik."

"Terserah. Aku ngantuk."

"Yakin ngantuk? gak ngambek nih?" godanya dengan senyum jahil. Rese.

"Kaya' nya rencana nikah kita perlu dikaji ulang deh, mumpung belum banyak persiapan, kan."

"Eh maksudnya?"

"Besok aja kita bahas, malam. Assalamualaikum."

"Say-----"

Tut

Waktunya tidur syantik, urusan hati besok pagi saja. Cukup sudah hari ini meluangkan waktu merasakan marah dan kecewa, semoga esok hati sudah berubah bahagia lagi.

Getaran ponsel terus berdengung, pasti Tristan, aku masih enggan ngobrol sama dia, daripada masalah melebar kemana-mana lebih baik calm down dulu, besok perang batin lagi.

Keesokkan harinya, jam 6 teng ibu mengetuk pintu kamar, baru saja aku mau masuk kamar mandi, akhirnya kuurungkan.

"Temui Tristan dulu, ibu mau belanja sayur di depan."

Mataku mengerjap bingung, Tristan? sudah di rumah? Astaghfirullah, niat banget sih bikin emos,i pagi-pagi. Terpaksa aku menemuinya daripada mendengar omelan ibu kalau aku cuek pada Tristan.

"Hai, baru bangun?"

Aku mengangguk saja, tiba-tiba badmood saja.

"Sarapan di luar ya, mandi gih." Aku mengangguk lagi, malas saja bicara sama dia.

Mandi dan berdandan ala pergi ke kantor sengaja ku lambatkan, hati ini masih jengkel dan kecewa dengan Tristan. Masalah kehamilan perempuan lain sangat tidak baik untuk kesehatan hatiku. Rasanya aku pengen memaki Tristan, yah meskipun dia sudah menjamin itu bukan anaknya.

"Mbaaaakkk, udah ditunggu Tristan loh," panggil Ibu dengan nyaringnya.

"Iya-iya."

"Jangan bikin anak orang sakit hati," pesan mama sembari menepuk pundakku, lalu beliau pergi. Taril nafas....pasang wajah biasa aja dan menata hati setelah mendengar penjelasannya. Baik ataupun buruk harus didengarkan, tanpa emosi kalau bisa. Benar kata ibu, belajar membangun komunikasi. Maklum selama pacaran, kita gak pernah punya masalah orang ketiga, jadi wajar kalau kali ini membuatku gondok.

"Sudah siap?"

"Iya."

"Mau sarapan apa?"

"Nasi uduk samping kantor."

"Oke."

Kita berjalan berdampingan menuju mobil, dan pamit pada ibu yang sedang belanja di kang sayur depan rumah. Selama di mobil lagi-lagi aku diam, sedangkan Tristan mengelus puncak kepalaku. Sadar mungkin kalau aku masih ngambek.

"Sayang, pause dulu dong ngambeknya. Nanti aku jelaskan saat kita sarapan."

"Ya udah, aku play saat sarapan."

"Nyonya sholehah kok ngambekkan sih," ledeknya tanpa kutanggapi.

1
Ray Aza
tega bgt km thor anak baik2 gitu km kasih pasangan psk. 😓
Lel: hwkwkkw nyatanya ada di dunia kerja kakak
total 1 replies
siti salamah
nge gabtung giini akhirrnyaa yao kaka
Sartika Thika
kak,ini gmn?kok gantung?
Sri Ariyanti
hallo othor, beneran end kah? koq berasa gantung ya?

yg jelas ditunggu kelanjutannya
Sri Ariyanti
ok
Sri Ariyanti
selalu suka karyamu. pokoknya ok lah
falea sezi
najis dpet jalang
Quinza Azalea
gak rela banget si Abi sama Evelin thor😭
Quinza Azalea
ceritanya bagus bagus thoor
Lel: terimakasih kak
total 1 replies
Quinza Azalea
bagus
pipi gemoy
thor lanjutannya mana Thor 🌹5x
pipi gemoy
astoge setres ya ini org ckckck😡😤
pipi gemoy
mampus lelaki penghianat n murahan ludahin aje trus buang ke sampah😂😂😂😂👻
pipi gemoy
sabar Tris 😂😂😂😂😂😂😂👻
pipi gemoy
cerdas Ata👻👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
pipi gemoy
Gonta ganti itu WC umum 😂😂😂😂👻
pipi gemoy
Tristan 👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🌹
pipi gemoy
hadir Thor ☝🏼
Gracela Gultom
thor kenapa gantung
Vera Uni
cerita nya kok semua gantung thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!