Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenekku Indonesia, Kakekku Turki
Suara jangkrik di halaman rumah dinas Pustu bersahutan dengan suara cicak di dinding rumah. Lampu ruang tamu masih menyala terang, karena sang penghuni rumah sedang asyik berbincang.
Tak lama berselang, terdengar pintu rumah diketuk. Azra yang saat itu sedang tidak mengenakan jilbab langsung kabur masuk ke dalam kamar. Linda terkekeh pelan melihat kelakuan teman sekaligus atasannya itu.
Tok,tok,tok.
"Assalamu'alaikum ..." Ketukan kembali terdengar disertai salam. Suara lelaki.
"Wa'alaikumussalam. Iya, sebentar," Linda bergegas membuka pintu sambil merapikan kaos oversize-nya.
Saat pintu terbuka, terpampang senyuman manis dari seorang pemuda berkumis tipis. Linda terperanjat dengan kehadiran pemuda di depannya.
Saking terkejutnya mata Linda melotot dengan mulut menganga selama beberapa saat. Begitu tersadar, wajahnya memerah karena malu.
Tanpa menunggu komando, dia berbalik badan, berlari dengan cepat menuju kamar dan nyaris terjungkal karena tersandung kakinya sendiri.
Azra yang mendengar suara gedebukan, keluar dari dalam kamar, "Ada apa, Lin?"
"Ada tamu, Kak di depan!" teriaknya dari dalam kamar yang terletak di bagian belakang dekat dengan dapur.
Azra menggelengkan kepala keheranan dengan tingkah Linda. Menyeret langkah menuju pintu, Azra melihat pria berkumis tipis tersenyum ke arahnya sambil mengangkat kantong kresek.
"Ya Allah, Azzam. Kirain hantu. Ayo masuk," ajak Azra. Azzam tertawa, masuk ke dalam rumah diikuti Paino di belakangnya.
"Lho, sama mas Paino? Kirain sendiri. Mari silakan duduk, sebentar ya..."
"Nggak usah repot-repot Mbak, duduk sini aja ngobrol," kata Azzam setelah duduk bersebelahan dengan Paino.
"Nggak repot, kamu ngopi kan, Zam? Mas Paino juga?" tanya Azra dari dapur.
"Iya Bu Dokter, tapi kopinya tidak usah dikasih gula ya. Cukup liat Bu Dokter aja sudah manis nanti kopinya," Paino kambuh lagi gombalannya.
"Nggombal teruuus. Siapa tahu laku," canda Azzam yang diiringi tawa berderai di rumdin.
Azra berjalan membawa nampan berisi dua cangkir kopi ke ruang tamu, dengan Linda yang berjalan membuntuti sambil bersembunyi di belakang punggungnya.
"Azzam, kamu apakan si Linda? Sampai dia ketakutan kayak lihat hantu gini?" tanya Azra setelah menghidangkan kopi dan singkong goreng yang dibawa Azzam.
"Hah? Ora tak apa-apain lho mbak. Aku juga heran, pas buka pintu tadi, Mbaknya langsung kaget dan lari," jawab Azzam sambil kembali mengintip ke arah Linda yang masih bersembunyi di belakang Azra.
Paino yang heran ikut memandang ke arah Linda. Saat tatap mata mereka beradu pandang, spontan Paino menjulurkan lidah. Linda kembali kaget sekaligus kesal. Tanpa ampun dilemparnya bantal kursi ke arah Paino.
"Kowe ki nyapo toh, No?!" hardik Linda kesal.
Azzam tergelak melihat ekspresi Linda yang kaget dan juga Paino yang gelagapan menerima lemparan bantal Linda. Ruang tamu rumdin menjadi ramai oleh tingkah dua manusia layaknya musuh bebuyutan setiap kali bertemu.
"Sudah ... sudah .... Ini sudah malam, jangan ribut," lerai Azra setelah kedua orang dihadapannya tidak kunjung berhenti adu mulut.
Azzam menarik lengan Paino memintanya berhenti menjahili Linda, "Wis toh, No. Nangis kuwi engko," ujar Azzam.
"Eh, siapa yang nangis?" tanya Linda sambil berdiri berkacak pinggang.
"Sssshh ... sudah ... sudah! Ini kok malah ribut," Azra menarik lengan Linda untuk duduk kembali, "Mau ada perlu atau sekedar main, Zam?"
"Main saja, Mbak. Disuruh kakek Wandi antar singkong goreng sama ini," ucap Azzam sambil menyodorkan kotak perhiasan kecil berwarna perak kepada Azra, "Sudah dibetulin penitinya," lanjut Azzam.
"Alhamdulillah, aku kira sudah rusak. Ternyata masih bisa dibetulkan ...," mata Azra berkaca-kaca saat melihat benda yang ada di dalam kotak perhiasan. Senyumnya mengembang lebar, menampilkan kembali lesung pipinya yang manis.
Linda mengintip penasaran, benda apa yang ada di kotak perhiasan itu sampai membuat Azra begitu terharu. Rupanya sebuah bros bunga matahari mungil, berwarna perak kecoklatan yang mulai memudar warnanya.
Mereka bertiga saling pandang. Lalu menatap ke arah Azra yang masih menatap bros itu dengan penuh haru.
"Bros nya punya cerita sedih ya, Dokter?" tanya Paino memecah kebisuan yang tiba-tiba tercipta.
Azra menoleh ke arah Paino, tersenyum, lalu menghirup napas dalam-dalam.
"Iya, bros ini peninggalan almarhum kakek untuk nenek. Sebelum nenek meninggal dunia, bros ini diserahkan kepada saya untuk dijaga. Penitinya rusak, terlepas waktu saya berusaha menolong kucing yang tersangkut di pohon beberapa minggu lalu. Beruntung tidak sampai hilang. Kalau hilang..."
Kata-kata Azra terputus. Matanya kembali menatap bros itu dengan dalam, ada keharuan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Ooo, waktu Dokter pulang dari kondangan itu ya. Terus lihat anak kucing di atas pohon, nggak bisa turun. Karena kasihan, Bu Dokter manjat pohon. Pas mau diambil, kucingnya malah melompat ke arah Bu Dokter," ujar Paino.
"Terus ... terus ...?" tanya Linda antusias, melupakan kekesalannya pada Paino.
Azzam menoleh ke arah Linda, menatapnya dalam-dalam sambil tersenyum melihat ekspresi wajah gadis itu yang begitu antusias. Saat mata mereka saling beradu pandang, Linda langsung salah tingkah dan bingung menyembunyikan wajahnya yang merona merah.
"Ya ... karena kaget, Bu Dokter jatuh dari pohon. Digotong warga waktu itu, langsung dipijat sama Mbah Yati, karena kakinya keseleo. Untung tidak terluka parah," lanjut Paino sambil menyeruput kopi di depannya.
"Hafal sekali kamu, No kalau sudah menyangkut Dokter Azra," goda Azzam.
"Lhaa, orang sedesa tahu semua. 'Bu Dokter jatuh dari pohon gara-gara anak kucing', itu judul ceritanya," lanjut Paino bangga.
Azra tersenyum mendengar Paino menceritakan kisah 'heroik' nya menyelamatkan anak kucing, yang berujung dia terjatuh dengan tidak estetik.
"Lalu, brosnya lepas. Gitu tah, Kak?" tanya Linda sambil menatap Azra yang asyik mengusap brosnya dengan ibu jari.
"Iya, lepas saat anak kucing melompat ke arahku. Saat itu sudah tidak terpikir sama sekali soal bros. Bahkan terlupa. Dua hari setelah kejadian, ada seorang ibu yang mengantar brosnya kesini. Bersyukur sekali, ibu itu baik hati, mau menyimpankan bros ini dan mengembalikan ke aku. Kalau tidak ... bakal sedih sekali harus mencari kemana ..." Mata hazelnut itu melamun, menatap kosong ke arah pintu.
"Kata kakek, bros itu berharga banget ya, buat Mbak. Pas aku tanya, kenapa berharga, kakek nggak mau cerita, suruh tanya sendiri ke Mbak Rara. Emang apa Mbak sejarah dari bros itu?" tanya Azzam dengan mimik serius menatap Azra.
Azra sedikit gelagapan. Sifatnya yang tertutup membuatnya kerap terlihat seperti orang misterius yang sulit disentuh. Namun saat mata hazelnut-nya menatap ke arah tiga orang yang menunggu jawabannya, akhirnya dia membuka suara, "Bros ini ...," kembali dia mengambil napas, lalu mengembuskan perlahan.
"Kakek dari Turki, bros ini adalah peninggalan ibunya secara turun temurun, dan diwariskan kepada menantu perempuan di keluarga kakek. Saat kakek ke Indonesia untuk urusan pekerjaan, kakek bertemu nenek di Danau Widuri Asri waktu berlibur. Lalu mereka berdua berkenalan, saling mencinta, menikah, punya anak dan punya cucu, ... yaitu saya." cerita Azra singkat diakhiri dengan menutup kotak perak di tangannya.
"Oooo ..." mereka bertiga manggut-manggut mendengar sejarah singkat kakek nenek Azra.
Tapi tidak semudah itu membayar rasa penasaran di hati Linda. Mendengar cerita Azra yang begitu singkat, Linda semakin yakin bahwa gadis di depannya ini menyimpan rahasia yang jauh lebih besar dan tidak sesederhana penampilannya.